
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Aisyah saat melihat Nayla yang belum beranjak dari tempatnya.
"Bukan urusan, Ibu." Nayla berjalan tertatih. Pagi ini dia memaksa untuk bisa pulang. Karena tidak ada yang serius, akhirnya dokter mengizinkannya.
"Ayo, ibu bantu kamu!" melihat Nayla yang sedikit kesulitan berjalan, Aisyah memegang tangannya.
"Lepas!!" Nayla menhentakkan tangannya, kemudian dia berjalan menuju mobil yang sudah menunggu mereka. Aisyah hanya bisa diam menerima perlakuan putrinya itu.
"Kamu mau makan dulu?" tanya Kiano saat mereka dalam perjalanan pulang. "Cle ....? Cleo ....?" Cleo yang sedang melamun langsung tersadar.
"Apa?" tanyanya.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Kiano.
"Tidak, aku ...." Cleo terlihat cukup bingung.
"Ada apa? Kamu ada masalah?" tanyanya.
"Bukan begitu! Kian, apa kamu tahu siapa yang berbicara denganku tadi?" Cleo menoleh padanya. Kiano mengeleng.
"Sungguh? Kamu nggak tahu siapa dia?" Cleo terkejut. Kiano kembali mengeleng.
"Memangnya dia siapa?" tanyanya, tapi matanya masih fokus pada jalanan.
"Nayla." jawabnya.
"Nayla temanmu dulu?" bahkan dia seperti tidak mengingat siapa Nayla.
"Iya. Apa kamu lupa?" dia mengangguk.
"Astaga, Kian!! Gimana bisa kamu yang mantan ketua osis melupakan anggota sendiri?" pekik Cleo.
"Maaf!! Menurutku itu wajar, aku nggak perlu mengingat orang-orang yang nggak penting." jawabnya.
"Sejak kapan kamu jadi sombong begini?" Cleo menatapnya.
"Yang selalu kuingat itu cuma satu orang." Kiano menghentikan mobilnya saat mereka sampai di depan rumah Cleo.
"Siapa?" tanyanya. "Sandra?" lanjut Cleo.
"Bukan, kamu!" Cleo menoleh, dia bisa melihat kalau Kaino berkata jujur.
"Ah, bisa aja kamu!" elaknya. "Aku pulang dulu ya! Makasih udah mau nganterin aku sampai rumah." Cleo membuka seatbelt-nya.
"Kalau kamu membutuhkan bantuanku, kabari aku." ucapnya sebelum Cleo keluar.
"Ok." setelah Cleo masuk, Kiano kembali menjalankan mobilnya.
"Jadi, dia wanita sialan itu? Gara-gara dia aku jadi kehilangan kesempatan untuk mendapatkan Cleo." Kiano mencengkaram kuat kemudi mobil miliknya. Dia masih sangat marah setiap mendengar nama Nayla disebut.
__ADS_1
πππ
"Udah pulang, Non?" tanya bi Ita saat melihatnya menaiki anak tangga.
"Sudah, Bi!" jawabnya.
"Bibi udah buatin sarapan, ayo makan dulu!" ajaknya.
"Nanti aja, Bi! Aku ngantuk banget." Cleo menaiki anak tangga itu menuju kamarnya. Sesampainya disana, dia segera merebahkan tubuhnya diatas ranjang putih yang sudah dia miliki sejak duduk di bangku SMA.
"Lebih baik aku mengumpulkan nyawaku dulu, sebelum bertemu dengan tante Jasmine." Cleo berbalik dan meraih guling yang ada di hadapannya. Tidak membutuhkan waktu lama untuknya sampai di dunia mimpi.
"Sial! Kenapa juga aku harus repot begini?" Andreas terus saja mengerutu. Dia mengendarai mobilnya menuju butik yang telah dipesan oleh Jasmine. Awalnya dia menolak tapi karena sedikit tekanan dari sang ibu, Andreas akhirnya setuju. "Wanita itu benar-benar sumber masalah dalam hidupku. Belum jadi istri saja udah membuatku repot."
"Bi, aku pergi dulu ya!" Cleo berjalan menuju garasi.
"Hati-hati ya, Non. Bibi harap semuanya berjalan lancar." bi Ita yang sudah tahu Cleo akan kemana, memberi dukungan untuknya. Cleo tersenyum sebelum dia membuka pintu mobil.
"Semoga saja si bule cabul nggak buat masalah." ucapnya begitu mobilnya keluar dari gerbang besar. Cleo mengendarai mobilnya menuju butik yang di tunjuk oleh Jasmine. Hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk dia sampai disana. Sewaktu Cleo keluar dari mobil, dia melihat Andreas juga keluar dari mobil disebelahnya.
"Kau!!"
"Kau!!" mereka sama-sama kaget, karena datang bersamaan.
"Minggir!" Andreas mendorongnya saat mereka berada di pintu masuk. Cleo hanya bisa menarik napas dalam.
"Akhirnya kalian berdua datang." sambut Jasmine begitu melihat mereka. "Mama senang lihat kalian seperti ini." Jasmine memeluk mereka bergantian.
"Ayo, Sayang!" ajaknya pada Cleo. Setelah memperkenalkan mereka pada designer-nya, mereka segera diantar menuju kebaya yang sudah tersedia.
"Apa ada yang kamu suka?" tanya Jasmine. "Sayang, coba ini!" Jasmine mengangkat kebaya berwarna putih dan memberikannya pada Cleo. "Kita coba dulu ya!" Cleo berjalan menuju ruang ganti. Tak berapa lama dia keluar dengam kebaya yang sudah melekat di tubuhnya. Cleo tampak sangat anggun.
