CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )

CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )
BAB 65


__ADS_3

Cleo menumpahkan kesedihannya di balik bantal. Dia tidak mau Andreas sampai mendengar tangisannya.


"Apa salahku? Kenapa aku harus bersama dengan pria sepertinya?" Cleo terus saja menangisi takdirnya. "Tapi, aku nggak boleh lemah! Aku pasti mampu mengahadapi semua ini. Aku yakin pilihan ayah adalah yang terbaik untukku." Cleo tidak ingin menyalahkan keputusan sang ayah. Semangatnya kembali begitu mengingat perjuangan Adam dan juga permintaannya. "Aku akan buat dia menyesali perkataannya." tekadnya.


"Ma, dimana papa?" tanya Andreas yang baru saja tiba di rumah orangtuanya.


"Sayang! Kamu kenapa? Dimana Cleo?" tanya Jasmine sambil melihat ke belakang. Dia berharap Cleo ada disana.


"Aku mau bertemu papa. Dimana papa?" Andreas terlihat kesal.


"Kamu terlihat kesal. Ada apa? Duduklah dulu!" Jasmine membawanya untuk duduk di sofa. Dia tahu saat ini putranya sedang emosi. "Sebenarnya ada apa?" Jasmine memegang tangannya.


"Aku ingin menanyakan sesuatu pada papa." ucapnya pelan. Andreas sedikit mulai tenang.


"Mbak, tolong panggil tuan di ruang kerjanya." ucapnya pada asisten yang baru saja melintas.


"Biar aku saja yang kesana." Jasmine menahannya.


"Tidak. Apapun itu mama mau kalian selesaikan disini. Mama ingin tahu apa yang membuatmu semarah ini." Andreas kembali duduk di sebelahnya. Tak lama tampak Vincent berjalan ke arah mereka.


"Ada apa? Dimana Cleo?" Andreas kembali kesal karena kedua orangtuanya selalu menanyakan Cleo.


"Apa maksud papa dengan ini?" Andreas meletakkan amplop putih itu di depannya. Vincent mengambilnya dan membuka amplop itu.


"Kenapa? Apa yang salah dengan ini?" tanya Vincent saat melihat tiket itu.


"Kenapa papa tidak bertanya dulu padaku? Apa papa sengaja melakukan semua ini?" tanyanya, Jasmine mengambil tiket itu dan membacanya.


"Untuk apa bertanya padamu? Aku sudah tahu jawabanmu." jawab Vincent.


"Pa, ini hidupku. Papa nggak bisa seenaknya maksain kemauan papa." ucapnya.


"Aku hanya ingin kau sadar bahwa dia itu istrimu." Vincent tidak mau mengalah.


"Tapi papa tahu kalau aku tidak memiliki perasaan apapun untuknya. Aku menikahinya hanya untuk mama." Andreas menoleh pada Jasmine yang sedang duduk disebelahnya.


"Memangnya apa yang kurang dari Cleo? Dia cantik, baik, bahkan mandiri. Nggak ada yang kurang darinya. Bahkan, kau beruntung mendapatkan dia." pujian Vincent pada Cleo, malah membuat Andreas semakin kesal.


"Papa tau alasanku. Dia tidak akan pernah bisa memilikiku seutuhnya."


"Cukup, And!!!" teriak Jasmine. Andreas dan Vincent menoleh padanya. "Cukup!!" dia membalas tatapan putranya dengan penuh kemarahan.


"Ma ....?" Andreas mencoba memegang tangan Jasmine, tapi dia menolak.


"Jangan katakan satu hal buruk lagi tentang istrimu. Papamu benar, kamu beruntung memilikinya." jawabnya.


"Tapi, Ma ....?"


"Tidak apa-apa, kalau kamu tidak mau pergi." seutas senyum terlihat di wajahnya.


"Ma ....?" sela Vincent. Dia sudah berusaha, dia takut Jasmine akan Cleo.


