CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )

CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )
BAB 32


__ADS_3

"Gimana? Apa sekarang lo baru percaya kata-kata gue?" Sandra mendekat dan berbisik padanya. Nayla tidak mengatakan apapun padanya.


"Apa arti semua ini?" Nayla masih sangat terkejut.


"Nayla, ibu bisa jelaskan?" Aisyah mendekat ke arahnya.


"Apa lagi yang ingin ibu jelaskan? Semua ini sudah cukup jelas untukku." Nayla berlari keluar dari rumah itu.


"Nay!! Nayla!!" Aisyah berusaha mengejarnya.


"Sayang, sudahlah!" Panji menahannya.


"Mas, aku harus menjelaskannya pada Nayla." Aisyah menangis.


"Nanti, kita akan menemuinya dan menjelaskan semua ini. Sekarang biarkan dia sendiri dulu." ucap Panji.


"Tapi, Mas ...?"


"Sudah." selanya.


"Cih!!" Sandra terlihat jijik melihat mereka.


"Apa semua ini perbuatanmu?" tuduh Aisyah saat melihat Sandra mencelanya.


"Kenapa kau menuduhku? Tanyakan sendiri pada anakmu dari mana dia tahu." jawabnya kasar.


"Sandraaa!!" teriak Panji. "Hormati ibumu!"


"Ibu?" jawabnya. "Dia bukan ibuku, tapi pelayan papa." Sandra naik ke kamarnya.


"Kamu nggak usah ambil hati kata-katanya." ucap Panji, Aisyah hanya bisa terdiam.


Nayla berlari sejauh mungkin dari kompleks perumahan Sandra. Hatinya hancur menyaksikan ibunya bermesraan dengan pria yang bukan suaminya. Semua kata-kata Sandra dan yang lain terngiang-ngiang di telinganya.


"Kenapa ibu melakukan semua ini?" tanya dalam tangis. Dia tidak mempedulikan pandangan orang yang melihat kondisinya saat ini.


"Nayla!" Cleo yang sedang dalam perjalanan pulang melihat Nayla berlari seperti orang yang tidak tentu arah.


"Pak, tolong ikuti dia!" ucapnya pada pak Karyo.


"Baik, Non." Karyo mengejar Nayla, dan segera menghentikan mobilnya saat melihat Nayla terdiam di halte bus.


"Nay! Kamu kenapa?" Nayla mengangkat kepalanya dan melihat Cleo berdiri di depannya.


"Mau apa, Lo?" Cleo masih bisa melihat sisa airmata di pipinya.


"Kamu kenapa?" Cleo mencoba menyentuhnya tapi Nayla menepis tangan Cleo.


"Jangan sentuh gue!" bentaknya.


"Aku hanya ingin membantumu." jawab Cleo.


"Nggak usah pura-pura baik. Gue tahu lo sama jahatnya dengan mereka." tolaknya.


"Siapa yang kamu maksud?" tanya Cleo.


"Teman barumu. Kalian pasti sengaja melakukan ini padaku. Apa sekarang lo puas? Lo pasti tau'kan tentang semua ini?" Nayla tidak dapat mengontrol emosinya.


"Aku tidak mengerti maksudmu." jawabnya.

__ADS_1


"Kalian pasti selalu menertawakan gue dan ibu gue. Kalian benar-benar kejam. Terlebih lo! Gue akhirnya tau orang seperti apa diri lo." ucapnya.


"Maafin aku, Nay! Tapi, aku tidak mungkin memberitahumu tentang itu. Itu sama saja akan melukai hatimu." akhirnya Cleo tahu apa yang membuat Nayla marah.


"Cih!!! Nggak usah sok peduli perasaan gue. Orang seperti lo nggak akan mengerti. Gue yakin lo ngelakuin itu untuk membalaskan sakit hati sahabat lo." Nayla kesal.


"Nay, bukan kamu saja yang terluka. Sandra yang lebih terluka. Karena ibumu, orangtuanya harus bercerai. Harusnya kamu merasa iba padanya, bukan malah menyalahkannya terus-terusan." jawab Cleo.


