
"Sepertinya ini bukan kamarku." Cleo berjalan keluar, dia melihat masih ada satu ruangan yang belum dia masuki. Cleo berjalan kesana dan membuka pintu. Cleo sangat yakin itu adalah kamarnya, karena dia melihat kopernya ada disana. Cleo masuk dan menatap ke sekeliling ruangan. Terdengar suara ponselnya.
"Hallo!" jawabnya.
"Kamu lagi apa?"
"Baru pulang." jawab Cleo.
"Kenapa suaramu seperti itu?"
"Aku capek, Mas!" Cleo menghempaskan tubuhnya di kasur empuk itu.
"Apa suamimu membuat masalah lagi?"
"Mas Bumi apaa sih? Kenapa juga ngomongin dia?" ternyata yang menghubunginy adalah Bumi, kakak sepupunya.
"Kamu nggak perlu bohong. Dari caramu bicara saja, aku tahu kalau saat ini kamu nggak bahagia." jawab Bumi.
"Ah, itu hanya dugaan mas aja." Cleo kembali berbohong. Dia tidak ingin Bumi tahu apa yang terjadi dalam hidupnya.
"Awas saja kalau pria itu berani menyakitimu." ancamnya.
"Apaan sih, Mas? Itu nggak akan terjadi." Cleo tidak ingin Bumi membuat keributan jika dia tahu seperti apa sikap Andreas padanya. Dari awal Bumi sudah menentang perjodohan ini. Karena menurutnya Cleo berhak menentukan jalan hidupnya sendiri. "Mas, aku lapar! Aku makan dulu ya!" mereka mengakhiri pembicaraan. Cleo hanya beralasan. Dia tidak ingin Bumi mengorek lebih jauh mengenai hubungannya dengan Andreas. "Maafin aku, Mas!" ucapnya sambil menatap wallpaper yang ada di ponselnya. Disana terpanjang dirinya dan Bumi yang terlihat begitu bahagia.
Bumi Arkana, sepupu Cleo. Sejak tinggal di London, Bumi begitu menjaga dirinya. Bumi tidak pernah membiarkan sesuatu terjadi padanya. Apalagi setelah Adam meninggal, Bumi mengambil alih tugasnya untuk menjaga dan melindungi Cleo. Hubungan mereka sudah seperti saudara kandung. Mereka saling mengisi satu sama lain.
"Lebih baik aku mandi." Cleo mengambil baju gantinya dan berjalan menuju kamar mandi.
πππ
"Dimana Bosmu?" tanya Andreas saat dia sampai di sebuah butik termana.
"Beliau sedang keluar, Tuan." jawab wanita itu.
"Apa-apaan dia? Dia memintaku datang, tapi dia sendiri tidak ada disini?" Andreas terlihat kesal.
"Beliau berpesan agar anda menunggu di ruanganya saja." Andreas segera menuju ruangan Gilang, sahabatnya.
"TOK TOK TOK." Andreas menoleh saat mendengar ada yang mengetuk pintu.
"Silahkan diminum, Tuan." ucap pelayan butik itu padanya. Andreas tidak mengatakan apapun. Dia kembali sibuk dengan ponselnya. "Tuan, apa anda masih ingat dengan saya?" tanya wanita tadi yang tak lain adalah Nayla. Andreas menoleh dan menatap ke arahnya.
"Kau ....?"
"Iya, saya yang di club kemarin." jawab Nayla.
"Oh..., jadi kamu bekerja disini?" tanyanya.
"Benar." jawab Nayla.
"Apa yang anda lalukan disini? Apakah anda membutuhkan jas?" tanyanya.
__ADS_1
"Tidak. Aku ada janji dengan Gilang." jawabnya.
"Oh iya, Tuan, Kemarin saya belum sempat mengucapkan terima kasih." Nayla tersipu malu.
"Tidak masalah." jawabnya.
"Tapi, berkat anda malam itu saya selamat. Jika tidak ada anda, entah seperti apa nasib saya." Nayla bersikap sangat ramah padanya.
"Apa yang kalian bicarakan? Apa kau sedang menggoda pegawaiku?" Gilang yang baru saja datang segera menghampiri mereka.
"Dari mana saja kau?" tanya Andreas.
"Sorry, tadi aku ada sedikit urusan." jawabnya. Gilang duduk di meja kerjanya. Andreas berdiri dan menghampirinya.
"Aku paling tidak suka menunggu. Kau tahu itu." ucapnya.
"Kenapa kamu masih disini?" bukannya menjawab, Gilang malah menanyakan keberadaan Nayla disana.
"M-maafkan saya, Tuan." Nayla bergegas keluar dari sana.
"Kenapa kau memintaku kesini?" tanya Andreas.
"Ini menyangkut Mahen." jawabnya.
"Mahen? Kenapa dengannya?" tanya Andreas.
"Apa kau sudah tahu kalau Mahen mencintai Yuna?" tanya Gilang. Andreas mengangguk. "Lalu, apa tanggapanmu?" tanyanya.
