
"TIN TIN TIN." tujuannya saat ini hanya rumah Cleo.
"Cleonya ada, Pak?" tanyanya saat melihat Aming berjalan ke arah gerbang.
"Ada. Sebentar saya hubungi nona dulu." Sandra mengangguk. Setelah mendapat izin dari Cleo, Aming segera membuka gerbang. Sandra memarkir mobilnya disebelah anak tangga yang menuju ke teras.
"Hi, Ayo masuk!" Cleo sudah berdiri di depan teras. Sandra mengikutinya ke dalam, dan mereka duduk di ruang tamu.
"Kenapa lagi, itu muka merah begitu?" Cleo yakin pasti ini berkaitan dengan Aisyah.
"Minggu depan mereka akan menikah." ucapnya, Cleo terkejut.
"Serius?" tanyanya, Sandra mengangguk.
"Gue nggak akan biarkan wanita itu hidup bahagia. Tidak setelah apa yang dia lakukan pada mamaku." Cleo mendekat dan mengelus punggungnya.
"Sabar ya! Kita gak bisa berbuat apa-apa." ujarnya. "Dari pada kamu kesal, mending kita jalan." Soraya menoleh padanya.
"Kemana?" tanya Sandra.
"Anterin aku belanja. Aku harus mencari keperluan untuk dibawa minggu depan." Sandra terdiam.
"Emang lo mau kemana?" tanyanya.
"Aku harus berangkat ke London." mata Sandra seketika membesar saat mendengar nama negara itu Cleo sebutkan.
"London? Lo jadi kuliah disana?" Sandra seolah tidak percaya.
"Seperti yang aku bilang tadi, Kita gak bisa lakuin apa-apa. Aku capek kalau harus berdebat terus sama ayah. Yah, jika ayah ingin aku pergi jauh darinya, maka aku akan mengikuti kemauannya." Cleo terlihat tidak bersemangat.
"Terus gue sama siapa dong?" Sandra sedikit merengek.
"Kamu'kan masih punya banyak teman." jawabnya.
"Tapi gak ada yang seperti lo." ucapnya.
"Emang aku kenapa?" Cleo berdiri.
"Lo yang paling asyik untuk dijadikan teman. Yang lain hanya ingin mencari keuntungan saja." Sandra seolah menyindir kedua rekannya yang sampai saat ini sudah tidak ada kabar.
"Padahal dulunya kamu benci banget ya samaku." Cleo tertawa mengingat pertengkaran mereka dulu.
"Gue gak benci sama lo. Gue itu gak suka lo selalu belain Nayla. Padahal, lo thu sendiri kalau kelemahannya itu cuma topeng aja. Gak beda sama nyokapnya." Sandra tersenyim sinis.
"Hus, udah! Gak baik jelekin orang mulu. Jadi gak nih?" tanya Cleo.
"Ok! Gue bakal jadi sopir lo seharian ini." Sandra ikutan berdiri.
"Aku gak sanggup bayarnya kalau sopirnya sekece ini." mereka berdua tertawa. Bi Ita yang sejak tadi mendengar obrolan mereka juga ikut tersenyum. Dia senang, akhirnya Cleo bertemu teman yang benar-benar mengerti dirinya.
"Bi, kita jalan dulu ya!" teriak Cleo sebelum mereka pergi.
"Hati-hati, Non!" ucap bi Ita yang tergopoh-gopoh menuju ke arah mereka.
"Iya." mereka berjalan menuju mobil Sandra. Aming kembali membukakan gerbang untuk kedua gadis itu.
πππ
"Lo mau cari apa aja?" tanya Cleo sesampainya mereka di mall.
"Aku hanya butuh beberapa pasang baju hangat dan beberapa buku." jawabnya. Cleo manggut-manggut. "Kamu gimana? Udah daftar kuliah belum?" tanya Cleo saat mereka berada di dalam toko baju.
"Entahlah!" dia mengangkat bahu.
"Maksudnya?" Cleo meletakkan kembali baju hangat berwarna army yang baru saja dia pegang.
__ADS_1
"Gue gak pengen kuliah." jawabnya.
"Lalu? Kamu mau ngapain?" tanya Cleo.
"Aku belum tahu mau apa. Tapi, sepertinya hidupku akan sangat menyebalkan setelah kehadiran mereka." Sandra terlihat melamun.
