
"Jadi hari ini kamu lembur?" tanya Luna pada Raka.
"Yupss!!" jawabnya.
"Kirain dokter Cleo nggak jadi cuti." jawabnya.
"Maksudmu?" Raka belum sempat bertemu Cleo. Mereka hanya komunikasi melalui pesan singkat.
"Jadi, kemarin dokter Cleo bilangnya masih ragu untuk cuti." Raka manggut-manggut.
"Tapi, kalian udah pada tahu belum, kalau dokter Cassano juga cuti?" timpal Elia. Raka mengangguk. "Menurut kalian aneh nggak? Kok bisa mereka berdua cutinya barengan?" jiwa penasaran Elia kembali muncul.
"Yah, kebetulan aja kali." jawab Luna.
"Masa kebetulan sih? Aku yakin pasti ada apa-apanya." jawab Elia cepat.
"Kalau kataku sih cuma kebetulan. Kaliankan tahu siapa pacar dokter Cleo." jawab Luna lagi.
"Memangnya dokter Cleo sudah punya pacar?" spontan mereka berdiri saat mendengar suara Malik.
"Pagi, Dok." sapa Raka.
"Jawab dulu pertanyaanku. Apa benar dokter Cleo sudah punya pacar?" tanyanya. Luna mengangguk, sementara Elia menyikutnya.
"Benarkah? Apa kalian mengenalnya?" Malik duduk dihadapan mereka.
"Satu Indonesia juga kenal, Dok." jawab Luna lagi.
"Maksudmu?" tanya Malik sambil memeriksa status pasien yang telah diberikan Raka.
"Secara pacarnya artis terkenal, Dok." Lina terlalu ember. Malik menoleh padanya.
"Siapa yang kau maksud?" Malik terlihat begitu penasaran.
"Kiano, Dok. Kiano Devandra." jawab Luna lantang. Bolpoint yang Malik pegang seketika terjatuh, Raka membungkuk untuk mengambilnya dan menyerahkannya kembali pada Malik.
"Sungguh?" tanyanya.
"Kami sering melihatnya menghampiri dokter Cleo kesini, Dok." lanjut Luna.
"Hhmm, Hhmm!!" Desmi tiba-tiba menyadarkan mereka. "Maaf, Dok, pasien di ruangan 121 menunggu anda." lapornya.
"Ayo!" Malik segera berdiri, sementara Desmi menatap tajam ke arah Lina dan Elia. Luna hanya bisa menunduk.
"Kamu sih!" Elia menyikutnya begitu mereka pergi. Luna menghela napas.
"Syukurlah!" jawab Luna. Mereka sangat tahu, Desmi tidak suka kalau mereka bergosip. Apalagi jika yang dibicarakan adalah rekan satu ruangan mereka sendiri.
πππ
"Lihatlah! Gara-gara dirimu, kita hampir terlambat." gerutu Andreas saat mereka berjalan memasuki terminal 3 Bandara Soekarno Hatta.
__ADS_1
"Jelas-jelas dia yang buat terlambat, malah menyalahkanku." batin Cleo.
Begitu bangun, Cleo segera bersiap karena penerbangan mereka di pagi hari. Tapi, saat akan mandi, air di kamar Cleo tidak keluar. Lama menunggu, tapi airnya tak kunjung muncul. Saat meminta kunci kamar yang lain, Andreas malah membutuhkan waktu mencari kunci yang tidak tahu dimana wujudnya. Dengan sangat terpaksa akhirnya Cleo harus mandi di kamar pria itu. Itupun, harus menunggu Andreas selesai dulu. Entah apa yang dilakuka pria itu di kamar mandi. Sudah hampir setengah jam Cleo menunggu, tapi Andreas baru keluar saat satu jam kemudian.
"Aku mau ke toilet dulu." Cleo berdiri dan bergegas menuju toilet.
"Dokter Cassano?" sapa seorang wanita. Andreas mengangkat kepalanya dan melihat seorang wanita mengenakan kemeja dan celana jeans biru berdiri dihadapannya.
"Oh, nona Nindiyya." sapanya. "Apa yang anda lakukan disini?" Andreas berdiri dan menjabat tangan wanita cantik itu.
"Aku ada urusan di Bali. Kamu sendiri?" tanyanya wanita yang bernama Nindiya itu.
"Yah, tidak jauh beda denganmu." jawabnya. Mereka tertawa bersama.
"Siapa wanita itu?" Cleo yang baru kembali dari toilet, melihat kebersamaan Andreas dan Nindiya. Mereka terlihat dekat.
"Sepertinya kita akan sering bertemu, Dok." ucapnya. Andreas kembali tersenyum. Tak lama setelahnya mereka mengakhiri percakapan, karena mereka harus segera memasuki pesawat.
"Kenapa kau lama sekali?" tanyanya saat Cleo datang. Cleo tidak menjawab pertanyaannya. Wanita itu segera mengambil ransel yang dia letakkan di samping Andreas, setelah itu dia segera menuju pesawat.
