
"Ayolah!" Olive memaksa Andreas untuk menari bersamanya.
"Kau tahu aku tidak suka." tolak Andreas.
"Ayo berdansa denganku!" ajak Yuda.
"Malas!!" Olive duduk disebelah Andreas.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau tidak menikmati semua ini?" tanya Olive, sementara Yuda asyik menari dihadapan mereka.
"Tidak apa-apa." Andreas meneguk minuman soda yang dia pesan.
"Aku ke toilet dulu." ucap Olive. Sejak tadi Andreas memikirkan Cleo. Dia kembali teringat dengan tindakannya semalam.
"Hi!" Andreas menoleh pada Nayla.yang berdiri di depannya. "Kamu sendiri??" Nayla tersenyum pada Andreas. "Aku boleh duduk disini?" sebelum mendapatkan izin dia sudah lebih dulu duduk disebelah Andreas.
"Kau masih berani datang ke tempat ini?" tanya Andreas.
"Kenapa tidak? Kemarin aku terlalu mabuk, saat ini aku bahkan bisa mematahkan tangan pria brengsek lainnya." Nayla kembali tersenyum manis. "Kau mau minum?" Nayla mengangkat gelas yang dia pegang.
"Tidak. Aku sudah punya ini." tolaknya.
"Oh, iya, kemarin aku lupa mengucapkan terima kasih." Nayla meneguk minuman beralkohol itu.
"Tidak apa-apa." jawab Andreas.
"Apa kita bisa berkenalan?" Nayla mendekat dan mengulurkan tangannya.
"Cassano." jawabnya.
"Aku, Nayla!" Nayla menyilangkan kakinya, sehingga rok mini yang dia gunakan memperlihatkan pahanya.
"Siapa dia?" Olive terlihat kesal saat melihat Nayla duduk bersama Andreas. "Dasar ganjen!" ucapnya saat melihat Nayla mendekat pada Andreas.
"Ayo kita pulang!" ucap Olive begitu sampai dihadapan Andreas.
"Ayo!" jawab Andreas.
"Dimana Yuda?." Olive mencari keberadaan Yuda. Sesekali dia menatap sinis pada Nayla.
"Tuan, apa aku boleh minta nomormu?" Nayla memberanikan diri.
"Untuk apa?" tanya Andreas.
"Tunggu dulu, Kau siapa?" tanya Olive. Dia menghalangi pandangan Nayla pada Andreas.
"Aku tidak ada urusan denganmu." Nayla mendorong Olive.
"Hey!!" teriak Olive. Dia mendekat pada Nayla.
"Sudahlah!" Andreas menghentikan Olive saat tangannya hampir mengenai Nayla. "Kita pulang saja." ajaknya. "Maafkan aku, tapi kami harus pulang." ucap Andreas pada Nayla, Olive merangkul lengan Andreas.
"Minggir, Lo! Murahan!" maki Olive saat melintasi Nayla. Andreas tidak mengatakan apapun, dia lebih memilih membawa Olive menjauh dari sana.
__ADS_1
"Yud, Ayo!" teriak Andreas pada Yuda yang sejak tadi memperhatikan mereka di lantai dansa.
"Dasar brengsek!!" Nayla terlihat kesal, terlebih pada Olive. Sudah sejak tadi dia menunggu kehadiran Andreas. Saat dia melihat Andreas, dia tidak menyia-nyiakan kesempatan yang dia punya. Tapi, Olive malah mengacaukan semuanya.
πππ
"Aku ngantuk banget!" Cleo membuka pintu Apartemen. Dia berjalan dengan langkah gontai. "Apa dia sudah pergi?" Cleo melihat ke sekelilingnya. "Ah, apa peduliku." Cleo berjalan menuju kamarnya.
"Aku mau ke rumah sakit. Kalau kau keluar, tolong sekalian ke supermarket." Cleo terdiam, dia memdengarkan semua perkataan Andreas tanpa menoleh sama sekali. "Aku belum sempat mengisi kulkas. Kau gunakan ini saja." Andreas meletakkan kartu miliknya diatas lemari yang ada di dekat kamar Cleo.
"Mengagetkanku saja. Aku pikir dia sudah pergi." Cleo memegang dadanya, begitu mendengar Andreas membuka pintu utama. Cleo masuk ke kamarnya, yang dia butuhkan saat ini adalah tidur.
"Selamat pagi, Dok." sapa staff yang berselisih dengannya. Andreas membalas mereka dengan anggukan.
"Apa kalian tahu? Dokter Cleo berpacaran dengan Kiano Devandra." gosip pegawai yang berdiri di belakang Andreas. Saat ini mereka sedang menunggu lift.
"Kiano Devandra yang artis itu?" tanya salah satu dari mereka. Andreas masang kupingnya lebar-lebar.
"Iya." jawabnya.
"Kamu tahu darimana?" tanya yang lain.
"Luna dari departemen Obgyn. Semalam Kiano datang membawakan mereka makanan." tanpa dia sadari, Andreas mengepalkan tangannya.
