
"Nona Nayla!"
"Iya." Nayla mengikuti perawat tadi dan masuk ke ruangan dokter Obgyn.
"Silahkan, Nona." ucap perawat itu. Wajah Nayla yang awalnya ceria, berubah kesal.
"Apa yang ada rasakan?" tanya dokter Malik saat Nayla sudah duduk di depannya.
"Hmm, menstruasi saya tidak teratur." ucapnya.
"Apa ada keluhan lainnya?" tanya Malik, Nayla mengeleng.
"Kalau begitu kita periksa dulu ya. Apa saat ini anda sedang menstruasi?" Nayla kembali menggeleng. Perawat mengarahkan untuk berbaring di tempat periksa. Setelah mengoles gel di perutnya, Malik mulai memeriksa kondisi Nayla.
"Saya lihat disini tidak ada masalah dengan menstruasi anda." ucap Malik.
"Tentu saja tidak. Menstruasiku teratur. Aku kesini untuk bertemu dokter Cassano." batin Nayla.
"Benarkah, Dok?" ujarnya.
"Iya, tapi yang menjadi masalah adalah benjolan yang terdapat di rahim anda." Nayla terkejut mendengar penuturan Malik.
"Maksud Dokter?" tanyanya. Malik meminta dia untuk melihat layar yang tergantung di atas. Kemudian malik mengarahkan kursor ke benjolan yang dia katakan.
"Besarnya sekitar 0.5 cm." jelasnya, wajah Nayla mulai pucat.
"Apa itu, Dok? Apakah itu tumor?" tanyanya.
"Iya." darah Nayla seakan tidak mengalir ke seluruh tubuhnya. "Tapi, untuk pastinya sebaiknya kita lakukan pemeriksaan menyuruh." Nayla hanya bisa mengangguk pasrah. Malik memberikan arahan pada asistennya. Setelah, itu Nayla diminta untuk mengikuti asistennya tadi. Nayla tidak menyangka mendapat kabar buruk seperti ini. Padahal niat dia datang ke Giant Hospital untuk bertemu Andreas, tapi dia malah mendengar kabar buruk mengenai dirinya. Nayla meninggalkan rumah sakit dengan perasaan kacau.
πππ
"Kau sudah bangun?" tanya Omar saat melihat Kiano berusaha untuk duduk.
"Kepalaku sakit sekali. Ambilkan aku air, tenggorokanku kering." perintahnya, Omar meraih botol mineral yang ada diatas meja dan memberikannya pada Kiano.
"Gimana nggak haus, lihat saja berapa banyak yang kau minum." Omar menunjuk kaleng alkohol yang ada diatas meja.
"Diam kau!" ucapnya.
"Aku penasaram seperti apa wanita yang bernama Cleo itu."Kiano menoleh padanya.
"Dari mana kau tahu?" dia membuang botol kosong itu ke tempat sampah.
"Semalama kau hanya menyebut namanya. Seperti apa dia?" goda Omar.
"Tutup mulutmu!" Kiano berdiri, dengan sedikit terhuyung dia berjalan menuju kamar.
"Apa kau mau ku pesankan sarapan?" tanya Omar.
"Aku ngantuk!" Kiano kembali berbaring di tempat tidur.
"Siang ini kita harus kembali ke Jakarta. Kau ada pemotretan sore nanti." lapor Omar yang sudah bersandar di pintu kamarnya. "Apa kau mendengarku?" tanyanya.
__ADS_1
"Aku dengar." jawabnya dengan mata tertutup. Omar berjalan keluar, perutnya terasa sangat lapar.
"Apa aku benar-benar tidak mempunyai kesempatan sedikitpun?" Kiano menatap kosong ke langit-langit kamar.
πππ
"Mau berapa lama lagi aku menunggumu?" teriak Andreas dari depan pintu kamar mandi.
"Kau bisa gunakan kamar mandi yang di luar." jawab Cleo dari dalam.
"Kau benar-benar menyusahkan. Gara-gara kau, aku tidak tidur selamaman." Andreas berjalan keluar dari kamar.
"Entah sudah berapa kali dia mengatakan itu." ucap Cleo.
"Apa kau tidur di dalam sana?" tanyanya saat melihat Cleo keluar.
"Bukan urusanmu." jawab Cleo, dia mengambil tasnya dan berjalan menunu pintu.
"Mau kemana?" tanyanya.
"Apa aku harua berdiam diri terus di kamar ini? Perutku lapar." Cleo bergegas keluar.
"Dasar bawel! Aku hanya bertanya." gerutunya. Andreas melanjutkan bermain game di ponselnya
Cleo keluar dari lift, dan berjalan menuju restoran yang ada di hotel. Tak tampak ramai pengunjung, mungkin karena ini sudah lewat waktunya sarapan. Cleo memilih kursi yang ada disudut, setelah selesai dengan pesanannya Cleo memilih untuk berselancar di media sosial. Sesekali dia membalas chat dari Raka sambil tertawa kecil.
"Apa ada badut di ponselmu?" Cleo menoleh dan melihat Kiano berdiri di belakangnya.
"Kian?" ucapnya. "Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya.
"Tentu saja." jawab Cleo. Mendapat izin dari Cleo, Kiano segera duduk dihadapannya.
