CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )

CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )
BAB 61


__ADS_3

"Lebih baik aku menghindarinya." batin Cleo, mereka masih saling tatap dalam diam.


"Kau ...."


"Ratu Cleopatra!!" mereka menoleh saat Raka masuk. "Malam, Dok!" sapa Raka saat melihat Andreas ada disana.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya.


"Hari ini saya shift malam." jawab Raka. "Dan, anda? Apa yang anda lakukan disini?" tanyanya.


"Apa aku harus melapor padamu apa saja yang sedang kulakukan?" Raka terdiam, Andreas menatap Cleo yang sejak kedatangan Raka memilih untuk menundukkan kepalanya. Setelah itu doa pergi dari sana.


"Apa yang salah dengannya?" tanya Raka, Cleo mengangkat bahunya. "Apa yang dia katakan padamu? Apa kalian bertengkar lagi?" Raka terus saja menanyainya.


"Apa kau tidak bisa diam? Aku bahkan bingung harus menjawab yang mana." Cleo menuju loker wanita.


"Tapi, Cle ....!" Raka terdiam saat Cleo tidak lagi terlihat.


"Kenapa aku selalu bertemu dengannya? Nggak di rumah ataupun disini. Padahal aku sudah berusaha menghindarinya." Cleo berganti pakaian dengan terus mengomel.


"Siapa yang anda hindari, Dok?" Cleo kaget karena Luna tiba-tiba muncul.


"Sejak kapan kamu disana?" tanya Cleo.


"Sejak dokter mulai mengomel." jawabnya jujur.


"Apa kamu mendengar semua?" tanyanya.


"Yups!" Luna mengangguk. "Jadi, siapa yang ingim dokter hindari?" tanya Luna.


"Bukan siapa-siapa." Cleo bergegas keluar dari ruang ganti. "Untung saja aku tidak menyebutkan namanya." Cleo terlihat lega.


🌼🌼


"Kau benar nggak mau ikut?" tanya Nayla saat melihat Zia masih tidur-tiduran.


"Aku banyak pekerjaan." jawab Zia.


"Kalau begitu aku pergi dulu!" jawabnya.


"Hati-hati! Jangam sampai kejadian kemarin menimpamu." Zia mengingatkannya.


"Ok." Nayla memasang jaketnya dan keluar dari kosan itu. Dia menyusuri gang yang ada disana, kemudian menghentikan taksi yang melintas di depannya.


"Jalan, Pak!" ucapnya setelah memberitahu alamat yang dia tuju.


"Aku harap bisa bertemu dengannya lagi. Sudah beberapa hari dia tidak terlihat di butik tuan Gilang." Nayla memandang jalanan ibukota.


"Kita sudah sampai, Nona." sopir taksi membuyarkan lamunannya. Nayla membayar dan segera keluar. Dia memasuki club malam yang biasa dia kunjungi.


"Aku harao bisa bertemu dengannya." ucap Nayla. Dia sengaja datang drngan maksud bisa bertemu dengan Andreas. Selama beberapa hari ini, Pria itu selalu membuatnya tidak konsentrasi. "Dimana dia?" Nayla mencari keberadaan Andreas, tapi dia tidak tampak dimanapun.


"Ayolah!" Olive memaksa Andreas agar ikut dengan mereka.


"Kalian saja yang pergi, aku sedang malas!" tolaknya.


"Nggak asyik kalau cuma kita berdua." Olive bergelayutan dilengannya.


"Aku benar-benar tidak ingin pergi." Andreas tetap pada keputusannya.


"Baiklah! kalau kamu nggak pergi, aku juga gak jadi pergi." Olive berpura-pura ngambek.


"Ya sudah, Ayo!" ajaknya. Olive tersenyum puas, mereka berjalan bersama keluar dari ruangan Andreas.


"Apa kopimu manis?" tanya Raka pada Cleo. Mereka baru saja dari kantin yang ada di lantai 3.


"Tidak juga." jawab Cleo.

__ADS_1


"TING!" pintu lift terbuka. Cleo kaget saat melihat Andreas ada disana.


"Malam, Dok." sapa mereka pada ketiga dokter senior itu.


"Malam." Yuda yang menjawab. Cleo dan Raka masuk, mereka berdiri di belakang.


"Aku nggak bawa mobil. Aku ikut denganmu ya?" Olive sengaja bergelayut mesra dilengan Andreas. Cleo yang melihat semua itu memilih untuk mengabaikan mereka.


"Tentu saja." Andreas menatap Cleo dari pantulan lift.


"TING." pintu kembali terbuka.


"Permisi, Dok." ucap Raka, mereka keluar. Cleo sama sekali tidak melihat pada Andreas dan Olive. Sementara Andreas menatap tajam ke arahnya.


"Dia sangat cantik." ucap Yuda begitu mereka keluar.


"Siapa yang kau maksud?" tanya Olive.


"Dokter magang, Cassano!" jawabnya cepat.


"Cantik dari mana? Kurus begitu!" ledek Olive, Andreas tidak mempedulikan obrolan mereka. Mereka berjalan menuju parkiran. Andreas yang mengemudi, Olive duduk disebelahnya.


"Apa menurutmu dia cantik?" Tanya Olive padanya.


"Siapa?" tanya Andreas.


