CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )

CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )
BAB 66


__ADS_3

"Aku ...." Cleo bingung harus berkata apa. "Apa kalian bisa membantu membawanya ke dalam?" Cleo mengalihkan pembicaraan. Mahen segera membantu Andreas, begitupun dengan Gilang. Mereka membawa Andreas ke kamarnya. Mereka membaringkannya diatas tempat tidur.


"Kamu siapa?" tanya Gilang yang masih penasaran.


"Aku ...." Cleo masih terlihat bingung.


"Sudahlah! Mungkin dia saudaranya." Mahen yang seperti menyadari sesuatu mencoba membantu Cleo.


"Sejak kapan dia punya saudara wanita?" tanya Gilang.


"Lebih baik tutup mulutmu!" ucap Mahen. "Maafkan dia! Kami ini sahabat Andreas. Aku, Mahen, dan dia, Gilang." Mahen memperkenalkan dirinya.


"Aku, Cleo!" jawabnya.


"Kalau begitu kami balik dulu." ujar Mahen. Dia menarik Gilang yang masih menatap tajam pada Cleo.


"Tunggu dulu! Kita harus tahu siapa dia." ujarnya.


"Kalau kau mau hidup lama, maka jangan suka kepo dengan urusan orang." jawab Mahen.


"Tapi ...." Gilang kembali menoleh pada Cleo.


"Ayo!" Mahen menarik kerah jaketnya. Cleo terus mengawasi mereka hingga mereka keluar dari apartemen itu. Setelah itu dia kembali ke kamar Andreas.


"Apa yang terjadi padanya?" Cleo mendekat dan membuka sepatu beserta kaos kakinya. "Apa dia selalu seperti ini?" Cleo memperbaiki bantalnya.


"Cantika." Cleo mempertajam pendengarannya.


"Apa dia mengatakan sesuatu?" Cleo mendekatkan tubuhnya pada Andreas.


"Cantika, Aku mencintaimu!" bisik Andreas, tapi kata-kata itu masih terdengar di telinga Cleo. Cleo tertegun mendengar ucapannya, matanya menatap bingkai wanita yang ada di atas nakas.


"Apakah dia Cantika?" tanyanya pada dirinya sendiri. Karena kesal, Cleo meninggalkan Andreas yang masih meracau. Dia tidak menyangka kalau pria yang dia nikahi ternyata mencintai wanita lain.


"Pantas saja dia begitu membenciku." gumannya. Cleo menyadari kalau Andreas pasti sangat tertekan, karena harus mengorbankan cintanya demi menikah dengannya. Cleo memilih keluar dari sana.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Kepalaku!" Andreas bangun dengan kepala yang terasa nyeri. Dia menyandarkan kepalanya ditempat tidur. Pandangannya masih berkunang-kunang. "Ah, kenapa mereka membiarkanku meneguk semua minuman itu?" ucapnya.


Setelah merasa cukup baikan, dia berjalan menuju kamar mandi.


"Dimana dia?" Andreas mencari keberadaan Cleo. Karena tidak melihat Cleo, dia berjalan menuju ruang makan. Andreas melihat sudah tertata makanan diatas meja. Dia yakin pasti Cleo yang memasak untuknya. Tanpa pikir panjang dia menyantap sup buatan Cleo. "Enak juga." ucapnya. Setelah selesai dia bergegas menuju rumah sakit.


"Pagi, Dok." sapa Desmi dan yang lain saat melihat Malik datang.


"Pagi." jawabnya, Malik duduk. Dia memeriksa laporan yang Cleo berikan.


"Aku dengar besok kamu cuti?" tanya Malik, semua menatap padanya.


"Rencana, Dok." jawab Cleo. Dia sendiri masih ragu apakah keinginan Vincent akan terpenuhi.


"Mau kemana?" tanyanya.


"S-saya ...., ada acara keluarga." jawabnya.


"Oh, bukan kembali ke London?" Cleo menggeleng.


