
Nayla terus menangis, dia tidak menyangka apa yang terjadi padanya karena perbuatan ibunya sendiri. Dia ingin marah pada Aisyah, tapi hatinya tidak tega saat mendengar Aisyah melakukan itu untuk masa depannya.
"Nay! Buka pintunya!" sudah lewat pukul 09.00wib tapi Nayla belum keluar dari kamar. Aisyah memilih untuk mengetuk pintunya. "Nayla!!" ketuknya lagi. Terdengar suara pintu di buka. "Kamu mau kemana?" tanya Aisyah saat melihat Nayla sudah rapi.
"Aku mau keluar!" jawabnya tanpa menatap Aisyah.
"Sayang, kamu masih marah pada ibu? Aisyah mencengkram tangannya.
"Lepasin aku!" Nayla menepis tangan Aisyah dan berjalan keluar dari rumah. Dia berjalan menuju gang dan menghentikan ojek yang melintas di depannya. Nayla sampai di depan rumah Sandra. Setelah mendapatkan izin dari Security, dia berjalan menuju pintu masuk.
"Lo, mau apa lagi?" tanya Sandra yang sudah mengetahui kedatangannya.
"Aku sudah tahu alasanmu melakukan itu." jawabnya.
"Lalu?" Sandra menatap tajam ke arahnya.
"Aku minta maaf atas nama ibuku." Nayla membungkuk, Sandra menurunkan pandangannya. "Dia melakukan itu untuk membahagiakanku." akunya.
"Membahagiakan lo dengan cara menyakiti gue? Sungguh hebat ibu lo!" Sandra mencemoohnya.
"Kenapa kamu begitu membenci ibuku?" tanya Nayla.
"Jika ibu lo wanita baik-baik gue nggak akan melakukan ini. Tapi, ibu lo nggak sebaik yang lo pikir." ucap Sandra.
"Berhenti menyalahkan ibuku!" Nayla tidak terima mendengar Sandra terus-terusan menjelekkan Aisyah.
"Gue berkata benar! Ibu lo perusak keluargaku." jawabnya.
"Sandra, Cukup!" teriak Aisyah dari depan pintu.
"Ibu ...?" ucap Nayla.
"Sudah cukup kamu mengatakan hal buruk tentangku dan putriku." Aisyah terlihat marah.
"Wow! Simpanan papaku mulai mengeluarkan taringnya." ejek Sandra.
"Aku tidak akan mentolerir lagi. Setelah aku menjadi nyonya di rumah ini, Kau pasti akan mendapatkan balasan atas perilakumu padaku dan putriku." ancam Aisyah.
"Lo pikir gue takut? Masuklah ke dalam rumah ini. Gue udah nggak sabar menanti kehadiran kalian berdua." Sandra balik mengamcamnya, kemudian dia menatap pada Nayla yang terlihat bingung."Sepertinya putrimu belum tahu. Selamat, sebentar lagi lo akan tinggal di rumah ini. Dan gue pastikan lo pasti akan sangat betah." Sandra naik ke kamarnya.
"Apa maksudnya, Bu?" tanya Nayla.
"3 hari lagi ibu dan papanya akan menikah. Dan, kita akan tinggal disini." jelasnya, Nayla semakin terkejut.
"Menikah?" tanyanya.
"Tentu saja, Sayang! Dengan begitu kamu akan hidup bahagia." jawabnya. Nayla tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Mereka pikir aku akan diam saja. Aku tidak akan pernah menerima mereka. Aku pastikan mereka akan menyesal menjadi bagian dari keluarga ini." mata Sandra menyala-nyala. Ternyata kecurigaannya benar, Aisyah bukanlah wanita baik-baik.
πππ
__ADS_1
"Cass, lo mau kemana?" tanya Yuda saat melihat Andreas berjalan menuju mobilnya.
"Gue ada urusan. Tolong, lo hadle pasien. Tadi, gue udah minta gantiin sama Willy." ucapnya.
"Iya, tapi lo mau kemana?" tanya Yuda lagi. Andreas tidak menjawab, dia langsung menutup pintu mobilnya dan pergi dari sana. Mobil yang dia kendarai sampai di Bandara. Dia segera menuju ke teminal keberangkatan.
"Tika, tunggu!" ucapnya setelah menemukan sosok yang dia cari.
"Andre?" ucap wanita itu. "Kamu kesini sama siapa?" dia terlihat mencari keberadaan seseorang.
"Aku sendiri." jawabnya,wanita yang bernama Tika itu terlihat lesu.
"Dia nggak datang?" Andreas menggeleng. "Sudah kuduga." jawabnya.
"Kapan kamu kembali?" tanyanya.
"Entahlah! Aku harus menyelesaikan kuliahku di sana." ujarnya.
"Apa kamu pergi karena Al?" tanyanya. Cantika terdiam. Wajahnya terlihat sedih.
"Aku selalu berusaha menjadi wanita yang dia inginkan. Tapi kamu tahu sendiri, Al tidak pernah menyukaiku. Bahkan, dia tidak pernah menatapku." Cantika menangis. Andreas memeluknya.
