
Saat Cleo berdiri di depan gerbang besar yang di dalamnya terdapat rumah mewah yang sudah 5 tahun dia tinggalkan.
"TIN!!" Cleo menekan bel yang ada di sisi gerbang. Terlihat Aming berlari ke depan dan mengintip dari celah.
"Mau cari siapa?" tanyanya saat Cleo berdiri membelakanginya.
"Pak, ini aku Cleo." ucapnya setelah membalikkan badan.
"Nona!!" Aming tersenyum bahagia. Dia bergegas membuka pintu gerbang.
"Ya ampun, Non. Sudah lama banget bapak nggak ketemu Nona." Aming membantu membawa koper-koper milik Cleo.
"Pak Aming apa kabar?" tanya Cleo setelah mereka berada di dalam.
"Bapak, baik, Nona gimana?" tanyanya.
"Seperti yang bapak lihat." jawabnya sambil tertawa kecil.
"Nona makin cantik aja, bapak sampai pangling." pujinya melihat perubahan Cleo yang saat ini tampak lebih dewasa.
"Bapak bisa aja. Tapi, mau sampai kapan kita ngobrol disini, Pak?" Cleo sejak tadi sudah berusaha menahan teriknya mentari.
"Aduh, Non, maafin pak Aming. Bapak terlalu senang sampai ngajakin nona ngobrol." Aming segera membantu membawa kopernya ke dalam.
"Bi!! Bi Ita!!" teriak Aming. "Lihat, siapa yang datang!" dia kembali berteriak.
"Ada apa sih, Ming? Kamu dari tadi teriak- teriak mu ...., Non Cleo?" bi Ita terkejut saat melihat Clep berdiri di depannya.
"Bibi!!" Cleo memeluk wanita paruh baya itu.
"Ya Allah Gusti!! Ini benaran kamu?" bi Ita menangis haru menyambut anak majikannya itu.
"Bibi apa kabar?" tanya Cleo.
"Bibi baik. Ya Allah, Non. Bibi senang banget akhirnya bisa ketemu nona lagi." Bi Ita masih menitikkan airmata.
"Sudah dong, Bi. Kenapa masih nangis? Aku udah disini juga." Cleo tertawa, bi Ita menyeka sisa airmatanya.
"Ayo masuk, Non." bi Ita mempersilahkan Cleo masuk. Aming membawa barang Cleo ke dalam.
Cleo memperhatikan rumah yang penuh dengan kenangan akan Adam. Dia terus berjalan memeriksa satu persatu bagian rumah itu.
"Masih sama ya, Bi. Gak ada yang berubah. Hanya Ayah yang nggak ada lagi bareng kita." ucapnya pada Bi Ita yang berdiri tak jauh darinya. Cleo masih ingat semua perdebatannya dengan Adam di rumah itu.
"Bibi ikut sedih, Non, Tuan pergi begitu cepat." jawabnya.
"Bibi benar! Tapi, aku rasa itu yang terbaik untul ayah. Aku nggak tega ngelihat semua rasa sakit ayah." Cleo selalu berusaha untuk berada disisi Adam. Terlebih saat Adam kesulitan bernapas, berkali-kali dia harus dilarikan ke rumah sakit. Sampai akhirnya Cleo harus mengikhlaskan kepergian Adam untuk selamanya.
"Ayo, bibi antar ke kamar, Non." bi Ita tidak ingin Cleo terus-terusam bersedih. Cleo mengangguk.
πππ
"Selamat siang, Paman." sapa Cleo saat dia menemui Vincent di kantornya.
"Cleo! Akhirnya kamu kembali!" Vincent memeluk Cleo yang masih berdiri. "Aku senang bisa melihatmu lagi." Cleo membalas pelukan Vincent.
"Paman, apa kabar?" tanyanya.
__ADS_1
"Aku baik. Duduklah!" Cleo duduk dihadapannya. "Aku turut berduka atas kepergian ayahmu." Vincent terlihat sedih.
"Terima kasih, Paman." Cleo tersenyum padanya.
"Maafkan aku! Karena aku tidak bisa hadir di pemakamannya." Vincent terlihat menyesal.
"Tidak apa, Paman. Aku yakin ayah bisa mengerti itu." Cleo memegang tangannya.
"Kau tumbuh begitu cepat. Aku sampai tidak sadar bahwa saat ini kau sudah dewasa." Cleo tersenyum padanya.
"Paman juga tumbuh begitu cepat, hingga saat ini rambut paman sudah memutih begitu." Vincent tergelak mendengar kelakarnya.
"Ini yang kurindukan darimu." ucapnya sambil terus tertawa. "Kapan kamu sampai?" tanyanya setelah tawa itu hilang.
"Kemarin." jawabnya.
"Kenapa tidak memberitahu, Paman? Paman bisa menjemputmu di bandara." ujarnya.
"Aku tidak mungkin menganggu dokter sibuk seperti paman." Vincent kembali tersenyum.
"Untukmu, apa saja akan paman lakukan." selanya.
"Wow! Aku terharu mendengarnya. Tapi aku nggak mau di demo sama semua pasien paman." candanya. Cleo dan Vincent sudah cukup dekat. Selama di London, hampir setiap hari Vincent menghubunginya. Sehingga, hubungan mereka layaknya seorang teman.
"Jadi, apa kau sudah memutuskan menerima tawaranku?" sebelumnya Vincent menawarkan Cleo untuk bekerja di rumah sakit yang dia pimpin. Begitu Vincent tahu Cleo sudah lulus, dia segera menghubunginya.
"Aku kesini untuk melakukan hal yang lebih penting dari itu." jawabnya.
"Apa?" sebenarnya Vincent sudah bisa menebak apa yang ingin Cleo katakan.