"Baguslah! Kalau tidak aku akan kehilangan dokter berbakat sepertimu." Cleo tersipu, sementara yang lain tersenyum mendengar pujian itu. "Kita visit sekarang?" ajaknya. Cleo mengangguk. Mereka berjalan menuju ruangan pasien.


"Cass!!" Yuda mengejar Andreas.


"Ada apa?" tanyanya.


"Kemana saja kau?" Andreas tidak mengatakan apapun.


"Apa benar besok kau cuti?" tanya Yuda saat mereka berada di dalam lift.


"Iya." jawabnya.

__ADS_1


"Mau kemana?" tanya Yuda.


"Bali." jawabnya.


"Wow! Aku juga sudah lama tidak berlibur. Kenapa kau tidak mengajakku?"


"Aku kesana untu urusan pekerjaan. Untuk apa aku mengajakmu? Disini saja kau punya segudang pekerjaan." Andreas keluar begitu pintu terbuka. Dia segera menuju ruang prakteknya.


"Terima kasih, Dok." ucap mereja saat Malik selesai memeriksa pasien. Malik mengangguk dan meninggalkan departemen kandungan.


"Jadi, besok anda cuti?" tanya Elia.


"Sebenarnya aku masih ragu." jawabnya.


"Kenapa, Dok?" tanya Elia lagi.


"Entahlah!" Cleo terlihat enggan membahas masalah itu.


"Hallo!" Andreas menjawab ponselnya.


"Kau sudah sadar?" tanya Gilang.


"Ada apa kau meneleponku?" tanyanya.


"Aku masih penasaran, siapa wanita cantik itu?" dahi Andreas mengerut.


"Siapa yang kau maksud?" tanyanya bingung.


"Wanita yang bersamamu di apartemen." sontak Andreas berdiri dari duduknya.


"Wanita? Kau ke apartemenku?" tanyanya.


"Apa kau masih belum sadar? Kau pikir siapa yang mengantarmu pulang?" Andreas mencoba mengingat yang terjadi semalam. Dia memegang kepalanya begitu sadar bahwa kedua sahabatnya sudah bertemu dengan Cleo.


"Jadi, siapa wanita itu?" tanya Gilang lagi.


"Gimana?" tanya Mahen, Gilang menggeleng. "Akukan sudah bilang, jangan ikut campur." ucapnya.


"Tapi, aku benar-benar penasaran. Wanita itu sangat cantik. Jika dia jadi modelku, pasti akan sangat menguntungkan untukku." Mahen melemparkan bantal sofa yang ada di sampingnya.


"Kau memang tidak bisa melihat wanita cantik sedikitpun." ledek Mahen.


"Kau tahu, wanita itu adalah duniaku." ucapnya tanpa rasa bersalah.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Siang, Dok." sapa Elia saat melihat Andreas.


"Dimana dokter Cleo?" tanyanya.


"Beliau sedang di ruangan pasien." jawabnya.


"Jika dia sudah selesai, minta dia untuk menemuiku di ruangan." setelah mengatakan itu, dia keluar dari sana.


"Ada apa lagi ini? Kenapa mereka tidak pernah akur?" guman Elia saat melihat wajah Andreas yang merah.


"Dok, barusan dokter Cassano meminta anda untuk menemuinya di ruangan." ucapnya begitu melihat Cleo yang baru datang dari kamar pasien.


"Ada apa?" tanya Cleo.


"Nggak tahu, Dok. Tapi dari romannya sih, sepertinya beliau sedang marah." jawabnya.


"Kenapa lagi bule cabul itu?" Cleo berjalan keluar menuju ruangan Andreas.


"TOK TOK TOK."


"Masuk." Cleo membuka pintu dan segera masuk ke ruangan itu.


"Ada apa kau me ...., Aaww!!" Cleo menahan nyeri di pergelangan tangannya karena Andreas tiba-tiba mencengkramnya. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya.

__ADS_1


"Harusnya aku yang bertanya. Apa yang kau katakan pada mereka?" mata Andreas memancarkan kemarahan.


