CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )

CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )
BAB 77


__ADS_3

"Apa kau tidak mendengarku?" Andreas mencengkam lengan Cleo, sebelum dia masuk ke departemen mereka.


"Maaf, Dok, tapi saya sedang sibuk." Cleo terpaksa berbicara sopan karena banyaknya karyawan maupun pengunjung yang lalu lalang di dekat mereka. "Apa yang anda lakukan?" Cleo protes saat Andreas menariknya menuju tangga darurat.


"Harusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan? Kenapa kau bersikap kasar pada pasien?" wajah Andreas memerah.


"Karena untukku dia bukan pasien." Andreas bisa melihat ketidaksukaan di wajah Cleo.


"Dia itu pasienku!" bentaknya.


"Lalu, apa urusannya denganku?" Cleo tidak terima Andreas memarahinya. "Kemarahanku bukan karena statusnya pasien di rumah sakit ini." belanya.


"Apapun alasannya! Tetap saja kau tidak bisa berlaku kasar pada pasien." Andreas tidak mau mendengar alasannya.


"Percuma bicara padamu!" Cleo membuka pintu dan bergegas keluar.


"Apa masalahnya dengan pasien itu?" Andreas bingung sendiri.


"Dok, Nyonya Mala ...." teriak Luna saat melihat Cleo yang baru masuk. Cleo bergegas berlari menuju ruangan pasien yang Luna maksud.


"Kamu sedang apa?" Andreas di kagetkan dengam keberadaan Yuda dan Olive.


"Apa yang kalian lakukan disini?" tanyanya.


"Harusnya kami yang bertanya begitu?" ucap Olive.


"A-aku?? Aku baru saja menerima telepon." Andreas mengambil ponsel yang ada disaku jasnya.


"Tumben banget kamu terima telepon di tangga darurat." jawab Olive.


"Sudahlah, lupakan saja! Kalian mau ke kemana?" Andrea mengalihkan pembicaraan.


"Makan." jawab Yuda.


"Aku ikut!!" Andreas berjalan mendahului mereka. Yuda dan Olive saling pandang, kemudian bergegas mengikuti rekannya itu.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Kau dari mana saja?" tanya Zia saat melihat Nayla bari saja pulang. Nayla berlalu begitu saja. "Ada apa, Nay? Kenapa wajahmu lesu begitu?" tanya Zia lagi. Nayla duduk disisi tempat tidurnya.


"Apa kau bisa pergi? Aku sangat letih." usirnya.


"Tapi kau ....?" Nayla berbaring membelakangi Zia. Dengan terpaksa Zia pergi meninggalkan Nayla. Setelah kepergian Zia, Nayla menangis tersedu-sedu. Dia meratapi nasib yang menimpanya saat ini. Tak lama, ponselnya berdering. Terlihat jelas ibu disana. Nayla mengabaikan panggilan dari Aisyah.


"Kenapa dia tidak menjawab panggilanku?" Aisyah terlihat gelisah.

__ADS_1


"Mungkin dia sedang bersenang-senang." jawab Pandu.


"Jangan memancingku! Aku yakin pasti dia sedang dalam masalah." Aisyah kembali khawatir. Dia mencoba menghubungi Nayla lagi.


"Bukankah putrimu memang pembuat masalah?" Aisyah meletakkan ponselnya dan menatap tajam pada Pandu.


"Apa maksudmu? Apa kau pikir putriku bukan anak baik? Kenapa kau selalu saja memandang buruk dirinya?" Aisyah mulai emosi.


"Aku mengatakan yang sebenarnya." Pandu berkata tanpa beban.


"Dia berubah karenamu. Karena kau tidak pernah menganggap dia sebagai anak. Kau selalu memprioritaskan anakmu saja." Aisyah juga tidak mau kalah.


"Aku selalu bersikap adil." jawabnya.


"Tidak. Kau tidak pernah peduli pada putriku. Jika kau peduli, maka kau akan meminta Sandra untuk memberinya pekerjaan. Kau bahkan memberi Sandra perusahaan, tapi kau tidak memberi apapun untuk Nayla." wajah Aisyah mulai memerah.


"Itu memang haknya! Aku hanya memberikan apa yang menjadi miliknya." jawab Pandu.


"Kalau aku tahu kau tidak punya apapun, aku tidak akan menikahimu." bukannya marah, Pandu malah terbahak. Aisyah terkejut dengan perilakunya.


"Akhirnya kau menunjukkan belangmu." Pandu tersenyum sinis. "Aku salah karena tertipu dengan sikap manismu." ucapnya. "Untung saja putriku lebih pintar darimu. Kau bahkan tidak bisa mendapatkan apapun yang kau mau." setelah mengatakan itu Pandu kembali tertawa. Aisyah yang emosi mendengarnya, mendorong kursi roda yang sedang dia duduki.


