CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )

CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )
BAB 41


__ADS_3

"Benarkah dia si bocah ingusan?" Andreas masih melamun. Dia mengingat kembali pertemuannya dengan Cleo 5 tahun yang lalu.


"Dok ....?" sudah 2 kali perawat memanggilnya, tapi Andreas masih saja melamun. "Dokter ....?" ulangnya sambil menyentuh bahu Andreas.


"Iya?" dia terkejut. Perawat itu mengarahkan pandangan pada pasien yang duduk di hadapannya.


"Oh, iya!! Maafkan saya!" ucapnya pada pasien.


"Tidak apa-apa, Dok." mereka tersenyum. Andreas melanjutkan kembali penjelasannya.


"Apa masih ada?" tanyanya pada perawat yang menemaninya.


"Sekitar 10 orang, Dok." jawabnya setelah memeriksa komputer.


"Aku pikir tadi pasien terakhir." dia mengusap wajahnya. Perawat itu tersenyum geli melihat sikapnya yang berbeda. "Ya udah, panggil pasien selanjutnya." mereka melanjutkan kembali pemeriksaan pasiennya


"Kenapa, Dok? Apa ada masalah?" tanya Desmi karena melihat Cleo lebih banyak diam.


"Tidak." jawabnya. "Gimana tekanan darah nyonya Lita?" tanyanya.


"Masih 170/100, Dok." jawab Desmi.


"Djj?" tanyanya lagi.


"126 kali permenit, Dok." jawabnya.


"Semoga saja tekanan darahnya segera turun." ujar Cleo, Desmi mengiyakan.


"Dok, pasien nyonya Wina mengalami sudah bukaan lengkap." lapor perawat yang bertugas di ruang bersalin.


"Hubungi Dokter Casanno." ucap Cleo sebelum berlari ke ruang bersalin. Desmi segera menghubungi nomor Andreas.


"Gimana?" tanya Cleo.


"Lengkap, Dok." jawab perawat.


"Siapkan alat." Cleo dan perawat yang bertugas mulai menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan sebelum Andreas datang. Tak lama kemudian, Andreas datang. Dan, seperti biasa perawat yang bertugas membantunya untuk memakai baju pelindung. Dia menoleh sesaat pada Cleo yang berdiri di sebelahnya.


"Dimana Raka?" tanyanya sambil terus membantu persalinan.


"Di ruangan pasien." jawab Cleo. Mereka kembali fokus dengan pasien. Dan, tak lama terdengar tangisan bayi di ruangan itu. Cleo menyerahkan bayi pada sang ibu untuk melakukan Inisiasi Menyusu Dini, setelah itu dia kembali berdiri di sisi Andreas.


"Kau ikut denganku." ucapnya setelah mereka selesai dengan pasien.


"Mau apa lagi dia?" gerutu Cleo, tapi dia tetap mengikuti Andreas.


"Dok, kalian mau kemana?" tanya Raka saat melihat mereka berjalan menuju pintu keluar.


"Aku ada sedikit urusan dengannya. Kalau ada apa-apa hubungi aku." pesannya. Kemudian mereka keluar dan menuju lift.


"Ada masalah apa lagi?" tanya Raka pada yang lain.


"Nggak tahu!" jawab Luna.


"Biarkan saja, mungkin ada yang harus mereka selesaikan." ujar Desmi.


Selama di dalam lift, Cleo terus memperhatikan Andreas.


"Jangan memandangku seperti itu, kau bisa jatuh hati padaku." ucap Andreas tanpa melihat ke arahnya.


"Cih, nggak akan pernah!" jawabnya. Pintu lift terbuka, mereka segera keluar. Andreas membawanya menuju atap rumah sakit.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Kenapa kita kesini?" tanya Cleo.


"Kita harus bicara." jawabnya.


"Apa nggak ada tempat lain?" Cleo terlihat tidak menyukai tempat mereka sekarang.

__ADS_1


"Disini lebih aman, tidak akan ada yang mendengar pembicaraan kita." jawabnya.


"Tapi, disini sangat panas." potongnya.


"Sejak kapan kau peduli dengan teriknya matahari? Bukankah dulu kau sangat suka mengendarai motor di bawah terik mentari?" tanyanya.


"Itu dulu." jawab Cleo. Dia sedikit terkejut, karena Andreas ternyata masih mengingatnya.


"Memang apa bedanya? Dulu dan sekarang sama saja. Kau tetap saja bocah tengil dan ingusan." ledeknya.


"Kalau kau membawaku kesini hanya untuk mengolokku, lebih baik aku kembali ke ruangan." Saat Cleo akan pergi, Andreas mencengkram lengannya.


"Kau tidak akan kemana-mana, sampai aku mengizinkanmu." ucapnya dengan sorot mata tajam.


"Kau tidak bisa memerintahku." sela Cleo. Dia berusaha melepaskan diri dari cengkaramannya.


"Aku bisa." jawabnya.


"Jangan mimpi, aku bukan siswa dan karyawanmu." Cleo terlihat kesal.


"Kau adalah calon istriku. Sudah tugasmu untuk mengikuti setiap ucapanku." Andreas mematap manik hitam pekat itu.


Masih calon, belum tentu jadi." jawabnya.


"Aku pastikan kalau pernikahan itu akan berlangsung. Dan, tugas pertamaku adalah mengajari mulutmu untuk berkata sopan padaku." mata Cleo membesar.


"Aku nggak butuh guru sepertimu." tolaknya tegas.


"Kalau begitu mulai saat ini , kau harus belajar mengikuti perintahku." ucapnya.


"Tidak akan pernah." Cleo sedikit mundur. "Jadi, apa yang ingin kau katakan?" tanyanya.


