
"Lepaskan aku!!" ucap Cleo saat mereka sudah berada di luar.
"Masuk." Andreas mendorong Cleo ke arah mobilnya.
"Aku bisa pulang sendiri." tolaknya.
"Aku bilang masuk!!" bentak Andreas.
"Aku bawa mobil." jawab Cleo tanpa rasa takut. Andreas yang tidak ingin mendengar alasan apapun, membuka pintu mobil dan memaksa Cleo untuk masuk.
"Apa yang kau lakukan?" Cleo memberontak. Tapi, tenaganya tidak sekuat Andreas.
"Jangan coba-coba keluar!" ancamnya. Setelah mengatakan itu dia berjalan menuju kemudi. Cleo dudul disebelahnya dengam wajah kesal dan marah.
"Kita mau kemana?" tanya Cleo, tapi Andreas tidak mengatakan apapun. Dia tetap diam, tapi wajahnya memerah. Melihat bahwa pertanyaannya sia-sia, Cleo meilih untuk diam. Andreas membawa mereka pulang ke apartemen. Cleo yang tidak ingin ribut di depan umum, terpaksa mengikuti Andreas dalam diam.
"Mau kemana kau?" cegahnya saat melihat Cleo ingin menuju kamarnya. Cleo yang masih kesal tidak berniat untuk menjawabnya, dia memilih untuk terus berjalan. "Apa kau tidak mendengarku?" teriak Andreas. Cleo tetap mengabaikannya. Saat Cleo ingin membuka pintu kamarnya, Andreas mencengkramnya.
"Apa yang kau lakukan?" Cleo menatapnya dengan penuh kemarahan. "Lepaskan aku!" Cleo memberontak dan mencoba mendorongnya. Bukannya melepaskan Cleo, Andreas malah menekan tubuh Cleo ke pintu. "Apa yang kau ...." Cleo tidak mampu melanjutkan ucapannya karena Andreas membungkamnya dengan bibirnya.
"Hhmmpp!" Cleo memukul-mukul dada Andreas, tapi pria itu berhasil menghentikan tangannya.
Andreas menahan belakang kepala Cleo, dan tangan satunya lagi memeluk pinggangnya, wanita itu mulai kesulitan bernapas karean Andreas menciumnya dengan kasar. Andreas yang awalnya hanya berniat untuk memberi Cleo pelajaran malah terbawa suasana. Dia mulai memaksa Cleo untuk membuka mulutnya, dan saat hasratnya terpenuhi, dia mulai menelusuri ruang yang ada disana. Andreas tahu bahwa wanita yang bersamanya saat ini sangat canggung, dia bahkan tidak bisa membalasnya ciumannya. Andreas tersadar saat merasakan ada sesuatu yang membasahi wajahnya. Dia membuka mata dan mendapati Cleo menitikkan airmata.
"Jangan pernah membantahku! Jika kau lakukan lagi, aku pastikan hukumanmu akan lebih dari ini." setelah mengatakan itu dia meninggalkan Cleo yang masih terpaku di tempatnya.
"Apa yang aku lakukan?" Andreas berjalan mondar-mandir di kamarnya. "Kenapa aku menciumnya?" dia menyesali apa yang telah dia lakukan pada Cleo. Tiba-tiba dia tersenyum saat mengingat kembali kejadian tadi, entah kenapa hingga saat ini dia masih bisa merasakan kelembutan bibir Cleo. "Apa yang aku pikirkan." ucapnya setelah tersadar. "Dia itu hanya tikus tengil!" ujarnya.
"Dasar bule cabul! Berani-beraninya dia melakukan itu padaku." Cleo kembali mencuci mulutnya dengan sabun dan air mengalir. "Lihat saja nanti, jika dia berani melakukan itu lagi, aku akan membunuhnya." Cleo sangat marah.
πππ
"Kenapa denganmu?" Sandra yang baru datang ke cafe itu langsung menatap heran pada Kiano.
"Aku lagi kesal." jawabnya.
"Itu terlihat jelas di wajahmu." Sandra duduk.
__ADS_1
"Apa kau ingat dengan pria di rumah sakit tadi?" tanya Kian.
"Yang mana?" Sandra terlihat berpikir.
"Dokter yang tadi memarahi Cleo sewaktu di kantin." dia memperjelas siapa yang di maksud.
"Memangnya kenapa denganya?" Sandra penasaran dengan apa yang terjadi.
"Barusan aku bertemu Cleo." Kiano memulai ceritanya.
"Lalu?"
"Tiba-tiba pria itu datang dan menarik Cleo dari sini." jawabnya.
