
"Apa yang anda lakukan disini?" tanya Andreas.
"M-maaf, Dok, tadi saya mau mengambil tisu yang ada di ruangan ini." Desmi terlihat salah tingkah. "Kalau begitu saya permisi dulu." Desmi buru-buru menutup pintu. Cleo menatap tajam pada Andreas yang hanya bisa terdiam.
"Bu!!! Bu Desmi, tunggu!" Cleo berusaha mengejarnya. "Bu, sebentar!" ucapnya sambil menahan tangan Desmi.
"Ada apa, Dok?" tanya Desmi.
"Apa kita bisa bicara, Bu? Sebentar saja!" pintanya.
"Baiklah!" Desmi setuju. Dia mengikuti Cleo yang bejalan menuju lift. Dan disinilah mereka saat ini. Cleo mengajaknya ke rooftop. Disana tersedia kursi dengan tenda dan juga beanbag. Rooftop itu benar-benar disulap Vincent sebagai tempat istirahat untuk para karyawannya. Tidak ada orang lain disana, kecuali mereka.
"Ada apa, Dok?" tanya Desmi lagi.
"Apa ibu mendengar semuanya?" Cleo berbalik dan menatapnya. Desmi mengangguk pelan.
"Saya benar-benar minta maaf. Seharusnya saya tidak mendengarnya." ucap Desmi.
"Itu bukan kesalahan ibu. Dia yang tidak bisa mengontrol emosinya." Cleo beralih menatap jalanan yang terlihat kecil dari atas.
"Jadi kalian benaran menikah?" tanyanya untuk memastikan apa yang dia dengar.
"Iya." jawab Cleo pelan.
"Tapi, kenapa tidak satupun yang tahu?" Desmi penasaran. Karena memang tidak ada satupun karyawan yang tahu.
"Pernikahan itu sengaja di rahasiakan. Dia tidak ingin menimbukan kekacauan di sini." Desmi menatapnya, dia seolah tau apa yang Cleo rasakan.
"Lalu, bagaimana dengan kamu?" tanyanya.
"Aku baik-baik saja, Bu." Desmi tahu Cleo sedang berbohong.
"Mana ada wanita yang baik-baik saja, saat dirinya tidak dianggap sebagai seorang istri." Desmi mengatakan ini, karena teringat semua perlakuan Andreas padanya. Cleo kembali menoleh padanya. Desmi mendekat dan memegang tangannya. "Aku tahu kamu pasti terluka." ucapnya pelan. Dan entah kenapa mendengar perkataan Desmi, airmata Cleo mengalir begitu saja. Untuk pertama kalinya ada orang yang mengerti dirinya.
"Terima kasih, Bu!" ucapnya sambil tersenyum tipis.
"Kamu darimana saja?" tanya Raka saat melihat Cleo berjalan bersama Desmi.
"Kenapa?" tanya Cleo.
"Dicariin Direktur." ujarnya. Cleo menoleh pada Desmi, wanita yang masih terlihat muda itu mengangguk.
"Aku pergi dulu." Cleo bergegas menuju ruangan Vincent.
πππ
"Siang, Dok." sapa Nayla saat melihat Andreas duduk di balik meja kerjanya. Nayla mengeluarkan senyuman terbaiknya. Tapi, sikap Andreas membuatnya kecewa. Pria itu bahkan hanya menatapnya sekilas, kemudian dia fokus dengan komputer yang ada di dekatnya.
"Baikalah, Nona Nayla! Saya lihat disini, baru beberapa hari yang lalu anda melakukan pemeriksaan." ujarnya.
"Iya, Dok." jawabnya.
__ADS_1
"Mari kita lihat, apa hasilnya sudah keluar." Andreas menscrol kursornya untuk mencari hasil pemeriksaan lab milik Nayla. "Ini dia!" ucapnya, Andreas membaca dengan seksama semua huruf yang tertera disana. "Apa yang anda rasakan saat ini?" tanyanya.
"Saya tidak merasakan apapun. Bagaimana hasilnya, Dok?" tanyanya.
"Apa saat ini anda sering mengalami lelah?" tanya Andreas sebelum menjawab pertanyaan Nayla. Wanita itu mengangguk.
"Disini tertulis bahwa anda mengidap kanker rahim stadium awal." asisten Andreas menyerahkan kertas yang dia pegang pada Nayla. Wajah Nayla pucat seketika, dia sama sekali tidak menyangka akan mengalami semua ini.
"A-anda tidak bercanda, Dok?" tanya Nayla.
"Anda bisa melihat hasil yang ada disana." Andreas menunjuk kertas yang Nayla pegang. Nayla membaca dengan seksama, matanya terlihat berkaca-kaca.
"Apa saya akan mati?" tanyanya.
"Anda jangan pesimis. Anda bisa mulai melakukan pengobatan." ucapnya. Andreas menyerahkan resep dan therapi yang harus Nayla ikuti pada asistennya.
"Berapa lama saya bisa hidup?" Andreas dan sang asisten menoleh padanya.
"Ini baru stadium awal, anda masih punya banyak kesempatan untuk sembuh." ujar Andreas.
"Benarkah, Dok?" Nayla menatapmya dengan penuh harap. Andreas mengangguk. Setelah itu dia meminta asistennya untuk membantu Nayla.
πππ
"Ada apa, Pa?" tanya Cleo begitu sampai di ruangan Vincent.
"Duduklah!" ucapnya. Cleo duduk disebelah mertuanya itu.
