
"Lebih baik kita ke rumahku." ajak Cleo karena menurutnya tidak aman bagi mereka jika berlama-lama disana. Sandra mengangguk, mereka masuk ke mobil masing-masing.
"Mau kemana mereka?" Andreas kembali mengikuti mobil Cleo. Cleo berhenti di depan rumahnya. Setelah meminta Aming untuk membukakan pintu, mereka segera masuk. "Kenapa dia kesini?" Andreas hanya bisa melihat mereka dari kejauhan.
"Non, kenapa ....?" Cleo memberi kode bi Ita untuk tidak mengatakan apapun. "Eh, bukankah ini ....?"
"Sandra, Bi. Teman sekolah Cleo dulu." Bi Ita tersenyum dan mengangguk.
"Lama nggak ketemu, Non. Mari masuk!" bi Ita mempersilahkan dia duduk.
"Ada apa, Dra?" tanya Cleo begitu bi Ita kembali masuk.
"Aku baru dari rumah." ucapnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Cleo.
"Biasalah! Aku mendengar pertengkaran antara papa dan istrinya." jawabnya. "Oh, ya apa kau sudah tahu kalau papaku saat ini lumpuh?" tanya Sandra padanya. Cleo mengangguk.
"Kiano yang mengatakannya padaku." gantian Sandra yang mengangguk.
"Mungkin itu adalah balasan dari tuhan, karena papa meninggalkan keluarganya demi wanita lain." tatapan mata Sandra terlihat kosong.
"Jangan berkata seperti itu. Bagaimanapun, dia adalah papamu." Cleo menasehatinya.
"Aku kira dia akan hidup bahagia setelah mengusir istrinya. Tapi, aku nggak nyangka kalau wanita pilihannya sangat culas. Dia selalu menyalahkanku atas apa yang terjadi pada putrinya." jelasnya.
"Kenapa dengan Nayla?" tanya Cleo.
"Wanita itu kabur dari rumah." Cleo tidak terkejut sama sekali.
"Apa aku boleh tahu alasannya?" tanyanya.
"Aku tidak tahu pasti, tapi sekilas aku mendengar papa membekukan semua aset miliknya. Dia tidak akan mendapatkan apapun, jika tidak bekerja. Kau tahu Cle, berkat idemu aku bisa menjadi seperti sekarang ini." Sandra menatapnya dengan mata berbinar.
"Aku tidak melakukan apapun. Kau sendiri yang menentukan jalan hidupmu." jawab Cleo.
"Aku senang kau kembali." Sandra mengatakannya dengan tulus.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Cleo, Sandra mengangguk.
"Sebaiknya kita tidur. Besok masing-masing dari kita pasti akan memiliki hari yang berat." ucapnya.
"Kalau begitu, aku pulang dulu!" Sandra hendak berdiri.
"Tidurlah disini. Sudah lama kita tidak ketemu. Apa kau tidak merindukanku?"
"Oh, tentu saja!" Sandra tertawa.
"Ini lebih baik. Dari pada aku kembali kesana, yang ada dia akan semakin menyakiti hatiku. Biar besok saja aku hadapi singa itu." Cleo mengajak Sandra menuju kamarnya.
"Sudah larut begini, mereka masih tidak keluar juga." Andreas melihat arlojinya sudah pukul 00.30 wib. Dia segera menghidupkan mesin mobil dan meninggalkan rumah Cleo. Andreas yakin Cleo pasti tidak akan pulang. "Awas saja kau!"
πππ
"Dok, pasien di kamar 106 mengalami pecah ketuban." lapor perawat pada Cleo.
"Pindahin ke ruang bersalin." perintahnya. Mereka bergegas menuju ruang bersalin. "Siapa yang bertugas?" Cleo lupa mengecek jadwal piket dokter.
"Dokter Malik." jawab Desmi. Cleo segera menghubungi dokter Malik. 5 menit setelah pasien di pindahkan, dokter Malik datang.
"Bagaimana?" tanyanya.
"Pasien mengalami pecah ketuban, tapi tidak ada kontraksi, Dok." jawab Cleo. Malik memeriksa pembukaan pasien.