"Apa maksudmu?" Cleo tidak mengerti apapun.


"Bukankah semalam kau bertemu dengan kedua sahabatku? Apa yang kau katakan pada mereka?" Andreas semakin menguatkan cengkramannya.


"Kenapa kau tanya padaku? Harusnya kau tanyakan pada mereka." Andreas menghempaskan tangan Cleo.


"Kau tidak mengatakan apapun?" tanyanya, Cleo memegang tangannya yang memerah.


"Untuk itu kau tidak perlu khawatir. Aku bahkan tidak mengatakan siapa diriku pada mereka." Cleo menatap tajam padanya. "Harusnya kau bertanya pada mereka, bukan padaku. Kau sendiri yang menciptakan masalah ini. Jika kau tidak mabuk, maka mereka pasti tidak akan bertemu denganku." ucapnya. Andreas terdiam.


"Bersiaplah! Besok kau dan aku akan berangkat ke Bali." ucapnya saat melihat Cleo akan keluar.


"Aku tidak akan pergi." jawabnya.


"Jangan memancing amarahku!" Cleo berbalik dan kembali menatapnya.


"Bukankah itu yang kau inginkan? Aku tidak akan menciptakan hubungan apapun denganmu." Cleo masih lesal karena sikap kasar Andreas padanya.


"Siapa yang bilang kalau aku ingin membangun hubungan denganmu. Aku melakukan ini hanya demi mamaku." jawabnya jujur.


"Aku akan menemui mama. Akan kukatakan kalau aku tidak bisa pergi denganmu." Andreas kembali mencengkram tangannya.


"Jangan pernah lakukan itu!" matanya terlihat membara. "Aku tidak akan pernah mengampunimu, jika kau menyakiti mamaku." ancamnya. Setelah mengatakan itu, dia melepaskan tangan Cleo.


Wanita itu bergegas keluar dari sana. Cleo berjalan sambil terus memegangi pergelangan tangannya.


"Cleo!!" Cleo menoleh dan melihat Kiano berdiri tak jauh darinya.


"Kian." ucapnya pelan. Cleo berjalan menghampiri Kiano. "Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya.


"Tentu saja ingin bertemu denganmu." jawabnya jujur.


"Ada apa? Aku sedang bekerja." Cleo masih memegangi pergelangan tangannya. Kiano menyadari itu.


"Kenapa dengan tanganmu?" tanya Kian.


"Hah? Tidak apa-apa! Tanganku ...." dia terkejut saat Kiano tiba-tiba memegang tangannya dan menyingkap jubah putih.


"Ini kenapa?" Kiano terkejut saat menyadari pergelangan tangannya memerah.


"Aku tadi ...." belum sempat Cleo menjawab, Kiano membawanya menuju taman.


"Tunggu disini!" ucapnya.


"Tapi, Kian ...."


"Hanya sebentar." Cleo kembali duduk. Kiano berlari ke dalam, saat kembali dia memegang obat ditangannya. "Kemarikan tanganmu!" Cleo menyodorkan tangannya.


"Kenapa bisa begini?" tanyanya sambil mengolesi salap yang baru saja dia beli.


"Tanganku kebentur." bohongnya, Kiano mengerinyitkan alisnya.


"Benarkah?" dia tahu bahwa itu bukan karena benturan. Cleo mengangguk.


"Sudah?" tanya Cleo. "Aku harus kembali ke ruangan."


"Kau boleh kembali." Kiano menyerahkan salap itu padanya.


"Terima kasih. Aku masuk dulu." ucapnya


"Cle!!" Cleo berbalik.


"Jika ada yang menyakitimu, katakan padaku!" ujarnya. Cleo kembali mengangguk, kemudian dia bergegas masuk ke dalam.


"Aku tahu kau berbohong! Aku harus mencari tahu, siapa yang melakukan itu padamu." ucapnya.


~tbc

__ADS_1


__ADS_2