CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )

CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )
BAB 74


__ADS_3

"Aku dengar kau baru kembali dari Bali?" tanya Sandra saat bertemu dengan Kiano. Saat ini, Kiano sedang melakukan pemotretan untuk produk terbaru dari perusahaan Sandra.


"Iya." jawabnya.


"Kenapa dengan wajahmu?" tanya Sandra, saat melihat Kiano tidak bersemangat.


"Aku kesana untuk menemui Cleo." jawabnya.


"Cleo? Dia di Bali?" Kiano mengangguk. "Memangnya dia nggak kerja?"


"Dia sedang honeymoon." Sandra tersedak air yang sedang dia minum. Kiano memberinya tissu.


"Terima kasih." Sandra menyeka air yang ada di dagunya. "Apa maksudmu? Sejak kapan dia menikah?" Sandra tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Aku tidak tahu pastinya. Yang jelas, dia sudah menikah dengan dokter bule itu." Sandra kembali terbatuk.


"Maksudmu, dokter senior di departemennya?" Kiano memgangguk.


"Kok bisa? Apa yang terjadi? Aku sangat tahu mereka itu musuh bebuyutan." mendengar itu Kiano menatap tajam padanya.


"Kau mengenal bule itu?" tanya Kian.


"Tidak juga. Tapi, aku pernah bertemu dengannya beberapa kali. Itu juga, saat kita masih sekolah dulu." Sandra berdiri dan mengambil air mineral yang terletak di meja rias.


"Itu artinya kau sudah lama mengenalnya?" Kiano terlihat penasaran.


"Bukan aku, tapi Cleo." jawabnya. Sandra kembali duduk di hadapan Kiano.


"Cleo?"


"Aku tahu dia dari Cleo. Sejak dulu mereka sudah seperti tom and jerry. Setiap bertemu, mereka selalu bertengkar. Kau bisa lihat, sampai saat inipun mereka masih tetap seperti itu." jawabnya. Kiano terdiam, dia tidak menyangka hubungan Cleo dan Andreas sudah terbentuk sekian lama.


"Tapi, aku merasa hubungan mereka itu tidak nyata. Tidak ada kebahagiaan di wajah Cleo." jawab Kiano, Sandra hanya tersenyum tipis.


"Aku juga nggak nyangka kalau mereka sudah menjadi suami istri. Tapi, kita tidak pernah tau masa depan." Setelah mengatakan itu Sandra berdiri. Kiano masih diam membisu.

__ADS_1


"Tapi, aku tidak akan menyerah!" Sandra berbalik dan menoleh padanya. "Aku masih ingin memperjuangkan cintaku." dia menatap dalam Sandra.


"Tapi, dia sudah menikah!" Sandra kembali mengingatkan Kiano.


"Tapi, pernikahan mereka karena terpaksa. Cleo sendiri yang mengatakan padaku. Jadi, aku masih punya kesempatan." Kiano berdiri dan berjalan ke arah Sandra. "Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang datang padaku." setelah mengatakan itu Kiano keluar dari ruangan. Sandra hanya bisa terdiam menatap kepergiannya.


"Kau tidak pernah berubah. Sejak dulu hanya ada Cleo di matamu." batin Sandra.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Ingat, kalau mama bertanya bilang saja kita sangat senang disana." ucap Andreas. Saat ini mereka dalam perjalanan ke rumah Vincent. Mereka baru saja tiba di Jakarta 1 jam yang lalu. Andreas memutuskan untuk segera kembali karena dia harus menghadiri seminar. Cleo mengangguk, dia juga tidak mau membuat mertuanya kecewa.


Mereka tiba di kediaman Vincent. Saat ini masih pukul 20.15 wib, Andreas yakin kedua orangtuanya masih terjaga.


"Malam, Ma, Pa!" sapa Andreas saat melihat mereka sedang menonton tv.


"Sayang! Kenapa kalian disini?" Jasmine memeluk Cleo. "Bukankah honeymoon kalian masih tersisa satu hari lagi?" tanyanya. Mereka berjalan menuju sofa. Cleo mencium tangan Vincent, kemudian duduk di sebelah Jasmine. Sementara, Andreas memilih duduk di sofa yang terpisah.


"Besok aku ada seminar, Ma." jawab Vincent.


"Kamu harusnya lebih mengutamakan istrimu dibanding itu." jawab Jasmine. "Kalau begini, kapan kalian bisa dekatnya?" tampak rona kekecewaan di wajah Jasmine.


