CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )

CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )
BAB 37


__ADS_3

"Abaikan saja! Dokter Cassano memang seperti itu." Cleo tersenyum padanya. "Raka, Residen tahun terakhir." dia memperkenalkan diri.


"Aku, Cleo." dia menerima jabatan tangannya. Satu persatu staff berkenalan dengannya.


"Selamat bergabung bersama kami, Dok." ucap Raka.


"Mohon bantuannya." jawab Cleo. Tidak membutuhkan waktu lama untuknya bisa berinteraksi dengan mereka. Cleo memulai tugasnya dengan sebaik mungkin.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Ada apa?" Andreas berbicara melalui telepon.


"Kamu dimana?" tanya Cantika.


"Aku sedang praktek." jawabnya.


"Apa kamu bisa menemuiku? Aku butuh teman untuk bicara." Andreas mendengar Tika sedang menangis.


"Tunggu sebentar!" Andreas menjauhkan ponselnya. "Berapa orang lagi?" tanyanya, perawat itu memeriksa komputer yang ada di depannya.


"3 orang lagi, Dok." lapornya setelah memeriksa.


"Aku masih ada 3 pasien lagi. Setelah itu aku akan menemuimu." ucapnya.


"Baiklah." Andreas menutup ponselnya dan meminta perawat untuk memanggil pasien selanjutnya.


Setelah pasien yang terakhir keluar, dia buru-buru melepas jubahnya dan bergegas keluar dari ruang prakteknya. Dia memacu mobilnya secepat mungkin agar bisa segera sampai di tempat Cantika.


"TIN!!" Dia menekan bel apartemen Cantika. Pintu terbuka dan Cantika segera memeluknya.


"Ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanyanya.


"Al, dia bersama wanita lain." ucapanya sambil terisak.


"Masuklah! Nggak baik jika ada yang melihatmu seperti ini." Andreas membawanya masuk ke dalam. Dia sadar, profesi Cantika yang seorang model, pasti akan rusak jika ada yang melihat mereka sedang berpelukan.


"Katakan apa yang terjadi?" tanyanya setelah mereka di dalam.


"Kemarin aku ke kantor Al, dan aku melihat Al sedang memeluk seorang wanita." Cantika kembali menangis. "Apa kau tahu siapa wanita itu?" Andreas menggeleng. Padahal sejujurnya, dia tahu siapa yang Cantika maksud.


"Mungkin itu hanya rekan bisnisnya." bohongnya.


"Itu tidak mungkin. Kau tahu bahwa Al tidak pernah bersentuhan dengan orang lain, apalagi wanita." Cantika tidak mempercayai ucapannya.


"Dre, tolong bantu aku. Cari tahu apa hubungan Al dengan wanita itu. Kau tahu, sejak dulu aku sangat mencintainya. Aku nggak rela, Al direbut wanita lain." Cantika menangis dan memohon padanya.


"Aku akan cari tahu." ucapnya. Padahal, hatinya sangat hancur, mendengar wanita yang dia cintai memohon demi pria lain. "Sekarang, istirahatlah! Lihatlah, kantong matamu. Kamu sudah seperti panda. Gimana kalau ada yang melihatmu seperti ini?" bujuknya.

__ADS_1


"Aku nggak bisa tidur memikirkan Al terus." jawabnya.


"Aku akan mencari tahu semuanya. Jadi, kamu nggak perlu khawatir. Ayo, istirahat!" Andreas mengulurkan tangannya, Cantika menerima uluran tangan itu. Cantika berbaring di tempat tidur, sementara Andreas menungguinya hingga terlelap.


"Kau tahu, saat aku memutuskan kembali kesini. Aku pikir Al akan menerimaku dengan tangan terbuka." Andreas tidak mengatakan apapun. "Tapi, dia masih seperti biasa. Menolak dan mengabaikanku. Selama di Paris, tidak sedikitpun aku melupakannya. Aku pergi karena dia begitu marah padaku. Aku kira seiring waktu kemarahannya akan reda, tapi tidak. Al masih marah padaku." Cantika terus mengoceh tentang hubungannya dengan Alvaro, sahabat mereka.


"Sudah, istirahatlah!" ucapnya. Cantika mulai memejamkan matanya. Setelah Cantika tertidur, Andreas keluar dari kamar itu. Dia duduk di sofa dan sesekali menatap ke arah pintu kamar Cantika.


"Apa kurangnya aku, sampai kau tidak pernah menatapku?" batinnya. Lama dia termenung di ruangan itu, sampai terdengar dering ponselnya.


"Hallo!" jawabnya.


"Dok, pasien nyonya Wina sudah pembukaan lengkap." lapor Raka.


"Aku segera kesana." Andreas bergegas keluar dari apartemen Cantika. Dia berlari menuju lift, begitu pintu terbuka dia segera masuk dan menekan tombol1. Jarak apartemen itu dengan Giant Hospital kurang lebih 30 menit. Dia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Gimana?" tanya Cleo.


"Dia bilang akan segera kesini." jawabnya.