"Siapkan ruang operasi." Malik melakukan perintah karena usia kehamilan pasien yang masih 28 minggu, dia mengkhawatirkan kondisi janin di dalam kandungan. Semua bersiap, Cleo menghubungi pihak kamar operasi, Desmi menyiapkan pasien, sementara Malik menjelaskan kondisi pasien pada keluarga. Setelah semua beres, pasien di pindahkan.
__ADS_1
"Apa kamu tidak akan ikut denganku?" tanya Malik saat Cleo selesai mengantarkan pasien.
"Aku?" tanyanya, Malik mengangguk.
"Bukankah kamu selalu ikut dengan operasi Cassano, kalau begitu aku juga ingin tahu seperti apa kemampuanmu." Malik selesai dengan mencuci tangannya. "Apa yang kamu pikirkan? Cepatlah!" Cleo segera mengikuti perintahnya, dia mulai mencuci tangannya.
"Dimana dokter Cleo?" Andreas yang baru tiba tidak melihat keberadaan Cleo. Sejak pagi dia belum melihat wanita itu.
"Beliau ikut dalam operasi dokter Malik, Dok." Andreas menoleh pada Desmi.
"Maksudmu?" tanyanya.
"Dokter Malik meminta dokter Cleo untuk ikut andil dalam operasinya." setelah mendengar itu, Andreas berlalu menuju ruangan pasien. Desmi dan yang lainnya mengikutinya.
"Ternyata kamu cepat dan rapi." puji Malik saat melihat hasil kerja Cleo. "Ok! Terima kasih semua." ucapnya saat mereka telah selesai dengan operasi pasien. Setelah pasien di pindah ke ruang ovservasi, Cleo berjalan kembali menuju departemennya.
"Dokter Cleo!" dia menoleh dan melihat Malik mendekat ke arahnya.
"Ada apa,Dok?" tanyanya.
"Gimana kalau kita makan bareng?" ajaknya. Cleo melihat arlojinya yang sudah pukul 18.30 wib.
"Tapi saya harus kembali ke ruangan." sudah kurang lebih satu jam Cleo berada di ruang operasi.
"Aku rasa kau tidak bisa memaksanya." Andreas mnyela pembicaraan mereka.
"Kenapa denganmu?" Malik terlihat bingung.
"Dia punya urusan yang harus diselesaikan." Andreas menatap tajam pada Cleo.
"Baiklah! Mungkin lain kali. Aku sangat senang kau berpartisipasi dala operasiku. Aku harap besok kita melakukannya lagi." Cleo mengangguk.
"Kalau begitu saya permisi, Dok." Malik mengangguk. Andreas juga ikut dengannya tanpa mengatakan apapun lagi.
"Apa maksudmu?" tanya Cleo.
"Cihh!! Kau selalu saja dekat dengan pria manapun. Kalau begini, aku sangat yakin hubunganku denganmu tidak akan bertahan lama." Andreas tersenyum sinis.
"Apa mulutmu itu nggak bisa berkata baik?" Cleo murka, tapi dia tetap mengatakannya dengan nada rendah. Dia tidak ingin memancing rasa penasaran karyawan lain.
"Aku tau harus berkata baik pada siapa. Mana ada wanita baik yang pergi dari rumah tanpa berkata apapun. Bahkan tidak pulang semalaman." Cleo mengerti kenapa dia marah.
"Terserah kau mau berkata apa." Cleo membuka pintu penghubungan antara ruang operasi dengan departemennya. "Aku akan mempermalukan diriku, Jika aku terus meladeninya." batinnya.
"Bagaimana operasinya, Dok?" tanya Desmi begitu dia sampai.
"Semua berjalan lancar! Ibu dan bayinya selamat. Tapi, bayi itu harus mendapatkan penangganan intensif." jawabnya.
"Wajarlah, Dok. Dia lahir premature. Semoga saja kondisinya cepat stabil." mereka mengiyakan ucapan Desmi.
"Dok, tadi dicariin sama dokter Cassano." lapor Elia.
"Untuk apa dia mencariku?" tanyanya.