"Oh, jadi sekarang lo jadi pahlawannya?" Nayla semakin marah saat mendengar Cleo membela Sandra.


"Aku tidak membelanya. Tapi, menurutku kamu gak pantas nyalahin Sandra terus setelah apa yang dia alami." jawab Cleo.


"Kalau begitu akan gue pastikan sahabat lo menderita seumur hidupnya. Gue akan balas apa yang telah dia lakuin ke gue dulu." ancamnya.


"Apa maksudmu?" tanyanya.


"Lo bilang, dia menderita karena ibu gue. Jadi, akan gue pastikan ucapan lo itu menjadi kenyataan. Bukan ibu gue yang akan membuatnya menderita, tapi gue." Cleo tertegun melihat perubahan yang terjadi pada Nayla.


"Aku nggak nyangka kamu bisa berpikiran seperti itu." ucap Cleo.


"Kenapa? Gue hanya membalas apa yang gue terima. Dan, lo? Apa kabar dengan ayah lo? Apa saat ini dia masih hidup?" ledeknya.


"Nayla!!" teriak Cleo.


"Kenapa? Apa sekarang lo mulai kasihan padanya? Bukannya lo benci banget sama ayah lo? Kalau dia tiada bukankah itu lebih baik?"


"PLAAKK!!" Cleo menamparnya. Wajahnya memerah, dan menatap tajam Nayla.


"Gue nyesal pernah menganggap lo teman." suara Cleo terdengar bergetar.


"Gue nggak pernah minta lo buat jadi teman gue. Lo yang sok baik datang ke hidup gue." Naylapun tak kalah marah.


"Gue rasa hubungan kita berakhir disini." ucap Cleo, dia kemudian meninggalkan Nayla seorang diri.


Cleo melihat ponsel yang dia pegang sedang berdering.


"Halo, Bi?" ucapnya saat tahu yang menghubunginya adalah bi Ita.


"Nona dimana? Sudah sampai di rumah?" tanyanya.


"Belum, Bi. Ada apa? Apa ayah baik-baik saja?" tanya Cleo.


"T-tuan sudah membuka mata, Non." lapornya.


"Benarkah? Aku segera kesana." Cleo terlihat senang.


"Pak, kita balik ke rumah sakit ya." ucap Cleo begitu masuk ke mobil.


"Baik, Non." Mobil Cleo melintas di depan Nayla, tapi Cleo tidak lagi menoleh sama sekali. Hatinya terlanjur sakit medengar kata-kata Nayla tentang ayahnya.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Ayah!!" Cleo melihat Adam yang sudah membuka kedua matanya. Dia berlari dan langsung memeluk sebagian tubuh Adam. "Aku senang ayah sudah sadar." ucapnya sambil meneteskan airmata. Adam hanya bisa menitikkan airmata, dia belum bisa berbicara karena masih menggunakan masker oksigen.


"Kamu sudah disini?" tanya Vincent yang baru masuk ke bilik Adam.


"Gimana kondisi ayah?" tanya Cleo.


"Syukurlah, ayahmu sudah berangsur membaik. Tapi, untuk sementara dia masih harus di rawat disini. Kami harus memantau perkembangannya." Cleo mengangguk setuju.

__ADS_1


"Paman, lakukan saja! Aku hanya ingin ayah segera sembuh." Cleo menatap Adam dengan penuh kasih.


"Lihatlah! Kau beruntung mempunyai putri seperti ini." puji Vincent, Adam mencoba tersenyum.


"Nanti kita lakukan tes lagi. Kamu tidak perlu khawatir, kita akan melakukan yang terbaik untuknya." ucap Vincent sebelum pergi.


"Ayah dengar? Ayah harus semangat. Aku yakin ayah pasti akan sembuh." Cleo memegang tangan yang selama ini dia dambakan. Adam kembali menitikkan airmata.