"Kamu boleh melakukan apapun yang kamu suka. Tapi, selama kamu tidak bisa menerima Cleo sebagai istrimu, maka jangan pernah datang kesini untuk selamanya." ancam Jasmine.


"Ma ...., Mama!!" panggil Andreas saat Jasmine menjauh darinya. Melihat Jasmine yang berjalan tertatih, Vincent segera mengejarnya.


"Kamu baik-baik saja?" Vincent memeganginya saat Jasmine hampir terjatuh.


"Aku tidak apa-apa." jawabnya. Mereka meninggalkan Andreas begitu saja.


"Entah apa yang telah dia lakukan pada orangtuaku. Mereka lebih memihaknya daripada putra mereka sendiri." Andreas meninggalkan rumah itu.

__ADS_1


πŸ€πŸ€πŸ€


"Setelah ini apa lagi?" Kiano merebahkan kepalanya di sandaran kursi. Sementara Omar mengemudikan mobilnya.


"Ada pemotretan di Sun Corp." ucapnya.


"Aku lapar!" ujar Kian.


"Kau mau makan apa?" tanya Omar.


"Apa saja." dia kembali memejamkan matanya. Omar mengarahkan mobilnya ke restoran cepat saji. Mereka ikut mengantri di Drive Thru bersama pengemudi lainnya. Setelah selesai dengan pesanannya, Omar membangunkan Kian dan segera keluar dari sana.


"Apa kau sangat dekat dengan nona Sandra?" tanya Omar.


"Dia sahabatku sewaktu SMA." jawabnya sambil menyantap burger yang masih hangat itu.


"Pantas saja kalian terlihat akrab." jawabnya. Mereka memasuki perusahan milik Sandra. Begitu Kiano masuk beberapa karyawan wanita mulai tebar pesona. Mereka sangat senang karena bisa melihat dari dekat sosok idola. Setelah bertanya lokasi pemotretan, Omar mengajak Kiano untuk mengikuti orang suruhan Sandra.


"Maaf aku telat!" ucao Kian, saat melihat Sandra sudah berada disana.


"Tidak apa-apa. Aku tahu gimana sibuknya dirimu." jawab Sandra. Kiano mulai mempersiapkan diri. Sandra hanya memantau dari kejauhan bagaimana pria tampan itu mengikuti arahan dari sang photografer.


"Ok!" ucap Sandra saat melihat hasilnya. Sandra terlihat sangat puas dengan kinerja timnya. "Aku sangat senang bekerja denganmu." ucap Sandra setelah Kiano berganti pakaian.


"Apa kau puas?" tanya Kian.


"Tentu saja." jawabnya. "Ada apa?" tanya Sandra saat melihat Kiano murung. Kiano mengeleng lemah. "Cleo?" tebaknya.


"Sepertinya pria itu menyukainya." jawab Kian.


"Pria? Pria yang mana?" Sandra bingung.


"Dokter bule yang selalu menganggu saat aku bertemu dengannya." Sandra tahu siapa yang dimaksud oleh Kian.


"Apa menurutmu itu wajar?" tanyanya.


"Entahlah! Aku juga belum banyak bercerita dengan Cleo. Kau tenang saja, aku akan membantu mencari tahu." mata Kiano berbinar.


"Benarkah?" tanyanya.


"Bukankah itu gunanya teman?" Sandra mengedipkan sebelah matanya, Kiano tertawa.


πŸ€πŸ€πŸ€


Bukannya pulang ke rumah, Andreas memilih pergi ke club untuk menenangkan dirinya. Disana secara tidak sengaja, dia bertemu dengan kedua sahabatnya.


"Kenapa kalian kemari tanpa mengajakku?" tanyanya.


"Kita kira sibuk dengan nyawa manusia." jawab Gilang.


"Diam kau!" Andreas duduk dan langsung meneguk minuman yang ada dihadapannya.


