CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )

CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )
BAB 28


__ADS_3

"Cleo!! Cleo!! tunggu, Gue!!" Sandra berhasil mengejarnya.


"Maafin aku, San. Tapi, aku harus memastikan semua perkataan Nayla." Cleo terlihat begitu panik. Wajahnya sangat pucat.


"Lo gak perlu dengerin dia. Lo, tahu sendiri gimana mulutnya." Sandra mencoba menenangkannya.


"Tapi, gimana kalau yang dia katakan itu benar?" tanya Cleo.


"Apa selama ini lo pernah lihat ayah lo sakit?" tanya Sandra, Cleo menggeleng.


"Nah, kalau gitu buat apa lo percaya sama kata-kata cewek brengsek itu." ucapnya. "Sudahlah! Abaikan saja perkataannya." bujuknya, Cleo mengangguk lemah ke arahnya.


"Tapi, aku tetap mau pulang." ucapnya.


"Ya sudah, gue antar lo pulang." mereka berjalan menuju parkiran.


"Kamu baik?" tanya Sandra begitu mereka sampai di rumah Cleo.


"Iya." Cleo mencoba tersenyum.


"Kalau gitu gue pulang ya. Kalau ada apa-apa, kabari gue." pesannya, Cleo memeluk Sandra.


"Makasih ya!" ucapnya, gantian Sandra yang mengangguk. Setelah Cleo keluar, Sandra segera meninggalkan rumah itu.


"Kenapa pulangnya cepat banget, Non?" tanya bi Ita. Cleo tidak menjawab, dia terlihat lemah.


"Ada apa, Non?Apa semuanya baik-baik saja?" tanya bi Ita yang melihat perubahan sikap Cleo.


"Bi, apa selama ini ayah sakit?" tanya Cleo.


"T-tidak. Siapa yang mengatakan itu pada Nona?" tanya bi Ita. Dia berusaha menyembunyikan keterkejutan dari wajahnya.


"Nayla! Dia bilang ayah akan meninggalkanku untuk selamanya." airmata yang dia tahan sejak tadi akhirnya jatuh juga.


"Itu tidak benar, Non. Dia pasti mengarang cerita. Nona bisa lihat betapa sehatnya Tuan." bohongnya, Cleo menatapnya, mencoba mencari kejujuran dari wajahnya.


"Aku ke kamar dulu, Bi!" Cleo bingung, dia tidak tahu siapa yang harus dia percayai. Dia bertanya-tanya dari mana Nayla mendapatkan berita itu.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Dia pasti bohong! Ibu tidak mungkin melakukan hal serendah itu." sejak tadi Nayla sudah mondar-mandir menunggu kedatangan Aisyah. Hingga malam tiba, akhirnya Aisyah sampai di rumah.


"Ibu dari mana saja?" tanyanya setelah Aisyah duduk.

__ADS_1


"Ibu dari rumahnya Sandra." Aisyah mengisi air ke dalam gelas dan langsung menenguknya hingga tidak bersisa. "Ada apa? Kenapa kamu segelisah itu?" tanyanya.


"Bu, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan." Nayla terlihat ragu.


"Apa? Kamu terlihat sangat serius." Aisyah menatap ke arahnya, menunggu apa yang akan putrinya tanyakan


"A-apa ibu memiliki hubungan dengan papanya Sandra?" tanyanya. Aisyah yang sedang minum menjadi tersedak saat mendengar pertanyaannya.


"Apa yang kamu katakan?" tanyanya.


"Apa ibu ada main dengan om Panji?" tanyanya hati-hati. Dia memberanikan diri menanyakan itu semua. Raut wajah Ns


"I-itu tidak mungkin. Siapa yang mengatakan cerita bohong itu padamu?" tanyanya.


"Sandra." jawabnya, Nayla bisa melihat Aisyah menjadi tegang saat mendengar namanya Sandra.


"Kamu tidak perlu mempercayainya. Kamu'kan tahu sendiri gimana Sandra. Dia membenci ibu karena ibu hanya pembantu di rumahnya." Aisyah kembali berbohong.


"Ibu berkata jujur?" tanyanya, Aisyah mengangguk.


"Syukurkah! Aku hanya tidak suka jika ada yang mengatakan hal buruk tentang ibu." Nayla memeluk pinggang Aisyah."


"Sudah! Tidak perlu dipikirkan." Aisyah menepuk pelan punggung Nayla.


"Hallo!" jawab suara pria dari seberang, yang tak lain adalah Panji.


