
"Kamu gimana kabarnya?" kedua sahabat itu menghetikan aksi pelukannya.
"Aku baik." jawab Sandra. "Kau gimana?" tanyanya.
"Yah, seperti yang kau lihat." mereka tertawa bersama.
"Apa kita akn terus berdiri disini?" tanya Kiano dari balik maskernya. Mereka menoleh padanya, Cleo juga menatap Raka yang sejak tadi berdiam diri.
"Ini masih jam istirahat. Aku dan rekanku hanya bisa makan siang di kantin." jelasnya. Mereka berdua menoleh pada Raka. "Ah, kalian kenalin dulu, ini rekan seprofesiku, Raka." Cleo memperkenalkan mereka.
"Hi, aku Sandra!" Sandra mengulurkan tangannya.
"Raka." Raka merasakan tangannya berkeringat. Sejak tadi dia terus saja memandangi kecantikan Sandra. Akhirnya sekarang mereka bisa berkenalan.
"Kiano." Kiano gantian mengulurkan tangannya. Raka menjabat tangannya dan memperkenalkan dirinya lagi.
"Apa kalian keberatan kalau kita ngobrolnya di cafetaria aja?" tanya Cleo. Mereka berdua mengangkat bahu. Sandra mengandeng Cleo, mereka berjalan menuju kantin bersama-sama. Sementara Raka dan Kiano berjalan di belakang mereka.
"Aku benar-benar merindukanmu." ucap Sandra begitu mereka sudah berada di meja bersama dengan makanan masing-masing. "Kau kemana saja?" tanya Sandra.
"Maaf! Disana aku terlalu sibuk dengan kuliah dan mengurus ayah. Dan, ponselku juga hilang, itu sebabnya aku tidak bisa menghubungimu." jelasnya.
"Lalu, gimana kabar Ayahmu?" tanya Sandra sambil menyantap makanannya.
"Beliau sudah tiada." Sandra terkejut, begitupun dengan kedua pria yang duduk bersama mereka. "Kau tahu sendiri, ayah sudah lama sakit." jawabnya.
"Aku turut berduka." Sandra memegang tangannya.
"Tidak masalah. Aku bahkan senang, karena punya begitu banyak waktu dengan ayah." Cleo tersenyum.
"Syukurlah! Akhirnya kau mendapatkan apa yang kau mau." jawabnya.
"Kau sendiri bagaimana?" tanya Cleo.
"Aku? Seperti yang kau tahu. Di hari keberangkatanmu, mereka menikah. Dan, aku mendapatkan apa yang aku inginkan." jawabnya.
"Apa saat ini kau tinggal bersamanya?" tanya Cleo lagi, Sandra menggeleng.
"Aku tinggal sendiri." ucapnya.
"Saat ini, dia sudah menjadi pengusaha sukses. Wanita yang ada dihadapanmu ini sekarang seorang CEO." potong Kiano.
"Benarkah?" Cleo seolah tidak mempercayainya. "Aku bangga padamu!" Cleo tersenyum bahagia mendengar kesuksesan yang Sandra raih.
"Lalu, apa kau sudah bertemu dengannya?" tanya Sandra. Cleo tahu siapa yang dia maksud.
"Sudah. Aku tidak sengaja bertemu dengannya." jawabnya. "Dia berubah!" hanya itu yang bisa Cleo katakan.
"Dia tidak berubah, karena itulah aslinya Nayla." jawab Sandra. Dia lebih tahu seperti apa Nayla sebenarnya.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, kenapa sejak tadi anda tidak membuka masker? Apa anda sakit?" tanya Raka pada Kiano. Cleo menoleh padanya.
"T-tidak! Aku baik-baik saja." jawab Kiano.
"Raka benar! Kenapa kau selalu memakai masker? Apa kau tidak pengap?" tanya Cleo, Kiano menoleh pada Sandra yang saat ini sedang tersenyum geli.
"A-aku ...." Kiano terlihat bingung.
"Sudah, biarkan saja! Dia mungkin sedang flu atau alergi dengan bau rumah sakit." jawab Sandra asal.
"Benarkah? Kalau begitu anda harus bertemu dengan salah satu dokter kami. Aku yakin tidak butuh waktu lama untuk menyembuhkan penyakit anda." ucap Raka.
"T-tidak perlu! Aku baik-baik saja." Sandra tertawa, begitupun dengan Cleo.
"Apa ini waktunya kalian berbincang-bincang?" mereka menoleh pada pria bule berjubah putih. Raka segera berdiri, saat mengetahui Andreas menegur mereka. "Jam istirahat sudah berakhir. Mau sampai kapan kalian disini? Apa pasien harus melahirkan dulu, baru kalian datang?" bentaknya.
"Maafkan, aku! Lain kali kita ketemuan." ucap Cleo pada kedua sahabatnya.
"Tunggu, Cle!" Kiano menghentikannya.
"Ini, bawalah!" Kian memberikan rotinya pada Cleo. "Buat ganjal perutmu, aku tahu pekerjaanmu ini menguras tenaga dan pikiran." Cleo tersenyum padanya. "Aku ke ruangam dulu ya! Kau bisa meminta nomorku pada Kian." Sandra menganggul, Cleo dan Raka bergegas menuju Departemen mereka. Melihat keduanya sudah pergi, Andreas berlalu dari sana. Matanya menatap tajam pada Kiano.
"Bukankah dia si bule cabul?" ucap Sandra pelan.
"Siapa?" tanya Kiano.
"Bukan siapa-siapa." jawab Sandra. "Ayo!" ajaknya. Mereka meninggalkan rumah sakit.
๐๐๐
"Aku tidak melakukan kesalahan yang fatal." jawabnya.
