CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )

CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )
BAB 46


__ADS_3

"Dimana anakku?" terdengar keributan yang datang dari depan IGD. "Gimana kondisi putriku?" Aisyah menangis histeris. Dia sangat kaget, begitu mendapat kabar bahwa Nayla kecelakaan.


"Tenang, Nyonya! Siapa yang anda cari?" tanya perawat yang sudah menghampirinya.


"Nayla Ayunindya." Aisyah memberitahu nama anaknya.


"Oh, pasien kecelakaan tadi. Putri ibu ada di tirau 6." perawat itu memberitahu tirai yang dia maksud.


"Kondisinya gimana? Putriku baik-baik sajakan?" tanyanya lagi.


"Sejauh ini putri ibu tidak mengalami luka yang cukup serius. Hanya saja, dia masih dalam pengaruh minuman keras. Sepertinya, putri ibu baru saja mengkonsumsi minuman beralkholol dalam jumlah yang banyak." Aisyah lega mendengarnya. Dia segera bergegas menuju ke tirai 6.


"Sayang, gimana keadaanmu?" tanya Aisyah begitu dia sampai disana.


"Akhirnya ibu datang juga." jawabnya saat Aisyah berada dihadapannya. "Ibu tenang saja, aku masih hidup. Wajahnya nggak perlu khawatir!" lanjutnya.


"Kamu ini ...."


"Kenapa? Atau ibu kecewa karena anakmu yang memalukan ini tidak jadi mati?" Aisyah memukul lengannya.


"Apa yang kamu bicarakan?" dia terlihat marah.


"Sudahlah, tidak perlu berpura-pura perhatian padaku. Urusi saja suami lumpuhmu itu." Nayla mengatakan sua yang ingin dia katakan. Pengaruh alkohol benar-benar membuatnya lupa diri. Aisyah terdiam, dia tidak ingin semakin mempermalukan dirinya dihadapan penghuni IGD. Tak lama seorang dokter bersama dua orang perawat menghampiri mereka.


"Apa ibu keluarga pasien?" tanya pria itu.


"Iya, Dok. Gimana kondisi anak saya?" dari raut wajahnya, terlihat Aisyah benar-benar khawatir.


"Putri ibu tidak mengalami cedera yang serius. Untuk malam ini dia akan kita rawat, sekalian observasi." jelasnya.


"Baik, Dok. Lalukan saja yang terbaik untuknya." jawabnya.


"Pasien sudah bisa dipindahkan." ucapnya pada perawat. Setelah itu mereka kembali ke nurse station. Tak lama Nayla dibawa ke ruang rawat dengan menggunakan kursi roda. Aisyah dengan setia menemaninya.


"Dok, pasien di kamar 102 membutuhkan bantuan anda." lapor perawat yang bertugas. Cleo mengambil doppler dan statescope, lalu segera menuju kamar yang dimaksud.


"Dimana dokter Cleo?" tanya Elia.


"Di kamar 102." jawab Luna. "Ada apa?" tanyanya.


"Apa kalian sudah dengar berita hangat?" tanyanya.


"Memangnya ada apa?" tanya Luna.


"Kaliam tahu nggak, tadi dokter Cleo bantuin orang IGD nangganin wanita mabuk." ucapnya.


"Dokter Cleo? Kok bisa?" tanya yang lain.


"Entahlah! Tapi yang aku dengar kelakuan wanita itu sungguh nggak sopan. Hanya kata-kata serapah yang keluar dari mulutnya." ucapnya.


"Namanya juga orang mabuk." sela Luna.


"Tapi, yang lain sibuk membicarakan cara dokter Cleo menangganinya." lanjut Elia.

__ADS_1


"Maksudmu?" tanya Luna.


"Aku dengar dokter Cleo bersikap keras padanya, dan wanita itu hanya bisa terdiam." jawab Elia, dia adalah salah satu perawat yang bertugas bersama Luna.


"Benarkah? Seperti apa?" Luna mulai penasaran.


"Apa yang kalian bicarakan?" mereka kaget saat Cleo tiba-tiba muncul di belakang mereka.


"Hah? Bukan apa-apa, Dok." Elia mengambil rekam medis pasien. Luna dan yang lain kembali melanjutkan pekerjaaan mereka.


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


"Duluan ya, Dok." ucap Luna dan teman-temannya pada Cleo. Jam dinas sudah berkahir. Mata mereka terlihat menahan kantuk, karena banyaknya pasien tadi malam.


"Belum pulang, Dok?" tanya Desmi saat melihatnya masih disana.


"Belum." Cleo kembali melanjutkan mengisi laporannya.


"Selamat pagi, Dok!" sapa Desmi saat melihat Andreas.


"Pagi." Andreas menoleh pada Cleo yang masih sibuk menyusun laporannya.u Desmi mengikuti Andreas yang sudah berjalan terlebih dahulu sampai ruangan pasien.


"Apa itu dokter Casanno?" tanya Raka yang baru saja datang.


"Iya." jawab Cleo.


"Mati aku!" Raka melemparkan ranselnya begitu saja. Secepat kilat dia mengambil jas putihnya dan berlari menyusul Andreas.


"Iya, Dok. Masih ada sedikit urusan." sebenarnya Cleo menunggu Andreas, karena Vincent meminta mereka untuk menemuinya pagi ini di ruangannya. Saat Andreas selesai visite, Cleo sudah berganti pakaian.


