CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )

CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )
BAB 23


__ADS_3

"Aku akan memberinya pelajaran." Cleo bersiap untuk mengejarnya.


"Non, mau kemana?" bi Ita mencegahnya.


"Aku harus mengejar bedebah itu, Bi." ucapnya.


"Udah biarin aja, Non. Itu wajahnya dibersihin dulu." bi Ita menunjuk wajah Nayla yang masih berlumuran saos.


"Tapi, Bi ...?"


"Udah, Non. Nanti masuk ke mata bisa bahaya." bi Ita membawanya ke kamar mandi yang ada di rumah sakit itu.


Cleo mencuci wajahnya di wastafel, hatinya masih sangat dongkol.


"Lihat saja nanti. Kalau ketemu lagi akan kubalas dia." makinya.


"Memangnya nona kenal dengan laki-laki tadi?" tanya bi Ita yang ikut menemaninya ke dalam toilet.


"Gak, Bi!" jawabnya.


"Terus kenapa dia bisa bersikap kasar seperti itu?" bi Ita mulai terlihat khawatir.


"Dia itu cowok paling nyebelin. Tiap kali aku ketemu dia pasti sial mulu. Tapi, aku juga bingung, Bi." Cleo mengelap wajahnya dengan tisu.


"Bingung kenapa?" tanyanya.


"Kenapa aku selalu ketemu sama si cabul itu. Kemarin di mall, sekarang di sini." Cleo membuang tisu tadi.


"Jodoh kali, Non!" jawab bi Ita.


"Ihh, amit-amit! Cowok cabul kayak dia jadi jodohku, Bi." Cleo bergedik. "Ayo, bi, kita pulang!" mereka keluar dari toilet dan langusung menuju mobil.


"Kenapa lo dari tadi senyum-senyum sendiri?" tanya Yuda saat melihat ada yang berbeda dari Andreas.


"Bukan apa-apa." jawabnya sambil menutup buku laporannya.


"Dok, ada pasien kecelakaan yang sedang dalam perjalanan kesini." lapor perawat yang baru saja menerima telepon.


"Siapkan alat!" perintahnya. Andreas kemudian berlari ke depan pintu masuk UGD untuk menerima pasien tadi.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Mau kemana, Nay?" tanya Aisyah saat melihat Nayla sudah bersiap.


"Mau daftar ke Universitas Jakarta, Bu." Nayla memasang sepatu ketsnya.


"Kamu sudah tahu mau ngambil jurusan apa?" tanyanya.


"Seperti yang dulu Nayla bilang, Nayla mau ambil bisnis." jawabnya.


"Ya sudah, semoga saja kamu diterima." Aisyah memberi dukungan pada putrinya itu.


"Nay, berangkat, Bu!" ucapnya, setelah menyalami sang ibu. Nayla naik ojek menuju unversitas yang dia inginkan, setelah mengantri cukup lama, akhirnya dia bisa menyerahkan berkasnya pada pihak kampus.


Nayla berjalan perlahan, dia memperhatikan kampus yang ingin dia masuki. Sampai akhirnya matanya melihat seseorang yang dia kenal.


"Kian!!" teriaknya, Kiano berbalik saat mendengar ada yang memanggil namanya. Nayla berlari mendekat ke arahnya. "Kamu daftar disini juga?" tanyanya.


"Iya." jawabnya singkat.


"Wah, aku senang banget karena ada yang aku kenal disini." Nayla tersenyum lebar.


"Aku duluan!" Kiano terlihat cuek padanya.


"Kian, tunggu!" Nayla kembali mengejarnya. "Apa kamu masih marah padaku?" Nayla berdiri di depan Kiano.


"Setelah apa yang kamu lakukan ke Cleo, apa masih pantas kamu nanyain itu?" tanyanya.


"Itu semua gak benar. Bukan aku pelakunya." Nayla masih saja berbohong.


"Apa menurutmu Cleo yang berbohong?" Kian menatap tajam padanya.


"Kian, aku ..."


"Aku tidak menyangka kalau kamu sejahat itu. Dia temanmu, tapi apa yang kau lakukan?" Nayla terdiam.


"Itu karena dia merebutmu dariku." akhirnya dia buka suara.


"Merebutku?" Kiano kaget dengan jawaban yang dia dengar.


"Aku yang lebih dulu menyukaimu, dan dia tahu itu. Kalau dia temanku, dia tidak akan mungkin melakukan itu di belakangku." Nayla akhirnya menyatakan isi hatinya padanya.