"Kapan? Tunggi mama tiada?" tanyanya.


"Ma!!" ujar Vincent.


"Ma!!" Cleo memegang tangan Jasmine lembut.


"Mama ini ngomong apa sih?" Andreas mendekat dan duduk di sebelah Jasmine. "Mama itu akan baik-baik saja. And percaya itu!" ucapnya lembut, sambil mengenggan tangan Jasmine yang satu lagi. Cleo menatap Andreas, baru ini dia melihat suaminya itu bersikap begitu lembut. Hatinya bergetar, melihat perhatian Andreas pada ibunya.


"Kalian tahu, waktu mama sudah tidak banyak lagi. Mama pengen ngelihat cucu-cucu mama." Cleo terkejut, Andreas menoleh padanya. Mereka saling pandang dalam diam. Semua itu tak lekat dari pandangan Vincent.


"Nanti juga tiba waktunya, Ma." jawab Andreas.


"Kapan, And?" Andreas bungkam. "Sayang, kamu mau kan penuhi keinginan terakhir mama?" Jasmine menuntut pada Cleo. Cleo bingung harus mengatakan apa. Dia mengambil teh yang sudah diletakkan pelayan sebelumnya.

__ADS_1


"Aku sudah bilang, mama tidak perlu khawatir. Saat ini, kami dalam proses memenuhi keinginan mama." Cleo tersedak.


"Huk huk huk."


"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Jasmine yang duduk di sebelahnya. Jasmine mengambil tisu dan memberikannya pada Cleo.


"Lihatlah! Mama membuatnya malu." timpal Andreas. Wajah Cleo memerah saat mendengar Andreas mengatakan itu. Cleo melotot padanya.


"Benarkah?" Jasmine terlihat sumringah. "Kamu dengar itu, Pa?" Vincent tersenyum dan mengangguk. "Aku sangat senang mendengarnya. Mama harap sebentar lagi akan ada tangisan bayi di rumah ini." Jasmine memeluk Cleo dan Andreas bersamaan. Kedua sejoli itu hanya bisa saling tatap. Cleo dengan tatapan kesalnya, sementara Andreas dengan penyesalannya.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Apa yang kau lakukan?" tanya Cleo saat mereka dalam perjalanan kembali ke apartemen.


"Apa?" Andreas berpura-pura tidak mengerti.


"Kenapa kau berkata seperti itu pada mama? Kenapa kau memberikan beliau harapan palsu?" Cleo tampak tidak suka dengan perkataan Andreas tadi.


"Aku hanya ingin membuat mamaku bahagia." jawabnya, tanpa menoleh pada Cleo.


"Iya, tapi tidak dengan berbohong begini." sela Cleo. Andreas memarkir mobilnya di area parkir apartemen.


"Apanya yang bohong?" Andreas menoleh pada Cleo.


"Sudah jelas impian mama tidak akan pernah bisa terpenuhi. Tapi, kau malah mengatakan kalau itu akan terjadi. Mau sampai kapan kita biarkan mama hidup dengan harapan palsu?" tanya Cleo.


"Siapa bilang kalau aku memberi mama harapan palsu?"


"Maksudmu?" Cleo tampak bingung. Andreas membuka seatbelt-nya, dan mencondongkan tubuhnya ke arah Cleo. Cleo memegang erat seatbelt yang masih terpasang di tubuhnya.


"Aku tidak pernah mengatakan itu bohong. Aku juga tidak pernah memberi harapan palsu untuk mamaku." Andreas semakin dekat, membuat Cleo terpojok.


"A-aku tidak mengerti." Cleo menunduk, saat jarak mereka hanya beberapa centi.


"Aku berani berkata seperti itu, karena kau adalah istriku. Jadi, sudah kewajibanmu untuk memenuhi semua impian mama." Cleo mengangkat kepalanya. Mereka saling tatap. Cleo bisa merasakan jantungnya berdebar begitu kencang.

__ADS_1


"Bersiaplah! Untuk memenuhi keinginan mama, maka kau akan meminta hakku. Dan, kau harus memenuhi kewajibanmu. Saat itu tiba, aku pastikan kau tidak akan bisa menolaknya." setelah berkata seperti itu Andreas membuka pintu mobil dan meninggalkan Cleo yang masih terpaku.


~tbc


__ADS_2