CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )

CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )
BAB 34


__ADS_3

"Lo, dimana?" Sandra menghubungi Cleo saat dia sampai di Giant Hospital.


"Aku di lantai 4 kamar VIP 405." jawabnya.


"Ok! Gue kesana." Sandra menutup teleponnya dan segera menuju lift.


"TING!" pintu lift terbuka, Sandra sibuk dengan ponselnya dan tidak memperhatikan siapa yang masuk. Dia hanya melihat sekilas seorng pria menggunakan jubah dokter. Saat, lift berhenti di lantai 4, Sandra yang berdiri di belakang pria itu segera keluar. Saat pintu lift hampir tertutup dan samar-samar dia melihat wajah yang tidak asing.


"Bukankah itu si bule cabul?" dia ikut mengatai Andreas dengan sebutan yang Cleo berikan.


"Sandra!!" Cleo ternyata sudah menyusulnya ke luar.


"Hi!!" Sandra memeluknya.


"Ngapain bengong disini?" tanya Cleo.


"I-itu, barusan gue ngelihat si bule cabul di lift." jawabnya. "Dia pakai seragam rumah sakit." jelasnya.


"Kamu ada-ada saja! Itu nggak mungkin." Cleo tidak percaya. "Udah, yuk! Kita masuk." ajaknya.


"Ayah, ini teman Cleo datang mau besuk." ucap Cleo begitu mereka sampai di ruangan Adam. Sandra tersenyum dan menyalami Adam.


"Sandra, Om." jawabnya.


"Saya Adam, ayahnya Cleo." Adam memperkenalkan diri.


"Maaf ya, gue cuma bawa ini." Sandra menyerahkan keranjang buah yang dia pegang.


"Ngapain repot-repot sih?" Cleo menerimannya dan meletakkannya di atas meja.


"Gimana kondisinya, Om?" tanya Sandra.


"Baik." jawab Adam.


"Kalau baik ayah nggak nginap disini kali, Yah." canda Cleo, Adam tersenyum.


"Kamu teman satu sekolah Cleo?" tanya Adam.


"Iya, Om. Kita satu kelas." jawabnya sopan.


"Maaf, Tuan, saya sedikit terlambat." semua menoleh pada bi Ita. "Eh, ada non Sandra juga." sapanya.


"Iya, Bi." jawab Sandra.


"Yah, Aku dan Sandra keluar dulu ya." ucap Cleo.


"Iya." Adam memberinya izin.


"Permisi, Om." Adam mengangguk. Mereka keluar dari kamar Adam. Mereka turun ke lantai 1. Cleo membawa Sandra ke coffee shop yang ada disana.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Kamu apa kabar?" tanya Cleo setelah pesanan mereka datang.


"Tidak baik." jawabnya jujur.


"Kenapa?" tanyanya.


"Nayla sudah tahu semuanya. Kemarin dia datang menemuiku, dan meminta maaf atas nama ibunya." Sandra menceritakan apa yang terjadi.

__ADS_1


"Lalu? Apa kamu sudah memaafkan mereka?" tanya Cleo.


"Itu nggak mungkin! Sampai kapanpun, gue nggak akan bisa maafin mereka." Sandra meneguk abis esspreso miliknya.


"Mau sampai kapan kamu membenci mereka?" tanya Cleo.


"Jika lo di posisi gue, Gue rasa lo juga bakal lakuin yang sama." jawabnya.


"Iya sih, kamu benar! Aku tahu betapa sakitnya hatimu saat ini." Cleo meletakkan tangannya di atas tangan Sandra.


"Tapi menurutku, nggak baik untukmu jika terus-terusan memusuhi mereka. Gimana kalau misalkan papamu menikah dengannya?" tanya Cleo.


"Mereka memang akan menikah." Cleo terkejut.


"Benarkah? Kapan?" tanya Cleo.


"Lusa." jawabnya.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Cleo lagi.


