
"Apa papa bercanda? Aku bahkan belum pernah bertemu dengan wanita pilihan papa itu. Dan lagi, ini bukan zaman siti nurbaya. Aku nggak setuju papa memaksaku seperti ini." Andreas menolak keras rencananya.
"Suka atau tidak, kau harus menikah dengannya." jawabnya.
"Aku tidak mau." ucapnya.
"And, kau harus bersedia. Aku sudah berjanji pada almarhum ayahnya. Dia sudah tidak punya siapapun lagi kecuali kita." Andreas sedikit terkejut saat mendengar ucapannya.
"Tapi aku bukan panti asuhan yang harus merawatnya." Andreas tetap menolak.
"Kita berhutang budi pada keluarganya. Dan, kini sebagai anak kau harus membantuku untuk membalasnya." ucap Vincent.
"Kenapa bukan papa aja yang menikahinya?" ucapnya asal.
"Apa kau gila? Kau mau aku menceraikan mamamu? Aku sih nggak masalah, apa lagi dia masih muda dan sangat cantik."
"Papa jangan asal!" Andreas kesal, Vincent tahu bahwa putranya itu sangat menyayangi Jasmine, ibunya.
"Kau yang sembarangan. Aku dan mamamu sudah menyetujuinya. Kau tinggal ikut apa kata kami." Vincent kbali memaksa.
"Tidak akan pernah. Jika papa sudah selesai, silahkan keluar!" Andreas sudah tidak ingin memperdebatkan masalah ini.
"Aku tidak akan mengubah keputusanku. Suka atau tidak kau harus akan menikah dengannya." ancamnya sebelum keluar dari apartemen itu.
"Persetan dengan semua itu. Untuk apa aku menikah dengan orang yang tidak kukenal? Aku mencintai Cantika. Aku harus segera menyatakan cintaku, sebelum papa berbuat nekat." ucapnya.
"Gimana? Apa dia setuju?" begitu melihat Vincent, Jasmine segera memberondongnya dengan pertanyaan. Vincent menggeleng.
"Yah, padahal aku sangat berharap dia setuju." Jasmine sangat kecewa. Dia sudah lama ingin putranya segera menikah. Mengingat usianya saat ini sudah tidak muda lagi.
"Kamu tenang saja! Dalam bulan ini, kita pasti akan menikahkan mereka." Vincent terlihat yakin.
"Gimana caranya?" tanyanya.
"Jika dengan bujukan tidak mampu meluluhkan hati putramu yang keras itu, maka kita harus mengeluarkan senjata terakhir." ucapnya.
"Apa itu?" Jasmine terlihat sangat penasaran.
"Nanti kamu juga tahu." ujar Vincent.
"Kau, Menyebalkan!" dia berlalu begitu saja, meninggalkan Vincent seorang diri di ruang tamu.
πππ
"Eh, udah pada tahu belum? Ada dokter magang baru di departemen kita." ucap Luna, perawat di departemen OBGYN.
"Serius? Lo, tahu darimana?" tanya Zahra.
"Gue nggak sengaja dengar pembicaraan orang HRD. Dan, dokternya tamatan dari luar negeri." jelasnya.
"Cewek atau cowok?" Raka menimpali.
__ADS_1
"Ih, dokter Raka mah pertanyaannya selalu begitu." jawab Zahra.
"Kenapa? Salah kalau saya pengen dokter cewek?" tanya Raka. Raka adalah residen tahun terakhir di departemen mereka.
"Nggak salah sih, Dok. Tapi, disinikan sudah banyak ceweknya. Ya, sesekali cowok cakeplah!" canda Zahra.
"Emang saya kurang cakep apa?" Raka berdiri dengan kedua tangan dipinggang, kemudian dia menghentakkan jubah panjangnya. Kedua perawat itu langsung tertawa.
"Anda cakep, Dok.!" puji Desmi, kepala perawat. Raka tersenyum dengan dua jari berada di bawah dagunya membentuk tanda V. "Tapi, kalau pakai masker." lanjutnya, mereka semua tertawa.
"Buk Des, kalau ngomong suka benar." ucapnya.
"Apa yang kalian tertawakan?" tanya Andreas yang baru sampai disana.
"Selamat pagi, Dok!" sapa mereka semua.
"Kalian terlihat senang? Apa ada berita yang membahagiakan?" tanyanya sambil memeriksa laporan pasiennya. "Kau mau menikah?" tanyanya pada Raka.
"Bukan itu, Dok." jawab Raka.
"Lalu?" Andreas bertanya tanpa mengalihkan matanya dari laporan itu.
"Dokter Raka terlalu senang, karena kita akan kedatangan dokter baru." Andreas menutup laporan itu dan menoleh pada Desmi.
"Oh, ya? Cewek apa cowok?" tanyanya.
"Cewek, Dok. Dari luar negeri." sela Luna.
"Itu saya belum tahu, Dok." Luna cengegesan, Raka melemparkan kertas yang ada di depannya.
"Semoga saja cantik, agar si jomblo ini nggak mendahuluiku." Andreas berdiri. "Ayo!" ucapnya, Desmi dan Raka mengikutinya. Andreas mulai mengunjungi satu persatu pasiennya. Beragam keluhan dia dengarkan dengan seksama. Dan, tak jarang dia juga bergurau dengan para pasien. Itu yang membuatnya memiliki banyak pasien. Selain kemampuan yang dia miliki, Andreas termasuk dokter yang ramah dan suka bercanda.