"Kamu gak usah pikirin mereka. Jangan biarkan kebencian, membuatmu mengabaikan masa depanmu sendiri. Kamu harus kuat, sukses dengan usahamu sendiri." Cleo memberinya semangat. Sandra mengalungkan tangan kanannya ke leher Cleo.
"Sejak kapan lo jadi sebijak ini? Apa ini yang selalu menjadikan lo peringkat pertama di sekolah?" tanyanya.
"Bukan. Tapi, aku belajar dari pengalaman." selanya.
"Sok, tua!" Sandra mengambil baju hangat berwarna pink.
"Gimana dengan ini?" tanyanya. Cleo mengambil dan melihat dengan seksama.
"Ok." dia setuju dengan pilihan Sandra.
"Cuma segini aja?" tanya Sandra saat melihat baju yang ada di tas belanjaannya.
"Buat apa banyak-banyak. Disana juga udah disiapin semua sama tanteku." ucapnya saat mereka sedang berada di kasir.
"Lo, yakin Cle kuliah sendiri disana?" tanyanya lagi.
"Aku gak sendiri. Disana ada tante Manda adiknya ayah, terus ada mas Bumi juga." dia mengambil kembali kartu yang diberikan oleh kasir.
"Bumi?" Sandra menatap ke arahnya.
"Iya, kakak sepupuku." Sandra mangut-mangut.
"Kita kemana lagi?" tanyanya.
"Kamu udah lapar belum?" Cleo melihat jam dipergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 13.30 wib.
"Belum." jawabnya.
Cleo berputar-putar mencari buku yang dia inginkan. Sebagian sudah dia dapatkan, kebanyakan buku untuk ujian masuk perguruan tinggi. Sandra hanya melihat-lihat saja, sesekali dia membaca buku yang membuatnya tertarik, tapi setelah itu dia meletakkan kembali ke tempat semula.
"Sandra, Ayo! Aku rasa sudah cukup." Cleo memanggil Sandra yang tak jauh darinya. Mereka berjalan menuju kasir.
"BRUK!" buku yang ada ditangan Cleo berjatuhan, begitupun dengan orang yang menabraknya.
"Maaf." ucap Cleo, sambil mengambil buku-buku yang berserakan di lantai. "Nayla!" ucapnya saat melihat Nayla sedang memunguti buku-buku itu. Nayla menoleh, dan langsung terkejut. Dia mengambil bukunya yang terakhir.
"Lo nggak apa-apa, Cle?" tanya Sandra. "Hey! lo punya mata gak?" Sandra terlihat kesal pada Nayla.
"Ssstt, sudah San, aku baik-baik saja." Cleo memintanya untuk tenang.
"Oh, jadi sekarang kalian berteman?" sindir Nayla.
"Apa urusan lo?" Sandra menunjuknya.
"Ya, wajar sih! Kalian memang cocok untuk jadi teman. Yang satu tukang bullly, yang satu perebut gebetan orang." Nayla tanpa rasa takut menunjuk Sandra dan Cleo bergantian.
"Jaga mulut lo ya!" Sandra terpancing emosi. Dia maju dan mendorong bahu Nayla.
"San, udah! Jangan buat keributan disini." Cleo mencegahnya.
"Tapi ini anak harus dikasih pelajaran." tunjuknya.
"Apa? Lo mau ngebully gue lagi?" Nayla malah menantangnya.
"Lo!!!"
"San, sudah!" Cleo menahan tangan Sandra.
__ADS_1
"Tolong jangan buat keributan disini." penjaga datang dan memperingatkan mereka.
"Udah, San, lebih baik kita bayar ini saja." Cleo menarik tangan Sandra untuk menjauh dari Nayla.
"Dasar munafik! Wajah lo aja yang lugu, tapi kelakuan lo kayak cewek murahan." Nayla memaki Cleo, Cleo berhenti dan berbalik ke arah Nayla.
"Apa maksudmu?" tanya Cleo.
"Stop! Berhenti berlagak kayak cewek baik-baik. Lo sama saja dengan cewek penggoda yang suka ngerebut pacar orang." Nayla yang memang membenci Cleo, mulai mengatakan hal-hal buruk padanya.
"PLAK!" sebelum Cleo mengatakan sesuatu, Sandra terlebih dahulu menamparnya. Nayla memegang pipinya yang terasa sakit. Matanya menatap tajam ke arah Sandra yang saat ini berdiri dihadapannya.
"Kalau ngomong jangan sembarangan. Cleo gak pernah ngerebut siapapun, karena Kiano bukan milik lo. Dan,
asal lo tahu yang wanita murahan itu bukan Cleo tapi ..."