"Mengenai perjanjian Paman dan Ayah. Aku pulang untuk menepati janjiku pada ayah." Cleo berkata cukup tegas, sepertinya dia sudah mempertimbangkan semuanya.
"Sebenarnya, jika Paman bisa merubahnya, itu jauh lebih baik." ujarnya. Vincent tertawa mendengar tawarannya.
"Sayangnya aku tidak bisa melakukan itu. Aku tidak bisa mengabaikan amanat terakhir dari ayahmu." jawabnya.
"Lalu, apakah putra paman juga setuju?" tanyanya lagi.
"Untuk itu, kamu tidak perlu khawatir. Aku pastikan dia akan menyetujuinya." Vincent berusaha meyakinkannya. "Lalu, bagaimana dengan tawaranku?" ulangnya lagi.
"Baiklah, aku setuju." jawabnya.
"Itu bagus! Besok kamu bisa mulai bekerja disini." ucap Vincent.
"Kalau begitu aku balik dulu." Cleo berdiri dan memeluk Vincent.
"Aku benar-benar senang kamu kembali." ucap Vincent pelan. Cleo melepas pelukkannya dan tersenyum pada Vincent. Setelah itu dia berjalan keluar dari ruangan itu.
Cleo tidak langsung pulang, dia sengaja berjalan-jalan di rumah sakit yang mulai besok akan menjadi rumah kedua untuknya.
Saat ini dia berdiri di depan ICU, dia mengingat kembali momen bersama Adam. Masih terbayang dimatanya saat dia mengetahui kondisi sang Ayah.
"Tolong minggir!" Ayuna menoleh dan langsung menepi saat melihat beberapa orang mendorong tempat tidur menuju ICU. Cleo melihat seorang pria terbaring tak berdaya dengan kepala dan kaki tertutup perban.
"Ayah." ratap gadis kecil yang berada disebelah tempat tidurnya. Pasien itu di bawa masuk ke dalam ICU. Gadis tadi kembali menangis dan memanggil-manggil ayahnya. Wanita yang disebelahnya mencoba untuk menenangkan dirinya.
Cleo yang melihat semua itu kembali teringat dengan kejadian 3 tahun yang lalu. Saat itu tengah malam, Adam yang semula tidur nyenyak tiba-tiba kesulitan untuk bernapas dan segera dilarikan ke rumah sakit. Cleo berusaha untuk melakukan yang terbaik, tapi sayangnya takdir berkata lain. Sebelum mereka sampai di rumah sakit, Adam sudah terlebih dahulu memghembuskan napas terakhirnya. Tidak sanggup melijat gadis tadi menangis, Cleo segera berlari dari sana.
__ADS_1
"BRUK!"
"Maafkan saya!" Cleo tidak sengaja menabrak seseorang.
"Tidak apa-apa." ternyata yang Cleo tabrak adalah seorang pria. Dia membungkuk dan meraih ponselnya. Lalu, menatap Cleo yang masih berdiri di hadapannya.
"Apa ponselmu baik-baik saja? Kalau tidak aku bisa ...." Cleo terdiam saat melihat Andreaslah yang dia tabrak.
"Ponselku baik-baik saja. Hanya saja, kopiku yang tidak bisa diselamatkan." ujarnya. Cleo melihat ke bawah dan benar saja. Lantai itu dibasahi oleh benda cair berwarna coklat.
"Maaf, aku nggak sengaja. Aku akan ganti." ucap Cleo.
"Tidak usah, aku ...."
"Cassano!" Andreas menoleh ke arah suara.
"Ada apa?" tanyanya.
"Apa kamu sudah selesai?" tanya wanita yang mengunakan seragam rumah sakit itu.
"Ya." jawabnya ramah.
"Kalau begitu, ayo!" wanita itu menggandeng tangannya.
"Mau kemana?" Tanyanya.
"Ini sudah waktunya makan siang." ucapnya, mereka meninggalkan Cleo begitu saja.
"Pantas aku sering bertemu dengannya, ternyata dia memiliki kekasih di rumah sakit ini. Dasar bule cabul!" Cleo berjalan keluar dan segera menuju mobilnya.
πππ
"Kenapa papa kesini?" Andreas terkejut saat melihat Vincent berdiri di depan apartemennya.
"Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu." jawabnya.
"Masuklah!" Vincent masuk dan segera dudul di sofa abu-abu yang ada di ruang tamu.
"Ada apa? Langsung saja!" Andreas sangat tahu bagaimana sifat Vincent. Jika tidak hal penting, dia tidak akan mengunjunginya semalam ini.
"Aku menagih janjimu." ucapnya.
"Jani apa?" Andreas terlihat bingung.
"Janji untuk menikah dengan wanita pilihanku." Andreas tercenggang.
"Menikah? Papa jangan bercanda. Untuk saat ini aku belum terpikir kesana." ucapnya.
"Aku tidak membutuhkan alasanmu. Yang ku tahu kau sudah bersedia untuk menikah dengan wanita pilihanku." ucapnya.
"Aku? Kapan aku bilang setuju?" Andreas terlihat bingung. Vincent mengambil ponselnya, kemudian memutar rekaman percakapan mereka 5 tahun yang lalu.
Andreas terdiam, dia ingat pernah mengucapkan kata itu.
"Jadi, bagaimana? Aku sangat tahu bahwa kau tidak akan pernah mengingkari ucapanmu." paksanya.
"Aku butuh waktu." jawabnya.
__ADS_1
"Aku tidak akan menunggu lebih lama lagi. Aku sudah memberimu waktu 5 tahun. Dan, itu bukan waktu yang sebentar. Jadi, dalam bulan ini kau akan menikah." Andreas kembali terkejut.
~tbc