
"Tuan, bangunlah!" bi Ita berlari keluar meminta pertolongan, Aming dan pak Karyap yang mendengar teriakannya langsung bergegas masuk ke dalam. Mereka terkejut melihat Adam yang terbaring di lantai ruang makan.
"Cepat telepon ambulance!" teriak pak Karyo. Bi Ita berlari dan segera menelepon ambulance.
"Apa aku gak pernah dianggap anak? Ayah menyembunyikan hal sebesar ini dariku. Bukan hanya ayah, tapi semua orang menyembunyikannya dariku." Cleo menangis di bangku taman. Dia sedih dan marah atas apa yang terjadi.
"Kenapa non Cleo gak bisa dihubungi?" bi Ita terlihat mondar-mandir di depan UGD.
"Bagaimana?" tanya pak Karyo.
"Gak bisa, Aduh, gusti! Kamu dimana, Non?" bi Ita mencoba menghubungi kembali ponsel Cleo, tapi tetap tidak ada jawaban. Dia melihat melalui kaca bagaimana tim dokter sedang mencoba mengembalikan fungsi jantung Adam. Bi Ita tidak tahu apa yang dokter gunakan hingga membuat tubuh Adam seperti terlempar ke atas.
"Bagaimana?" tanya Andreas.
"Sudah kembali, Dok." jawab perawat yang bertugas mengecek monitor.
"Syukurlah! Pasien harus segera dipindahkan ke ICU, panggil keluarga pasien." Andreas berjalan menuju nurse station. Dia memeriksa kembali rekam medis milik Adam.
"I-iya, Dok." bi Ita dan Pak Karyo menemui Andreas.
"Apa anda keluarga pasien?" tanya Adam.
"I-iya, Dok." jawab bi Ita.
"Pasien mengalami serangan jantung. Kami sudah melakukan tindakan agar jantungnya kembali. Untuk saat ini pasien masih belum sadarkan diri." bi Ita menangis mendengar penjelasan dokter.
"Bagaimana?" tiba-tiba seorang dokter paruh baya berwajah bule datang menghampiri mereka.
"Pasien mengalami serangan jantung, Dok." lapor Andreas pada Vincent.
"Beliau adalah dokter yang menanggani Tuan Adam." Andreas menjelaskan pada bi Ita dan pak Karyo. Mereka mengangguk, Vincent melihat sekilas ke arah mereka. Kemudian bergegas menuju ke tempat Adam. Bi Ita kembali menangis saat melihat tubuh Adam terpasangi alat-alat yang dia tidak tahu apa itu.
"Bagaimana hasilnya?" Vincent memeriksa laporan yang diberikan oleh putranya. Wajahnya sedikit terkejut, tapi dia berusaha untuk tetap tenang.
"Dimana putrinya?" tanya Vincent, Andreas sedikit terkejut, karena Vincent mengenal keluarga pasien. Bi Ita dan Pak Karyo saling pandang.
"Kami masih mencoba menghubunginya, Dok." pak Karyo yang menjawab.
"Segera hubungi dia, pasien harus segera dipindahkan ke ICU." bi Ita mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Cleo lagi. Setelah memberikan instruksibpada Andreas, Vincent kembali ke samping Adam.
"Bertahanlah! Aku akan mengusahakan yang terbaik untukmu." Vincent memegang tangannya. Andreas semakin bingung tentang hubungan yang mereka miliki.
"Dok, ini hasil yang anda minta." perawat memberikan kertas itu pada Andreas.
"Minta tanda tangan keluarga pasien." perintahnya, perawat kembali memanggil bi Ita.
"Ini persetujuan agar pasien di rawat di ICU, Ibu bisa tanda tangan disini." perawat itu menunjukkan dimana dia harus membubuhkan tanda tangan.
"T-tapi, saya hanya asisten rumah tangga beliau. Apa saya bisa menandatangani ini?" tanyanya.
"Lalu, dimana keluarganya?" tanya perawat itu.
__ADS_1
"Kami masih mencoba menghubunginya." jawab bi Ita. Perawat itu menoleh pada Andreas yang duduk tak jauh darinya.
"Tidak apa-apa. Kamu bisa menandatanganinya." Vincent memberikannya izin. Dengan ragu, bi Ita menandatangani surat itu.
"Segera pindahkan pasien ke ICU, dan katakan pada petugas ICU, kabari saya jika dokter Mahdi sudah datang." pesan Vincent pada perawat tadi.
"Baik, Dok." jawabnya. Belum lama Vincent pergi, dokter Mahdi datang denga tergesa-gesa. Dia terkejut karena Vincent menghubunginya untuk menanggani Adam. Dia memeriksa semua hasil yang telah keluar, dan seperti Vincent, Mahdi menyarankan agar Adam segera di rawat di ICU.
"Apa hubungan pasien dengam Direktur?" tanya Mahdi pada Andreas.
"Maksudnya, Dok?" tanya Andreas.
"Direktur secara pribadi menghubungiku, dan memintaku untuk menangganinya sebaik mungkin. Apa pasien keluarga kalian?" tanyanya. Andreas menggeleng. Dia juga tidak tahu hubungan apa yang dimiliki ayahnya dengan Adam. Tapi, dari apa yang dia lihat, Vincent terlihat begitu mengkhawatirkan kondisi Adam.
Setelah semua pemeriksaan selesai, Adam segera dipindahkan ke ICU. Bi Ita ikut menemaninya hingga ke depan pintu ICU.
"Non, angkat teleponnya!" dia mencoba lagi menghubungi Cleo.
πππ
Cleo melihat jam yang ada dipergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.15 wib.
