
"Kau benar-benar tidak punya malu." amuk Andreas. Dia bahkan tidak peduli bahwa ada sopir disana. "Gimana bisa ksu memeluk pria lain saat ada aku disana? Aku semakin yakin alasanmu menikah denganku, pasti karena kelakuan burukmu ini." Cleo merasa malu, karena sopir itu sejak tadi melihat mereka melalui spion. "Siapa dia? Apa dia salah satu dari priamu?" Cleo masih tetap diam. "Apa kau tidak mendengarku?" Cleo menutup matanya, Andreas terlihat begitu kesal.
"Kita sudah sampai, Tuan." ucap sopir tadi. Cleo menoleh dan menatap hotel yang akan menjadi tempat mereka menginap selama tiga hari. Cleo turun dan menyeret kopernya ke dalam. Sementara Andreas masih disana untuk membayar jasa sopir taksi.
"Terima kasih, Tuan." Andreas mengangguk, dia melihat Cleo sudah masuk ke dalam. Dia bergegas menyusulnya.
"Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?" sapa karyawan hotel padanya.
"Saya sudah booking dari kemarin." Andreas menyerahkan tiket yang dia dapat dari orangtuanya. Setelah selesai memeriksa, karyawan hotel itu meminta salah satu temannya untuk mengantar mereka ke kamar. Andreas dan Cleo mengikuti mereka tanpa berkata apapun. Tidak seperti pasangan yang honeymoon pada umumnya, mereka lebih menjaga jarak dan bersikap asing satu sama lain.
"Ini kamar anda, Tuan." pegawai hotel itu membukakan pintu. Cleo segera masuk, sementara Andreas menyusulnya setelah terlebih dahulu memberi tips pada pegawai tadi.
"Disini hanya ada satu kasur, jadi kau tidur di sofa." Andreas menunjuk sofa panjang yang berada di dekat jendela. Cleo tidak menanggapinya, dia lebih memilih berjalan ke balkon dan menikmati laut dari atas sana. Andreas berbaring dan mulai memeriksa ponselnya.
"Mau kemana?" tanya Andreas saat melihat Cleo berjalan ke pintu keluar.
"Cari angin." jawabnya.
"Cari angin atau mau cari pria tadi?" Andreas bertanya tanpa menatapnya. Dia tetap sibuk dengan ponsel yang ada ditangannya. Entah apa yang dia lakukan, Cleo tidak tahu.
"Apa maksudmu?" tanya Cleo.
"Aku ragu kau disini karena mengikuti kemauan orangtuaku. Aku yakin pasti kau sengaja ingin bertemu dengan pria tadi." tuduhnya.
"Kalau kau tidak tahu apapun, lebih baik tutup mulutmu itu." Cleo mulai kesal. Tadi dia diam, karena tidak ingin membuat kehaduhan di depan publik.
"Cihh, apa yang tidak kutau? Aku sudah melihat semuanya." Andreas memandang rendah padanya.
"Kau salah. Bahkan, kau tidak tahu satulun tentangku. Kau hanya menilai dari apa yang kau lihat." jawabnya.
"Bukankah itu gunanya mata? Mataku tidak mungkin salah. Kau bukanlah wanita baik-baik. Entah sihir apa yang kau lakukan pada orangtuaku, sehingga mereka terpesona padamu." lagi dan lagi, Andreas selalu mengatakan yang sama. Membuat hati Cleo terluka.
"Yah, seperti katamu. Aku memang melakukan sesuatu hingga orangtuamu percaya padaku." mata Andreas membelalak. "Dan akan kupastikan, aku akan mengurungmu dalam sihir yang sama seumur hidupmu." setelah mengatakan itu Cleo segera berlari keluar.
"Dasar murahan! Berani-beraninya dia mengancamku." Andreas kesal, karena Cleo berani membalasnya.
__ADS_1
"Kau akan menyesal!" ucapnya.
Cleo berjalan tidak tentu arah. Dia menyusuri bibir pantai, hatinya begitu terluka. Dia tidak menyangka Andreas bisa sekasar itu padanya.
πππ
"Awas batu!!"
"Aagghhh!!" Cleo yang kaget berteriak saat mendengar peringatan itu. Dia mencari-cari batu yang ada dihadapannya tapi tidak ada satupun. Dengan kesal, diapun menoleh ke belakang.
"Kauuu!!!" geramnya saat mengetahui siapa yang ada dibelakangnya. Kai tertawa lebar. Dia senang karena berhasil mengerjai Cleo. "Awas kau ya!!" Cleo berlari mengejarnya. Kai yang meluhat itu segera berlari untuk menyelamatkan diri. Setelah letih berkejar-kejaran, mereka duduk di bawah pohon kelapa. Kai terus saja memperhatikan Cleo.