"Entahlah! Dia sangat kesal saat tau bahwa dokter ikut dalam operasi dokter Malik." ujarnya.
"Kamukan tau seperti apa dia. Mana pernah dia menyukaiku. Dia pasti akan mencari seribu alasan untuk memarahiku." semua menoleh saat Cleo mengatakan itu. Desmi membuat Elia terdiam dengan tatapan matanya.
"Tida usah dipikirkan, Dok. Beliau memang seperti itu. Tapi sebenarnya beliau sangat baik." Cleo hanya tersenyim mendengar perkataannya.
πππ
"TIN TIN TIN." Cleo menoleh saat mendengar klakson mobil yang ada di belakangnya.
"Kian!!" ucapnya saat tahu bahwa pemilik mobil itu adalah Kiano.
__ADS_1
"Apa kau terkejut?" tanya Kian.
"Tentu saja." Cleo tertawa kecil.
"Kau mau pulang?" tanyanya saat melihat Cleo berdiri di depan mobilnya.
"Iya." jawabnya.
"Gimana kalau aku antar?" Cleo mengerinyitkan dahinya.
"Gimana dengan mobilku?" tanyanya.
"Kau bisa meninggalkannya disini. Nanti, aku akan menyuruh orang untuk mengantarnya pulang ke rumahmu." Cleo terlihat berpikir. Dia nggak mau kalau Kiano sampai tahu mengenai dirinya dan Andreas
"Tapi ....?"
"Sudah, ayolah!" Kiano membawanya masuk ke dalam SUV hitam itu.
"Kamu mau makan dimana?" tanya Kian.
"Untuk kali ini aku yang akan menentukan tempatnya." Cleo mengajukan syarat. Kiano terdiam, akan sulit baginya jika mereka makan ditempat yang ramai.
"Kenapa?" tanya Cleo.
"Tidak apa-apa. Baiklah!" Kiano melajukan mobilnya keluar dari rumah sakit.
Akhirnya mereka sampai disalah satu cafe favorite Cleo, D'amor Cafe. Mereka masuk dan mencari tempat yang sedikit private. Tentu saja ini atas permintaan Kiano.
"Kamu sering kesini?" Kiano memperhatikan setiap sudut ruangan itu. Cafenya begitu tenang dan nyaman. Membuat pengunjung yang datang betah berlama-lama disana.
"Nggak juga. Tapi, aku suka suasannya." jawabnya.
"Nyaman." Cleo setuju dengan ucapannya.
"Kenapa setiap kali bertemu kau sellau mengunakan itu?" Cleo menunjuk topi, kacamata dan maskernya.
"Karena aku seorang artis. Akan sulit jika ada yang tahu." jujurnya. Tapi Cleo malah tertawa.
"Jangan ngawur deh! Bilang saja, kalau kau hanya tidak ingin ada yang tahu bahwa kau jalan denganku." ucap Cleo.
"Untuk itu, aku nggak akan malu. Aku malah senang bisa bersamamu." Cleo tertawa kecil.
"Sejak kapan kau jago menggunakan rayuan seperti ini? Sudah berapa wanita yang kau taklukan?" tanya Cleo lagi.
"Tidak satupun." Kiano terlihat serius. Dia menatap lembut Cleo. Cleo yang paham arti tatapan itu, mulai menunduk.
"Tenyata kau disini!" Cleo terkejut saat seseorang datang dan menariknya dengan kuat.
"Kau ....!?" Cleo terkejut saat melihat Andreas mencengkran tangannya.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Kiano.
"Ikut denganku!" Andreas menarik Cleo begitu saja.
"Hey! Lepaskan dia!" teriak Kiano.
"Kau jangan pernah ikut campur!" Andreas mengancamnya.
"Kian, tidak apa-apa. Aku dan dia punya sedikit masalah." Cleo berusaha menenangkannya.
"Tapi, Cle ....!?"
"Tidak apa-apa." Kiano terdiam, dia tidak bisa berbuat apa-apa saat melihat Andreas membawa Cleo keluar dari cafe itu.
~tbc
__ADS_1