
"Ayah! Ini Cleo!" Cleo berulang kali menyebutkan itu pada Adam. Tapi, Adam sama sekali tidak bereaksi apapun. Mulutnya yang terpasang selang tidak mampu menjawab panggilannya. Begitupun dengan tangannya, tidak lagi mampu membelai putrinya. Seperti yang tiap malam dia lakukan secara diam-diam.
"Tenangkan dirimu! Kamu harus kuat." Cleo hanya bisa menjawab perkataan Vincent dengan tangisan.
"Ayo, biarkan ayahmu beristirahat. Kamu juga sebaiknya istirahat." Vincent mengajaknya keluar dari sana.
"Apa aku bisa tetap disini, Dok?" tanyanya dengan terisak.
"Tidak ada gunanya kamu disini. Biarkan kami yang merawat ayahmu." ucap Vincent.
"Tapi, Dok ....?" Cleo kembali menatap Adam.
"Cleo, jadilah kuat! Adam membutuhkanmu. Jika kamu sakit, siapa yang akan menjaganya?" Cleo tersadar, dia mengamini ucapan Vincent. Setelah menitipkan Adam pada perawat yang bertugas, mereka berjalan keluar.
"Nona!!" bi Ita yang melihatnya keluar segera memeluknya.
"Istirahatlah, saya sudah sediakan satu kamar untukmu." ucap Vincent.
"Tidak, Dok, aku ingin tetap disini." Cleo menolak.
"Tolong, kamu jaga dia!" pesan Vincent pada bi Ita. bi Ita mengangguk, setelah itu Vincent pergi dari sana.
"Bi, katakan padaku! Kenapa ayah bisa seperti ini? Kenapa kalian merahasiakan semua ini dariku?" Cleo menuntut jawaban darinya. Saat ini yang Cleo tahu, hanya bi Ita yang bisa menjelaskan apa yang terjadi.
"Semua ini terjadi saat nona berusia 3 tahun. Waktu itu Tuan mengalami batuk berdarah, setelah melakukan pemeriksaan lebih lanjut, tuan mendapatkan kabar buruk itu." Cleo terpaku mendengar semua itu.
"Tapi, kenapa ayah merahasiakannya dariku?" tanya Cleo.
"Tuan tidak ingin nona bersedih. Dia ingin nona tumbuh menjadi anak yang kuat dan mandiri. Itu sebabnya selama ini, tuan bersikap seperti mengabaikan nona. Padahal bibi tahu seperti apa perasaannya. Tuan begitu menyayangi nona." airmata jatuh dipelupuk mata keduanya.
Cleo semakin terpuruk, dia tidak menyangka kalau yang selama ini Adam lakukan untuk kebaikannya. Dia salah, selama ini dia sudah begitu membenci Adam.
"Sudah, Non! Jangan seperti ini. Tuan ingin nona tetap kuat." Cleo masih terisak. Andreas terpaku ditempatnya. Awalnya dia ingin ke ICU untuk melihat kondisi Adam. Tapi, melihat Cleo menangis, membuatnya mengurungkan niatnya.
πππ
"Nay, ibu pergi dulu!" ucap Aisyah pada Nayla.
"Apa ibu harus tetap bekerja di rumah Sandra? Apa ibu tidak bisa berhenti aja?" Aisyah menoleh padanya.
"Kenapa bicara seperti itu? Kamu'kan tahu, kalau sejak awal ibu sudah bekerja disana." jawabnya.
"Tapi, itu'kan demi sekolah Nay. Sekarang Nay sudah lulus SMA, Nay sudah bisa bantuin ibu cari uang." ucapnya.
"Sayang, kamu'kan harus kuliah. Sudah kamu kuliah aja yang benar, biarkan ibu yang mencari uang. Itu sudah menjadi tugas ibu." jelasnya.
"Tapi, Nay nggak suka, ibu bekerja di rumah Sandra." Nayla masih tetap pada pendiriannya.