"Kenapa kau tidak mengatakan siapa dirimu?" Andreas tidak berhenti menatapnya.


"Untuk apa? Kita bukan teman." jawabnya ketus.


"Jika aku tahu kau adalah bocah ingusan, aku tidak akan mau menikah denganmu." Cleo terkejut. Dia nggak menyangka sebesar itu rasa benci yang dia punya.


"Kalau begitu, bagaimana jika kita menikah kontrak? Setelah satu tahun kita akan bercerai." Cleo membelalak mendengar ucapannya.


"Apa kau pikir pernikahan itu mainan?" Cleo terlihat tidak menyetujuinya.


"Lalu, apa kau ingin bersamaku seumur hidupmu?" tanyanya.


"sebenarnya, tidak." jawabnya cepat.


"Kalau begitu, kau setujui saja ideku. Setelah satu tahun kita akan bercerai. Dengan begitu tidak akan ada yang tersakiti." ujarnya, Cleo terdiam.


"Aku tidak bisa." jawabnya.


"Apa maksudmu?" Andreas terlihat bingung.


"Aku sudah berjanji pada Ayahku." ucapnya pelan.


"Itu gampang. Kau tinggal bilang saja kalau kita nggak cocok. Bereskan?" selanya.


"Nggak segampang itu." Cleo memandang ke arah langit.


"Apa kau menyukaiku?" tanyanya.


"Apa??? Kau gila! Itu nggak mungkin." Cleo membantahnya.


"Kalau begitu setuju saja dengan ideku." Andreas kembali memaksanya. "Kau tinggal bilang ke ayahmu, kalau kau tidak bisa mencintaiku." dia mengejar Cleo yang sudah berjalan menuju pintu keluar. "Kau dengar akukan?" Andreas menahannya.


"Aku tidak bisa!" teriak Cleo. "Aku harus mati dulu agar bisa menyampaikan semua itu pada ayahku." Andreas tertegun, Cleo membuka pintu dan berlari menuruni anak tangga.


"Dasar bule cabul, gak punya hati!!" makinya.


"BRUK!!"

__ADS_1


"Maaf!!" ucap Cleo.


"Dimana matamu?" Cleo menoleh pada wanita yang menggunakan seragam yang sama dengannya.


"Maaf, aku nggak sengaja." ucapnya lagi.


"Kau harusnya hati-hati. Ini rumah sakit, tapi kau malah berlarian seperti di hutan. Dan, apa yang kau lakukan di atap siang-siang begini?" wanita itu tidak berhenti mengomel.


"Maaf, tapi itu bukan urusan anda." Cleo menjawabnya dengan ketus.


"Kau ....!? Dimana sopan santunmu?" Cleo melihat nama yang tertera di jasnya, Dokter Olivia, Sp.PD.


"Maafkan saya, Dok. Tapi, anda yang terlebih dahulu tidak sopan pada saya." Cleo tidak takut meskipun dia spesialis.


"Kau ....?"


"Ada apa ini?" Andreas yang baru turun melihat keributan diantara mereka.


"Dokter Casanno? Kenapa kamu disini?" Olivia mendorong Cleo dengan tangannya dan segera menghampiri Andreas.


"Ada apa?" tanyanya.


"Biasalah, Dok! Dokter muda yang sombong dan kurang didikan." jawab wanita itu, Andreas menatap Cleo.


"Kau tidak perlu hiraukan dia." ujar Andreas.


"Gimana kalau kita makan siang bareng?" Olivia memegang lengannya.


"Tentu saja! Aku mana mungkin menolak ajakan wanita cantik sepertimu." Olivia terlihat bahagia saat Andreas memujinya.


"Minggir!!" ucap Olivia pada Cleo. Andreas hanya melirik padanya. Mereka menuju lift dan menghilang di balik pintu lift.


"Dasar bule cabul!!" Cleo bergegas menuju lift juga, dia harus segera kembali ke lantai 1.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Dok, apa kau mengenal wanita tadi?" tanya Olive saat mereka berada di dalam lift.


"Dia dokter baru di departemenku." jawabnya. Andreas melepaskan tangan Olive darinya.


"Benarkah? Kau harus terus mengajarinya. Dia sangat tidak sopan. Bahkan dia berani melawanku." dia merengek padanya.


"Tidak perlu dipikirkan, dia memang seperti itu." pintu lift terbuka, mereka keluar dan berjalan menunu kantin.


"Hi, Bro!!" Yuda datang dan bergabung di meja mereka.


"Apa yang kau lakukan disini?" Olive kesal karena Yuda menganggu mereka berdua.


"Oppss!! Sorry cantik! Aku hanya merindukan sahabat terbaikku." Yuda menatap Andreas yang duduk di hadapannya.


"Apa maumu?" tanyanya.


"Aku mau ...." ucapannya terhenti saat melihat Cleo masuk bersama Raka.


"Siapa dia?" tanya Yuda tanoa mengalihkan pandangan dari Cleo.


"Dia itu ,dokter baru di departemen dokter Casanno." jawab Olive.


"Benarkah?" Yuda meminta jawaban darinya. "Kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku?" dia menatap Andreas.


"Untuk apa?" Andreas terlihat cuek.


"Wanita secantik itu mau kau makan sendiri? Seharusnya, kau berbagi dengan sahabatmu ini." ucapnya.


"Kau boleh ambil. Aku nggak tertarik padanya." Andreas mencuri pandang ke arah Cleo yang sedang tertawa bersama Raka.


"Dia bersikap ramah pada pria lain." Andreas terlihat samgat kesal menyaksikan Cleo tertawa bersama Raka.


~tbc

__ADS_1


🌹Slow Update ya!!! Lagi rempong ungurusin bocil yang lagi pada sakit.πŸ™πŸ™


__ADS_2