"Loh, kenapa belum pulang, Dok?" tanya Desmi.


"Aku baru selesai dengan laporanku." dia mendekati Raka dan menyerahkan laporan itu padanya.


"Aku duluan ya!" Cleo segera keluar, dia berjalan menuju lift. Saat pintu terbuka, bukan hanya dia yang masuk. Andreas juga ikut bersama dengannya.


"Apa papa juga memintamu untuk menemuinya?" tanyanya saat melihat lantai yang dituju olehnya.


"Iya. Apa kau tahu kenapa paman ingin menemui kita?" tanyanya.


"Mana kutahu!" Andreas segera keluar saat pintu lift terbuka. Cleo mengikutinya menuju ruangan Vincent.


"Apa direktur ada di dalam?" tanyanya pada asisten pribadi Vincent.


"Direktur sudah menunggu." ucapnya sambil membukakan pintu untuk mereka.


"Akhirnya kalian datang." ucap Vincent saat melihat mereka masuk bersama-sama.


"Kenapa papa meminta kami kesini?" tanya Andreas. Mereka duduk di sofa yang biasa mereka tempati.


"Aku ingin memberikan ini." Vincent meletakkan sebuah kotak perhiasan kecil.


"Apa ini?" Andreas mengambil dan membukanya. Mereka terkejut saat melihat sepasang cincin putih berada di dalam sana. "Untuk apa ini?" tanyanya.

__ADS_1


"Pernikahan kalian hanya tinggal 3 hari lagi. Dengan kesibukan kalian saat ini, kau ragu kalian akan bisa mencari cincin pernikahan." Andreas menatap tajam pada Cleo.


"Cobalah!" ucap Vincent. Andreas mengambil cincin itu, dan memasangnya di jarinya. Kemudian, dia memberikan kotak yang masih berisi cincin pada Cleo. Cleo mencoba cincin yang terlihat cantik itu pada jari manisnya.


"Pas?" tanya Vincent, Cleo mengangguk. Vincent membuka kembali dan meletakkannya di atas meja. Cleo mengambilnya dan menyimpan kembali ke dalam kotak perhiasan itu. "Apa kalain menyukai cincin itu? Mamamu yang memilihnya." jelasnya.


"Aku tidak peduli mau seperti apa bentuknya." jawab Andreas ketus.


"Apa kamu menyukainya?" Vincent mengabaikan putranya dan bertanya pada Cleo.


"Iya, Paman. Cincin ini begitu cantik."puji Cleo.


"Baguslah! Aku yakin Jasmine akan senang mendengarnya." ujarnya.


"Sudah selesaikan?" Andreas berdiri.


"Tunggu dulu! Luangkan waktumu sore nanti. Mamamu ingin kalian bertemu dengan designer yang akan membuat baju pernikahan kalian." ucapnya.


"Tidak perlu susah payah menemui designer. Kalian bisa memilih baju yang telah ada." Andreas keluar dari ruangan itu.


"Maafkan kelakukannya." Vincent merasa tidak enak hati pada Cleo.


"Tidak apa-apa, Paman." Cleo menyerahkan cincin itu kembali padanya. "Kalau begitu aku pulang dulu." pamitnya.


"Kalau bukan karena Ayah, aku tidak akan mau menikah dengan pria kasar sepertinya." Cleo berjalan perlahan. Dia masuk ke dalam lift yang membawanya menuju lantai 1. Hari ini dia memilih untuk pulang dengan taksi. Begitu pintu lift terbuka, Cleo berjalan menuju pintu keluar.


"Ternyata aku benar!" Cleo menatap wanita yang berdiri menghalangi jalannya.


"Apa maumu?" Cleo tidak lagi bersikap baik seperti saat mereka duduk di bangku SMA.


"Hah, jadi sekarang kau menjadi seorang dokter?" Nayla mencemoohnya. "Kenapa? Apa kau pikir dengan menjadi dokter, kau bisa menyelamatkan ayahmu?" Cleo menatap tajam padanya.


"Tutup mulutmu!" ucap Cleo dengan suara tertahan. Dia tidak ingin menjadi tontonan di para pengunjung rumah sakit.


"Oppss!! Aku lupa kalau ayahmu sudah meninggal." bukannya ikut berduka, Nayla malah tertawa.


"Kau ....!!" Cleo berjalan mendekat ke arahnya.


"CLEO!!" Cleo segera menoleh saat mendengar namanya dipanggil. Nayla terkejut saat melihat Kiano berjalan ke arah mereka. Walaupun pria tampan itu mengenakan topi dan kacamata hitam, Tapi, Nayla sangat tahu bahwa itu Kiano.


"Kamu sudah pulang?" tanya Kiano saat dia sampai di depan mereka.


"Iya." jawabnya.


"Bagaimana kalau aku antar? Sekalian aku juga mau pulang." Kiano menawarkan diri.


"Ok." Cleo melirik pada Nayla, kemudian mereka berjalan meninggalkan Nayla begitu saja. Nayla mengepalkan kedua tangannya. Dia sangat kesal karena Kiano bahkan tidak menatapnya. Hatinya semakin panas saat melihat mereka sedang tertawa bersama menuju pintu keluar.


"Aku akan membalasmu!" Nayla menatap Cleo dengan penuh kebencian.


~tbc


๐ŸŒน Ntar malam diusahain nambahin bab baru ya๐Ÿ™ Ngasuh dulu๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2