CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )

CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )
BAB 43


__ADS_3

"Kau apa yang kau lakukan?" Andreas mencengkaram tangan Cleo begitu dia berhasil mengejarnya.


"Apa?" tanyanya tanpa rasa bersalah.


"Kau menghabiskan uangku hanya untuk membeli ini?" Andreas melemparkan paperbag yang berisi cincin itu padanya.


"Bukankah kau yang menyuruhku untuk memilih? Jadi, kenapa sekarang kau malah marah-marah?" tanya Cleo.


"Kau ...!!" Andreas mengeram kesal. "Belum nikah kau sudah berani menghamburkan uangku, apalagi jika kau sudah menjadi istriku. Kau bisa membuatku jatuh miskin dalam sehari." amuknya.


"Itu deritamu." Cleo berjalan menuju mobil Andreas. Pria itu membuka pintu dan segera masuk.


"Hey! Tunggu aku!" Bukannya membukakan pintu untuk Cleo, dia malah segera tancap gas. Meninggalkan Cleo begitu saja. "Dasar bule cabul!!" Andreas tertawa saat melihat dari spion apa yang Cleo lakukan. Gadis itu mencak-mencak ke arahnya.


"Tau rasa lo!" ucapnya.


"Ah, sial! Gimana aku balik ke rumah sakit? Tas dan ponselku'kan ketinggalan di mobilnya." Cleo mengaruk kepalanya yang tidak gatal. "Awas saja dia! Aku pasti akan membalasnya." geramnya.


"Taksi!!" Cleo berusaha menghentikan taksi yang lewat di depannya. Tapi tidak ada satupun dari taksi itu yang berhenti. Tangannya masih memegang paperbag yang Andreas lemparkan tadi.


"TIN TIN" terdengar klakson mobil dari belakangnya. Cleo melihat sebuah mobil SUV berwarna hitam. Dia tidak menghiraukan dan memilih untuk menepi. Dan, sekali lagi mobil itu membunyikan klaksonnya.


"Mau apa sih itu orang?" Cleo yang sedang kesal terpancing emosi. Dia menatap ke arah mobil yang tertutup dengan kaca hitam. Sehingga dia tidak bisa melihat siapa pengemudi mobil itu. Terlihat pintu terbuka, dan seorang pria tinggi berkulit putih dengan rambut klimis berjalan mendekatinya. Pria itu mengenakan kacamata hitam.


"Cleopatra?" pria tadi memanggil namanya. Cleo menoleh dan menatap dengan penuh tanya. Dia tidak mengenali pria yang berdiri dihadapannya itu.


"Anda siapa?" tanyanya.


"Benarkah, ini kamu?" pria itu terlihat bahagia. "Ini aku, Kiano!" dia segera membuka kacamata hitam miliknya. Cleo langsung mengenalinya.


"Kamu, Kiano?" Cleo tersenyum, Kiano mengangguk.


"Apa kabar kamu?" Cleo terkejut saat Kiano memeluknya.


"A-aku b-baik." jawabnya sambil melepaskan diri dari Kiano.


"Wah, kamu makin cakep aja." pujinya.


"Lupakan itu! Apa ini mobilmu?" tunjuknya pada SUV hitam tadi.


"Iya, kenapa?" tanyanya.


"Kalau begitu, tolong antar aku ke Giant Hospital." tanpa menunggu persetujuan dari yang punya mobil, Cleo langsung duduk disamping kemudi. Kiano memasang kembali kacamatanya dan bergegas menyusul Cleo.


"Kamu mau apa kesana? Apa ada yang sakit?" tanyanya.


"Udah kamu cepat aja. Nanti aku bisa semakin terlambat." Cleo harus buru-buru karena sebentar lagi waktunya dia piket.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku. Apa ada kerabatmu yang sakit?" Kiano mengulang pertanyaannya.


"Aku kerja disana." jawabnya.


"Oh." Kiano mengerti, dia segera memacu laju mobilnya.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Dimana Cleo?" tanya Vincent saat melihat dia hanya datang seorang diri. Saat ini mereka berada di basement rumah sakit.


"Aku nggak tahu." Andreas cuek.

__ADS_1


"Bukankah dia pergi bersamamu?" tanyanya.


"Aku meninggalkannya di Mall." Vincent melotot.


"Apa yang kau lakukan?" teriaknya.


"Salahnya sendiri. Aku menyuruhnya membeli cincin pernikahan. Tapi, dia malah menghabiskan uangku untuk membeli cincin untuk dirinya sendiri." Andreas melampiaskan kekesalannya.


"Kenapa Cleo sampai melakukan itu? Kau pasti berbohong. Aku sangat mengenalnya." Vincent tidak mempercayai ucapannya.


"Terserah kalau papa tidak percaya. Tapi, menantu pilihan papa itu bisa membuatku bangkrut." Andreas berjalan menuju pintu masuk yang ada di basement.


"Itu tidak mungkin." Vincent masih tidak mempercayai perkataan putranya.


"Ok, Kita sampai!" ucap Kiano saat mengantar Cleo sampai di depan Giant Hospital.


"Makasih ya kamu udah mau nganterin aku sampai kesini." ucap Cleo sambil membuka seatbelt.


"Tidak apa. Aku malah senang bisa ketemu kamu lagi." senyum Kiano masih sama.


"Aku masuk dulu ya. Sekali lagi makasih."


"Cle, apa kita bisa ketemu lagi?" tanyanya sebelum Cleo membuka pintu.


"Tentu saja! Kau bisa menghubungiku." ucapnya." Kiano meraih ponselnya.


"Berapa?" tanyanya. Cleo tersenyum dan memberikan nomornya pada Kian.


"Aku pasti akan menghubungimu." Kiano mengoyang-goyangkan ponselnya.