"Lalu, apa kita harus menunggunya? Kamu nggak lihat gimana kondisi pasien?" Raka melihat pasien itu sudah tidak sanggup lagi menahannya, puncak kepala bayinya sudah terlihat jelas. Rak bingung, dia sangat tahu sifat Andreas. Dia akan marah jika ada yang berani menyentuh pasiennya tanpa izin darinya.


"Sudahlah, minggir kamu!" Cleo mendorongnya, Raka masih terdiam. "Aku bilang minggir!" bentak Cleo. Raka segera menyingkir, Cleo mengambil alih. Dia meminta pasien untuk menarik napas dalam, kemudian menyuruhnya untuk mengejan.


"Hmmppp!!"


"BRAK." Mereka semua menoleh saat mendengar pintu terbuka dengan sangat keras.


"Apa yang kau lalukan?" tanyanya saat melihat Cleo sudah mengeluarkan placenta dari si pasien. Cleo tidak mempedulikannya, dia kembali memeriksa kondisi pasien.


"Kau tidak dengar pertanyaanku?" Andreas kembali memarahinya.


"Kalau mau bicara di luar saja." Cleo membuka sarung tangannya dan membuangnya di tempat sampah.


"Selamat atas kelahiran bayi anda, Nyonya." ucap Cleo ramah, pasien itu tersenyum padanya.


"Terima kasih, Dok." ucapnya. Cleo mengangguk, kemudian dia melangkah keluar, Andreas mengikutinya.


"Jadi, apa yang ingin kau katakan?" Cleo tidak lagi bersikap sopan padanya.


"Kenapa kau bertindak tanpa izin dariku?" tanyanya.


"Apa menurutmu aku harus membiarkan bayi itu lahir tanpa bantuan?" Cleo menatap tajam ke arahnya.


"Kau bisa menungguku!" bentaknya.


"Mau sampai kapan kami menunggumu? Kau bisa lihat ketubannya sudah pecah. Bukankah, kau tahu itu berbahaya untuk bayinya?" Cleo tidak setuju Andreas memojokkannya.

__ADS_1


"Tapi, aku tidak suka tindakanmu ini. Seharusnya sebelum bertindak, kau menghubingiku dulu. Aku dokter yang bertanggung jawab." balasnya.


"Tapi, selama kau tidak ada aku bertanggung jawab dengan departemen ini." balasnya.


"Sepertinya dokter Cassano punya saingan baru." ucap salah satu perawat yang ada disana. Untung saja mereka ribut di ruangan dokter.


"Seharusnya kau berterima kasih pada kami. Berkat kami, pasienmu selamat." Cleo mendorong tubuhnya dan berjalan menuju pintu keluar.


"Hey! Mau kemana kau? Aku belum selesai bicara!" teriaknya. Cleo tidak peduli, dia segera kembali ke nurse station. "Dia pikir dia itu siapa?" Andress sangat kesal.


"Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Desmi pada Cleo yang baru sampai.


"Pasien dan bayinya selamat." ucap Cleo, lalu dia duduk di salah satu kursi.


"Ada apa dengan wajah anda, Dok?" tanyanya saat melihat Cleo sedang cemberut.


"Apa dokter penanggung jawab disini memang menyebalkan begitu?" tanyanya. Desmi tahu siapa yanh dia maksud.


"Dokter Cassano?" Cleo menggganguk.


"Apa yang terjadi?" tanya Desmi.


"Dia memarahiku karena aku menyelamatkan pasiennya." jelasnya.


"Dokter Cassano memang seperti itu. Dia tidak suka jika ada yang memegang pasiennya tanpa izin darinya. Apalagi, bagi nyonya Wina setelah 8 tahun menikah, ini adalah bayi pertamanya. Dia pasti khawatir jika terjadi sesuatu pada bayi itu." Desmi menjelaskan gimana aslinya Andreas.


"Tapi, tetap saja! Jika, kita terlambat bayinya akan dalam bahaya." jawab Cleo.


"Ya, anda benar." balasnya.


"Apa kau tidak bisa menghentikannya?" Andreas melampiaskan kekesalannya pada Raka.


"Maafkan saya, Dok. Saya sudah berusaha menghentikannya, tapi saat itu kondisi pasien tidak memungkinkan." jawab Raka.


"Kau tahu betapa pentingnya kelahiran ini bagi pasien. Dan, kau membiarkan dokter asing menangganinya? Bahkan, aku saja belum melihat seperti apa kemampuannya." dari nada bicaranya Andreas terkesan meremehkan Cleo.


"Maafkan saya, Dok!" Raka menunduk.


"Jika kau masih ingin dibawah bimbinganku, maka kau lanjut dinas malam selama 3 hari. Itu hukuman untukmu." Raka terdiam, karena kesalahan Cleo, dia yang mendapat hukuman.


"Kenapa kau diam? Nggak mau?" tanyanya lagi.


"Baik, Dok." dengan terlaksa Raka setuju. Setelah itu dia keluar dari sana.


"Wanita itu pasti akan jadi masalah dalam hidupku ke depannya." gerutu Andreas.


~tbc

__ADS_1


__ADS_2