"Apa?" Sandra terkejut. "Serius?" tanyanya, Kiano mengangguk. "Kenapa bisa begitu? Memangnya kesalahan apa yang telah Cleo lakukan?"
"Aku juga nggak tahu." Sandra melihat Kiano begitu kesal.
"Apa kau cemburu?" tebak Sandra, Kiano menoleh padanya.
"Tidak." bohongnya.
"Kau tahu dari dulu aku sangat menyukainya." Kiano berkata jujur. "Jika bukan karena wanita sialan itu, mungkin saat itu Cleo sudah menjadi milikku." Sandra masih melihat harapan itu dimata Kiano.
"Jadi, itu sebabnya kau selalu mencari kesempatan untuk bersamanya?" godanya.
"Aku tidak ingin kehilangan kesempatan yang sudah tuhan berikan padaku." jawabnya cepat. Sandra tertawa.
"Kalau begitu kau harus bekerja keras. Menurutku dokter itu bisa saja juga menyukai Cleo." Kiano terdiam.
"Kau benar." jawabnya. "Tapi, kenapa wajahnya sepertinya nggak asing ya?" Kiano terlihat berpikir keras. Sandra kembali tersenyum.
"Jadi, kau memanggilku kesini hanya untuk ini?" tanyanya.
"Maafkan aku! Aku sangat kesal, dan hanya kau yang terlintas dibenakku." jujurnya.
"Untung saja kau temanku. Jika tidak, mungkin saat ini aku sudah membatalkan komtrak kerja denganmu." candanya.
__ADS_1
"Aku yakin kau tidak akan mampu melakukan itu. Kau tidak akan mendapatkan model sebaik diriku." Kiano membalasnya.
"Yah, aku akui itu. Bukankah untuk itu aku sudah membayarmu mahal? Seharusnya ada harga temanlah untukku." ujar Sandra.
"Maafkan aku! Tapi, untuk urusan uang tidak ada yang namanya saudara ataupun teman." Kiano tersenyum menggoda, kemudian mereka tertawa bersama.
πππ
Mentari pagi berusaha menembus masuk melalui celah-celah tirai yang ada dikamar Cleo. Cleo terbangun saat mendengar alarmnya berbunyi. Saat melihat sudah pukul 07.20 wib, Cleo bangun dan berjalan menuju kamar mandi.
"Semoga saja dia belum bangun. Aku harus keluar dari sini sebelum dia melihatku." Cleo bergegas mandi dan bersiap. Dia tidak ingin bertemu dengan Andreas. Cleo masih marah dengan kejadian semalam. "Dimana ranselku?" Cleo yang sudah hampir membuka pintu kamar, kembali lagi ke dalam untuk mengambil ranselnya.
Dia membuka pintu dan mengintip dengan hati-hati. Saat di rasa aman, Cleo berjalan dengan perlaham menuju pintu utama.
"Mau kemana kau?" Cleo kaget karena Andreas keluar dari dapur. Cleo tidak menjawabnya, dia hanya berdiri tanpa memandang Andreas. "Apa kau tidak mendengarku?" melihat pria itu mendekat, Cleo berjalan mundur.
"Mau apa kau?" tanyanya.
"Aku yang sedang bertanya, mau kemana kau dengan ransel itu?" Andreas curiga kalau Cleo akan kabur.
"Kerja." jawabnya.
"Jangan bohong! Aku sudah mengantongi semua jadwalmu. Hari ini kau shift malam." Cleo menatap tajam ke arahnya.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau selalu mencampuri urusanku?" Cleo kembali emosi.
"Karena aku punya hak untuk tahu apa saja yang telah kau lakukan. Aku tidak mau wanita sepertimu membuat aku ataupun keluargaku malu." hati Cleo begitu sakit mendengarnya.
"Kau tenang saja! Aku tidak akan melakukan apapun yang akan mempermalukanmu." jawabnya.
"Oh ya? Tapi, sayangnya kau sudah melakukan itu." jawab Andreas.
"Aku tidak pernah melakukan itu." Cleo tidak terima Andreas menuduhnyabyang bukan-bukan.
"Apa namanya jika bukan? Seorang wanita yang sudah bersuami, dinner dengan seorang pria yang bukan mahramnya? Itupun tanpa sepengetahuanku, suamimu." Cleo semakin tersulut emosi saat secara tak langsung Andreas menuduhnya berselingkuh.
"Dia itu temanku! Dan apa kau bilang? Wanita bersuami? Aku bahkan tidak tahu apakah aku sudah menikah atau belum." Cleo berlari kembali ke kamarnya. Andreas terdiam cukup lama.
__ADS_1
~tbc