
"Selamat pagi!" sapa Jasmine saat Cleo bergabung di ruang makan.
"Pagi, Ma." jawabnya.
"Dimana suamimu?" tanya Jasmine.
"Dia sedang di mandi." Jasmine senyum-senyum sendiri.
"Mau sampai kapan kalian ngobrol disana?" Vincent menyela mereka.
"Ayo, Nak!" Jasmine membawanya menuju kursi yang ada dihadapannya.
"Kita makan saja. Suamimu kalau mandi itu lama." ucap Vincent. Cleo mengangguk setuju. Saat mereka makan, Andreas datang menghampiri
"Kenapa kalian tidak menungguku?" dia segera menarik kursi yang ada disebelah Cleo.
"Jika aku menunggumu, maka aku akan telat ke rumah sakit." jawab Vincent.
"Sayang bagaimana malam kalian?" tanya Jasmine. Cleo terbatuk-batuk.
"Kami ...."
"Sangat menyenangkan, Ma." potong Andreas, Cleo membelalak kearahnya.
"Benarkah?" tanya Vincent.
"Tentu saja, apa Papa tidak bisa melihat seperti apa meronanya wajahnya?" Vincent dan Jasmine menoleh ke arah Cleo.
"Ayo, sayang! Dihabiskan makanannya." ucap Jasmine lembut.
"Tentu saja menyenangkan untukmu. Kau semalaman berbicara di telepon. Mengangguku tidurku saja." Cleo mengunyah sarapannya dengan kesal.
"Aku duluan ya!" ujar Vincent.
"Mama antar pala ke depan dulu. Kalian lanjutkan saja makannya Vincent dan Jasmine meninggalkan." mereka meninggalkan ruang makan.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" saat ini hanya ada mereka berdua.
"Ternyata kau sangat ahli berbohong." ledek Cleo.
"Aku hanya tidak ingin mamaku khawatir. Kau harus menjaga sikapmu jika di depan mamaku Aku tidak ingin dia jatuh sakit. Andreas berdiri. "Dan satu lagi, jangan sampai ada satu orang pun yang tahu mengenai pernikahan kita terlebih karyawan rumah sakit." setelah itu dia berjalan menuju pintu keluar.
sayang kenapa kau tidak berangkat dengan Cleo?" tanya Jasmine saat melihat Andreas membuka pintu mobilnya.
Dia bisa pergi sendiri, Ma." jawabnya
"Kenapa kamu harus pergi sendiri? Kamu kan juga mau ke rumah sakit, kalian bisa berangkat bersama, bukan?" saran Jasmine.
"Tapi ma, dia'kan punya mobil." jawab Andreas.
"Sayang, dia itu sekarang istrimu. Jadi, sudah menjadi tanggung jawabmu untuk selalu menjaganya." ucap Jasmine lembut.
"Aku naik mobil sendiri aja, Ma." Cleo menegahi mereka.
"Tidak boleh. Kamu perginya dengan suamimu." melihat kalau Jasmine tidak ingin dibantah, Andreas akhirnya setuju. Mereka berangkat bersama.
"Kau puas?" tanya Andreas saat mereka dalam perjalanan menuju rumah sakit. Cleo diam, dia tidak ingin berdebat dengannya sepagi ini.
"Hallo." Cleo menjawab ponselnya yang berdering.
"Hallo, Sayang." ucap suara dari seberang telepon.
__ADS_1
"Tante apa kabar?" tanya Cleo pada Amanda, adik dari Adam.
"Tante baik. Gimana dengan pernikahanmu? Maafin tante larena nggak bisa hadir." Manda terdengar menyesal atas ketidakhadirannya.
"Tidak apa-apa, Tan." jawab Manda.
"Bagaimana suamimu? Apa dia baik?" Cleo menoleh pada Andreas yang sejak tadi bermuka masam.
"Hhmm." hanya itu yang bisa dia ucapkan. "Tan, nanti aku hubungi lagi ya." mereka mengakhiri pembicaraan saat Andreas menghentikan mobilnya. "Kenapa berhenti?" tanya Cleo.
"Turun!!" Cleo menoleh padanya, dia terlihat bingung. "Aku nggak mau ada yang melihat kita bersama. Kau harus ingat, aku tidak mau ada yang tahu tentang pernikahan kita. Lagian, untukku ini bukan pernikahan. Kau dan aku tidak pernah benar-benar menikah." Cleo membuka pintu mobil, dan menutupnya dengan keras. Andreas meninggalkannya di pinggir jalan begitu saja.
"Apanya yang tidak benar-benar menikah? Sudah jelas kemarin dia mengucapkan ijab kabul. Dasar bule sialan." makinya. Cleo berjalan menuju halte bus yang berada tidak terlalu jauh dari tempatnya saat ini.
πππ
"Selamat pagi, Dok." sapa karyawan yang bertemu dengannya.
"Pagi." jawab Andreas.
"Kenapa kemarin kau libur?" tanya Yuda yamg sudah berada di sebelahnya.
"Aku ada urusan." jawabnya.
"Kau tahu, Olive marah-marah karena kau tidak datang." ucapnya.
"Astaga, aku lupa kalau ada janji dengannya." Andreas baru ingat kalau mereka akan pergi ke Club kemarin malam.
