
"Ciih!! Dia bahkan bebas pergi kemana saja. Kenapa aku tidak boleh? Bahkan saat ini dia pergi menemui cinta pertamanya." gerutu Cleo.
Dengan perasaan kesal, dia bergegas memasuki lobby hotel. Sesampainya di kamar Cleo segera membersihkan dirinya. Tubuhnya terasa sangat letih. Dia yakin Andreas pasti begitu bahagia bertemu dengan Cantika. Entah kenapa ada rasa marah dan kesal jika dia memikirkan pertemuan mereka. "Dasar bule cabul! Dia melarangku dekat dengan pria manapun, sementara dia bebas menemui wanita lain." Cleo membenamkan tubuhnya semakin dalam ke air yang ada di bathtub. Sudah hampir setengah jam dia berendam disana.
πππ
"Apa kau sudah lama menungguku?" saat Andreas tiba di cafe yang Cantika pesan, dia melihat wanita cantik itu sudah berada disana.
"Lumayan." jawabnya.
"Maafkan aku! Tadi aku ada sedikit pekerjaan." bohongnya.
"Tidak apa-apa." Andreas segera duduk di kursi yang ada dihadapan Cantika.
"Kau mau pesan apa?" tanya Cantika sambil menyerahkan buku menu. Andreas menerimanya, dan segera memberi tahu pelayan apa yang dia inginkan.
"Kenapa kau ingin bertemu denganku?" tanya Cantika.
"Memangnya aku tidak boleh menemuimu? Apa kau tidak tahu gimana senangnya aku saat melihatmu disini?" ucapnya. "Kenapa kau tidak memberitahuku?" tanya Andreas.
"Aku tidak ingin ada yang tahu aku disini." jawabnya.
"Apa kau berusaha menghindari kami?" Cantika tidak mampu menatapnya.
"Tidak." jawabnya.
"Lalu?" Andreas terlihat bingung. "Apa ini karena Al?" wanita itu menggeleng.
"Aku sudah merelakannya." jawabnya.
"Kau yakin?" Andreas mencoba mencari kepastian. "Jika memang seperti itu, kenapa kau menghindar?" Cantika menatap dalam padanya. "Apa karena perkataanku di Bandara?" tebak Andreas. Cantika tidak mengatakan apapun. "Kau tidak perlu memikirkan apapun." Andreas mencoba mencairkan suasana.
"Maafkan aku, Dre!" Cantika menunduk dia tidak sanggup menatap Andreas.
"Kenapa kau harus minta maaf? Aku tahu kau butuh waktu. Aku akan sabar menunggumu." Cantika mengangkat kepalanya, dia bisa melihat kalau Andreas menaruh harapan besar padanya.
"Kau jangan menungguku." ucapnya. Andreas memajukan tubuhnya.
"Kenapa? Apa aku tidak layak mengisi ruang kosong dihatimu?" tanyanya.
"Bukan begitu." sela Cantika.
"Lalu?" Andreas masih menunggu.
"Aku tidak pantas untukmu. Kau pantas. untuk mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku." ucapnya.
"Tapi aku hanya mencintaimu. Sejak dulu hingga saat ini. Perasaanku bahkan masih tetap sama. Aku sanggup menunggumu hingga kau benar-benar melupakan Alvaro." tegasnya. Cantika semakin terlihat bingung. Dia tahu bahwa sejak duduk di bangku SMA, Andreas menyukainya. Tapi, dia menutup mata dengan semua itu. Dia sibuk mengejar cinta Alvaro, sehingga mengabaikan perasaan Andreas.
"Aku sudah merelakan Al." jawabnya. "Tapi, aku tetap tidak bisa menerima perasaanmu. Bagiku, kau hanya sebatas sahabat." Andreas melemah.
"Sejak dulu aku memang tidak layak untukmu." ucapnya pelan.
"Maafkan aku, Dre! Aku tidak bisa memberikan kebahagiaan untukmu. Lebih baik kau mencari wanita lain." Cantika mengambil tasnya.
"Aku tetap akan menunggumu." Cantika menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan menoleh pada Andreas.
"Jangan pernah lakukan itu. Sampai kapanpun aku tidak akan bisa membalas perasaanmu. Karena aku mencintai pria lain." Andreas segera berdiri.