Tak berapa lama, dua orang perawat datang untuk membawa Adam melalukan serangkaian pemeriksaan. Cleo dengan setian menemani Adam.


"Syukurlah! Mulai saat ini aku tidak akan pernah menyakiti ayah lagi." ucapnya saat berada di depan ruang tunggu.


"Alhamdulillah, Non, akhirnya tuan sadar." ucap bi Ita padanya.


"Iya, Bi!" balasnya.


"Tapi, kenapa gak jadi pulang?" bi Ita baru sadar kalau baju yang Cleo gunakan masih yang kemarin.


"Oh, ini, tadi aku ada sedikit urusan." bohongnya. "Bi, sepertinya aku nggak akan pulang. Bibi bisa tolong bawain beberapa pakaianku. Aku rasa aku akan mengambil kamar untuk ayah nanti. Jadi, aku bisa mandi dan bertukar pakaian disana." ucapnya.


"Tentu saja." bi Ita mengerti, dan dia segera meninggalkan Cleo.


πŸ€πŸ€πŸ€


Aisyah pulang dan melihat kondisi rumah dalam keadaan gelap. Dia membuka pintu dan menghidupkan lampu. Aisyah berjalan menuju kamar Nayla. Tapi, tak tampak keberadaan Nayla disana.


"KREEK!" dia menoleh saat mendengar suara pintu terbuka.


"Sayang!" dia berjalan mendekat ke arah Nayla. "Kita harus bicara!" Aisyah mencegah Nayla.


"Apa yang ingin ibu katakan?" tanya Nayla. Dia duduk di atas karpet diikuti dengan Aisyah.


"Nay, ibu melakukan semua ini demi kamu." jawabnya.


"Jangan jadikan aku alasan untuk dosa ibu." ucapnya ketus.


"Ibu ingin kamu hidup senang, kamu bisa kuliah dan meraih cita-citamu tanpa perlu bersusah payah." jelasnya. Nayla yang semula tidak mau menatapnya sekarang menoleh pada ibunya.


"Tapi, kenapa harus menjadi simpanan pria yang sudah berisitri?" Nayla emosi.


"Mereka sudah bercerai. Bukan salah ibu jika dia mencintai ibu." Aisyah tidak terlihat merasa bersalah sama sekali.


"Tapi dia papanya Sandra. Ibu tahu sendiri gimana hubunganku dengannya?" ucapnya.


"Kamu nggak perlu memikirkannya. Yang penting saat ini kamu bisa tinggal di rumah mewah, dan melanjutkan sekolahmu." jawab Aisyah.


"Sejak kapan Ibu menjalin hubungan dengan om Panji?" tanyanya. Aisyah terdiam. "Jawab, Bu!" desaknya.


"Sejak kamu akan lulus SMP. Dia menawarkan ibu untuk memasukkanmu ke sekolah yang sama dengan Sandra." Nayla terkejut, dia sekarang paham kenapa Sandra yang semula sahabatnya bisa begitu membencinya.


"Ibu rela memberikan tubuh ibu hanya demi sekolahku? Apa ibu tidak peduli dengan apa yang aku hadapi setelahnya?" airmata Nayla mengalir mendengar semuanya.


"Apa maksudmu?" tanya Aisyah.


"Ibu membuatku menjadi korban bully Sandra dan teman-temannya. Selama ini aku nggak tahu apa salahku. Tapi, setelah mendengar semua ini aku tahu kenapa Sandra melakukan itu." Nayla terisak, sementara Aisyah terkejut mendengar apa yang dialami putrinya selama ini. "Ibu mau kemana?" tanyanya saat melihat Aisyah hendak keluar.


"Ibu harus menemui Sandra. Dia harus membayar atas apa yang telah dia lakukan padamu." jawabnya dengan mata merah menahan tangis.


"Itu tidak perlu! Aku tidak membutuhkan semua itu." Nayla mencegahnya.

__ADS_1


"Tapi ....?" Nayla berlari menuju kamarnya sebelum Aisyah melanjutkan ucapannya.


~tbc


__ADS_2