"Kau mengabaikan tugasmu, hanya untuk bercengkrama dengan teman-temanmu." ucapnya.
"Aku hanya terlambat 5 menit." jawab Cleo.
"Apa kau tidak tahu, dalam 5 menit itu bisa berapa nyawa yang melayang?" Cleo terdiam. "Tugasmu disini sebagai dokter, banyak nyawa yang ada ditanganmu. Jadi, jangan pernah menyepelekan satu detikpun." Cleo tidak lagi membantahnya, karena apa yang Andreas katakan benar adanya.
"Maaf!!" ucapnya. Akhirnya dia mengakui kalau dia salah.
"Baiklah! Kau boleh pergi." ucapnya. Cleo berbalik. "Ingat! Pulang dari rumah sakit kau harus pergi ke alamat yang sudah kukirimkan. Aku sudah meminta pelayan untuk memindahkan barang-barangmu kesana." Cleo tidak mengatakan apapun. Dia memilih untuk segera keluar dari sana.
"Selalu bertingkah semaunya. Apa pendapatku tidak perlu?" gerutunya.
"Ada apa?" Cleo mengangkat kepalanya dan melihat Vincent berada dihadapannya. "Apa dia membuat masalah denganmu lagi?" tebaknya.
"Tidak." jawabnya.
"Apa kau mau berbincang denganku? Sudah lama kita tidak berbincang." ajaknya. Cleo mengangguk, mereka berjalan menuju ruangan Vincent.
__ADS_1
"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Vincent.
"Iya, Pa." jawabnya. Karena hanya ada mereka berdua, maka Cleo bersikap lebih santai padanya.
"Benarkah? Dia tidak menyusahkanmu sama sekali?" tanya Vincent, Cleo menggeleng. Vincent tahu dia berbohong. Dia sangat tahu seperti apa kerasnya Andreas. "And memang keras. Itu salahku, karena aku selalu sibuk dan sering mengabaikannya. Sejak kecil dia terbiasa sendiri, aku sibuk dengan pekerjaanku. Sementara, Jasmine sibuk dengan kegiatannya. Dia sering terlupakan, makanya And terlihat begitu dingin." Vincent mencoba menjelaskan seperti apa putranya. "Tapi, percayalah! Dia pria yang baik. Kau bisa melihat bagaimana perlakuannya pada mamanya. Pria yang baik itu bisa dilihat dari bagaimana dia memperlakukan kedua orangtuanya." Cleo hanya mengangguk. Jika orangnya bukan Andreas, mungkin dia akan langsung setuju dengan perkataan mertuanya itu. "Apa kalian jadi pindah?" Jasmine sudah memberitahunya.
"Iya. Setelah dari sini, aku langsung ke apartemennya." jawabnya.
"Aku sebenarnya tidak setuju dengan keputusan kalian. Tapi, aku juga tidak bisa memaksa. Kalian juga harus belajar hidup mandiri. Mungkin dengan begitu kalian bisa lebih mengenal lagi." Vincent berdiri, dia mengambil sesuatu dari laci mejanya.
"Ini, ambilah!" Vincent memberikan sebuah amplop putih padanya.
"Apa ini, Pa?" Cleo membukanya. "Ini ....?" Cleo terkejut saat mendapati cek yang jumlahnya tidak sedikit. "Untuk apa uang sebanyak ini?" tanya Cleo.
"Itu hadiah pernikahan dariku." jawabnya.
"Tapi, ini nggak perlu!" Cleo menyodorkan kembali cek itu.
"Kau harus menerimanya. Kalian akan hidup sendiri, jadi kalian pasti membutuhkan barang-barang baru atau apapun. Anggap saja ini uang jajan untukmu." dengan ragu Cleo menyimpan uang itu.
"Sebenarnya papa tidak perlu melakukan ini." ucap Cleo. "Aku masih punya uang." jawabnya.
"Aku tahu, bisnis ayahmu saat ini sudah berkembang dengan pesat. Mungkin itu tidak seberapa dengan yang kau terima dari Bumi setiap bulannya." jawab Vincent.
"Bukan seperti itu, Pa. Aku hanya ...." Cleo merasa tidak enak hati karena menolak pemberiannya.
"Tidak apa! Aku senang karena kakakmu itu begitu perhatian padamu. Sayang sekali dia tidak bisa hadir di pernikahanmu." ucapnya.
๐๐๐
Setelah bertemu dengan Vincent, Cleo segera meluncur ke alamat yang telah Andreas berikan. Saat ini dia berada di depan Athena Apartemen, tepatnya di unit 777. Cleo membunyikan bel tapi tidak ada yang terlihat keluar.
"Kemana dia?" Cleo mencari ponselnyandan mulai menghubungi Andreas.
"Kau dimana?" tanya Cleo.
"Aku sedang di luar." jawabnya.
"Aku ada di depan apartemenmu." jawab Cleo.
"Masuk saja." ucapnya.
"Gimana caranya aku masuk, kalau kau tidak memberitahu passwordnya?" Cleo terdengar kesal. Setelah memberitahukan passwordnya, Cleo masuk dan memandangi seluruh ruangan.
"Aku harus kemana?" Cleo membuka salah satu pintu ruangan itu. Dia harus mencari dimana barang-barangnya. Cleo masuk dan memandangi kamar besar itu. Tapi, pandangan terhenti pada satu bingkai foto yang ada diatas nakas. Cleo mendekat dan melihat lebih jelas wanita yang ada didalam bingkai foto itu.
"Bukankah ini wanita yang di mall?" ucap Cleo.
~tbc
__ADS_1
๐นMinal aidin walfaizin, maaf lahir bathin ya readers๐๐ Selamat menjalankan ibadah puasa๐