"Wah, kamu cantik banget!" puji Jasmine. "Gimana, And?" tanyanya pada Andreas yang sibuk dengan ponselnya. "Sayang!!" Jasmine mendekat dan menyentuh bahunya.
"Apa, Ma?" tanyanya.
"Gimana menurutmu?" Andreas mengikuti arah pandang ibunya. Andreas melihat ke arah Cleo.
"Biasa aja!" jawabnya.
"Kamu nggak suka?" tanya Jasmine, Andreas hanya mengangkat bahunya, kemudian kembali sibuk dengan ponselnya.
"Kita coba yang lain ya." ucap Jasmine, Cleo mengangguk.
"Sayang, gimana?" Andreas melihat Cleo yang menggunakan kebaya berwarna gold.
"Kampungan!" jawabnya. Rasanya Cleo ingin menyumbat mulutnya dengan kebaya yang saat ini dia gunakan. Jasmine kembali meminta Cleo mencoba yang lain, ini adalah kebaya ketiga dan reaksi Andreas tetap sama. Dengan lembut, Jasmine meminta Cleo untuk mencari kebaya yang terbaik.
"Ini gimana, Nona?" pegawai yang sejak tadi menemani Cleo menunjukkan kebaya berwarna putih yang dihiasi dengan kristal swaroski. Kebaya itu tampak sangat elegan. Cleo mengangguk, dan pegawai itu kembali membantunya memakaikan di tubuhnya.
__ADS_1
"Sayang, lihatlah!" Jasmine terpana melihat Cleo, Andreas menoleh dan dia juga tidak bisa menyembunyikan dirinya yang juga ikut terpukau melihat Cleo yang tampak sangat cantik. Kebaya itu sangat indah ditubuhnya yang porposional. "Kamu suka?" Andreas masih terdiam, matanya masih menatap pada Cleo. Jasmine tersenyum. "Kami ambil yang itu." ucap Jasmine pada pegawai tadi. "Sekarang giliranmu." Jasmine meminta Andreas untuk mencoba pakaian yang cocok untuknya.
"Mama saja yang pilih." ucapnya.
"Kamu nggak bisa begitu. Yang mau nikahkan kamu. Jadi, kamu harus memilih yang sesuai untukmu. Apalagi pernikahan ini hanya sekali dalam hidupmu." Andreas yang tidak ingin berdebat dengannya segera berdiri. "Tolong carikan yang sesuai dengan yang dipakai putriku tadi." pesannya pada pegawai yang menemaninya. Tanpa meminta pendapat Cleo, Andreas memilih setelan jas berwarna putih. Dia bahkan tidak ingin Jasmine membantahnya.
"Cleo pulang dulu, Tan!" Cleo memeluk Jasmine.
"Kamu jaga diri ya! Sebentar lagi kamu nikah. Nanti tante bilang ke om supaya kamu bisa libur menjelang pernikahanmu." ucapnya.
"Mama, rumah sakit lagi banyak pasien. Kalau dia libur yang ada yang lain akan kesulitan menangani pasien." potong Andreas.
"Tapi'kan ....?"
"Benar, Tante. Aku juga nggak enak, baru masuk sudah ngambil cuti." Jasmine hanya bisa menurut.
"Ya sudah, kalau kamu maunya begitu."
"Tante pulang dulu ya! Kamu hati-hati bawa mobilnya." pesannya sebelum pergi dengan mobil pribadinya.
"Apa kau puas?" tanya Andreas sepeninggal mamanya.
"Maksudmu?" tanya Cleo.
"Entah sihir apa yang kau pakai hingga mamaku bisa begitu perhatian padamu." ucapnya.
"Aku tidak perlu menggunakan sihir untuk membuat orang lain menyukaiku." jawab Cleo.
"Tapi, aku tidak yakin." Andreas mencemoohnya.
"Kalau aku punya sihir, maka aku akan membuatmu pindah ke antartica." jawab Cleo asal.
"Kau ....!" Cleo berlalu menuju mobilnya. Andreas juga nggak mau kalah. Dia lebih dulu masuk dan menghidupkan mesin mobilnya.
"TIN TIN TINNNN." Andreas sengaja menghalangi mobil Cleo yang akan keluar.
"Apa maunya sih ini orang." gerutu Cleo. "Minggir gak?" teriak Cleo begitu dia membuka kaca mobil.
"Maaf, Tuan, tolong jangan membuat keributan disini." Andreas ditegur oleh security butik.
"Ok." Andreas menutup kaca mobilnya dan langsung tancap gas.
"Aku doain itu mobil mogok." ucap Cleo. Setelah berterima kasih pada security tadi, Cleopun meninggalkan butik itu.
"Berani-beraninya dia mengancamku? Lihat saja nanti, aku akan membuat hidupmu serasa di neraka." Andreas segera terdiam, saat tiba-tiba mobilnya berhenti mendadak. "Kenapa ini?" Andreas mencoba menghidupkan kembalu mobil itu, tapi tetap nggak bisa. Andreas keluar dan membuka kap mobil. Dia mencoba memeriksa apakah ada kerusakan disana.
"Kenapa? Mogok?" dia menoleh, dan melihat Cleo yang sedang meledeknya. "Ternyata kutukanku berhasil." Cleo terbahak, Andreas menutup kap itu dengan sekuat tenaga. "Makanya gak usah gaya-gayaan punya mobil mewah. Atau jangan-jangan ini mobil kw?" Cleo kembali tertawa. Saat Andreas mendekat padanya, Cleo segera tancap gas.
"Dasar cewek tengil!!! Awas saja kau!!" Andreas menendang kaleng minuman yang ada di dekat kakinya.
__ADS_1
~tbc