"Ada apa?" tanya Kai.
"Tidak." Cleo terus mengerakkan kayu yang ada ditangannya diatas pasir.
"Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Kai. Cleo mengangguk lemah. Kai tahu dia berbohong.
"Apa kau mengikutiku?" tanya Cleo.
"Menurutmu?" Cleo menoleh padanya.
"Kau tidak bisa membohongiku." jawabnya. "Apa dia menyakitimu?" Cleo kembali menggeleng.
"Aku saja tidak tahu, kehidupan seperti apa yang tengah kujalani saat ini." ucap Cleo.
"Aku tahu ini pasti berat. Kau bahkan baru mengenalnya." jawab Kai.
"Sejujurnya, aku bahkan tidak ingin mengenalnya." jawab Cleo. "Jika bukan karena ayah, aku mungkin ...."
"Aku tahu." Kai menatap lembut padanya, begitupun sebaliknya. "Kau melakukan ini demi paman, tapi kau juga harus memikirkan kebahagiaanmu. Jika dia tidak mampu membuatmu bahagia, kenapa kau harus bertahan dengannya?" ujarnya.
"Kai, aku hanya ingin melaksanakan amanat terakhir ayah. Aku mau ayah bahagia disana." Cleo menatap langit yang saat ini begitu cerah. Kai tahu, bahwa dia tidak akan bisa mengubah keputusan Cleo.
"Kalau begitu berusahalah! Jangan pernah biarkan dia menyakitimu. Aku tahu bahwa Cleo-ku tidak selemah itu." Kai memberi semangat padanya. "Kau ingin paman bahagiakan?" Cleo mengangguk. "Kalau begitu, tunjukkan padanya seperti apa putri paman. Kau bahkan bisa matahkan tangan pria brengsek yang menganggumu. Jangan jadi lemah!" Cleo merasa beruntung Kai selalu ada disisinya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu jika kalian tidak ada dihidupku." jawabnya dengan mata berbinar. "Aku beruntung memiliki kalian." Cleo menyandarkan kepalanya di bahu Kai.
"Andai kau tahu bagaimana perasaan kami padamu." Kai menatap lautan lepas yang ada di depan mereka.
πππ
"Kenapa denganmu?" sejak tadi Omar dibuat pusing melihat Kiano gelisah terus.
"Apa masih lama?" desaknya.
"Memangnya kau mau kemana?" tanya Omar.
"Aku harus menemui seseorang." jawabnya.
"Masih ada satu sesi lagi. Setelah itu kau free." jawabnya.
"Kalau begitu, ayo!" Kiano bergegas.
"Dia bahkan belum menyentuh makanannya. Entah apa yang dia pikirkan." Omar berlari mengejar Kian.
Satu jam setelahnya, Kaino bergegas memacu mobilnya menuju Giant Hospital. Begitu pemotretan selesai, dia bergegas pergi. Bahkan, dia sama sekali tidak mempedulikan omelan Omar.
"Kenapa Cleo tidak menjawab ponselnya?" Kiano terus saja menghubungi ponsel Cleo.
Cleo masih bersama dengan Kai di pantai, sementara ponselnya tertinggal di kamar. Andreas yang tertidur terbangun karena mendengar suara dari ponsel Cleo.
"Dimana dia? Kenapa dia meninggalkan ponselnya disana? Menganggu tidurku saja." Andreas yang kesal berjalan ke arah sofa dan mengambil ponsel itu. Dia melihat nama Kiano disana. "Tidak di rumah sakit ataupun disini, dia selalu saja mengangguku." dengan cepat dia mengeser tombol hijau.
"Hallo, Cle, kamu dimana? Sejak tadi aku berusaha menghubungimu." tanya Kiano, begitu melihat panggilannya terhubung.
"Kau mau apa?" tanya Andreas.
"Siapa kau? Kenapa ponsel Cleo ada padamu?" Kiano segera menepi begitu mendengar suara pria dari ponsel Cleo.
"Siapa aku bukan urusanmu. Jangan pernah menghubunginya lagi." jawabnya ketus.
__ADS_1
"Dimana Cleo? Hallo? Hallo?" Andreas sudah terlebih dahulu mematikan sambungan telepon itu. "Siapa dia?" Kiano masih terkejut, dia sama sekali tidak menyangka bahwa yang menjawab teleponnya seorang pria. Dengan cepat dia memacu mobilnya menuju Giant Hospital. "Aku harus bertemu dengannya."
~tbc