"Sandra, hentikan!" teriak Cleo. Sandra hanya menoleh padanya.
"Tidak untuk kali ini." ucapnya pada Cleo. "Dia harus tahu kalau yang murahan itu adalah ibunya. Yang dia sebut wanita penggoda itu adalah ibunya."
"PLAK!" Nayla gantian menampar pipi Sandra.
"Jaga ucapanmu! Jangan pernah merendahkan ibuku dengan mulut sampahmu itu." ucapnya. Mendengar itu Sandra malah tertawa sinis.
"Merendahkan? Tanpa perlu aku merendahkan ibumu, dia memang sudah menjijikan. Menjadi selingkuhan pria yang sudah mempunyai istri dan anak. Ibumu adalah perusak rumah tangga orang."
"Tutup mulutmu!" Nayla kembali melayangkan tangannya, tapi Sandara berhasil menangkapnya. Sandra menghempaskan tangan Nayla.
"Sandra, sudah! Jangan diteruskan!" Cleo sejak tadi sudah berusaha melerai mereka. Tapi tidak membuahkan hasil mereka malah semakin bertengkar, sehingga membuat mereka menjadi tontonan pengunjung.
"Kenapa, Cle? Kenapa aku harus diam? Ibunya sudah menghancurkan keluargaku. Jadi, sebagai anak dia harus tahu kelakuan busuk ibunya." Nayla terkejut, dia tidak mempercayai ucapan Sandra.
"Lo, jangan sembarangan! Ibuku wanita baik-baik. Dia tidak akan mungkin melakukan semua yang lo tuduhkan." Mata Nayla membara, dia tidak terima ibunya dipermalukan.
"Baik-baik apanya? Jika ibumu wanita yang baik, dia nggak akan tega tidur dengan suami orang." Sandra membeberkan semua kelakuan busum Aisyah.
"Kau bohong! Kau pembohong!" teriak Nayla, tidak ada yang melerai mereka. Semua orang asyik mendengarkan drama keluarga mereka, termasuk penjaga keamanan.
"Jika lo mau bukti, datang aja ke rumah gue malam ini. Maka lo akan melihat bagaimana lihainya ibumu, menyenangkan papaku." ucapnya.
"Sandra, cukup!" teriak Cleo. "Jangan mempermalukan dirimu sendiri."
"Aku sudah tidak peduli dengan semuanya, Cle. Persetan dengan harga diri, mereka sudah menghancurkan semuanya. Tidak ada lagi yang tersisa." mata Sandra berkaca-kaca, tapi dia berusaha menahan agar butiran itu tidak jatuh ke pipinya.
Nayla begitu terkejut dengan apa yang Cleo ucapkan. Kakinya gemetaran, buku yang ada ditangannya kembali berserakan.
"Nay, kau nggak apa-apa?" Cleo mendekat dan memegang bahunya.
"Jangan sentuh aku!" teriaknya. "Nggak usah berpura-pura baik padaku. Aku tahu kau hanya mengasihaniku." Nayla menatap Cleo dengan penuh kebencian.
"Nay, kamu temanku, wajar jika aku peduli padamu." jawabnya.
"Aku tidak butuh belas kasihanmu." lanjutnya. "Oh, seharusnya kau mengasihani dirimu sendiri. Karena sebentar lagi kau akan menjadi sebatang kara." ucapnya.
"Apa maksudmu?" tanya Cleo yang tidak mengerti apa yang dia katakan. Sandra menoleh ke arah Cleo. Nayla bertepuk tangan dan tertawa.
"Cleo ... Cleo!! Katanya kamu siswa terpintar, tapi ayahmu yang sudah mau matipun kau tidak tahu." Sandra mencemoohnya.
"Apa yang kamu katakan?" Cleo emosi saat mendengar Nayla mengatakan hal itu. Dia memegang kerah kemeja Nayla.
"Kenapa? Bukankah itu kabar baik?Ayah yang selama ini kau benci akan pergi menemui mamamu di akhirat." Nayla tersenyum sinis. "Selamat untukmu!"
"Kau ...? Aku menyesal pernah menganggapmu sebagai teman." Cleo mendorong Nayla, kemudian pergi begitu saja dari toko buku itu.
"Lo nggak pantas untuk dikasihani. Dasar tidak tahu terima kasih!" kemudian Sandra pergi mengejar Cleo.
__ADS_1
~tbc