CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )

CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )
BAB 38


__ADS_3

"Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Desmi pada Rakanyang terlihat lemas.


"Huft! Dia mulai bertingkah lagi." Raka mengacak-acak rambutnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Desmi lagi.


"Aku harus lembur 3 malam." dia mengangkat tiga buah jarinya.


"Sabar aja! Kamu tahu gimana dokter Casanno." hiburnya.


"Rasanya ingin aku belah aja mulutnya." Raka membuat ekspresi seolah ingin menyobek mulut seseorang.


"Kenapa?" Cleo yang baru datang, bingung melihat tampang Raka yang sudah amburadul.


"Biasalah! Dokter Raka dapat hadiah dari Dokter Cassano, Dok." lapor Luna.


"Hadiah? Maksudnya?" Raka tidak mengatakan apapun, dia sibuk memeriksa laporan pasien.


"Iya, dapat tambahan jatah dinas malam selama 3 hari." bisik Luna, saat Raka melotot padanya.


"Kok bisa? Apa dia menghukummu karena masalah tadi?" Cleo berdiri di hadapan Raka. "Kenapa diam?" tanyanya.


"Sudahlah, Dok. Aku nggak mau bermasalah dengannya lagi." Raka menolak memberitahu Cleo. Raka berjalan menuju salah satu ruangan pasien.


"Dokter Cassano memang seperti itu, Dok. Dia nggak suka jika kita mengambil alih tugasnya tanpa seizin darinya." Desmi menjelaskan seperti apa dia.


"Tapi, situasi saat itu ibu tau sendiri." sela Cleo.


"Beliau nggak akan peduli, Dok. Jika dia minta kita untuk menunggu, kita harus mengikuti perintahnya." lanjut Desmi.


"Apa-apaan dia? Keselamatan pasien itu yang utama. Salah dia sendiri, kenapa datangnya telat." Cleo terlihat emosi.


"Sudah! Abaikan saja, Dok." ucap Desmi. Cleo masih diam, dia tidak suka dengan sikap Cassano yang tidak bertanggung jawab.


"Dok, tolong istri saya!" Cleo menoleh saat salah seorang keluarga pasien memanggilnya. Cleo segera berlari menuju ruangan itu.


"Hubungi, Dokter Casanno." perintahnya pada Luna, setelah selesai memeriksa pasiennya. Luna segera menghubunginya. Andreas yang sedang istirahat di ruangannya. Dia bergegas turun ke lantai 1.


"Gimana?" tanya begitu sampai. Luna memberikan sarung tangan steril padanya, kemudian membantu memakaikan baju pelindung. Cleo berpindah dari tempatnya ke sebelah pasien.


"Pembukaan sudah lengkap." lapornya. Andreas menoleh padanya, kemudian kembali fokus pada pasien yang sedang kesakitan. Andreas meminta gunting, kemudian dia menggunting perineum pasien, agar kepala bayi bisa keluar lebih mudah. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya terdengar tangisan bayi di ruangan itu. Setelah semua selesai, Andreas keluar dan duduk di nurse station. Dia mulai mengisi status pasien.


"Dokter, tunggu!" Cleo mencegahnya saat melihat Andreas akan pergi. Andreas berbalil dan menatap tajam ke arahnya.


"Ada apa?" tanyanya.


"Kita harus bicara." jawabnya.


"Apa yang ingin kau katakan?" tanyanya begitu mereka sampai di ruangan dokter.


"Anda tidak bisa menghukum orang lain, atas kesalahan anda sendiri." Andreas kembali menatapnya dengan tajam.


"Siapa yang kau maksud?" tanyanya.


"Raka. Dia tidak melakukan kesalahan apapun. Jadi, anda tidak bisa menghukumnya begitu saja." belanya.


"Lalu, apa aku harus menghukummu?" Cleo terdiam, Andreas mendekat ke arahnya, Cleo mundur perlahan.


"Bukan kami yang salah, tapi anda." bukannya takut, Cleo malah semakin berani.


"Aku?" Andreas menunjuk dirinya.


"Jika anda tidak terlambat, mungkin bayi itu akan lahir ditangan anda." jawabnya.


"Siapa atasanmu?" tanyanya. Sorot matanya seolah ingin menelan Cleo hidup-hidup.