"Sudahlah! Kamu tahu gimana Alvaro." dia mencoba menenangkannya. Terdengar panggilan untuk tujuan Paris.
"Aku harus pergi." Tika melepaskan pelukannya. Andreas mengangguk. "Selamat tinggal!" ucapnya. Andreas menatap sedih kepergian wanita yang dia cintai dalam diam.
Cantika adalah teman semasa SMA-nya. Andreas sudah lama memendam perasaannya untuknya. Tapi, Cantika selalu mengejar-ngejar Alvaro, sahabatnya sendiri.
πππ
"Ayah, mau minum?" tanya Cleo, Adam mengangguk lemah. Kondisinya sudah jauh lebih baik.
Walaupun masih terbaring menggunakan infus dan selang oksigen, tapi Adam sudah tidak lagi dalam bahaya. Cleo membantu memberikan air minum dengan sedotan. Setelah Adam selesai, Cleo meletakkan lagi gelasnya.
"S-sayang!!" Cleo menoleh padanya.
"Ya, Yah?" jawabnya. Adam berusaha mengangkat sedikit tangan. Cleo menyambut tangan itu.
"M-maafin, Ayah." ucap Adam lemah.
"Ayah ngomong apa? Cleo yang harusnya minta maaf. Cleo yang udah buat ayah seperti ini." Cleo menangis dan menggenggam erat tangannya.
"Ayah, sudah merahasiakan semua ini darimu." jawab Adam.
"Cleo mengerti, Yah! Cleo tahu ayah melakukan itu untuk Cleo. Cleo yang salah, maafin Cleo." selanya. Adam mengelus pelan kepalanya.
"Apa yang terjadi disini?" Vincent tiba-tiba masuk dan memecah kesedihan diantara mereka. Cleo menyeka airmatanya dan segera berdiri.
"Bagaimana kondisimu?" tanyanya.
"Aku baik." jawab Adam.
__ADS_1
"Tentu saja, kau baik. Putrimu menjagamu dengan sangat telaten. Aku rasa dia pantas untuk menjadi seorang dokter." mereka menoleh pada Cleo.
"Aku sudah mempertimbangkannya. Aku akan kuliah di London." mendengar itu Adam tersenyum pilu, hatinya sedih membayangkan harus berpisah dengan Cleo. "Itupun, jika ayah ikut denganku." jawabnya kemudian. Adam terdiam.
"Ayo, kita pergi bersama, Yah. Aku ingin tetap bersama ayah. Izinkan aku untuk menjaga dan merawat ayah." Cleo kembali memegang tangannya.
"Tapi, Ayah punya tanggung jawab besar disini. Itu semua untuk masa depanmu kelak. Apalagi kondisiku saat ini tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan sejauh itu." Adam menolaknya.
"Untuk masalah itu kau tidak perlu khawatir. Aku sendiri yang akan menemanimu kesana." Cleo tersenyum padanya. "Dan, kau bisa menjalankan bisnismu dari sana. Izinkan putrimu untuk menghabiskan saat-saat terakhirnya denganmu. Aku tahu kau juga pasti menginginkan itu, bukan?" tidak ada lagi rahasia diantara mereka. Cleo sudah tahu kondisi ayahnya saat ini.
"Baiklah." Adam menyetujuinya. Cleo tersenyum bahagia.
"Terima kasih, Paman." Cleo memeluk pria berjas putih itu. Vincent tertawa dan membalas pelukannya.
"Aku hanya ingin kau bahagia." jawabnya pelan.
"Selama aku tidak sadarkan diri ternyata telah kau berhasil mencuri putriku." ledek Adam.
"Dia bukan hanya putrimu, tapi akan menjadi putriku juga." jawabnya, Cleo melepaskan pelukannya.
"Apa maksud, Paman?" Vincent menatap Adam yang menggeleng lemah.
"Bukan apa-apa, Sayang! Kamu itu juga putriku." Vincent berkilah, Adam tersenyum begitupun dengannya.
πππ
"Darimana kamu?" Vincent yang akan pulang melihat Andreas berjalan menuju IGD.
"Aku ada sedikit urusan diluar." jawabnya pelan.
"Urusan apa yang membuatmu meninggalkan pasien begitu saja?" tegurnya.
"Sudahlah, Papa! Aku sedang tidak ingin berdebat." jawabnya.
"Tunggu dulu!" Andreas berhenti dan kembali berjalan menuju Vincent.
"Apa lagi?" saat ini suasana hatinya benar-benar buruk.
"Apa aku sudah bisa mendapatkan jawaban itu?" tanyanya.
"Jawaban apa?" tanyanya.
"Mengenai perjodohanmu." Andreas buru-buru mengangkat kepalanya dan menoleh ke sekeliling. Untunglah tidak ada siapa-siapa disana kecuali mereka berdua. "Bagaimana?" tanyanya lagi.
"Terserah papa saja." setelah menjawab, dia segera berbalik dan meninggalkan Vincent begitu saja.
"Kau tidak akan bisa menarik kata-katamu lagi." mobil Vincent meninggalkan Giant Hospital.
~tbc
~tbc
__ADS_1