CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )

CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )
BAB 44


__ADS_3

"Kau dimana?" Andreas berbicara di telepon dengan Yuda.


"Aku lagi praktek. Ada apa?" tanya Yuda.


"Aku pinjam mobilmu." ucapnya.


"Memangnya kenapa dengan mobilmu?"


"Sudahlah, jangan banyak tanya. Minta salah satu asistenmu untuk mengantarnya ke basement. Aku tunggu di pintu masuk." Andreas menutup teleponnya. 10 menit kemudian, seorang perawat datang dan memberikan kunci mobil Yuda padanya.


Sekitar 2 jam kemudian, Andreas tiba di Bandara. Dia mencari keberadaan Cantika di terminal keberangkatan. Andreas mencoba menghubungi nomornya, tapi belum ada jawaban. Dia terus mencoba.


"Hallo!" dia lega saat mendengar suara Cantika.


"Hallo, kamu dimana?" tanyanya.


"Kenapa?" tanya Cantika.


"Aku baru sampai, apa kamu masih bisa menemuiku?" tanyanya lagi.


"Baiklah." Cantika menutup ponselnya. Dia bergegas keluar dan melihat Andreas sedang berdiri tak jauh darinya.


"Aku kira kamu nggak jadi datang." ucap Cantika begitu sampai di depannya.


"Aku harus datang, karena ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu." Andreas terlihat serius.


"Ada apa? Katakan saja, aku tidak punya banyak waktu." ucapnya.


"Apa kamu tidak bisa tetap disini?" Andreas menatap lembut padanya.


"Aku nggak bisa. Kamu tahu alasanku untuk pergi." jawabnya.


"Tika, apa hanya Al yang ada didalam hidupmu?" Andreas memegang tangannya.


"Dre, kau tahu betul seperti apa cintaku padanya." raut wajah Cantika kembali sedih.


"Aku tahu. Tapi, apa kau tidak bisa membuka hatimu untuk pria lain? Kau tahu sendiri bahwa kau tidak mungkin bersama dengan Al." Andreas berharap Cantika mau melihatnya.


"Aku nggak bisa, Dre. Selama ini hanya ada Al dalam hatiku." jawabnya.


"Apa benar sudah tidak ada tempat untukku?" Cantika mengangkat wajahnya dan menatap dalam Andreas.


"Maksudmu?" Cantika bingung.


"Aku mencintaimu." Andreas mengakui perasaannya, Cantika begitu terkejut. "Sudah sangat lama." lanjutnya. "Apa kau tidak bisa tetap disini? Izinkan aku untuk mengobati hatimu yang terluka karena Al." Andreas menatapnya penuh harap. Terdengar panggilan untuk keberangkatan menuju Paris.


"Maafkan aku, Dre. Tapi, aku hanya menganggapmu sebagai sahabatku. Aku tidak pernah memiliki perasaan selain itu. Karena selama ini yang ada dihatiku hanya Al. Dan juga aku masih harus menata hatiku." Andreas mencoba tersenyum, walaupun hatinya terasa perih.


"Jika suatu saat kau sudah bisa merelakan segalanya, maka kembalilah. Aku akan selalu ada untukmu." ucapnya. Cantika mengangguk.


"Aku pergi dulu." Cantika memeluknya sebelum berlari masuk ke dalam.

__ADS_1


Andreas masih terpaku di tempatnya. Dia terus menatap Cantika hingga wanita itu sudah tidak terlihat lagi. Dia berjalan menuju ke mobil Yuda, dan membawa kendaraan itu menjauh dari sana.


"Kau darimana saja?" semprot Yuda begitu Andreas masuk ke ruangannya.


"Ini kuncimu." Andreas meletakkan kunci itu di atas meja.


"Ada apa denganmu?" Yuda memperhatikan tampang Andreas yang kusut. Bukannya menjawab pertanyaannya, Andreas malah berbaring di sofa panjang yang ada di ruangan itu. "Apa kau tidak pulang?" tanya Yuda.


"Aku piket malam." jawabnya dengan mata tertutup.


"Kalau begitu aku pulang dulu." Yuda berdiri dan meraih kuncinya.


"Tangkap!!" Yuda refleks menangkap kunci mobil yang dia lemparkan.


"Ini untuk apa?" Yuda memegang kunci miliknya.


"Tolong suruh orang untuk memperbaiki banku." jawabnya.


"Aku mau pulang!" Yuda menolak, tapi Andreas malah membalikkan tubuhnya menghadap ke sandaran sofa. Dengan kesal, Yuda keluar dari ruangan itu. "Dia selalu saja bertingkah semaunya." gerutunya.


"Sore, Dok!" sapa Raka begitu melihat Yuda memasuki lift.


"Sore." jawabnya. "Kau mau pulang?" Yuda melihat ransel yang bertengger di punggung Raka.


"Iya, Dok." jawab Raka.


"Kalau begitu ikutlah denganku." Yuda menarik Raka, sehingga pria itu terpaksa mengikutinya menuju basement.


"Astaga! Apa yang terjadi pada mobilnya?" Yuda kaget saat melihat semua ban mobil Andreas kempes. Begitupun dengan Raka. "Apa disini banyak paku? Tapi kenapa bisa semua bannya begini?" Yuda mengitari mobil itu.