"Sudah semua?" tanyanya saat keluar dari kamar pasien.
"Sudah, Dok." jawab Desmi. Mereka berjalan kembali ke nurse station. Sesekali, dia membalas sapaan dari keluarga pasien yang berpapasan dengannya.
"Jangan lupa, periksa kembali tekanan darah nyonya Kinan sebelum pulang. Dan, pantau terus DJJ Nyonya Utami. Segera hubungi saya jika DJJ-nya dibawah normal." pesannya.
"Baik, Dok." jawab Raka. Desmi memberikan surat kontrol pasien yang harus dia tanda tangani.
"Selamat pagi!" mereka dikagetkan dengan kedatangan dokter Aqila, kepala departemen OBGYN.
"Pagi, Dok." sapa mereka, Andreas masih terus melanjutkan kembali tugasnya bersama Desmi.
"Ada berita apa sehingga ibu kepala kita datang kesini?" tanyanya tanpa menoleh sedikitpun.
"Aku membawakan bala bantuan untukmu. Kemarilah!" dia meminta Cleo untuk bergabung bersamanya. Cleo berjalan perlahan ke arah mereka. Semua mata menatap ke arahnya kecuali Andreas. Dia sibuk dengan berkas pasiennya yang tidak sedikit.
"Ini adalah dokter Cleopatra Zevania. Mulai hari ini, beliau akan bergabung dengan departemen kita sebagai dokter jaga." Andreas mengangkat kepalanya, dia memandangi Cleo dengan lekat.
"Bukankah, dia wanita yang kutemui kemarin?" ucapnya saat melihat Cleo. Yang dia ingat hanya saat insiden kopi kemarin. Dia sama sekali tidak ingat dengan pertengkaran mereka 5 tahun yang lalu. Karena saat ini, Cleo benar-benar berubah menjadi sangat cantik.
__ADS_1
"Dia ...? Si bule Cabul?" Cleo tak kalah terkejutnya.
"Saya, Cleopatra! Kalian bisa memanggilnsaya, Cleo." mendengar itu Andreas tersenyum.
"Kenapa denganmu, Dokter Cassano?" tanya Aqila.
"Dia seorang dokter?" Cleo kembali terkejut.
"Namanya mengingatkanku pada seseorang." dia kembali tertawa.
"Apa orang itu spesial untukmu?" tanya Aqila.
"Tidak. Dia hanya bocah ingusan yang tengil." jawabnya.
"Sialan lo, bule cabul." Cleo terlihat begitu kesal.
"Apa dia cantik, Dok?" sela Raka.
"Kau tidak akan melihat sedikitpun kecantikan dari wajahnya. Bocah itu begitu menjengkelkan. Dekil dan kumal. Terlebih lagi, dia seperti singa betina. Galak banget!" Andreas tertawa mengingat kenangannya dengan Cleo dulu. Wajah dan telingan Cleo terasa panas, mendengar perkataan Andreas tentang dirinya.
"Wah, baru kali ini kamu berbicara panjang lebar mengenai wanita. Bahkan sampai sedetail itu." ledek Aqila.
"Hah, sudahlah! Dia bukan wanita. Hanya singa yang berwujud wanita." jawabnya.
"Dokter Casaano naksirnya sama wanita seperti itu, Dok." Raka menunjuk wanita yang berjalan tak jauh dari mereka. Wanita itu menggenakan dress diatas lutut, dan memperlihatkan kedua bahu putihnya.
"Kau sungguh tahu typeku." timpalnya. Mereka kembali tertawa.
"Sudahlah, saya harus kembali. Dokter Cleo, mulai sekarang kamu bisa bekerja. Selamat bergabung di departemen kami." ucap Aqila padanya.
"Terima kasih, Dok." Cleo membungkuk hormat, setelah itu Aqila keluar dari sana.
πππ
"Jadi, kau lulusan mana?" Andreas menatap lekat wanita cantik yang ada di hadapannya itu. Entah kenapa dia begitu susah menghindari mata hitam pekat itu. Seolah ada sesuatu disana yang menariknya untuk terus menatap Cleo.
"UOC." jawabnya.
"Wow! Itu universitas kenamaan. Kenapa kau bekerja disini? Bukankah disana lebih menjanjikan?" Andreas seperti mengintrogasinya.
"Anda tidak perlu tahu alasannya." jawab Cleo ketus, Andreas menatap tajam ke arahnya.
"Kenapa? Apa kau malu mengatakannya?" ledeknya.
"Tidak. Tapi, anda bukan siapa-siapa, sehingga aku harus menceritakan masalah pribadiku pada orang lain." sejak tadi Cleo sudah sangat kesal padanya.
"Kalian dengar? Dokter baru kita tidak ingin berbagi masalah pribadinya disini." tak ada yang menyahutnya. Kalau sudah begini, mereka tahu apa yang akan terjadi. "Baiklah, Dokter! Selamat bertugas." ucapnya lalu berdiri dari sana. "Oh, ya, Raka. Berikan padanya, semua pasienku. Aku yakin dokter baru kita ini akan melakukan yang terbaik." setelah mengatakan itu dia segera keluar dari sana.
"Dia tidak pernah berubah, masih tetap kurang ajar." Cleo menatap Andreas sampai dia tidak terlihat lagi.
~tbc
__ADS_1