"Dokter magang di departemenmu." jawab Olive.


"Entahlah!" hanya itu yang bisa dia katakan.


"Kamu jangan tanya dia. Baginya hanya ada satu wanita cantik di dunia ini. Dan, sudah pasti itu bukan dirimu." timpal Yuda.


"Tutup mulutmu!" Olive terlihat kesal.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Sudah tidak apa-apa." Raka duduk disebelahnya. "Apa kau tidak mengantuk?" tanya Raka.


"Tidak." Cleo kembali memeriksa berkas pasien.


"Enak banget ya jadi dokter senior." ujar Raka.


"Memangnya kenapa?"


"Apa kau tahu? Mereka tadi pasti pergi bersenang-senang." jawabnya. "Mereka sangat tahu bagaimana menikmati hidup." lanjutnya.


"Memangnya kau tahu mereka akan kemana?" tanya Cleo.


"Club!" Cleo terkejut.


"Memangnya kau tidak tahu?" Cleo menggeleng. "Menurutku sih itu wajar, setelah seharian berjibaku dengan nyawa pasien, mereka juga butuh sarana untuk melepaskan penat." ujarnya. "Tapi kalau clubing dengan dokter seseksi dokter Olive, siapa saja pasti mau." Raka tertawa.


"Jadi kamu cemburu nggak diajakin?" timpal Luna yang sejak tadi mendengar pembicaraan mereka.


"Ngapain? Dokter Olive itu milik dokter Cassano. Aku mah maunya sama kamu aja." Raka mendekat pada Luna.


"Itu nggak mungkin! Hanya foto wanita itu yang ada di kamarnya." ucapnya.


"Dok, ada yang mencari." tegur Elia.


"Siapa?" tanyanya.


"Lagi nungguin di depan." ucapnya.


"Ka, aku nitip pasien ya!" ucapnya pada Raka.


"Mau kemana?" tanya Raka.

__ADS_1


"Ke depan." jawabnya, lalu bergegas keluar.


"Kian!!" panggilnya. "Kamu kenapa disini?" tanyanya.


"Aku bawain ini." Kiano mengangkat kotak pizza yang ada ditangannya.


"Banyak banget!" Cleo terkejut melihat 4 kotak pizza yang Kiano sodorkan.


"Gak apa-apa. Sekalian buat teman-teman yang lain." jawabnya, Cleo menerima itu.


"Makasih ya." ucapnya.


"Kalau gitu aku pulang dulu." ucap Kian.


"Jadi kamu kesini cuma mau bawain ini?" tanya Cleo.


"Iya." Cleo tidak bisa melihat senyuman di wajah Kian, Karena pria itu masih menggunakan masker. "Aku balik ya!" Kiano melambaikan tangan padanya, Cleo membalas lambaian itu.


"Siapa, Dok? Pacar ya?" Cleo kaget karena Luna tiba-tiba muncul di belakangnya.


"Kamu ini suka banget ngagetin orang." Cleo kembali masuk.


"Tapi, aku kok familiar ya sama matanya?" ucap Luna.


"Asal aja." jawab Cleo.


"Berarti benar ya itu pacar dokter?" cecar Luna.


"Pacar siapa?" tanya Raka.


"Pacar dokter Cleo barusan datang." ucap Luna. Cleo meletakkan pizza itu diatas meja.


"Wah, pizza!!" teriak Raka. "Kebetulan sekali perutku lapar banget." Raka memegan perutnya. "Ini boleh dimakan gak?" tanya Raka.


"Makan aja! Kalau perlu habisin." ucap Cleo. Raka segera membuka kotak itu dan mulai mengambil potongan pizza. Begitupun dengan yang lain.


"Wah, asyik nih kalau pacar dokter royal begini. Bisa kenyang perut kita tiap malam." canda Luna.


"Apaan sih, Na?" ucap Cleo.


"Tapi, benaran loh, Dok. Aku rasa pernah lihat mata pacar dokter itu." jawab Luna. "Namanya siapa sih, Dok?" Luna masih saja kepo.


"Dia itu temanku, namanya Kiano." jawab Cleo.


"Kiano??? Kiano Devandra?" tebak Luna.


"Kok kamu bisa tahu?" Cleo terlihat bingung.


"Yang artis itukan?" tanya Elia.


"Artis?" Cleo semakin bingung.


"Ini bukan, Dok?" Luna menunjukkan foto pria yang sangat Cleo kenal. Cleo mengangguk, karena itu adalah Kian.


"Astaga!! Kalau aku tahu tadi itu Kaino, aku pasti langsung minta foto." pekik Luna.


"Beneran, Lun?" Elia ikutan. Raka menoleh pada Cleo yang terlihat kebingungan.


"Kamu nggak tahu?" tanya Raka, Cleo menggeleng.


"Aku udah lama nggak ketemu dengannya." jawab Cleo.


"Dokter beruntung banget sih? Bisa kenal sama artis terkenal begitu. Mana cakep banget lagi." ujar Elia. Cleo kembali memperhatikan foto Kiano yang ada di ponsel Luna.


"Itu sebabnya dia selalu menggunakan masker?" bisik Cleo, sementara yang lain asyik membahas mengenai Kiano.


~tbc

__ADS_1


__ADS_2