"Wah, itu benar? Beruntung banget dokter Cleo. Aku juga nggak aka nolak kalau cowoknya setampan Kiano." puji mereka. Andreas keluar dengan perasaan dongkol. Dia segera menuju ruang prakteknya.
"Kantin, Yuk!" ajak Yuda padanya begitu mereka selesai praktek. Andreas mengikutinya. Saat mereka sampai di meja, Olive yang melihat keberadaan mereka segera bergabung.
"Apa kalian sudah dengar itu?" Yuda membuka obrolan.
"Katanya, dokter magang baru di bagian Obgyn pacarnya Kiano artis terkenal itu." jelas Yuda. Rahang Andreas kembali mengeras.
"Itu nggak mungkin." jawab Olive. "Pasti dia aja yang kegeeran." timpalnya.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Yuda pada Andreas.
"Habiskan saja makananmu. Itu bukan urusan kalian." jawabnya ketus. Yuda dan Olive hanya bisa saling pandang.
πππ
"Dimana Luna?" tanya Andreas begitu dia sampai di departemennya.
"Dia shift malam, Dok." jawab Desmi. "Ada apa, Dok?"
"Katakan padanya jangan membuat kegaduhan di rumah sakit. Aku tidak mau pegawai lain hanya sibuk bergosip." pesannya.
"Baik, Dok." jawab Desmi. Setelah mengatakan itu Andreas keluar dari sana.
"Ada apa, Bu?" tanya Bela. Desmi tidak mengatakan apapun, dia mengambil ponselnya dan menghubungi Luna.
"Dari mana datangnya gosip itu? Siapa namanya tadi?" Andreas mengambil ponselnya. "Kiano." dia mulai googling, dia sendiri penasaran seperti apa pria bernama Kiano itu. "Apa ini?" Andreas melihat foto pria dengan setelan jas dan beberapa pakaian lain. "Bukankah dia yang beberapa kali bertemu dengannya?" ucapnya saat melihat foto Kiano menggunakan hoodie dan masker.
πΌπΌ
__ADS_1
"Apa lagi ya?" Cleo mengingat-ingat apa yang harus dia beli. Padahal troli miliknya sudah hampir penuh. Dia kembali berjalan mencari keperluan lainnya.
"Aku butuh ini." Cleo mengambil tisu yang ada di dekatnya. Setelah dirasa cukup, dia bergegas menuju kasir. Cleo memisahkan barangnya dengan milik Andreas. Dia melakukan itu karena hingga saat ini dia belum tahu hubungan apa yang sebenarnya mereka jalani.
"Hoho, ternyata tuan putri sedang berbelanja." Cleo dan Nayla tidak sengaja bertemu saat mereka sedang menunggu taksi. Cleo menatap malas ke arahnya, dia memilih untuk tidak meladeninya.
"Siapa, Nay?" tanya Zia.
"Mantan teman." jawabnya tapi Cleo masih bisa mendengar perkataannya.
"Mantan teman?" Zia terlihat bingung.
"Dia itu teman yang mengerikan. Dia bahkan rela merebut gebetan temannya sendiri." lanjut Nayla. Cleo yang sudah jengah mendekati mereka.
"Apa yang kau katakan?" tanya Cleo.
"Kenapa? Memang itulah dirimu." jawabnya.
"Kau!!" Cleo masih berusaha menahan emosinya.
"Sudah, Nay!" Zia menengahi mereka. "Ayo!" ajaknya begitu melihat situasi tidak lagi kondusif. Cleo hanya bisa mengelus dada.
"Nona Cleo?" tanya sopir taksi yang
berhenti di depannya.
"Iya, Pak." pria itu membantu Cleo memasukkan belanjaannya ke dlaam mobilnya.
πππ
"Dari mana saja kau?" Andreas lebih dulu tiba di rumah.
"Apa kau tidak melihat ini?" Cleo memperlihatkan kantong belajaan yang ada ditangannya. Dia membawa kantong-kantong itu ke dapur.
"Apa kau pergi dengan kekasih gelapmu?" tanyanya. Cleo yang sedang memasukkan belanjaan ke kulkas, segera menoleh.
"Apa maksudmu?" tanya Cleo.
"Aku sudah mendengar semuanya." Cleo berbalik dan menatap ke arahnya.
"Apa?"
"Kalau kau sudah memiliki kekasih? Jika kau sudah punya pasangan kenapa kau mau menikah denganku?" tanya Andreas.
"Aku tidak mengerti maksudmu." jawabnya. "Pasangan apa?"
"Tidak perlu berpura-pura. Satu rumah sakit sudah tahu mengenai hubunganmu dengan artis itu." jawabnya.
"Kau salah paham. Aku dan dia ...."
"Sudahlah! Aku tidak tahu apa yang kau inginkan dariku. Tapi, jika kelakuanmu ini membuat mamaku dalam bahaya, maka aku tidak akan pernah mengampunimu." ancamnya. Cleo tidak mengatakan apapun. Yang ada dalam benaknya saat ini adalah semua perkataan Andreas.
"Darimana dia tahu mengenai Kiano?" Cleo bingung.
__ADS_1
~tbc