"Entahlah! Gue juga bingung dengan perasaan gue saat ini. Yang jelas, gue nggak punya kekuatan untuk menghentikan pernikahan mereka." Sandra sadar dengan posisinya saat ini.


"Apa kamu yakin bisa tinggal satu rumah dengan mereka?" tanyanya.


"Biar gimanapun, rumah itu milik gue. Mereka tidak akan bisa berbuat semena-mena. Ini bukan lagi zamannya ibu tiri ditakuti. Tapi, anak tiri jauh lebih berbahaya." Sandra tertawa. Dia masih sempat berkelakar dengan hidupnya saat ini.


"Kamu ada-ada aja." Cleo geleng-geleng kepala. "Lalu, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"


"Apalagi yang bisa gue lakukan selain menghamburkan uang papa gue." jawabnya santai.


"Maksudmu?" Cleo terlihat bingung.


"Jangan dihabisin untuk yang tidak berguna. Ada baiknya kamu pindahin ke rekeningmu untuk jaminan masa depanmu kelak." sela Cleo, Sandra membulatkan matanya.


"Benar juga ide, Lo! Nggak salah gue berteman dengan orang pintar." pujinya. Mereka tertawa bersama. "Lo, sendiri gimana?" tanya Sandra.


"Jika memungkinkan mungkin aku dan ayah lusa akan berangkat ke London." Sandra tersedak makanan yang sedang dia kunyah.


"Lusa?" tanyanya, setelah meminum setengah botol air mineral yang Cleo berikan.


"Iya. Aku harus mengikuti ujian di sana." ucapnya.


"Lo yakin mau kuliah disana? Gimana dengan ayah lo?" tanya Sandra.


"Ayah akan ikut denganku. Kami akan menetap di sana. Jadi, aku bisa selalu menemaninya." Cleo tersenyum membayangkan hari-hari yang akan dia habiskan bersama Adam.


"Syukurlah! Gue pikir lo berangkat sendiri. Itu artinya kita nggak akan ketemu lagi?" tanya Sandra.


"Kita pasti bertemu." Cleo meyakinkannya.


"Lo baik-baik disana. Kasih kabar ke gue." Sandra memeluk Cleo.


"Kamu juga. Jangan sering ribut dengan mereka. Pikirkan masa depanmu." pesannya sebelum Sandra pergi. Setelah itu Cleo mengantarkan Sandra ke depan rumah sakit. Sandra pergi mengendarai mobilnya.


πŸ€πŸ€πŸ€


Rumah Sandra terlihat ramai dari biasanya. Penghulu sudah bersiap di bawah, begitupun dengan Panji. Aisyah masih berada di kamarnya ditemani dengan Nayla.


"Ibu yakin?" tanya Nayla lagi.

__ADS_1


"Tentu saja." dia tersenyum.


"Ibu cantik banget." pujinya melihat Aisyah menggenakan kebaya putih dan rambut yang di sanggul.


"Kamu juga nggak kalah cantiknya." Aisyah bergantian memuji Nayla yang memang tampak berbeda dari biasanya. Tak ada lagi kacamata besar yang bertengger di hidungnya. Nayla terlihat cantik dengan dress putih dan make up yang melekat di wajahnya.


"Sudah saatnya anda keluar." ucap pelayan yang diminta untuk memanggil mereka.


Aisyah tersenyum pada Nayla, kemudian mereka berjalan pelan menuju meja tempat akad dilaksanakan. Tampak Panji duduk di depan penghulu. Nayla membantu Aisyah duduk disebelah Panji. Setelah itu dia kembali ke tempat duduk yang telah disediakan. Matanya mencari keberadaan Sandra, tapi gadis itu tidak terlihat dimanapun.


Sandra berada di kamarnya, dia sama sekali tidak tertarik untuk menghadiri pernikahan kedua papanya. Sebenarnya dia ingin tinggal bersama dengan mamanya, tapi hatinya tidak mau membiarkan Aisyah hidup dengan tenang. Itu kenapa dia masih bertahan di rumah itu.


"Gue harus berterima kasih pada Cleo." Sandra tersenyum melihat dokumen yang ada di hadapannya.