"Anda." jawabnya.


"Lalu, kenapa kau tidak mengikuti perintah atasanmu?" jarak mereka begitu dekat.


"Karena anda memberikan perintah yang salah." Cleo tidak peduli sekalipun dia atasannya.


"Aku tidak pernah salah. Kau yang tidak mendengarkan." Andreas benar-benar memangkas jarak diantara mereka. Cleo tidak lagi bisa mundur, karena hanya ada dinding di belakangnya. "Jadi, apa kau akan mendengarkanku?" Andreas membungkuk dan berbisik di telinganya.


"Jika perintahmu salah, maka aku tetap pada pendirianku." Cleo mendorongnya dan segera keluar dari ruangan itu. Andreas terus menatapnya hingga dia menghilang di balik pintu.

__ADS_1


"Dasar wanita keras kepala." gumamnya.


"Apa-apaan dia?" Cleo memegang dadanya. "Dia pikir semua orang akan diam saja dan mengikuti kemauannya." gerutunya.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Dokter Cleo!" Cleo menoleh dan melihat Vincent sedang berjalan ke arahnya. "Apa yang kamu lakukan disini?" tanyanya.


"Saya baru dari ruangan dokter Cassano, Dok." Vincent menoleh ke arah ruangan putranya.


"Jadi, kamu sudah bertemu dengannya?" tanyanya lagi.


"Iya. Dan, aku bingung Dok. Apakah semua dokter disini sesombong dan seangkuh dirinya?" Vincent tersenyum.


"Apa dia membuatmu dalam masalah?"


"Bertemu dengannya adalah masalah terbesar dalam hidupku, Dok." Cleo terlihat begitu kesal.


"Bagaimana kalau kita duduk disana?" Vincent menunjuk taman yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Baiklah!" Mereka berjalan menuju taman itu. Tak ramai orang disana. Hanya beberapa pasien ataupun keluarga pasien yang ada disana.


"Jadi, ada apa denganmu dan dokter angkuh itu?" Vincent yakin kalau dia belum tahu bahwa Andreas adalah putrannya. Cleo menceritakan apa yang terjadi, Vincent mendengarkannya dengan seksama.


"Apa menurut paman aku salah?" Cleo kembali bersikap seperti biasa, karena hanya ada mereka berdua disana.


"Tidak. Kau tidak salah. Dokter Casanno memang sedikit memiliki tempramen yang kasar. Tapi, sebenarnya dia pria yang baik." jawabnya.


"Aku tidak percaya itu." sela Cleo. "Kalau begitu aku balik dulu, Paman." Cleo berdiri.


"Cleo, tunggu!" Cleo menoleh padanya.


"Ada apa, Paman?"


"Apa nanti malam kau bisa ikut makan malam denganku?" tanyanya.


"Hanya kita?"


"Tidak. Keluargaku akan ikut bergabung." Vincent menunggu jawabannya.


"Apa yang ayah lakukan disini?" Andreas yang baru membuka pintu dikejutkan dengan keberadaan Vincent disana.


"Kita harus bicara." Vincent masuk begiti saja. Dengan terpaksa Andreas kembali duduk disana.


"Ada apa?" tanyanya.


"Luangkan waktumu malam ini." ucapnya.


"Untuk?"


"Aku sudah mengundang calon istrimu untuk makan malam bersama." mata Andreas membelalak.


"Aku belum setuju." jawabnya.


"Aku tidak menerima penolakkan." lanjutnya.


"Jangan paksa aku. Sudah kubilang kalau aku mencintai wanita lain." ujarnya.


"Jika kau tidak mau melakukannya demi diriku, maka lakukanlah demi mamamu " Andreas terdiam saat mendengar Vincent menyebutkan mamanya.


"Apa mama setuju?" tanyanya.


"Tentu saja. Wanita itu sangat baik, mamamu sangat menyukainya." jelasnya.


"Akan kupikirkan." Andreas tidak bisa menolak jika itu keinginan sang mama. Jasmine, dia begitu menyayangi sang ibu. Apalagi saat ini Jasmine sedang sakit. Jasmine mempunyai penyakit jantung, dan Andreas tidak akan mau mengambil resiko dengan menolak keinginannya.


