
"Ayah menitipkanku pada anda?" tanya Cleo.
"Iya." dia menyesap kopi yang sudah dingin itu.
"Tapi, gimana bisa?" Cleo masih belum bisa mencerna apa yang dia dengar.
"Bukankah sudah kukatakan? Kami ini sudah seperti keluarga." tegasnya.
"Aku mengerti, Dok. Hanya saja, jika hubungan kalian sedekat itu, kenapa aku tidak pernah mengenal anda?" Vincent tertawa.
"Kamu benar-benar pandai ya. Tak mudah membuatmu percaya dengan orang yang baru kamu kenal. Itu bagus!" pujinya.
"Aku harus bisa menjaga diri." jawabnya.
"Ya, kamu benar!" ucapnya.
"Baru kali ini aku melihat papa sebaik itu pada keluarga pasien. Apa yang mereka bicarakan? Kalau aku kesana, si tengil itu pasti akan mempermakukanku." Andreas masih memperhatikan mereka dari kejauhan.
"Apa yang lo lihat?" Yuda tiba-tiba mengangetkannya.
"Brengsek lo, ngagetin gue aja!" Andreas kembali menoleh pada Vincent dan Cleo.
"Loh, itukan si bocah ingusan?" Yuda juga melihat Cleo ada disana. "Tapi, kenapa dia bersama dengan Direktur? Apa mereka saling kenal?" Yuda bertanya pada Andreas.
"Berisik!" Andreas memilih pergi dari sana, sebelum Cleo menyadari kehadirannya.
"Cass!! Cassano, tunggu aku!" teriaknya, mendengar nama putranya disebut, Vincent menoleh dan melihat Andreas sedang berjalan menuju UGD.
"Ada apa, Dok?" Cleo ikut melihat ke kaca.
"Bukan apa-apa." jawabnya.
"Lalu, kamu jadi kuliah di London?" tanyanya lagi.
"Aku belum tahu, Dok. Aku tidak akan kemana-mana sampai ayah sembuh." jawabnya. "Atau apakah aku bisa membawa ayah berobat kesana? Disana juga ada tante Manda, jadi kami bisa merawat ayah bersama." Cleo kemudian terpikirkan jalan keluar yang terbaik untuk Adam. Dia juga berpikir pengobatan disana juga jauh lebih baik.
"Kita tunggu sampai kondisi ayahmu membaik. Berdoalah, semoga ayahmu kembali stabil. Setelah itu, kita akan memikirkannya." jawab Vincent.
"Baik, Dok. Aku juga akan menghubungi tante Manda dulu." ucapnya.
"Tapi, kenapa kamu ingin dia dirawat disana? Apa kamu tidak mempercayaiku?" tanya Vincent.
"Bukan begitu, Dok. Aku percaya anda mampu merawat ayah. Tapi, seperti yang anda katakan, ayah ingin aku kuliah di London. Maka, aku akan mengabulkan permintaan ayah. Aku ingin kuliah sekaligus menjaganya." Vincent tersenyum mendengar alasannya.
"Maka, kamu harus menjadi dokter." usulnya.
"Dokter?" tanyanya.
"Iya. Dengan kamu menjadi dokter, maka kamu juga bisa merawat dan mengetahui lebih jauh kondisi ayahmu. Aku yakin, gadis pintar sepertimu pasti mampu." Vincent memberinya motivasi. Cleo yang awalnya tidak terpikir untuk mengambil jurusan kedokteran, mendengar perjelasan Vincent dirinya mulai terpengaruh.
"Aku akan memikirkannya, Dok." jawabnya.
"Bukan Dokter, tapi Paman." ucapnya.
"B-baiklah, Paman!" mereka saling melempar semyuman.
"Kalau begitu, Ayo kita kunjungi ayahmu. Aku yakin mendengar kabar baik ini akan membuat hatinya tenang." ajaknya. Cleo mengangguk dan mengikuti Vincent keluar dari sana.
πππ
__ADS_1
"Apa saja yang harus kupersiapkan?" Nayla berputar-putar di mall seorang diri. Dia mencari keperluan untuk masuk kuliah.