"Apa kau nggak takut suamimu marah lagi?" Cleo menatap Kiano yang saat ini terlihat dingin padanya. "Kenapa kau nggak jujur saja dari awal?" tanyanya.
"Aku harus mengatakan apa?" jawab Cleo.
"Kalau kau sudah menikah, kenapa tidak jujur padaku?" obrolan mereka terhenti saat pelayan datang mengantarkan pesanan Cleo.
"Aku bahkan tidak tahu dengan statusku saat ini." Kiano tercengang.
"Maksudmu?"
"Aku menikah dengannya karena permintaan terakhir papa. Kami bahkan tidak saling menyukai." jelas Cleo.
"Jadi maksudmu kalian menikah karena dijodohkan?" Cleo mengangguk. "Kalau kalian tidak saling suka, kenapa kamu mau?" tanyanya.
"Aku tidak bisa menolak keinginan terakhir papa." Kiano terdiam.
"Bagaimana dengannya?" tanya Kian.
"Dia juga nggak bisa menolak permintaan orangtuanya." jawab Cleo.
"Lalu, apa kamu baik-baik saja dengan semua ini? Kamu berhak bahagia, kenapa malah menyia-nyiakan hidupmu demi pria seperti dia? Lihatlah sikapnya padamu. Dia sangat kasar."
__ADS_1
"Aku ...."
"Aku rasa itu bukan urusanmu." mereka terkejut dan melihat Andreas berdiri tak jauh dari meja itu. Andreas dan Kiano saling tatap. Terlihat kebencian dimata mereka. "Dan, kau! Kenapa kau selalu saja mencari kesempatan untuk menemui istriku?" tunjuknya pada Kiano.
"Kau bahkan bukan suami sebenarnya." mendengar itu Andreas menatap tajam pada Cleo.
"Apa aku harus memberikan buku nikah padamu?" jawabnya.
"Buku itu tidak akan ada gunanya, jika hubungan kalian saja tidak seperti suami istri." balas Kiano.
"Kau siapa hingga mendikte hubunganku dengannya? Kau hanya pria penggoda yang berusaha merebut istri orang. Apa kau tidak takut karirmu hancur?" Andreas tersenyum sinis.
"Sudah, Cukup!" Cleo sedikit berteriak. "Kian, sebaiknya kamu pergi. Aku harus kembali ke kamar." Cleo beranjak dari sana.
"Cle!!! Cleo, tunggu!" Andreas berdiri menghalangi Kiano yang hendak menyusul Cleo.
"Aku peringatkan! Jangan pernah menganggunya." ancam Andreas.
"Aku tidak peduli padamu. Kalau kau berani menyakitinya, aku tidak akan mengampunimu." bukannya takut, Kiano malah balik mengancamnya.
"Urus saja urusanmu! Dia itu istriku, aku paling tahu harus bagaimana padanya." Andreas pergi meninggalkan Kiano yang mengeram menahan amarahnya.
"Aku pastikan kau akan menyesalinya." matanya memancarkan kemarahan. Dia masih terus menatap Andreas hingga menghilang di dalam lift.
πππ
"Kenapa kau selalu membuatku marah?" Andreas yang baru masuk kamar, segera melampiaskan kemarahannya pada Cleo yang sedang duduk di depan tv. "Aku sudah peringatkan untuk menjauhi pria itu. Kau malah bertemu dengannya di belakangku." amuknya.
"Kami tidak sengaja bertemu." jawab Cleo.
"Alasan lama." jawabnya. "Mulai saat ini, kau tidak boleh bertemu dengannya."
"Kau tidak punya hak untuk melarangku berteman dengan siapapun. Aku sudah lama mengenalnya. Dia temanku!" Cleo tidak terima dengan sikap Andreas yang mulai mengukungnya.
"Cih! Teman apanya? Aku bahkan bisa melihat keinginannya padamu dari tatapannya." jawabnya.
"Terserah! Kalau kau tidak percaya." Cleo berdiri.
"Aku tidak main-main. Jika kau berani bersama pria lain, maka aku akan membuatmu tidak bisa kemana-mana." Cleo berbalik dan menatap tajam padanya.
"Apa kau menyukaiku?" tanya Cleo.
"Tidak." jawabnya. Cleo berjalan pelan ke arahnya.
"Lalu, kenapa kau bersikap posesif seperti ini?" tanya Cleo begitu dia hanya berjarak beberapa meter darinya. "Kau seperti orang yang sedang dibakar cemburu." lanjutnya.
"Aku??? Cemburu padamu??? Itu tidak mungkin." sangkalnya.
"Kalau begitu, jangan pernah campuri urusanku." setelah mengatakan itu Cleo masuk ke kamar dan menutup pintu.
"Apa-apaan dia? Buat apa aku cemburu padanya." ujar Andreas. "Dengar ya! Sampai kapanpun, aku nggak akan pernah cemburu padamu. Kau itu bukan siapa-siapa untukku." teriak Andreas.
"Dasar bule cabul! Aku tau kau memang tidak menyukaiku. Tidak perlu memperjelasnya." Cleo masih berdiri di balik pintu. "Apa-apaan ini? Kenapa aku peduli dengannya?" Cleo bingung dengan dirinya.
__ADS_1
~tbc