"Sepertinya ada yang sengaja membuka angin di bannya, Dok." jawab Raka.


"Apa yang terjadi padanya? Apa dia mempunyai musuh?" Yuda berkacak pinggang. Yuda mengambil ponselnya dan mulai menghubungi orang bengkel. Raka juga tak kalah herannya melihat kondisi ban mobil Andreas.


"Aku sudah menghubungi bengkel, sebentar lagi mereka sampai disini. Jadi, kau tunggu mereka dan awasi sampai mereka selesai." Raka melotot mendengar perintahnya.


"Kenapa saya, Dok?" tanya Raka.


"Dia atasanmu, bukan? Jadi, kau harus membantunya saat dia mengalami kesulitan." Yuda menyerahkan kunci mobil milik Andreas padanya.


"Tapi, Dok ...."


"Jangan lupa untuk mengembalikan kuncinya padanya, sekalian minta uangnya." setelah berpesan begitu, Yuda meninggalkan Raka yang masih berdiri ditempatnya.


"Dosa apa yang telah kulakukan?" Raka menarik-narik rambutnya.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Ada apa?" Andreas menjawab ponselnya yang sejak tadi tidak henti berdering.


"Ada pasien baru dengan ketuban pecah dini, Dok." Andreas segera bangun saat mendengar suara Cleo.

__ADS_1


"Usia berapa?" Andreas berlari menuju lift.


"37 minggu." jawab Yuna.


"Aku segera kesana." Andreas masuk begitu pintu lift terbuka.


"Gimana kondisi pasien?" tanyanya begitu sampai di nurse station.


"Ketuban sudah pecah sejak siang tadi. Dan, denyut jantung bayi mulai melemah, Dok." Cleo melapor padanya.


"Siapkan ruang operasi." perintahnya, Andreas bergegas menuju ruang bersalin. Sementara, Cleo menemui keluarga pasien dan menjelaskan apa yang terjadi pada mereka. Desmi menghubungi ruang operasi. Setelah mendapatkan persetujuan pada keluarga, mereka segera membawa pasien ke ruang operasi.


"Mau kemana kau?" Andreas yang sedang memasang jubah pelindung, mencegat Cleo yang berjalan di dekatnya.


"Kembali ke ruangan." jawabnya. Cleo memang bertugas di bagian obgyn, bukan ruang operasi.


"Mulai saat ini, setiap aku melakukan operasi kau harus ikut." ucapnya.


"Tapi, aku ...." Andreas berjalan ke samping pasien yang sudah selesai di bius.


"Apa yang kau tunggu? Apa kau ingin membuat pasien terus menunggumu?" Cleo keluar dan berjalan menuju wastafel.


"Apa yang sebenarnya dia inginkan? Dia tahu aku tidak bertugas disini. Dasar bule cabul!" Cleo terus saja mengerutu sambil menyikat tangannya. Setelah selesai, dia kembali masuk dan perawat membantunya memakaikan baju pelindung.


Cleo melihat kalau Andreas sudah hampir mengeluarkan sang bayi. Dan, benar saja, tak lama setelah itu bayi mungil itu keluar. Tapi tidak terdengar tangisan dari sang bayi. Andreas terlihat berusaha membuatnya menangis. Usahanya membuahkan hasil, bayi mungil itu mulai bersuara. Setelah dirasa cukup, dia menyerahkannya pada perawat anak.


"Apa kau akan menonton terus?" Cleo tahu ucapannya ditujukan padanya.


"Apa yang harus kulakukan?" tanya Cleo.


"Bertukar posisi dengannya." Asisten yang ditunjuk segera menjauh dari meja operasi. Dia memberikan tempatnya pada Cleo.


"Jika kau terus seperti ini, maka akan banyak nyawa yang hilang karena keleletanmu." semua orang terdiam. Cleo memilih diam karena dia tidak ingin membuat keributan di depan karyawan dan pasien. "Dimana matamu? Potong yang benar!" Andreas terus saja memarahinya.


"Bule cabul, sialan! Sepertinya dia sengaja ingin mempermalukanku." rasanya Cleo ingin menusukkan gunting yang dia pegang pada Andreas. Hingga operasi selesai, Andreas terus saja memarahi Cleo.


"Apa maumu?" tanyanya Andreas saat melihat Cleo masuk ke ruang istirahat.


"Apa kau sengaja ingin mempermalukanku?" Cleo terlihat sangat kesal.


"Untuk apa? Memang kau yang tidak becus bekerja." Andreas mengambil remote dan menghidupkan tv yang ada disana.


"Aku tahu kau sengaja. Kau ingin balas dendam, bukan?" tanya Cleo.


"Balas dendam?" Andreas berjalan mendekat ke arahnya. Cleo mundur saat Andreas semakin dekat.


"Mau apa kau?" tanya Cleo.


"Balas dendamku bahkan belum dimulai. Kau lihat saja nanti, saat kau menjadi istriku, baru kau akan merasakannya." Andreas berbisik ditelinganya, Cleo bergidik mendengar ancamannya.


~tbc

__ADS_1


__ADS_2