"Eh, bukannya itu si Nayla?" Leony yanh melihat Nayla segera memberitahu Stella.
"Samperin, Yuk!" ajak Stella. Mereka berjalan mendekat ke arahnya. Nayla belum menyadari kehadiran mereka, karena dia terlalu fokus dengan buku-buku yang ada di depannya.
"Jadi, teman kita ini mau ngambil jurusan bisni?" ledek Leony. Nayla menoleh pada mereka dengan wajah kesal.
"Bukan urusan kalian." jawabnya.
"Emangnya, lo punya uang untuk kuliah?" tanya Leony lagi, Nayla berbalik dan menatap tajam ke arahnya.
"Loh, emang lo gak tahu kalau sebentar lagi dia bakal jadi orang kaya?" sela Stella.
"Maksud lo?" tanya Leony.
"Lo'kan tahu kalau ibunya sudah berhasil menaklukkan hati papanya Sandra. Sebentar lagi juga mereka jadi saudara." mendengar ucapan Stela, Nayla melemparkan buku yang ada ditanganya ke arah mereka.
"Hey! Apaan sih, lo?" teriak Stella.
"Tutup mulutmu!" Nayla balas berteriak.
"Kenapa? Emang benar, ibu lo udah berhasil merebut posisi mama Sandra? Harusnya lo senang, karena sebentar lagi lo bakal tinggal di rumah mewah dengan semua fasilitas yang Sandra punya." jawab Stella.
"Lo!!" tak terima ibunya di jelekkan, Nayla segera menarik rambut Stella. Melihat Stella yang berterial kesakitan, Leony membantunya. Dia ikut menarik rambut Nayla.
"PRITT!! PRITT!" Security mall mencoba melerai mereka.
"Apa yang kalian lakukan?" teriak Security. Mereka berhasil di lerai dengan dibantu beberapa pengunjung. Rambut mereka acak-acakan. Mereka saling menatap tajam. "Kalian ikut saya ke pos." perintah Security. Mereka memperbaiki rambut masing-masing, dan ikut turun menuju pos. Setelah melakukan mediasi, akhirnya mereka diperbolehkan pulang. Nayla yang tidak terima dengan tuduhan mereka, segera memanggil ojek dan minta diantar ke rumah Sandra.
πππ
"Non, gimana keadaan tuan?" tanya bi Ita begitu dia sampai di ruang tunggu ICU.
"Sebaiknya nona pulang, biar bibi yang jaga disini." sarannya.
"Gak, Bi, Cleo disini saja." tolaknya.
"Nona pulanglah dulu! Bibi akan jaga tuan disini. Istirahatlah sebentar di rumah, setelah itu nona bisa kembali kesini." sarannya. Sebenarnya Cleo tidak ingin meninggalkan Adam walaupun sekejab. Tapi, apa yang dikatakan bi Ita ada benarnya, tubuhnya setidaknya butuh istirahat barang sekejab.
"Baiklah, Bi, Cleo pulang dulu. Jika ada apa-apa hubungi Cleo." bi Ita mengangguk. Cleo berjalan meninggalkan ICU.
"Iya, saya segera kesana." Andreas berbicara di telepon. Dia yang baru pulang makan siang, segera bergegas menuju IGD.
"BRUK."
"Maaf!" Andreas yang terburu-buru tidak sengaja menabrak Cleo hingga jatuh.
"Tidak apa-apa." Cleo berdiri dan terkejut saat melihat Andreas yang sedang memungut ponselnya.
"Lo!!"
"Lo!!" ucap mereka bersamaan. Tapi, Andreas tidak mengatakan apapun lagi, dia segera berlari menuju pintu masuk IGD. Cleopun terlalu letih untuk mempermasalahkan yang terjadi. Dia segera menuju ke mobil Karyo yang sudah terparkir di depan.
"Gimana?" tanya Andreas sambil memasang jasnya.
"Pasien mengalami kecelakaan kerja, jatuh dari ketinggian kurang lebih 3 meter, Dok." lapor perawat yang menanggani pasien itu.
