
"Hallo, Dok" jawab Elia begitu menjawab telepon ruangan mereka yang berbunyi.
"Apakah dokter Cleo masih berada di rumah sakit?" tanya Andreas.
"Dokter Cleo sudah pulang, Dok." jawabnya.
"Kapan?" tanya Andreas.
"Sekitar pukkul 21.30 wib tadi." jawabnya.
"Apa kamu punya nomornya?" tanyanya.
"Punya, Dok." Elia memberikan nomor ponsel Cleo padanya. Setelah itu dia meletakkan kembali gagang telepon ke tempatnya.
"Siapa?" tanya Malik yang kebetulan ada disana.
"Dokter Cassano, Dok." jawabnya.
"Mau apa dia?" tanya Malik.
"Beliau mencari dokter Cleo." jawabnya.
"Mau apa dia dengan Cleo?" Malik bertanya pada dirinya sendiri.
"Kenapa dia tidak menjawab panggilanku?" gerutunya. Andreas masih berada di dalam mobil. Sejak tadi dia menghubungi Cleo, tapi tidak ada jawaban.
"Hallo!!" terdengar suara Raka dari seberang telepon.
"Apa tadi kau melihat dokter Cleo?" tanyanya.
"Cleo? Untuk apa anda mencarinya?" Raka terlihat bingung.
"Aku ada urusan dengannya." jawabnya.
"Tadi aku mengantarnya pulang." ucapnya.
"Pulang?" Andreas semakin penasaran kemana perginya Cleo. Jika Raka mengantarnya pulang, kenapa dia tidak ada di rumah. "Kau mengantarnya kemana?" tanyanya lagi.
"Rumah dokter Cleo." jawabnya.
"Dimana?" Andreas terlihat kesal, karena sejak tadi Raka bertele-tele. Raka menyebutkan alamat rumah Cleo. Tanpa mengatakan terima kasih, Andreas menutup telepon.
"Apa-apaan sih? Tengah malam gangguin orang, nggak bilang makasih lagi." gerutu Raka, dia melanjutkan kembali bermain ps di kamarnya.
"Dasar cewek tengil! Bisa-bisanya dia pulang ke rumah orangtuanya. Padahal sudah jelas dia kalau dia sudah menikah. Apa yang akan dikatakan oleh keluraganya nanti. Sepertinya dia sengaja mau membuatku malu." Dia terus saja menggerutu di sepanjang jalan.
Andreas menghentikan mobilnya di depan gerbang hitam besar. Dia melihat jembali nomor rumah yang melekat di tembok.
"Benarkah ini rumahnya?" Andreas terlihat ragu. Selama ini dia berpikir, Cleo mau menikah dengannya karena menginginkan harta atau kekuasaan yang dimiliki keluarganya. Andreas keluar dari mobil dan berjalan mendekat ke arah pintu kecil yang ada disana. Tampak security sedang menonton di dalam posnya.
__ADS_1
"Permisi!!" ucapnya. Aming yang mendengar suara, segera bangun dan berjalan mendekatinya.
"Anda siapa?" tanya Aming.
"Apa Cleo ada di dalam?" tanyanya, Aming memperhatikannya.
"Memangnya kenapa?" tanya Aming. Aming tidak tahu kalau dia adalah suami Cleo, karena Aming tidak datang ke pernikahan mereka.
"Aku ingin bertemu dengannya, panggil dia keluar." ujarnya.
"Saya tidak bisa. Apa anda tidak tahu kalau ini sudah tengah malam? Jika ingin bertemu nona, maka anda bisa datang besok pagi." Aming menolak untuk memanggil Cleo.
"Katakan padanya aku suaminya." Andreas terlihat kesal, Aming menatapnya dari ujung rambut sampai kaki. "Kenapa kau masih menatapku? Cepat beritahu nonamu." Andreas berteriak padanya. Bukannya masuk, Aming hanya mengambil ponselnya dan menghubungi Bi Ita. Tak lama terlihat Bi Ita berlari kecil menuju gerbang.
"Kenapa pintunya nggak kamu buka?" dia menegur Aming. "Ini suami nona Cleo." mendengar itu, Aming segera membuka pintu gerbang, Andreas berjalan menuju mobilnya.
"Maafkan dia, Tuan. Dia tidak tahu kalau anda adalah suami non Cleo." ucap Bi Ita saat Andreas keluar dari mobil.
"Dimana Cleo?" tanyanya.
"Nona di kamarnya." bi Ita mempersilahkan dia masuk. Andreas memperhatikan ruangan yang ada di hadapannya saat ini.
"Dimana kamarnya?" tanyanya.
"Oh, iya, mari saya antar!" dia mengikuti Bi Ita menaiki anak tangga, hingga mereka sampai di depan pintu. "Ini kamar nona, Tuan." ucap bi Ita. Setelah itu, dia berpamitan pada Andreas. Bi Ita meninggalkan dia disana. Andreas membuka pintu, ternyata Cleo tidak menguncinya. Dia berjalan masuk dan melihat Cleo sedang tertidur pulas di atas ranjangnya.