__ADS_1
"Nay, jangan seperti itu. Kita banyak berhutang budi pada keluarga Sandra. Kamu bisa sekolah di SMA Favorite itu karena orangtua Sandra. Jadi, ibu nggak mungkin berhenti dari sana.
"Kenapa ibu gak bisa ngerti sih? Aku sudah muak mendengar Sandra mengatakan hal buruk tentang ibu." Nayla terlihat kesal.
"Sandra? Apa yang dia katakan padamu?" Aisyah terlihat pucat.
"Dia bilang ibu berselingkuh dengan papanya." Aisyah sedikit terhuyung. "Ibu nggak apa-apa?" tanyanya.
"Ibu baik-baik saja." jawabnya.
"Ibu, katakan bahwa itu tidak benar. Sandra berbohongkan?" Nayla meminta jawaban darinya.
"Sudah, ibu nggak mau berdebat mengenai masalah ini lagi. Ibu pergi dulu!" Aisyah membuka pintu dan segera pergi.
"Kenapa ibu aneh banget? Apa yang ibu coba sembunyikan?" Nayla menerka-nerka sikap Aisyah yang seperti mengacuhkannya.
"Mas, kita harus bicara." ucap Aisyah sesampainya dia di kantor Panji.
"Ada apa, Sayang?" panji menyambutnya dengan pelukan mesra.
"Sandra mengatakan pada putriku mengenai hubungan kita." wajahnya cemberut.
"Baguslah! Dengan begitu putrimu akan tahu dan pernikahan kita akan dihadiri oleh mereka." Panji terlihat santai menanggapi keluh kesahnya.
"Tapi, Mas, gimana kalau Nayla marah dan menolakmu?" itu adalah ke khawatiran terbesarnya, melihat penolakan dari putrinya. Sementara dia sudah tidak mungkin untuk mundur. Hubungannya dengan Panji sudah terlalu jauh.
"Itu tidak akan terjadi. Dia tidak akan tega melihatmu bersedih." Aisyah duduk dipangkuannya dan Panji memilin-milin rambutnya.
"Mau sampai kapan kamu main kucing-kucingan begini? Apa kamu gak capek seperti ini terus? Lihatlah! Kamu selalu secantik ini jika bersamaku. Tapi, saat aku mengantarmu pulang, kamu seperti upik abu saja." Aisyah membenarkan ucapannya. Dia juga lelah terus-terusan berpura-pura dihadapan Nayla.
"Biarkan dia tahu! Dia juga harus mencoba dekat dengan Sandra. Karena bagaimanapun, mereka akan menjadi saudara." Aisyah mengaitkan lengannya dileher Panji.
"Aku mencintaimu, Mas!" ucapnya. lalu ******* bibir Panji. Panji yang mendapat angin segar tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia segera membalas ciumannya. Semakin lama, ciuman Panji menuntut lebih dalam. Lidah mereka saling bertautan. Panji menekan tubuh Aisyah ke arahnya dan aksi Panji tidak sampai disana saja. Panji menarik sedikit dress Aisyah, dan tangannya mulai bergeriliya di dalam sana. Mendengar ******* yang keluar dari mulut Aisyah. Tanpa melepasakan ciumannya, Panji mengangkat tubuh Aisyah menuju ruangan yang tak jauh dari meja kerjanya. Panji membuka pintu kemudian menutupnya dengan kaki kirinya.
πππ
"Selamat pagi!" sapa Vincent saat melihat Cleo sedang duduk disamping Adam.
"Pagi, Dok." jawabnya dengan suara lemah, dan mata sayu.
"Maaf, Nona, dokter akan memeriksa kondisi pasien." ucap perawat yang bertugas.
"Silahkan!" Cleo bergeser ke belakang. Vincent mulai memeriksa kondisi Adam. Sesekali dia memantau angka yang ada di monitor dan juga infus yang terpasang do tangannya. Vincent melanjutkan membaca perkembangan Adam semalaman.
"Gimana kondisi ayah saya, Dok?" tanya Cleo setelah Vincent selesai memeriksanya.
"Apa kita bisa bicara?" tanyanya.