"Ada apa denganmu?" Yuda menatapnya tajam.
"Aku lagi banyak pekerjaan." bohongnya. Padahal, dia benar-benar pusing dengan hidupnya saat ini.
"Kenapa kamu nggak datang? Aku nungguin kamu semalaman." tanya Olive.
"Pagi, Dok." sapa Cleo yang melintas diantara mereka. Andreas terkejut karena dia tidak melihat bahwa Cleo ada disana.
"Pagi." jawab Yuda sambil sumringah.
"Kenapa kamu nggak datang?" tanya Olive lagi. Andreas masih melihat ke arah Cleo. Sementara, Cleo berlalu begitu saja.
"Apa dia mendengar perkataan Olive?"
"Dok?" Olive terlihat kesal karena Andreas terus saja menatap ke arah Cleo.
"Aku lupa." jawabnya. "Maafkan aku, lain kali kita pergi bersama." Andreas meninggalkan mereka begitu saja.
"Iihh!!" Olive menghentakkan kakinya. "Siapa wanita itu?" tanyanya saat melihat Andreas mengikutinya.
"Yang mana?" tanya Yuda.
"Yang tadi." jawabnya ketus.
"Oh, itu dokter magang baru. Namanya Cleopatra. Cantikkan? Sesuai dengan namanya." Olive semakin kesal mendengar Yuda memuji Cleo.
"Selamat pagi." sapa Cleo pada yang lain.
"Pagi, Dok." sapa mereka, saat Cleo akan masuk ke ruangan loker, Andreas datang.
"Selamat pagi, Dok." sapa mereka. Cleo menoleh, begitu tahu Andreas yang datang, dia segera bergabung dengan yang lain.
"Kau!! Mana bajumu?" Andreas bertanya padanya. Cleo memang belum menggunakan jubah putih miliknya.
__ADS_1
"Maaf, saya baru sampai." jawabnya.
"Lain kali bangun lebih pagi, agar kau tidak terlambat. Apa aku yang harud menunggumu?" setelah memgatakan itu, Andreas berjalan menuju ruang pasien.
"Memangnya salah siapa aku terlambat?" Cleo tidak ikut dengannya, dia mengambil jubahnya terlebih dahulu, kemudian menyusul mereka.
"Periksa tekanan darah dan urine pasien." Andreas memberikan mereka instruksi.
"Baik, Dok." jawab Raka.
"Kau!! Pantau terus keadaan nyonya Rita. Laporkan padaku jika terdapat kelainan pada denyut jantung bayi." Andreas menunjuk Cleo.
"Baik, Dok." jawabnya. Padahal dia sangat kesal, karena Andreas terus-terusan memarahinya.
"Kenapa dokter Cassano akhir-akhir ini suka marah-marah ya? Padahal sebelumnya dia sangat ramah." para perawat mulai berkomentar setelah dia pergi.
"Kasihan dokter Cleo, dia selalu kena imbasnya." celoteh mereka saat Cleo tidak ada disana. Cleo tetap di ruangan pasien karena Andreas menyuruhnya untuk memantau pasien.
πππ
"Apa kamu nggak bisa diam dirumah?" Aisyah kembali mengomel saat tahu Nayla berniat keluar.
"Aku bosan." jawabnya.
"Kamu belum sembuh, sebaiknya sembuhkan dulu lukamu." ujarnya.
"Udahlah, Bu, nggak usah bawel." seperti biasa Nayla tidak mau mendengarkannya.
"Dimana kunci mobilku?" tanyanya.
"Mobilmu masih di bengkel." jawab Aisyah.
"Ibu gimana sih? Aku'kan udah bilang buat benarin mobilku secepatnya. Aku perlu mobil itu." Nayla marah padanya.
"Kalau kamu mau mobilmu kembali, kamu harus bekerja." sela Panji.
"Pa, aku harus keluar. Aku butuh mobil." ucapnya.
"Tidak. Kamu harus bekerja, baru kamu bisa menggunakan semua fasilitas yang ada di rumah ini." tegasnya.
"Yang benar saja? Papa punya banyak uang, ngapain aku harus susa payah kerja." Nayla menatap sinis pada ibunya.
"Nayla!! Jaga bicaramu." teriak Aisyah.
"Mas, kenapa kamu seperti ini? Kasihan Nayla." Aisyah mencoba membujuk suaminya.
"Tidak. Aku tidak akan memberikan hartaku untuk anak pemalas sepertinya." jawab Panji.
"Ibu lihat itu? Bahkan, dia sudah tidak mau memberikan apa yang aku butuhkan." teriak Nayla.
"Nayla!!" Aisyah kembali berteriak padanya.
"Urusi saja suami ibu. Aku yakin sampai dia matipun, ibu tidak akan mendapatkan apa-apa. Apa ibu lupa? Dia sudah memberikan semua kekayaannya pada putri kesayangannya. Saat ini, suami ibu ini hanya pria miskin dan lumpuh."
"PLAAKK!!" Aisyah menampar wajah putrinya.
"Jaga ucapanmu. Kamu lupa siapa yang membiayaimu hingga kamu bisa lulus kuliah." ucapnya.
"Bodo amat!!" Nayla berjalan menuju pintu keluar.
~tbc
__ADS_1