__ADS_1
"Lupakan Al, dia sudah menemukan belahan jiwanya. Kau hanya akan terluka. Ada aku yang bisa membuatmu bahagia." Andreas memegang tangan Cantika.
"Ini bukan lagi tentang Al. Aku mencintai pria lain." Andreas masih tidak percaya.
"Ada apa, Sayang?" seorang pria tiba-tiba datang menghampiri mereka. Dia menatap Andreas yang sedang memegang tangan Cantika. "Kenapa kau memegang wanitaku?" Andreas terkejut.
"Dia...?" Andreas meminta jawaban dari Cantika.
"Dia, Carlie, pria yang saat ini mengisi hari-hariku." Cantika mengalungkan tangannya dilengan pria bule itu.
"Kau sudah selesai?" tanya pria bernama Carlie itu pada Cantika.
"Ya." Cantika tersenyum. "Maafkan aku, Dre! Aku harap kau menemukan kebahagiaanmu." setelah mengatakan itu, mereka pergi dari sana. Andreas terduduk lemas. Dia belum percaya sepenuhnya dengan apa yang terjadi barusan.
πππ
"TIN!!" Cleo yang baru selesai mengeringkan rambutnya mendengar suara bel berbunyi.
"Kenapa dia tidak membuka pintu sendiri?" Cleo berjalan menuju pintu. Dia yakin itu adalah Andreas. Dia kesal karena pria itu tidak masuk dengan sendirinya. "Kenapa kau ti ..." ucapannya terhenti saat mengetahui siapa yang ada dihadapannya.
"Hi, Cle!!" sapa Kiano.
"Kian? Apa yang kau lakukan disini?" Cleo terlihat bingung.
"Tentu saja menemuimu." jawabnya.
"Tapi, bagaimana kau tahu aku disini?" Cleo terlihat bingung. Dia tidak tahu dari mana Kiano bisa mengetahui keberadaannya.
"Kau lupa aku siapa?" Kian mengedipkan matanya.
"Aku serius." ucap Cleo.
"Tapi aku ....?" belum Cleo selesai berbicara, Kiano sudah menyelonong masuk. "Kian, sebaiknya kita bicara di luar saja." ucap Cleo.
"Kenapa? Apa kau takut padaku?" Kiano duduk di sofa.
"Bukan seperti itu. Aku hanya tidak nyaman jika berduaan saja denganmu disini." jujurnya.
"Astaga, Cle! Kau jangan berpikiran negatif padaku. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang akan menyakitimu." Kiano tertawa.
"Bukan seperti itu. Aku hanya ...." ucapan Cleo terhenti saat mendengar pintu terbuka. Mereka menoleh dan melihat seorang pria masuk dengan terhuyung-huyung seperti orang yang sedang mabuk.
"Apa yang kalian lakukan?" teriaknya. Andreas terlihat sangat marah, apalagi saat ini dia melihat ada Kiano di kamar mereka.
"Cle, kenapa dia bisa ada disini?" Kiano tak kalah terkejutnya.
"Apa kau sengaja membawanya kesini? Dasar murahan! Bisa-bisanya kau membawa pria lain ke kamar ini. " Andreas menunjuk-nunjuk dan mengatai Cleo.
"Hey, Bung! Jaga bicaramu!" Kiano marah. Mendengar Cleo dihina seperti itu, dia tidak terima.
"Diaamm kau, Brengsek!" teriak Andreas.
"Kian, lebih baik kau pergi dari sini." Cleo menahan Kiano saat melihat pria itu bersiap untuk menghajar Andreas yang mabuk.
"Baiklah! Ayo, kita pergi!" Kiano memegang tangan Cleo.
"Aku tidak bisa." Kiano tercengang.
__ADS_1
"Tapi aku nggak bisa membiarkanmu disini bersama pria brengsek ini." ucap Kiano.
"Tidak apa-apa. Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku." Cleo berusaha menenangkan Kiano.
"Lepaskan dia!" tiba-tiba Andreas menarik tangan Cleo.
"Heeyyy!!!" Kiano kembali emosi. "Lepaskan dia!!" teriak Kian.