__ADS_1


"Tapi aku gak pernah menyukaimu. Sejak wala yang kusukai itu Cleo. Aku dekat denganmu agar bisa dekat dengannya. Kurasa kau salah paham untuk semuanya." mata Nayla berkaca-kaca.


"Jadi, maksudmu aku hanya alat supaya kamu bisa dekat dengannya?" tanyanya.


"Aku tidak memperalatmu. Kamu saja yang baperan." Nayla terkejut dengan perkataannya.


"Aku tidak menyangka kamu sekejam itu." ucap Nayla.


"Seharusnya kata-kata itu untukmu. Kau yang terlalu kejam hingga tega mencelakai temanmu sendiri. Mulai saat, ini aku tidak ingin mengenalmu." Kiano menyalahkan Nayla atas semua yang terjadi padanya. Dia yakin Cleo menolaknya karena Nayla. Setelah berkata seperti itu Kiano meninggalkannya seorang diri. Nayla begitu terpukul dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Semua ini karena Cleo!" Nayla berlari keluar dari kompleks kampus.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Bi, apa Ayah sudah pulang?" tanya Cleo begitu dia sampai di anak tangga terakhir.


"Sudah, Non. Tuan ada di kamarnya." jawab bi Ita. Cleo berjalan menuju kamar Adam.


"TOK TOK TOK."


"Masuk." terdengar sahutan dari dalam.


"Ayah!" panggilnya.


"Ada apa?" Adam sedang bersiap-siap saat melihat Cleo masuk.


"Ayah mau kemana?" tanyanya saat melihat Adam memasukkan beberapa dokumen ke dalam tas kerjanya.


"Ayah harus ke kantor. Ada beberapa masalah yang harus segera diselesaikan. Ada apa?" Adam menoleh padanya.


"Aku mau bilang kalau, aku sudah mendaftar di Universitas Jakarta." ujarnya.


"Apa maksudmu?" Adam mendekat ke arahnya.


"Iya, kemarin aku sudah mendaftarkan diri disana." Cleo tersenyum karena memang itu keinginannya untuk dapat bergabung di kampus itu.


"Tidak! Namamu sudah terdaftar di salah satu Universitas di London." Cleo terkejit bukan main.


"London?"


"Bukankah ayah sudah pernah bilang, kalau kamu akan kuliah disana bersam Bumi." jawabnya.


"Tapi, Ayah seharusnya bertanya dulu apa yang aku mau." Cleo kesal karena Adam mengambil keputusan sendiri.


"Ayah gak pernah tau apa yang aku mau." Cleo berlari keluar.


"Non?" bi Ita mencoba untuk bertanya, tapi Cleo sudah keburu menaiki tangga, dan langsung menutup pintu kamarnya.


"Tuan, Nona ...?" bi Ita bertanya pada Adam yang baru keluar, Adam melihat ke arah atas.


"Biarkan saja!" jawabnya, lalu segera keluar.


"Apalagi yang terjadi pada mereka?" bi Ita geleng-geleng kepala.


"Selalu saja seperti ini." Cleo memukul-mukul bantal yang ada dipelukannya. "Ayah egois, aku benci!" ucapnya.


"TOK TOK TOK!" bi Ita mengetuk pintu kamarnya, tapi tidak ada jawaban.


"Non?" bi Ita membuka pintu itu. "Kenapa lagi?" tanyanya saat melihat mata Cleo yang sembab.


"Ayah, mendaftarkan aku kuliah di London." jawabnya.


"Bagus dong! Kenapa nona harus sedih?" bi Ita duduk disebelahnya.


"Bagus apanya, Bi? Aku maunya kuliah disini." ucapnya.


"Non, banyak loh orang yang pengen kuliah di luar negeri tapi gak bisa. Lah ini, nona udah didaftarin tapi malah nolak." bi Ita sebenarnya tahu alasan Adam ingin Cleo pergi. Tapi, dia gak bisa kasih tahu Cleo.


"Tapi, aku pengennya disini, Bi. Aku mau tetap bersama ayah. Kalau aku pergi siapa yang jagain ayah?" Cleo bersedih walaupun dia sering kesal, tapi dia sangat menyayangi Adam.


"Bibi, tau. Tapi, tuan melakukan itu untuk masa depan, Nona. Tuan ingin yang terbaik untuk nona." jawab bi Ita.