"Kenapa denganmu?" tanya Mahen.


"Kepalaku sakit." jawabnya. "Dimana Alvaro? Dia tidak ikut?"


"Sejak kapan Alvaro mau bergabung disini dengan kita?" jawab Gilang.


"Oh, aku lupa! Dia pasti lebih suka berdua saja dengan istrinya yang cantik itu." wajah Mahen memerah. Gilang yang mengetahui itu segera mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa kau minum begitu banyak? Apa kau ada masalah?" tanya Gilang.

__ADS_1


"Masalah??? Tentu saja! Tapi masalahku tidak akan selesai seumur hidupku." kedua temannya saling pandang saat mendengar jawaban Andreas.


"Apa yang terjadi?" tanya Mahen.


"Lupakan saja." jawabnya.


"Sudah cukup! Kau sudah terlalu banyak minum." Gilang mencoba menghentikannya untuk meneguk satu gelas lagi.


"Minggir!" Andreas yang sudah mabuk berusaha menyingkirkan tangan Gilang.


"Lebih baik kita antar saja dia pulang." ucap Mahen.


"Kau benar! Ayo!" Gilang setuju. Bersama mereka membantu Andreas berjalan.


"Apa kalian tahu? Aku benar-benar sial. Untuk pertama kalinya kesialan hadir dal hidupku." Andreas mulai meracau.


"Apa yang dia katakan?" tanya Gilang.


"Tidak perlu didengar. Kau tahu sendiri kalau dia mabuk seperti apa." Mereka kesusahan membawanya sampai ke mobil.


"Apa kalian tahu? Wajahnya sangat lugu, tapi kelaluannya benar-benar menjijikkan." ucapnya.


"Siapa yang dia bahas?" tanya Gilang lagi, Mahen tidak mengatakan apapun. Dia membuka pintu belakang dan membantu memasukkan Andreas kesana.


"Sepertinya masalahnya sangat pelik." ucap Mahen yang duduk di sebelahnya. Sementara Gilang mengendarai mobil itu menuju apartemen Andreas.


"Kemana kalian membawaku?" tanyanya sambil memeluk kursi kemudi dari belakang.


"Apartemenmu." jawab Mahen.


"Tidak. Aku nggak mau pulang." Andreas mengeleng-geleng.


"Kita sudah sampai." ujar Gilang.


"Aku nggak mau! Kalian pergi saja." Andreas kembali berulah. Dia berjalan menjauhi lift yang akan membawanya ke atas.


"Aku bisa gila!!" Gilang berlari mengejarnya. "Kenapa kau malah tertawa?" terial Gilang saat melihat Mahen terbahak tanpa membantunya.


"Kapan lagi kita bisa melihatnya seperti ini." Mahen membantu Gilang membawanya menuju lift.


"Ayo!!" ujar mereka.


"Lepas!! Kalian mau apa?" Andreas nerusaha melepaskan diri.


"Diamlah!!" bentak Gilang, mereka memasuki lift. Begitu sampai di lantai unit Andreas, mereka keluar.


"Ayo, buka!" Gilang meminta Andreas untuk membuka password-nya. Bukannya membuka pintu, Andreas malah berbicara di tombol itu.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Gilang.


"Kau tidak tahu password-nya?" tanya Mahen, Gilang menggeleng.


"And, ayo buka!" bujuk Mahen.


"Apa?" dia malah duduk di lantai, kemudian menutup matanya.


"Dia malah tidur." ujar Gilang. "Sudahlah, biarkan saja dia disini." ucapnya karena kesal. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara pintu yang terbuka dari dalam.


"Kalian siapa ....?" Cleo kaget karena Andreas jatuh di bawah kakinya. "Apa yang terjadi padanya?" Cleo berjongkok dan mencoba membangunkan Andreas.


"Kau siapa??" Gilang dan Mahen lebih terkejut.

__ADS_1


~tbc


__ADS_2