CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )

CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )
BAB 64


__ADS_3

"Apa yang ingin kau katakan padanya?" saat ini mereka berada diatas rumah sakit.


"Menurutmu?" Andreas terlihat cuek.


"Jangan pernah katakan apapun. Bukankah kau tidak ingin hubungan ini diketahui oleh siapapun?" ucap Cleo.


"Kau yang membuat masalah! Aku sudah pernah memperingatkanmu. Apa kau lupa?" tanyanya.


"Aku nggak pernah lupa itu. Tapi, menurutku itu tidak adil. Kau melarangku untuk dekat dengan pria manapun. Sementara kau sendiri bebas pergi dengan wanita manapun." Andreas menoleh padanya.


"Apa maksudmu?" tanyanya.


"Kau pasti paham maksudku." Cleo berbalik.


"Tunggu dulu! Jelaskan padaku apa maksud perkataanmu." Andreas mencoba menahannya. Tapi, Cleo keburu menjauh dan meninggalkannya disana seorang diri.


"Dasar wanita aneh!" gumannya.


"Dasar menyebalkan! Dia selalu saja melarangku. Tapi, dia sendiri nggak pernah ngaca." omel Cleo.


"Siapa?"


"Astaga!!" Cleo memegang dadanya. "Apa yang anda lakukan disini?" tanya Cleo saat melihat Yuda berdiri di salah satu anak tangga.


"Harusnya aku yang bertanya, apa yang kalian lakukan diatas?" tanyanya.


"Apa maksud anda?" tanya Cleo.


"Kau dan Cassano! Kalian ada hubungan apa?" tanyanya.


"S-saya nggak ngerti maksud anda. Kalau begitu saya permisi." Cleo bergegas pergi, sebelum Yuda bertanya lebih lanjut.


"H-hm, mencurigakan!" Yuda menoleh ke atas saat mendengar pintu terbuka. Terlihat Andreas menuruni anak tangga.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Andreas.


"Aku yang harusnya bertanya. Sedang apa kau dan dokter Cleo diatas?" Andreas terdiam. Yuda menatap tajam padanya.


"Jangan berpikir aneh-aneh. Aku memarahinya karena kekasihnya itu selalu menganggu pekerjaannya." Andreas terpaksa berbohong.


"Kenapa harus ditempat sepi? Kau bisa memarahinya di ruanganmu." Yuda tidak percaya begitu saja alasan yang dia berikan.


"Apa kau mau membuat gaduh satu rumah sakit? Bukannya sibuk bekerja, mereka akan sibuk membicarakan tentang artis kampungan itu. Sudahlah! nggak ada gunanya juga bahas hal yang nggak penting begini." Andreas membuka pintu.


"Apa dia berkata jujur?" Yuda masih terlihat ragu.

__ADS_1


"Untung saja! Bisa gawat kalau dia sampai tahu." Andreas menoleh ke belakang. Yuda baru terlihat keluar dari sana.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Sialan! Kenapa dia selalu saja mengangguku." Kiano memukul kemudinya. Dia sangat kesal karena Andreas selalu merusak momennya bersama Cleo. Padahal dia sudah susah payah menyempatkan diri untuk menemui Cleo di sela jadwal syutingnya yang padat. "Siapa dia? Kenapa dia selalu mengangguku? Apa dia juga menyukai Cleo?" Kiano tidak bisa memungkiri, pasti banyak yang menyukai wanita cantik itu. Kian menoleh saat melihat ponselnya berbunyi.


"Hallo!" jawabnya.


"Kau dimana?" tanya Omar, asistennya.


"Di jalan. Ada apa?" tanya Kian, sambil membelokkan kemudinya.


"Cepatlah kembali! Mereka sedang menunggumu! Bagaimana syuting bisa berjalan jika pemeran utamanya tidak ada." Omar mengomelinya.


"Tidak perlu mengomeliku. Aku sudah hampir sampai. Kau belikan saja mereka makanan atau apapun." ucapnya sebelum menutup telepon. "Aku harus mencari tahu." tekadnya.


"Kau dari mana saja?" tanya Omar begitu melihat Kiano keluar dari mobilnya.


"Aku ada sedikit urusan." jawab Kian.


"Kian, kau tidak bisa bersikpa sesu ...."


"Maaf, Pak! Tadi ada masalah serius yang harus saya selesaikan. Mohon diterima sebagai permintaan maafku." Kiano menyodorkan sebuah kotak kecil padanya.


"Ini untukku?" tanyanya dengan wajah tersenyum.


"Tentu saja." mendengar jawaban Kian, kedua mata Omar membesar.


"Wah!!! Terima kasih. Kau memang artis yang sangat dermawan." pujinya setelah mendapatkan hadiah mewah itu. "Bersiaplah! 15 menit lagi syuting kita mulai." ucapnya. Kiano pergi menuju ke ruangannya.


"Apa yang kau lakukan? Gimana bisa kau memberinya hadiah semahal itu?" Omar protes.


"Kenapa tidak?" jawabnya cuek.


"Tapi, itukan ....?" Omar terdiam.


"Sudahlah! Ayo, bantu aku bersiap!" ajaknya. Omar mengikutinya dengan wajah cemberut.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Pulang sama siapa, Cle?" tanya Raka saat melihat Cleo sedang berdiri di depan rumah sakit dengan menenteng ranselnya.