"Kenapa? Aku punya hak untuk melakukan apapun padanya." jawab Andreas.
"Cukup!!" Cleo berusaha menghentikan Andreas.
"Kenapa? Apa kau takut kekasih gelapmu ini tau, kalau kau sudah menikah?" Kiano terkejut bukan main.
"Apa yang dia katakan?" Kiano menatap Cleo.
"Pergilah! Nanti akan ku jelaskan." Cleo meminta Kiano untuk keluar.
"Tapi, katakan padaku! Apa yang dia katakan benar?" Kiano mendekat pada mereka. Dia mendesak Cleo.
"Ayo, katakan padanya bahwa kau itu istriku." timpal Andreas. Cleo menatapnya dengan penuh kebencian.
"Cle ...." Cleo menatap Kiano yang masih menunggu jawabannya.
"Ya." jawab Cleo pelan. Kiano terkejut, dia tidak menyangka sama sekali.
"Kau sudah dengar bukan? Sekarang keluar dari sini. Kau menganggu bulan madu kami saja." usir Andreas. Kiano yang mendengar itu bergegas keluar dari sana.
"Kian, aku bisa jelaskan!" Cleo berusaha mengejar Kiano, tapi Andreas masih mencengkram tangannya.
πππ
"Lepaskan aku!" Cleo menghentakkan tangannya. "Apa yang kau lakukan?" Cleo marah.
"Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau membawa pria lain masuk kesini?" Andreas tak kalah marahnya.
"Aku tida membawanya, dia datang sendiri." jawab Cleo.
"Dasar pembohong! Dari awal aku sudah menduga kalau kau ini wanita murahan." Cleo yang kesal melayangkan tangannya ke wajah Andreas.
"Tutup mulutmu! Kau bahkan tidak lebih baik dariku. Pria beristri mana yang mengejar wanita lain?" wajah Andreas bertambah merah.
"Beraninya kau melakukan ini padaku?" Andreas tampak geram, dia memegangi pipinya yang terasa sakit.
"Kau pantas mendapatkan itu. Dasar brengsek!" setelah mengatakan itu, Cleo berjalan menuju kamar. Saat akan menutup pintu, tiba-tiba Andreas menarik tangannya.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Cleo yang kaget. "Lepaskan aku!" Cleo berontak saat Andreas menariknya ke arah kasur. Andreas mendorongnya hingga terjatuh ke atas tempat tidur. Cleo mencoba bangkit dan berusaha melarikan diri, tapi Andreas berhasil mencengkram tangannya.
"Lepaskan aku!" pekik Cleo, tapi Andreas malah menariknya hingga kembali terjatuh ke atas tempat tidur.
"Kau bilang aku brengsek? Maka akan kutunjukkan seberapa brengseknya aku." Andreas mencium Cleo secara paksa. Wanita itu berusaha menghindar tapi Andreas jauh lebih kuat darinya. Andreas menciuminya dengan begitu kasar. Tangannya mulai bergerilya di dalam kaos yang Cleo pakai. Cleo memukul-mukul dada Andreas. Tapi, usahanya tetap gagal. Andreas dalam pengaruh alkohol, dia bahkan tidak peduli dengan penolakan Cleo.
Dia terus saja melakukan aksinya, bahkan Andreas tidak membiarkan Cleo lepas begitu saja. Dia menciumi Cleo membabi-buta. Cleo yang sudah tidak berdaya hanya bisa pasrah. Dia tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Tiba-tiba Andreas terpaku saat merasakan wajahnya basah. Dia memegang pipinya kemudian menatap pada Cleo yang terbaring di bawahnya. Wanita itu sedang menangis tanpa suara. Penampilannya terlihat berantakan, bahkan kaos yang dia gunakan robek, sehingga memperlihatkan dadanya. Andreas bergeser, dia mengambil selimut dan menutupi tubuh Cleo.
"Maafkan aku! Aku ...."
"PLAAKKK!!" Cleo memegang selimutnya dan menatapnya dengan penuh kebencian, kemudian berlari keluar dari kamar itu. Meninggalkan Andreas yang terpaku menyesali perbuatannya.
__ADS_1
#tbc
πMohon maaf karena UP terlalu lamaaaπππ Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf lahir dan bathinππ