"Dasar tikus tengil! Dia selalu saja mengabaikan pertanyaanku." dengan kesal Andreas mengikutinya.
πππ
"Apa kami yakin mereka akan baik-baik saja?" Jasmine mengkhawatirkan anak dan menantunya.
"Sudahlah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." jawab Vincent.
"Semua akan baik-baik saja. Cleo itu wanita tangguh, dia pasti bisa menghadapinya." Vincent menengangkannya.
"Aku takut keputusan kita ini akan menyakitinya." jawabnya.
"Kamu percayalah padaku. Aku yakin mereka akan baik-baik saja." Vincent memegang tangan wanita yang telah menemaninya selama 33 tahun itu. Jasmine tersenyum.
πππ
Akhirnya mereka tiba di Bandara Ngurah Rai. Mereka berjalan seolah tidak saling mengenal satu sama lain. Cleo menyeret kopernya dan berjalan di belakang Andreas. Mereka berjalan menuju pintu keluar.
"Hallo!" Cleo menjawab panggilan teleponnya.
"Sejak tadi aku menghubungimu tapi tidak bisa." Kiano yang meneleponnya.
"Maaf, Kian, aku baru keluar dari pesawat." jawabnya.
"Pesawat? Memangnya kau dimana?" tanyanya.
"Aku lagi di Bali." Cleo terus berbicara sambil satu tangan menyeret koper. Sementara Andreas sudah lebih dahulu sampai di luar.
"Kenapa kau di Bali? Ada apa?" tanyanya lagi.
"Aku ...."
__ADS_1
"BRUK!!" Cleo tidak sengaja menubruk tubuh seseorang.
"Maafkan saya! Saya ...." saat menatap wajah orang yang dia tabrak, bukannya merasa menyesal, Cleo malah tersenyum lebar.
"Dimana matamu?" tanya pria tampan yang ada dihadapannya.
"Ini mataku!" Cleo menunjuk ke arah matanya.
"Apa kau tidak bisa hati-hati? Bagaimana kalau kau jatuh?" pria itu terlihat perhatian padanya. Senyuman tidak pudar daro wajah tampannya.
"Hallo, Cle!!" Kiano masih berada di panggilan telepon. Cleo seolah tidak menyadarinya. Sementara Kian, mendengar semua pembicaraan mereka.
"Kau bisa menangkapku!" jawabnya santai.
"Itu kalau aku! Ginana kalau kau kesandung kursi atau yang lain. Siapa yang akan menyelamatkanmu?" tanyanya lagi.
"Aku bisa mengobati lukaku sendiri." mendengar jawaban Cleo, pria itu tertawa.
"Aku memang tidak pernah bisa menang darimu." ucapnya. Cleo berlari ke pelukan pria itu.
"Aku merindukanmu." ucap Cleo. Pria itu mengelus kepalanya dengan lembut.
"Aku juga." jawabnya. Saat mendengar percakapan mereka, Kiano segera mematikan ponselnya.
"Dimana dia?" Andreas mencari-cari keberadaan Cleo diantara banyaknya manusia yang ada disana. Matanya membesar saat menyaksikan wanita itu sedang berpelukkkan dengan seorang pria.
"Lalu, dimana mas Bumi?" Cleo terlihat mencari seseorang.
"Tuan masih di London. Aku pulang lebih dulu karena ingin melihat lokasi untuk pembangunan resort terbaru kita." jawabnya. "Kau sudah memeriksa email-mu? Tuan memintaku untuk mengirimkan design-nya padamu." Cleo menggeleng.
"Maafkan aku! Aku belum sempat membuka email-ku." balasnya, pria itu mengangguk.
"Dan, kau? Kenapa kau disini?" tanyanya.
"Aku ...." Cleo terkejut, karena Andreas tiba-tiba mencengkram tangannya.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau tidak malu berpelukan dengan pria lain, disaat kau sudah menikah?" amuknya.
"Hey! Apa yang kau lakukan?" teriak pria itu saat melihat perlakuan Andreas pada Cleo.
"Kau tidak perlu ikut campur! Dia istriku!" jawab Andreas.
"Tapi kau ...."
"Kai!!! Aku tidak apa-apa." Cleo menghentikan Kai yang ingin menghajar Andreas.
"Ayo!!" Andreas menarik paksa Cleo. Kai berniat membantunya, tapi Cleo menggeleng. "Masuk!" Andreas mendorong Cleo ke arah mobil yang sudah menunggu mereka. Cleo segera masuk. Sementara Andreas, dia menatap tajam pada Kai, begitupun sebaliknya. Setelah itu Andreas masuk, mobil yang membawa mereka melaju menuju pintu keluar.
"Pernikahan seperti apa yang sedang kau jalani?" ucap Kai. Dia menatap kepergian Cleo dengan hati terluka.
~tbc
__ADS_1