"Taksi." jawabnya.


"Kamu nggak bawa mobil?" tanya Raka. lagi. Cleo menggeleng.

__ADS_1


"Ayo, aku antar!" ucapnya.


"Nggak usah, aku mau ke mall dulu. Ada yang harus kucari." Cleo kembali menolak.


"Cass, aku ikut mobilmu ya!" Cleo dan Raka menoleh saat mendengar suara Olive. Cleo menatap tajam pada Andreas.


"Dimana mobilmu?" tanya Andreas menatap ke arah Cleo yang berdiri tak jauh darinya.


"Di bengkel." Olive yang menyadari Andreas sedang menatap Cleo segera merangkul lengan Andreas. "Boleh ya!" bujuknya dengan suara manja.


"Ok." Olive tersenyum, setelah mengatakan itu mereka berjalan menuju mobil Andreas yang berada di parkiran depan. Cleo merapatkan semua giginya, tangannya mengepal dengam sendirinya.


"Mereka pasangan serasi ya?" Cleo menoleh pada Raka. Cleo hanya diam, kemudian dia menghentikan taksi yang kebetulan sedang menurunkan penumpang.


"Aku duluan ya!" ucapnya pada Raka. Raka mengangguk kemudian melambaikan tangannya.


"Jalan, Pak!" ucap Cleo. Mobil itu segera meninggalkan Giant Hospital.


"Dia sepertinya ingin memamerkan padaku kalau dia mempunyai banyak wanita. Dia pasti sengaja." Cleo menahan amarahnya. Dia kesal, karena Andreas selalu menuntutnya ini dan itu, sementara dia sendiri selalu bersikap sesuka hatinya.


"Kita sudah sampai, Nona." Cleo tersadar dari lamunannya. Dia melihat kalau saat ini mereka sudah tiba di Apartemen mereka. Cleo membatalkan niatnya untuk ke mall, karena mood-nya sudah tidak lain baik.


"Terima kasih, Pak." ucapnya setelah membayar biaya taksi. Setelah itu Cleo berjalan pelan memasuki apartemen mewah itu.


Begitu sampai di dalam, dia memandang ke sekeliling. Ruangan itu tampak kosong, Cleo merindukan rumahnya. Setidaknya, disana ada bi Ita dan yang lain yang selalu menemaninya. Cleo bergegas menuju kamarnya dan segera membersihkan diri.


"Aku lapar!" ucapnya. Dia keluar dan berjalan menuju dapur, tapi langkahnya terhenti saat melihat Andreas yang baru saja pulang. Tanpa bertanya apapun, Cleo segera berlalu menuju dapur. Andreas hanya menatapnya dalam diam. Setelah itu dia masuk kamarnya.


Cleo yang sibuk di dapur, tidak menyadari kedatangan Andreas. Pria itu terus saja memperhatikan apa saja yang sedang Cleo lakukan. Saat ingin meletakkan makanan, dia baru sadar bahwa Andreas ada disana.


"Apa yang kau masak?" tanyanya. Cleo tidak mengatakan apapun. Dia meletakkan dua piring nasi goreng yang masih panas itu di meja. Andreaa yang memang sedang lapar, segera menyantap bagiannya.


"Ini pedas banget!" ucapnya sambil menahan rasa pedas dilidahnya. Cleo mengambil gelas dan mengisinya dengan air, kemudian memberikannya pada Andreas. Pria itu menatap sekilas padanya, kemudian meneguk habis air mineral itu. "Lain kali kalau kau masak jangan pedas begini. Aku tidak suka pedas." ucapnya. Cleo tidka mengatakan apapun, dia segera membawa piringnya ke wastafel, kemudian meninggalkan Andreas disana.


"Kenapa dengannya?" Andreas kembali melanjutkan makannya. Meskipun pedas, tapi masakkan Cleo sangat enak.


"Ini." Cleo meletakkan amplop putih di dekat Andreas.


"Apa ini?" tanyanya. Cleo yang berdiri di sebelahnya dapat melihat dengan jelas kalau saat ini hidungnya dan bibirnya memerah. Cleo kembali duduk di kursinya. Andreas membuka amplop itu dan matanya langsung terbelalak saat mengetahui isi didalamnya.


"Apa-apaan ini? Kapan kau merencanakan ini? Apa kau pikir kalau kita ini benaran menikah?" Andreas membuang kertas itu. "Aku memang melarangmu dekat dengan pria manapun. Tapi itu bukan karena kau istriku, melainkan demi kesehatan mamaku. Jadi, kau jangan pernah bermimpi untuk bisa honeymoon denganku. Karena aku tidak pernah melihatmu sebagai seorang wanita. Kau hanya bocah ingusan yang saat ini sedang bermain-main dengan hidupku." Andreas tidak membiarkan Cleo menjelaskan apapun. Cleo berusaha menahan butiran airmata yang memaksa keluar. "Jadi, buang jauh-jauh angan-anganmu itu. Aku bahkan tidak tertarik pada dirimu." Andreas menatapnya dengan dingin. Dia masih emosi dengan tiket honeymoon yang Cleo berikan.


"Sebaiknya kau katakkan saja pada papamu." setelah mengatakan itu, Cleo berlari menuju kamarnya. Andreas yang semula mengebu-gebu, kini terdiam.


~tbc

__ADS_1


__ADS_2