"Itu haknya, kita nggak bisa menghentikan perasaan orang." jawab Andreas.
"Itu tidak akan terjadi. Mahen tidak akan melakukam apapun yang akan merugikan dirinya sendiri." timpalnya.
"Aku hanya khawatir." Gilang terlihat cemas.
"Sudahlah! Kita percayakan saja pada Al. Aku yakin Alvaro pasti bisa menyelesaikan semua ini." Andreas seperti tahu kecemasannya.
"Kau mau kemana?" tanya Gilang.
"Pulang." jawabnya.
"Tapi, aku belum selesai!" teriak Gilang saat Andreas berada di depan pintu.
"Sudah kubilang, kita percayakan pada Al." dia membuka pintu.
"Agghh!! Dia sama sekali tidak membantu." gerutu Gilang.
"Tuan!!" Andreas berhenti saat melihat Nayla berlari ke arahnya.
"Ada apa?" tanyanya.
"Apa saya boleh ...." ponsel Andreas berdering. Setelah menjawab telepon itu, dia kembali menatapnya.
__ADS_1
"Baik, aku segera kembali." ucapnya setelah menerima panggilan. "Maafkan saya, tapi saya buru-buru." Andreas segera meninggalkan Nayla begitu saja. Dia harus kembali ke rumah sakit.
"Apa kau mengenalnya?" tanya Nayla pada rekan kerjanya.
"Dia dokter Casaano, sahabat tuan Gilang." jawabnya.
"Dokter Cassano ....?" Nayla terus saja menatapnya hingga pergi.
πππ
"Apa dia tidak punya makanan?" Cleo membuka kulkas Andreas. Kosong, tidak ada satupun disana. Sebaiknya kau berbelanja." Cleo mengambil jaket dan dompetnya. Dia melihat ada mini market yang tak jauh dari apartemen itu sebelumnya.
"Dimana dia?" Andreas yang baru pulang tidak melihat keberadaan Cleo disana. Dia berjalan menuju kamar Cleo, setelah mengetul cukup lama, Cleo juga tak terlihat. Andreas membuka pintu itu, dan tak mendapati seorangpun disana. "Kemana lagi dia?" Andreas berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Saat akan membuka pintu, terdengar suara pintu do buka dari luar.
"Dari mana saja kau?" tanya Andreas saat melihat Cleo yang masuk.
"Aku baru saja ...."
"Apa kau tidak bisa berdiam diri disini? Kenapa kau selalu bersikap seenakmu?" marahnya.
"Tapi, aku hanya ke mini market untuk membeli ini." Cleo mengangkat belajaannya.
"Aku tidak butuh alasanmu. Mulai saat ini, jika kau ingin keluar, kau harus izin dulu padaku." Cleo membelalak.
"Untuk apa?" tanyanya.
"Jangan protes! Ini rumahku, jadi kau harus mengikuti setiap perkataanku." setelah mengatakan itu, dia berjalan menunu kamarnya. Meninggalkan Cleo yang masih terpaku seorang diri.
Cleo berjalan menuju dapur, dia menata dengan rapi semua belanjaannya. Setelah itu Cleo mulai memasak mie instan yang memang sengaja dia beli. Awalnya dia bernuat untuk memasak makan makan malam. Tapi, melihat Andreas yang memarahinya tanpa alasan, membuatnya membatalkan keinginannya. Setelah semua selesai Cleo meninggalkan dapur dan membawa mie instan itu ke meja makan.
"Sruuppttt!!" Cleo menyeruput mie instan buatannya.
"Apa kau tidak bisa makan dengan sopan?" tanya Andreas yang sudah berada disana.
"Memang beginilah caranya makan mie." Cleo kembali menyeruput mie itu. Suaranya membuat Andreas terganggu. Andreas meletakkan gelas di atas meja, kemudian dia berjalan menuju dapur. Dia membuka kulkas, dan melihat kulkas itu sudah terisi setengah.
"Apa dia yang membeli semua ini?" ucapnya pelan. Dia mengambil satu buah apel dan berjalan ke arah Cleo.
"Apa kau tidak bisa masak?" tanyanya.
"Bisa." jawab Cleo sambil terus menyantap mie itu.
"Lalu, kenapa kau tidak masak apapun?" tanyanya.
"Aku sudah masak ini." Cleo menunjuk mangkuknya yang sudah kosong.
"Apa kau selalu seangkuh ini? Kau tinggal di rumahku. Jadi, setidaknya kau juga harus memikirkanku. Kau tinggal disini tidak gratis." Cleo berdiri dan membawa mangkuknya ke belakang.
"Apa kau tidak mendengarku?" teriak Andreas.
"Bukan aku yang ingin tinggal disini, tapi kau!" Cleo menatap tajam ke arahnya. "Jika kau tidak suka, aku akan pulang ke rumahku." Cleo meninggalkannya seorang diri
__ADS_1
"Dasar tikus tengil!!" ingin rasanya dia mengusir Cleo saat ini juga. Tapi, dia tidak bisa karena Jasmine.
~tbc