"Palapa Hotel pukul 19.30 wib." sebelum pergi Vincent memberitahu tempat makan malam diadakan.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Maafkan aku, Raka. Karena aku, kamu kena hukuman." Cleo menemui Raka sebelum dia pulang.


"Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa." jawabnya.


"Kamu yakin?" tanyanya.

__ADS_1


"Iya. Sudahlah, kamu tidak perlu merasa bersalah. Aku bisa menangganinya." Raka meyakinkannya.


"Sekali lagi, maaf ya!" ucap Cleo. Raka mengangguk. Cleo mengambil tasny dan berjalan keluar dari ruangan khusus dokter. Cleo mendengar ponselnya berdering. Dia segera mengambil ponsel yang tersimpan dalam tas selempangnya.


"Hallo!" ucap Cleo saat menjawab panggilan video itu.


"Apa kabar sayang?" tanya suara pria dari seberang sana.


"Tidak baik." Cleo manyun.


"Itu wajah kenapa manyun begitu?" tanyanya.


"Aku lagi kesal." jawabnya.


"Kenapa? Apa karena merindukanku?" tanya pria itu lagi.


"Iya, aku sangat merindukanmu." Cleo tersenyum ceria.


"Aku juga sangat merindukanmu." jawab pria tadi. "Apa kamu sudah mau pulang?" tanyanya saat melihat Cleo berdiri di depan lift.


"Iya. Nanti kita lanjut ya! Love You!" setelah mendengar jawaban dari pria itu, Cleo mematikan ponselnya.


"Apa kau tidak punya malu? Menyatakan cintamu di depan umum?" Cleo menoleh ke belakang, dan melihat Andreas sedang menatap tajam ke arahnya.


"Apa yang salah dengan itu?" Cleo masuk saat pintu terbuka. Andreas mengikutinya.


"Kau pasti berpikiran bebas. Mengingat kau berasal dari London." ledeknya.


"Nggak ada larangan untuk mengungkapkan perasaan pada orang yang kita sayangi." jawabnya.


"Yah, kau benar! Tapi nggak di depan umum juga." Andreas kembali meledeknya.


"Itu terserah aku. Kenapa kau yang ribut?" Cleo menatap tajam ke arahnya.


"Baiklah, kau memang wanita keras kepala." Andreas segera keluar begitu mereka sampai di basement.


"Dasar bule cabul!" makinya pelan.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Apa dia akan datang?" tanya Jasmine pada Vincent.


"Aku yakin dia akan datang." jawabnya.


"Aku khawatir dia menolaknya. Aku nggak tega melihat Cleo bersedih." Jasmine sudah beberapa kali bertemu Cleo, saat Vincent membawanya ke London. Dia sangat menyukai pribadi Cleo. Karena itu, dia sangat berharap Cleo menjadi bagian dari keluarganya.


"Kamu nggak perlu khawatir. Aku yakin dia pasti datang." Vincent menenangkannya. "Nah, itu dia datang!" mereka melihat Andreas berjalan menuju ke meja mereka.


"Maaf, aku terlambat!" jawabnya. "Mama apa kabar?" Andreas memeluknya.


"Apa kau tidak punya waktu untuk mengunjungi mamamu?" Jasmine memukul lengannya.


"Maafkan aku, Ma! Akhir-akhir ini pekerjaanku sangat banyak." Andreas menggenggam tangannya sang ibu.


"Mama sehat?" tanyanya.


"Iya."


"Lalu, apa kita bisa mulai makan malam ini?" Andreas tidak melihat kehadiran wanita pilihan kedua orangtuanya.


"Tunggu sebentar!" Vincent mencegahnya saat melihat Andreas memindahkan hidangan yang telah mereka pesan ke piringnya.


"Apa yang papa tunggu?" dia terlihat kesal.


"Calon istrimu." Andreas meletakkan sendok dan garpu dari tangannya.


"Dia belum tentu menjadi istriku." sanggahnya.


"Aku sudah bilang kalau dia ...."


"Maaf, aku terlambat!" Andreas langsung menoleh saat mengenali suara itu.


"Kau ...?" ucapnya. Cleo menoleh dan dia juga terkejut.


"Kau? Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya. Mereka berdua menatap ke arah Vincent.

__ADS_1


~tbc


__ADS_2