Berkat ide Cleo, akhirnya dia bisa mendapatkan setengah dari kekayaan Panji. Begitu pulang dari rumah sakit, Sandra segera menemui Panji. Dia mengancam akan membuat keributan di pernikahan mereka, jika Panji tidak memberikan apa yang dia mau. Panji yang tidak ingin dipermalukan oleh putrinya sendiri, akhirnya memberikan setengah kekayaannya atas nama Sandra. Dan, saat ini dokumen itu sudah berada ditangan sang putri.


"Sekarang, gue tinggal melihat apa yang bisa ibu tiri gue itu lakukan." dia tersenyum puas.


Dibawah akad nikah Panji dan Aisyah sudah selesai. Saat ini, mereka sudah resmi menjadi suami istri. Aisyah tersenyum disisi Panji. Nayla yang tadinya was-was Sandra akan membuat kekacauan akhirnya bisa bernapas lega.


"Kita masuk sekarang?" tanya Vincent saat mendengar panggilan mengenai pesawat keberangkatan menuju London. Cleo mengangguk, dan menatap pada Adam yang berada di kursi roda.


Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, mereka kini berjalan menyusuri garbarata. Di dalam pesawat, Cleo dan Adam duduk bersebelahan. Sementara, Vincent di kursi yang tak jauh dari mereka. Tak lama setelahnya pesawat yang mereka tumpangi lepas landas.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Siang, Dok!" sapa wanita hamil yang baru saja masuk ke ruangan Andreas.


"Selamat siang, Nyonya dan Tuan Riyadi." sapanya setelah mengenali pasiennya. "Bagaimana kondisi anda saat ini?" tanya Andreas ramah.


"Kaki saya nggak nyaman banget, Dok. Bengkak banget, dan kepala saya juga sering sakit." pasien itu menceritakan kondisinya.


"Kita periksa dulu ya!" perawat mengarahkan pasien itu untuk berbaring di tempat pemeriksaan. Andreas memeriksa pasiennya dengan seksama.


Setelah melakukan USG, dia menjelaskan kondisi yang dialami pasiennya saat ini.


"Sebaiknya kita cek urine untuk memastikan lagi." sarannya.


"Baik, Dok." jawab mereka. Andreas memberikan blanko pemeriksaan laboratorium pada perawat. Pasien tadi berpamitan dan mengikuti perawat keluar.


"Apa masih ada lagi?" tanyanya pada asisten yang masih bersamanya.


"Habis, Dok." jawab perawat itu. Andreas berdiri dan membuka jasnya, kemudian keluar dari ruangan itu. Dia segera berlari menuju lift.


"Hi, Cass! Mau kemana lo?" tanya Yuda saat melihat rekannya itu berlari seperti orang yang dikejar sesuatu.


"Bukan urusan, lo!" ucapnya. Lift terbuka dan dia segera masuk. Setelah sampai di mobil, dia segera memacu kendaraannya menuju bandara. Sesekali dia melihat arloji yang ada dipergelangan tangannya.


"Dimana dia?" Andreas celingak-celinguk mencari keberadaan seseorang. Andreas mengambil ponselnya dan segera menghubungi seseorang, tapi tidak ada jawaban.


"BRUK." karena sibuk dengan ponselnya, dia tidak sengaja menabrak seseorang.


"Maaf, aku tidak sengaja." Andreas membantu mengambil barang yang jatuh dari troli.


"Tidak apa-apa." wanita itu meraih ponselnya yang ikut jatuh. Kemudian, mengangkat kepalanya dan mendapati pria bule bermata biru sedang menatap ke arahnya.


"Andreas!!" suara seorang wanita mengalihkan pandangannya. Andreas segera berlari menuju wanita berambut pirang itu dan memeluknya. Wanita tadi terus saja memperhatikan mereka.


"Dasar bule cabul!" ucap wanita yang dia tabrak tadi, yang tak lain adalah Cleo.

__ADS_1


~tbc


__ADS_2