"Mas, kita dalam masalah." Aisyah berbicara seolah berbisik. Sesekali dia melihat ke dalam rumah, takut Nayla mendengarnya.


"Masalah apa yang kamu maksud?" tanya Panji.


"Nayla sudah curiga pada kita. Dia menanyakm hubungan kita." lapornya.


"Baguslah, Kalau dia sudah tahu. Kita tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi. Kita bisa segera menikah. Aku sudah tidak sabar untuk bisa menatapmu setiap hari." gombalnya.


"Aku juga sudah nggak sabar untuk menjadi istrimu. Aku sangat merindukanmu." Aisyah menimpalinya. "Tapi, aku gak mau Nayla sampai tahu dulu, hanya sampai dia masuk kuliah." ujarnya lagi.


"Kamu tenang saja, aku bisa memastikan ini." Panji berjanji padanya.


"Jadi, semua itu benar? Ibu benar-benar selingkuh dengan papa Sandra?" Nayla masih tidak mempercayai apa yang baru saja dia dengar. Nayla menutup pelan pintu kamarnya, saat mendengar Aisyah menutup pintu rumah mereka.


"Aku nggak menyangka ibu setega itu. Apa yang ibu dapatkan dengan melakukan itu?" Nayla terlihat berpikir. Dia malu sekaligus marah. Karena semua ucaoan Sandra terbukti benar.


"Tapi, jika ibu menikah ada baiknya. Aku tidak perlu hidup susah seperti ini. Aku bisa bebas melakukan apapun. Dan yang paling penting, aku bisa menutup mulut Sandra yang sombong itu. Dengan ibu menikahi papanya, maka Sandra akan menjadi saudaraku, dan dia tidak akan bisa lagi berbuat macam-macam padaku." Nayla tersenyum sinis. Dia sudah menyusun rencana dari sekarang.

__ADS_1


πŸ€πŸ€πŸ€


"Apa yang ingin kamu katakan?" baru saja Adam pulang, bi Ita sudah mengikutinya sejak dia sampai di rumah.


"S-saya ..." bi Ita terlihat bingung.


"Ada apa? Katakan saja!" Adam menatao ke arahnya.


"Begini, Tuan. Tadi, nona bertanya mengenai kesehatan tuan." Adam menghentikan tangannya yang sedang mengeluarkan pakaian dari tasnya.


"Maksudmu?" tanyanya.


"Nona bertanya apakah tuan pernah sakit." jelasnya.


"Kenapa dia tiba-tiba menanyakan itu?" Adam menuntut jawaban darinya.


"Nayla! Dia yang mengatakan pada nona kalau anda akan meninggalkan nona untuk selamanya." Adam mengepalakan tangannya.


"Anak itu! Apa yang dia tahu? Kamu pastikan Cleo tidak tahu apapun. Aku tidak mau dia sampai mempercayai ucapan anak itu." ujarnya.


"Tapi Tuan, mau sampai kapan anda merahasiakan semua ini dari nona? Mendengar ucapan Nayla saja nona sudah begitu sedih." bi Ita kembali mengingatkannya.


"Itu sebabnya aku tidak ingin dia tahu. Dia tidak boleh sampai tahu kalau umurku tidak panjang lagi."


"BRAK." mereka kaget saat melihat Cleo membuka pintu dengan keras.


"Apa maksud ayah? Jadi, apa yang Nayla katakan itu benar?" Cleo terdengar emosi.


"T-tidak, ini tidak seperti yang kamu dengar." Adam menyangkal.


"Mau sampai kapan ayah membohongiku? Apa aku tidaklah penting m, sehingga aku tidak perlu tahu kondisi ayah?" Cleo marah.


"Non, tenanglah!" Bi Ita mencoba menghentikannya.


"Aku baik-baik saja. Temanmu hanya mengarang cerita." bohongnya.


"Ayah bohong! Aku sudah mendengar semuanya. Pantas saja ayah menyuruhku pergi jauh. Ternyata dugaanku selama ini benar, aku bukan siapa-siapa untuk ayah. Aku hanya anak yang tidak pernah ayah harapkan. Sejak aku kecil hingga sekarang, ayah tidak pernah menganggapku sebagai anak. Aku membencimu!" Cleo berlari keluar, dia mengambil kunci motornya yang terletak di atas meja ruang tamu.


"Cleo!!" Adam berteriak, sambil memegang dada kirinya. "Cle ..."


"BRUK!!"


"Tuan!! Tuan!!" bi Ita berteriak histeris.

__ADS_1


~tbc


__ADS_2