"Aku mencarimu kemana-mana, kau enak-enakan tidur disini, tikus kecil." gerutunya. Saat dia berniat membangunkan Cleo, ponselnya berdering.
"Gimana? Kamu udah nemuin Cleo?" tanya Jasmine.
"Menantu mama sedang tidur pulas di rumahnya." jawabnya.
"Jadi dia pulang ke rumah? Ya sudahlah, untuk malam ini kalian menginap disana saja. Kasihan Cleo kalau harus kamu bangunkan, mungkin dia sangat letih." ujar Jasmine sebelum dia menutup teleponnya.
"Kau benar-benar menyusahkanku." Andreas melihat arlojinya, sudah pukul 01.20 wib.
"Lo baik-baik aja?" tanya Zia saat melihat Nayla masih saja melamun.
"Gue baik." jawabnya.
"Gue tahu lo pasti masih trauma dengan kejadian tadi." Zia mencoba menghiburnya.
"Gue beruntung karena ada pria bule tadi." jawab Nayla. Dia mengingat kembali bagaimana Andreas menyelamatkannya dari para pria brengsek itu. "Gue belum sempat berterima kasih padanya."
"Kalau jodoh, kalian pasti ketemu lagi." jawab Zia. Nayla mengangguk. "Udah, mending sekarang kita tidur. Gue ngantuk banget." Zia menarik selimutnya, Nayla masih saja melamun.
πππ
"Hari ini Cleo dinas apa ya?" Kiano baru pulang shooting di luar kota. Kiano saat ini adalah seorang aktor dan juga model ternama. Begitu tiba di Jakarta, satu-satunya yang ingin segera dia temui adalah Cleo. Dia meraih ponselnya dan mulai mencari nomor Cleo.
__ADS_1
"Apa kau mau langsung ku antar ke Apartemen?" tanya Omar, asisten pribadinya.
"Lo pulang aja! Gue mau ke suatu tempat." ujarnya, Kiano meletakkan kembali ponselnya.
"Kau mau kemana? Kau tidak bisa berkeliaran seperti itu." Omar mencegahnya saat Kiano ingin menyetir mobil.
"Lo nggak perlu ikut campur. Ini urusan pribadi gue." ujar Kian.
"Gimana kalau Manager tau?" tanyanya.
"Bilang aja gue lagi ada urusan." Kiano memacu mobilnya menyusuri jalanan ibu kota. Suasana ibu kota masih sedikit gelap, karena ini masih subuh.
"Apa akan baik-baik saja, kalau aku menghubunginya sepagi ini?" dia terlihat ragu.
Kiano menghentikan mobilnya di sebuah mini market. Dia memakai hoodie, masker dan juga topi. Setelah itu, dia keluar dari mobil dan berjalan masuknke mini market. Kiano keluar dengan sekaleng kopi instan, dia berjalan kembali ke mobilnya. Setelah melihat jam di arlojinya, dia segera meraih ponselnya.
πππ
"Dimana ponselku?" Cleo meraba-raba nakas dengan mata yang masih tertutup. Akhirnya benda pipih itu berhasil dia raih. "Hallo!" ucapnya tanpa melihat siapa yang menelepon.
"Apa kamu masih tidur?" tanya Kiano.
"Siapa ini?" tanyanya lagi.
"Ya ampun, Cle! Jadi, kamu mengangkat telepon tanpa melihat siapa yang menghubungimu?" Kiano senyum-senyum sendiri. Cleo membuka sedikit matanya.
"Kian ....? Kenapa pagi-pagi kamu sudah nelpon?" tanyanya.
"Aku mau tahu apa hari ini kamu dinas?" tanyanya.
"Iya, aku dinas pagi." Cleo melihat jam yang ada di atas nakas. Masih pukul 06.20 wib.
"Apa kamu mau aku antar?" Kiano menawarkan diri.
"Nggak usah, aku bisa pergi sendiri." Cleo berbalik dan melihat ada seorang pria yang berbaring membelakanginya. "Aaagghhhh!!!" teriak Cleo, tanpa sengaja dia melempar ponselnya ke lantai.
"Cle!!! Cleooo!! Ada apa?" Kiano terlihat khawatir saat mendengar teriakan Cleo.
"Kau ....? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Cleo begitu dia tahu kalau Andreas yang ada disebelahnya.
"Jangan berisik! Kau menganggu tidurku saja." jawabnya.
"Kau!! Kenapa kau ada dikamarku?" tanyanya.
"Karenamu." jawabnya sambil kembali menutup kedua matanya.
"Aku? Memangnya apa yang aku lakukan?" Cleo merasa dia sama sekali tidak melakukan apapun. Andreas bangun dan menatap tajam padanya.
"Kau jangan lupa kalau saat ini kau itu seorang istri dan menantu. Kau tidak bisa pergi seenaknya tanpa memberitahu siapapun. Karenamu, aku harus berkeliaran tengah malam untuk mencarimu. Kalau kau lakukan itu lagi, maka aku tidak akan mengampunimu." setelah mengatakan itu Andreas berjalan menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Apa barusan dia mengancamku?" Cleo masih terpaku diatas tempat tidur.
~tbc