"Aku tidak percaya itu. Ayah hanya ingin aku menjauh darinya." jawabnya.


"Itu gak benar, Non. Tuan itu sayang banget sama nona." sela bi Ita.


"Bibi hanya ingin menghiburku. Kita semua tahu bagaimana ayah padaku." Cleo berjalan mengambil jaketnya.


"Mau kemana?" tanya bi Ita.


"Jalan."

__ADS_1


"Tapi, non ...?" Cleo berlari keluar dan langsung menuju garasi.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Kemana ya?" Sudah 15 menit Cleo berputar dengan motor kesayangannya. Tapi, dia bingung harus kemana.


"San, kamu dimana?" akhirnya dia menyerah, Cleo menghubungi Sandra.


"Gue di rumah." jawabnya.


"Apa aku boleh ke rumahmu?" tanyanya.


"Tentu saja! Datanglah!" Sandra menyebutkan alamatnya, Cleo mengubah tujuannya ke arah rumah Sandra.


"TIN!!" Cleo sampai disana.


"Mau cari siapa?" tanya wanita paruh baya yang keluar dari dalam rumah.


"Saya Cleo, teman Sandra." jawabnya.


"Masuk aja, Cle!" ujar Sandra dari dalam. Wanita itu mempersilahkan Cleo untuk masuk.


"Ayo, kita ke kamar gue aja." ajaknya, Cleo mengikutinya.


"Kamu sendiri?" tanyanya.


"Iya. Duduklah dimanapun kamu mau." ucapnya begitu mereka sampai di kamarnya. Cleo memilih untuk duduk di sofa yang ada di kamar Sandra.


"Tumben lo mau ke rumah gue?" tanyanya.


"Aku bingung gak ada tujuan." Cleo mbuka jaketnya.


"Kenapa? Jangan bilang lo kabur dari rumah?" tebaknya.


"Sembarangan, Gaklah!" ralat Cleo.


"Terus?"


"Aku lagi kesal sama ayah." ucapnya.


"Kenapa?" tanya Sandra.


"Dia mengirimku untuk kuliah ke luar negeri. Padahal, aku ingin kuliah disini." Cleo menceritakan perdebatannya dengan Adam.


"Mungkin menurut ayah lo, di luar lebih baik dibandingin disini." timpal Sandra.


"Itu hanya alasannya saja. Ayahku hanya ingin aku pergi jauh darinya." Cleo menyandarkan kepalanya di ujung sofa.


"Ternyata kita berdua sama-sama gak akur ya." Cleo menoleh padanya.


"Bagaimana denganmu?" tanya Cleo.


"Seperti yang lo tahu, Papaku tetap bersikeras untuk menikahi wanita itu." jawabnya.


"Kalau itu terjadi, Nayla akan menjadi saudaramu." Sandra melotot padanya.


"Gue nggak akan pernah jadi saudaranya." Sandra terlihat sewot.


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanyanya.


"Gue?" Cleo mengangguk. "Gue akan mengagalkan rencana mereka." Sandra terlihat serius dengan ucapannya.


"Tapi, jangan melakukan sesuatu yang akan merugikan dirimu." sarannya.


"Gue tahu apa yang harus gue lakukan." Sandra terlihat sangat yakin dengan rencananya.


"Udah sore, aku balik ya!" Cleo berdiri dan mengambil jaketnya.


"Lo, yakin mau balik sekarang?" tanyanya.


"Iyalah, aku lagi malas ribut mulu sama ayah." Sandra tertawa.


"Masalah lo gak seberat masalah gue kali." ledeknya.


"Aku harap kita bisa nemuin jalan keluar terbaik ya." Cleo memeluknya. Mereka berjalan bersama menuruni anak tangga.


"Mas, kamu ini! Malu! Nanti, ada yang lihat!" Aisyah menghentikan panji yang ingin mengecupnya.


"Memangnya kenapa? Ini rumahku, jadi aku berhak berbuat apa saja." Aisyah tergelak. Karena Panji yang terus saja memaksa dan berusaha menciumnya, Aisyah mengaitkan tangannya dileher Panji dan membawa panji lebih dekat dengannya.


"Hhmm!!" mereka dikagetkan dengan deheman Sandra. Mereka menoleh dan betapa terkejutnya Aisyah saat melihat Cleo berada disebelah Sandra.

__ADS_1


~tbc


__ADS_2