"Kami baik, Pa." bohongnya.
"Papa mau minta maaf atas perkataan mama semalam. Kamu tidak perlu terbebani dengan permintaan mamamu. Papa tahu kamu dan And masih butuh waktu." Cleo menatap Vincent dengan penuh kasih.
"Aku bisa mengerti, Pa." jawabnya.
"Yah, kamu tahu mama berkata begitu pasti karena kondisinya. Papa harap kamu tidak salah paham." lanjutnya. Cleo hanya bisa mengangguk.
Dia paham betul Jasmine meminta itu karena berpikir usianya tidak lama lagi. Tapi, bagaimana dia bisa mewujudkan keinginan Jasmine, kalau hubungannya dengan Andreas tidak ada baiknya. Mereka bahkan saling membenci.
"Kalau begitu aku balik ke ruangan, Pa." ucap Cleo saat dia merasa tidak ada lagi yang imgin Vincent sampaikan.
"Baiklah!" ucapnya. Cleo keluar dari ruangan itu.
"Aku harap hubungan mereka bisa lebih baik. Kau pasti juga memimpikan itu, bukan? Aku juga mempunyai keinginan seperti yang Jasmine mau." Vincent berbicara pada foto Adam yang ada di meja kerjanya.
πππ
Cleo keluar dari lift, dia berjalan perlahan menuju ruangannya. Sesekali dia tersenyum dan mengangguk saat berpapasan dengan karyawan lainnya.
"Nayla!" ucapnya saat melihat Nayla berdiri tak jauh darinya. Cleo ragu untuk berjalan kesana, dia malas memghadapi Nayla nantinya. Tapi dia tidak punya pilihan. Satu-satunya jalur menuju ke ruangannya harus melewati Nayla.
"Siang, Dok!" sapa perawat saat melihat Cleo.
__ADS_1
"Siang!" mendengar suara yang sangat familiar di telinganya, Nayla segera berbalik.
"Kau?? Apa yang kau lakukan disini?" baru saja melihat Cleo, Nayla segera memperlihatkan wajah kesalnya.
"Apa kau lupa kalau aku bekerja disini?" Cleo tidak mempedulikan tatapan tidak suka Nayla padanya.
"Baru saja jadi dokter, tapi kau sudah sombong." ledeknya.
"Maaf, apa urusanmu? Kau bahkan bukan pasienku, jadi untuk apa aku harus bersikap baik padamu." jawabnya.
"Dasar sombong! Sejak dulu kau selalu seperti ini. Kau pikir orang-orang akan menyukaimu, jika tau sifat aslimu?" Cleo mengerinyitkan dahinya.
"Apa yang kau inginkan? Kalau kau disini hanya ingin mencari masalah denganku, sebaiknya kau pergi. Rumah sakit ini tidak perlu orang sepertimu." Cleo mulai terpancing, karena Nayla terus saja mengatainya di depan umum.
"Dokter Cleo!!" terdengar teriakan Andreas, mereka menoleh dan melihat Andreas berdiri tak jauh dari mereka. Andreas berjalan mendekat, dan menatap tajam pada Cleo. "Apa begini caramu bersikap pada pasien?" bentaknya. Cleo menatap Nayla, kemudian kembali pada Andreas.
"Aku ...."
"Tidak apa-apa, Dok! Aku sudah sering mendapat perlakuan seperti ini darinya." mata Cleo membesar mendengar ucapan Cleo.
"Minta maaf!" perintah Andreas padanya.
"Maksudmu?" tanya Cleo.
"Kau sudah berlaku tidak sopan pada pasien rumah sakit ini, jadi aku mau kau minta maaf pada nona ini." ucapnya, Nayla tersenyum tipis, Cleo menatap tajam ke arahnya.
"Bukan aku yang memulai, jadi untuk apa aku minta maaf padanya." jawabnya tegas.
"Kau ....!!"
"Tidak apa-apa, Dok. Aku bisa mengerti! Mungkin dokter Cleo seperti ini karena mempunyai dendam pribadi padaku." potong Nayla.
"Hentikan sandiwaramu!" Cleo tidak peduli kalau saat ini mereka menjadi tontonan publik.
"Cle, kenapa kamu masih seperti ini? Bukankah kita sahabat? Bahkan kau yang menyakitiku, kenapa kau tidak pernah menyadarinya?" Nayla berpura-pura sedih.
"Terserah kau mau berkata apa!" Cleo yang muak melihat sikap Nayla berjalan meninggalkan mereka.
"Dokter Cleo!!" teriak Andreas, Cleo bahkan tidak mempedulikannya.
"Maafkan perlakuan dokter kami! Aku akan memastikan ini tidak terjadi lagi." Andreas membungkuk pada Nayla.
"Tidak apa-apa, Dok!" jawabnya pelan.
"Kalau begitu, saya permisi!" setelah Nayla mengangguk, Andreas bergegas mengejar Cleo.
"Dokter Cleo!" panggilnya, tapi Cleo tidak mengubris.
"Mampus lo! Gue harap lo berhenti dari sini. Karena setiap ada lo, hidup gue bakal berantakan. Lo hanya pembawa masalah dalam hidup gue." Nayla tersenyum penuh kemenangan. Dia yakin Andreas akan memberi Cleo pelajaran. Setelah puas, Nayla berjalan menuju pintu keluar, meninggalkan Cleo dan Andreas yang terlihat sedang berdebat.
~tbc
__ADS_1