"Lebih baik kau tidak banyak bertingkah. Karena aku tidak akan diam saja, saat kau mengatakan hal buruk tentang putriku lagi." setelah mengatakan itu, Aisyah meninggalkan Pandu yang terbaring di lantai. Pandu berteriak memanggil-manggil perawatnya.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Hai!!" Cleo mendekat.


"Sudah pulang?" Cleo mengangguk. "Apa kita bisa bicara?" tanyanya.


"Mobilku?"


"Aku akan mengantarmu pulang." Cleo tidak bisa menolak. Dia berjalan menuju sisi pintu yang lain.


"Aku dengar kau baru dari Bali?" tanya Sandra sambil terus mengemudikan mobilnya.


"Apa Kiano yang mengatakannya padamu?" Cleo menoleh padanya.


"Begitulah!" jawabnya.


"Apa yang dia katakan?" tanya Cleo.


"Tidak banyak! Hanya mengenai pernikahanmu dengan buke cabul itu." mata Cleo membesar. "Jadi, bagaimana kalian bisa menikah?" tanyanya.


"Lebih baik kita makan dulu." ajak Cleo. Dia memang belum makan siang. Sandra menuju restoran cepat saji, dia segera memarkir mobilnya. Mereka berjalan bersama. Cleo memilih sofa yang ada di sudut ruangan. Setelah selesai dengan pesanan mereka, Sandra kembali mempertanyakan mengenai hubungan Cleo dan Andreas.

__ADS_1


"Jadi, benar dia suamimu?" tanyanya.


"Iya." jawabnya. "Ayah menjodohkan kami sebelum beliau meninggal." jelasnya.


"Takdir memang aneh ya! Padahal dulunya kalian saling benci. Malah kini, kalian dipersatuan dalam ikatan pernikahan." mereka berhenti, karena pelayan datang membawakan pesanan mereka. "Terima kasih." ucap Sandra.


"Pernikahan apa? Bahkan kami tidak saling menyukai. Gimana itu bisa disebut pernikahan?" Cleo segera memakan pasta yang dia pesan.


"Apa kau tidak punya perasaan padanya?" Cleo tersedak, dia buru-buru mengambil air mineral miliknya.


"Apa yang kau katakan?" tanyanya setelah dia tenang.


"Aku hanya ingin tahu perasaabmu padanya." Sandra tersenyum menggoda.


"Aku tidak mungkin menyukainya." jawab Cleo.


"Apa kau yakin?" godanya lagi.


"Tentu saja! Dia hanya gangguan di hidupku." jawabnya cepat.


"Kau tidak bisa berkata seperti itu. Apa kau lupa bahwa dia menolongmu saat insiden di tangga dulu?" Cleo meletakkan sendoknya. "Dia adalah dokter yang menangganimu." Cleo mengingat kejadian saat dia dilarikan ke IGD di rumah sakit itu.


"Tapi ....?"


"Takdir itu memang aneh ya. Dia menemukan jalannya sendiri." Sandra kembali tersenyum.


"Aku tidak akan pernah menyukainya." jawab Cleo dengan wajah merona. Sandra tahu apa yang Cleo rasakan.


"Kamu tinggal disini?" Sandra menoleh apartemen mewah yang ada di hadapannya.


"Bukan milikku, tapi dia." jawabnya. Awalnya Sandra ingin mengantar Cleo pulang. Tapi, karena Sandra sudah tahu mengenai dirinya, Cleo lebih memlilih untuk diantar ke apartemen Andreas.


"Tapi tetap saja, saat ini kau adalah istrinya." jawab Sandra. "Sudahlah, kalau begitu aku balik dulu." pamitnya. Cleo mengangguk dan melambaikan tangannya pada Cleo. Setelah Sandra pergi, Cleo masuk dan berjalan menuju lift.


"Sandra ada-ada saja! Aku menyukainya? Itu tidak mungkin." Cleo tersenyum sendiri. "Aku tidak mungkin menyukai pria kasar itu." Cleo galau, satu sisi dia menyukai kebaikan yang Andreas berikan padanya, tapi disisi lain dia benci dengan sikap Andreas yang arrogan.


"Apa dia sudah pulang?" Cleo masuk dan berjalan menuju kamarnya.


"Aauuww!! Sakit!! Pelan-pelan!" Cleo terkejut saat mendengar suara wanita berasal dari kamar Andreas.


"Tenanglah! Aku akan melakukannya dengan perlahan." jawab Andreas.


"Pelan-pelan!! Aaawww!!!" wajah Cleo memerah, jantungnya seakan berhenti saat mendengar teriakan wanita itu. Tidak tahan dengan apa yang dia dengar, Cleo belari menuju pintu keluar. Airmatanya mengalir begitu saja. Saatini dia hanya ingin pergi jauh dari tempat itu.


~tbc

__ADS_1


__ADS_2