"Apa sudah hubungi dokter Suryo?" tanyanya.
__ADS_1
"Dimana dokter Suryo?" Andreas menanyakan dokter bedah.
"Sebentar lagi beliau tiba." jawabnya. Andreas segera melakukan tindakan yang menjadi wewenangnya sebagai dokter jaga.
"Minta persetujuan pasien untuk CT-Scan." perintahnya pada perawat.
"Dimana pasiennya?" tanya seorang dokter senior yang baru saja datang.
"Disini, Dok." jawab Andreas. Dokter itu segera memeriksa kondisi pasien, setelah itu dia berjalan menuju nurse station. Karena pasien harus dibawa untuk melakukan CT-Scan.
"Kenapa kau tidak mengambil spesialis bedah saja? Kau tahu sendiri pasien bedah sangat banyak." ucap Suryo padanya.
"Saya tidak tertarik, Dok." jawabnya.
"Dia lebih suka berhubungan dengan para wanita, Dok." timpal Yuda yang baru selesai menanggani pasiennya.
"Lo!!" Andreas melemparnya dengan kertas yang ada dihadapannya.
"Yah, kau benar! Apalagi jika yang dia layani adalah wanita cantik, pasti dia semakin bersemangat." Suryo ikut meledeknya.
"Kalau wanita single okey-lah, Dok. Ini yang akan menjadi pasiennya istri orang semua. Apa yang akan dia dapat?" mereka yang mendengarnya ikut senyum-senyum.
"Sialan, lo!" Andreas meninggalkan mereka saat melihat pasien tadi kembali.
πππ
"Mau cari siapa?" tanya Security saat melihat Nayla berdiri di depan rumah Sandra.
"Ibu Aisyah." jawabnya.
"Oh, nyonya sedang keluar." jawabnya.
"Nyonya?" Nayla terkejut mendengar security itu memanggil ibunya.
"Kalau Sandra?" tanya Nayla lagi.
"Nona ada di dalam." lapornya.
"Kalau begitu katakan padanya, saya ingin bertemu." Setelah mengetahui nama Nayla, security itu segera menghubungi Sandra.
"Silahkan, Non!" ucapnya setelah membukakan pagar berwarna putih itu. Nayla berjalan masuk dan segera membuka pintu rumah Sandra. Waktu berteman dengan Sandra dia sering main ke sana, jadi dia tahu seperti apa rumah Sandra.
"Apa yang membawamu kesini?" tanya Sandra yang sudah menunggunya di ruang tamu.
"Aku ingin menemui ibuku." jawabnya ketus.
"Ibumu? Dia tidak ada disini. Mungkin saat ini dia sedang menghabiskan uang papaku, atau mungkin sedang melayani papaku di kantornya." Sandra mengatakan itu tanpa rasa malu sama sekali. Dia yang memang sudah tahu kelakuan bejat sang ayah tidak berniat menutupinya sama sekali.
"Jangan bohong, lo!" Nayla berjalan ke dapur mencari keberadaan Aisyah. "Bu!! Ibu!" dia mencari ke setiap sudut rumah yang ada di lantai 1. Sandra bersandar pada pilar rumahnya dengan tangan bersidekap ke dada.
"Sudah gue bilang, ibumu pasti sedang melayani nafsu papa gue. Gue'kan udah pernah bilang kalau pekerjaan ibu lo seperti itu." ledek Sandra.
"Diam, lo! Sekali lagi lo menjelekkan ibuku, maka gue gak akan segan-segan un ...."
"Mas, udah dong! Masa kamu gak puas-puas, sih?" Nayla terdiam saat mendengar suara yang sangat dia kenali. Dia segera berjalan menuju pintu masuk.
"Kamu yang membuatku begini." Panji mendaratkan ciuman dileher putih Aisyah.
"Ibu???" Nayla terlihat syok dengan apa yang dia lihat saat ini.
__ADS_1
"Nayla?" Aisyah terkejut saat melihat Nayla berdiri tak jauh dari mereka.
~tbc