"Aku sampai lupa waktu." sejak tadi dia begitu larut dalam kesedihannya, hingga tidak menyadari kalau suasana taman sudah mulai sepi. Hanya terlihat beberapa pasangan muda-mudi yang masih asyik memadu kasih. Cleo berdiri dan berjalan menuju motornya. Cleo memasang helm di kepalanya, dan merogoh kantong celana yang dia kenakan. "Dimana ponselku?" Cleo ingat dia meninggalkan handphone-nya di kamar.
Kemudian dia memacu motornya menuju jalan pulang. Taman yang dia datangi tidak begitu jauh dari kompleks perumahannya. Hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk dia sampai di rumah. Sebenarnya, dia hatinya berat untuk pulang, tapi dia bingung harus pergi kemana.
"TIN TIN." Aming berlari saat mendengar klakson motor di depan gerbang. Dengan terburu-buri dia membukakan pintu gerbang.
"Aku baru dari taman, Pak." jawabnya dengan suara yang sengau.
"I-itu, Tuan, Non ...." Aming terbata.
"Kenapa dengan ayah?" tanya Cleo.
"T-tuan dilarikan ke rumah sakit. Tadi tuan gak sadarkan diri." Helm yang Cleo pegang jatuh begitu saja. Kakinya terasa lemah, pandangannya berkunang-kunang.
"Tapi kenapa?" tanyanya. Dia berpegangan erat pada stang motor.
"Saya juga gak tahu, Non. Nggak lama setelah nona pergi bi Ita langsung berteriak minta tolong." jelasnya. Cleo serasa memdengar suara petir di telinganya.
"Dimana? Ayah, dibawa kemana?" Cleo berteriak pada Aming.
"Giant Hospital, Non." Cleo segera mengambil kembali helmnya, dia mutar motornya dan segera memacu motor itu menuju Giant Hospital.
"Dimana ayahku?" tanya Cleo begitu dia sampai di UGD.
"Maaf, Nona, anda mencari siapa?" tanya perawat yang mendekat padanya.
"Ayahku! Dimana ayahku?" teriaknya sambil menangis. Beberapa pasien dan keluarga pasien menoleh padanya.
"Anda tenang dulu! Siapa nama ayah anda?" tanya perawat.
__ADS_1
"Adam Winata." Cleo menyebutkan nama ayahnya.
"Oh, tuan Adam sudah dipindahkan ke ICU. Anda bisa langsung ke ICU." setelah mendapatkan info dimana letak ICU. Cleo segera berlari kesana.
"Dasar bocah tengil! Ayahnya sudah sekarat, tapi dia baru nonggol." gerutu Andreas yang sejak tadi memperhatikannya dari bilik pasien.
"Kenapa, Dok?" tanya perawat yang menemaninya.
"Tidak ada. Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu." ucapnya.
"Bi!!" panggil Cleo saat melihat bi Ita berada di ruang tunggu dengan ponsel ditelinganya.
"Non! Nona darimana saja?" tanya bi Ita.
"Mana ayah? Dimana ayah?" tanyanya.
"Tuan di dalam, Non." bi Ita menunjuk ke ruangan ICU.
"Aku ingin bertemu dengan ayah." tangisnya kembali pecah.
"Tunggu sebentar, Non. Mereka baru saja memindahkan tuan." bi Ita memeluknya.
"Semua ini salahku. Semua terjadi karena kesalahanku." Cleo terus saja menangis dan menyalahkan dirinya.
"Keluarga tuan Adam Winata?" panggim perawat dari depan pintu.
"Saya, Sus!" Cleo segera berdiri dan menghampirinya.
"Dokter ingin berbicara dengan anda." ucapnya. Cleo ikut ke dalam, suster memintanya untuk memakai jubah steril.
"Dok, ini keluarga pasien Adam." Vincent mengangkat kepalanya. Dia menatap lekat gadis muda yang berdiri di depannya. Wajahnya terlihat berantakan, matanya sembab, dan hidungnya memerah.
"Bagaimana kondisi ayah saya, Dok?" tanya Cleo yang sudah duduk. Vincent bukannya menjawab, dia malah menyodorkan tissu pada Cleo.
"Bersihkan dulu wajahmu." Cleo mengamb tissu itu dan menyeka airmatanya dan juga hidungnya.
"Apa yang akan saya sampaikan adalah kabar yang tidak baik. Saya tahu selama ini kamu tidak mengetahui apapun tentang penyakit yang diderita ayahmu." Cleo menatap ke arah Vincent.
"Ayah saya sakit apa?" tanyanya. Vincent terlihat mengambil napas dalam. Dia menatap iba pada Cleo, Vincent tahu ini akan menjadi kabar yang sangat menyedihkan untuknya.
"Ayahmu mengidap kanker paru stadium akhir." mendengar itu, Cleo sangat syok.
"K-kan-ker?" ulangnya.
"Iya. Saya adalah dokter yang menangganinya selama ini. Dan, tadi dia mengalami serangan jantung. Ini semakin memperburuk kondisinya." jelasnya. Cleo tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"I-itu nggak mungkin. Selama ini ayah baik-baik saja." Cleo kembali menangis.
"Kami sudah melakukan yang terbaik, tapi saat ini dia masih belum sadarkan diri." ucap Vincent. " Ayo, kita kunjungi ayahmu!" Vincent berdiri dan membantu Cleo. Dia membawa Cleo ke tempat Adam berada. Tangis Cleo kembali pecah saat melihat Adam terbaring lemah tak berdaya.
"Ayaahh!!" Cleo memegang erat tangannya.
__ADS_1
~tbc