"Aku masuk ya!" Cleo membuka pintu dan segera berlari keluar. Kiano menurunkan kaca mobil dia terus memperhatikan Cleo hingga masuk ke lobby rumah sakit. Setelah itu, dia kembali menjalankan mobilnya meninggalkan Giant Hospital.


"Siapa dia?" Raka yang kebetulan melihat Cleo keluar dari mobil Kiano bertanya-tanya Cleo bersama dengan siapa.


"Dokter Casanno sedang di ruangan pasien." jawab Luna.


"Hmm, ada yang dianterin pacar ya?" ucap Raka yang baru datang. Semua yang berada di Nurse Station menoleh padanya.


"Siapa yang kau maksud?" tanya Desmi.


"Siapa lagi, wanita tercantik di Departemen kita dong." jawabnya.


"Aku?" tanya Luna.


"Sayang, kamu memang cantik." Luna tersipu malu mendengar ucapan Raka. "Tapi, tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikan Dokter Cleopatra." mendengar namanya disebut, Cleo langsung menoleh.


"Aku?" tanyanya.


"Yups! Barusan pacar atau suami?" tanya Raka tanpa basa-basi.


"Yang mana?" Cleo bingung.


"Itu ...., SUV hitam." Cleo segera mengerti.


"Oh, dia temanku!" jawab Cleo.


"Teman? Cowok apa cewek?" Raka terlihat sangat penasaran.


"Cowok." mereka segera bersorak, Cleo jadi malu.

__ADS_1


"Yakin cuma teman, Dok?" sela Luna.


"Yakin." mereka kembali mengolok-olok Cleo


"Apa yang kalian tertawakan?" mereka di kagetkan dengan kehadiran Andreas. Andreas melihat ke arah Cleo.


"Ini, Dok, Dokter Raka melihat Dokter Cleo diantar oleh pacarnya." jawab Desmi.


"Benarkah?" Andreas menoleh pada Cleo, dia sedikit khawatir kalau yang Raka lihat adalah dirinya.


"Benar, Dok. Barusan dokter Cleo diantar dengan SUV berwarna hitam." ucap Luna sok tahu, Andreas bernapas lega tapi itu hanya sesaat, dia kembali menatap tajam Cleo. Andreas berjalan keluar setelah dia selesai dengan status pasiennya.


"Sebentar ya!" Cleo berlari mengejar Andreas.


"Tunggi, Dokter Casanno!" teriak Cleo, Andreas menghentikan langkah kakinya.


"Ada apa?" tanyanya.


"Dimana tasku?" ucap Cleo pelan.


"Apa maksudmu?" tanyanya.


"Tasku ketinggalan di mobilmu. Aku sangat membutuhkan ponselku." ucapnya.


"Untuk apa? Agar kau bisa menghubungi kekasihmu?" Andreas sangat ketus.


"Aku lagi piket. Jadi, aku membutuhkan ponselku. Kau pasti tahu kegunaannya, bukan?" Cleo tak kalah ketusnya.


"Ini." Andreas memberikan kunci mobilnya. "Ambil sendiri. Setelah itu, antar kunci itu ke ruang praktekku." tak ingin menimbulkan kecurigaanpada staff lainnya, Andreas segera meninggalkan Cleo.


Cleo berputar-putar mencari mobil milik Andreas. Untung saja dia hapal nomor plat mobilnya. Sayangnya dia lupa menanyakan dimana mobil itu terparkir.


"Sial! Dia membuatku berputar-putar." Cleo menggerutu karena belum menemukan mobil sedan hitam milik Andreas. Dia terus mencari hingga sampai di tempat mobil itu terparkir. Dengan kesal, Cleo membuka pintu mobil dan mengambil tasnya yang berada di kursi.


"Aku akan memberinya pelajaran." Cleo berbalik dan berjongkok. Dengan sengaja doa membuka ****** ban mobil Andreas dan menusuknya dengan anak pena. Tak berhenti di satu ban, Cleo mengempeskan keseluruhan ban mobil milik Andreas.


"Biar tahu rasa." Cleo bergegas masuk dan berjalan menuju ke ruang praktek Andreas.


"Apa dokter Casanno ada?" tanyanya pada perawat yang bertugas.


"Beliau sedang ada pasien." jawabnya.


"Kalau begitu, tolong berikan ini padanya." Cleo memyerahkan kunci mobil itu ke tangganya.


"Tapi, ini apa?" tanyanya.


"Hmm, kebetulan saat visit tadi, kunci mobil beliau ketinggalan." Cleo terpaksa berbohong kunci itu segera berpindah tangan. Cleo kembali ke ruangannya.


" Tunggu, aku! Aku segera kesana." Andreas berbicara di telepon. Dia menggantung jasnya dan segera meraih ponsel dan kunci mobil yang ada di atas meja.


"Mau kemana?" tanya Yuda yang melihat dia terburu-buru.


"Aku harus ke Bandara." jawabnya.


"Apa yang kau lakukan disana?" Yuda bingung.


"Bukan urusanmu!" Andreas berjalan menuju mobilnya. Sesampainya disana, dia segera masuk ke mobil dan mencoba mengeluarkan mobil dari area parkir. "Kenapa dengsn mobil ini?" Andreas memukul-mukul kemudi. Merasa tak ada masalah, dia turun untuk memeriksa keadaan mobilnya.


"Apa-apaan ini?" Andreas terkejut saat mendapati ban mobilnya sudah pada kempes. "Siapa yang melakukan ini?" Andreas sangat marah, dia takut pesawat Cantika akan berangkat.

__ADS_1


"BOCAH TENGIL!!!" Andreas sadar siapa kemungkinan pelakunya.


~Tbc


__ADS_2