__ADS_1
"Tentu saja." Clei mengangguk setuju.
"Kalau begitu, ikutlah denganku!" Cleo mengikuti Vincent keluar dari ruang ICU. mereka berjalan menuju coffee shop yang ada di dalam rumah sakit itu.
"Kamu mau pesan apa?" tanyanya pada Cleo.
"1 esspreso saja." jawabnya.
"Kamu juga harus sarapan. Kopi saja tidak baik untukmu." Vincent terlihat perhatian padanya. "Rainbow fruity Waffles 2." ucapnya pada pelayan.
"Saya minum saja, Dok." tolak Cleo.
"Kamu harus makan, lihatlah tubuhmu!" Cleo tidak mengatakan apapun lagi.
"Bagaimana kondisi ayahku, Dok?" Cleo masih mempertanyakan hal yang sama. Vincent menghembuskan napas berat.
"Aku sudah tidak mungkin lagi menutupinya. Kamu harus tahu, bahwa saat ini kondisi Adam sangat buruk. Kankernya susah ber-metastasis ke kedua paru-parunya dan juga ke hati." jelasnya.
"Apa maksud dokter?" Cleo bertanya karena tidak mengerti.
"Permisi!" obrolan mereka terhenti karena pelayan datang membawakan pesanan mereka. Setelah selesai menatanya, dia segera meninggalkan meja itu.
"Makanlah dulu! Jangan sampai kamu jatuh sakit." Cleo mengikuti perintahnya. Dia mulai mencicipi waffle yang bertabur potongan buah dan tak lupa dipadukan dengan madu.
"Jadi, apa yang dokter maksud tadi?" tanya Cleo yang memang penasaran dengan apa yang disebutkan Vincent. Vincent meletakkan cangkir kopi turkinya.
"Jadi awalnya sel kanker hanya didapati pada paru-paru kirinya. Tapi, kini sel kanker itu sudah meluas hingga ke kedua parunya dan juga ke hati Adam. Cleo tak mampu berkata apa-apa lagi. Berita ini bagaikan sambaran petir untuknya.
"Jadi maksud anda, kemungkinan ayah untuk hidup sangat kecil?" akhirnya kesadarannya kembali.
"Iya." airmatanya kembali mengalir. "Apa tidak ada cara lain untuk menyelamatkan ayahku?"
"Dia sudah terlalu lama berjuang. Sebenarnya tubuhnya sudah tidak lagi mampu menahan semua ini. Dia bertahan, hanya untuk dirimu." Cleo mengangkat kepalanya dan menatap mata biru itu begitu dalam.
"Andai aku tahu yang ayah alami selama ini, mungkin aku akan menjadi putri yang terbaik untuknya." Dia semakin menyalahkan sikapnya selama ini pada Adam.
"Kamu sudah menjadi putri yang terbaik baginya. Dia begitu bangga denganmu. Adam selalu memuji kepintaranmu." jawab Vincent.
"Apa ayah mengatakan semua itu pada anda?" tanyanya.
"Tentu saja! Hubunganku dengan ayahmu bukan sekedar hubungan antara dokter dan pasien. Tapi, ikatan kamu sudah terjalin sejak kami masih muda."
"Apakah itu benar?" tanyanya tak percaya. Cleo tidak pernah mengenal Vincent.
"Aku dan ayahmu sudah seperti keluarga. Dan, sebelum dia seperti ini, dia sudah menitipkanmu padaku. "Jadi, kapan kamu siap untuk berangkat ke London?" Cleo terkejut karena Adam mengetahui perihal London.
"B-bagaimana dokter bisa tahu?" Cleo menatap tajam ke arahnya. "Sebenarnya, seberapa dekat hubungan kalian?" tanyanya.
__ADS_1
"Mulai saat ini kamu bisa memanggilku, Paman. Karena, mulai saat ini sudah tugasku untuk menjaga dan mengurusmu, seperti janjiku padanya." Vincent tersenyum.
"Apa yang papa lakukan bersama bocah tengil itu?" Andreas bingung melihat interaksi antara papanya dengan Cleo.