CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )

CLEO & CASSANO ( Love In Hospital )
BAB 60


__ADS_3

"Aku membencimu!!" Cleo memukul-mukul bantalnya. "Harusnya kau tidak pernah hadir dalam hidupku." Cleo menitikkan airmata. Dia menatap pada photo yang ada di atas nakasnya. Disana terlihat Adam yang sedang tersenyum sambil merangkulnya. Photo itu mereka ambil saat liburan musim dingin pertama mereka di London. Adam maupun Cleo begitu bahagia. "Apa ini membuat ayah bahagia? Aku melakukan semua ini demi ayah. Kuharap ayah bisa tenang disana." Cleo menghapus airmatanya.


"Drttt!!! Drttt!!" ponselnya bergetar, Cleo mengambilnya dan melihat nama Sandra disana.


"Hallo!!" ucapnya.


"Cle, kau dimana?" tanya Sandra.


"Rumah." jawabnya.


"Apa kau ada waktu?"


"Kenapa?"


"Jalan, Yuk! Udah lama kita nggak jalan bareng." ajak Sandra.


"Apa kau nggak kerja?" tanyanya.


"Ini weekend, Cle! Apa kau tidak ingat hari?" canda Sandra.


"Diamlah! Hari ini aku dinas malam." jawabnya.


"Aku akan menjemputmu." ucap Sandra.


"Tidak! Jangan!" tolak Cleo.


"Kenapa?" Sandra terdengar bingung.


"Aku bawa mobil. Jadi, kau tidak perlu menjemputku. Katakan saja kita bertemu dimana." jawabnya cepat.


"Puri Mall. Tempat biasa kita selalu nongkrong." ucapnya.


"Baiklah!" Cleo setuju. Satu jam kemudian, Cleo tiba di Puri Mall. Dia langsung menuju ke lantai 3, seperti pesan yang Sandra kirimkan.


"Cleo!!" Cleo menoleh ke kiri, dia mendapati Sandra beridiri di depan di salah satu cafe yang ada di Mall itu. Cleo menghampirinya.


"Apa kau sudah lama?" tanya Cleo.


"Lumayan!" jawabnya.


"Maaf, tadi aku ada sedikit urusan." jawab Cleo.


Sebenarnya dia terlambat karena harus menunggu Al keluar dari apartemen dulu. Dia tidak ingin bertemu ataupun berbicara dengan Al. Untung saja pria blesteran itu harus praktek pagi, jadi dia bisa pergi tanpa mengatakan apapun padanya.


"Apa kau sudah sarapan?" tanya Sandra, Cleo menggeleng. "Sebaiknya kita makan disini dulu." Sandra memgajaknya memasuki cafe itu.


"Cle, apa aku boleh menanyakan sesuatu?" ucapnya saat makan yang mereka pesan sudah tiba.


"Tentu saja." Cleo memasukkan sphagetti bolognase itu ke dalam mulutnya. Gara-gara Andreas, dia harus rela menahan lapar diperutnya.


"Ada hubungan apa kau dengan si bule cabul?"


"Huk ...., Huk ...." Cleo tersedak saat mendengar Sandra mengucapkan sebutan Andreas.


"Pelan-pelan!" Cleo menerima air mineral yang Sandra berikan. Dia langsung menegguk minuman itu. "Ada apa denganmu?" tanya Sandra.


"Aku tidak apa-apa." bohongnya. Padahal dia sangat terkejut, bagaimana Sandra bisa tahu mengenai dirinya dab Andreas.


"Aku benarkan? Dokter yang kemarin di kantin rumah sakit adalah si bule cabul? Pria yang dulu begitu kau benci?" tanyanya.


"Aku terkejut kau masih mengingatnya." Cleo mengakuinya.

__ADS_1


"Tentu saja. Ketampanannya itu sulit membuat wanita lupa." Sandra tertawa saat melihat Cleo membelalak padanya.


"Sudahlah, jangan bicarakan dia!" Cleo terdengar tidak menyukainya.


"Aku hanya penasaran. Kenapa dia begitu tidak sukanya padamu. Semalam kalian juga bertemukan?" Cleo menatap tajam padanya. "Kiano yang cerita." ucapnya. Sandra seperti tahu apa yang ada dalam pikiran Cleo.


"Kau tahu sejak dulu aku dan dia memang tidak pernah akur." jawabnya.


"Tapi, aku masih bingung kenapa kalian bisa bertemu?" Sandra terlihat berpikir.


"Nggak ada yang tahu takdir. Aku juga awalnya tidak bisa percaya kenapa aku bisa bertemu kembali dengan orang yang pernah kubenci." selanya.


"Aku yakin, Tuhan pasti punya rencananya sendiri." jawab Sandra. Cleo terdiam memikirkan ucapannya. "Tapi, menurutku kalian memang ditakdirkan bersama." Cleo mengangkat kepalanya.


"Apa maksudmu?" tanyanya.


"Apa kau tahu, sewaktu kau jatuh dari tangga, dia adalah dokter yang menangganimu." Cleo terkejut.


"Itu nggak mungkin!" jawab Cleo.


"Benar! Aku ingat betul bahwa dulu dia dokter di IGD Giant Hospital." jelasnya. Cleo kembali terdiam, dia baru tahu mengenai ini.


"Kau serius?" tanya Cleo. Sandra mengangguk.


"Sudahlah, lupakan itu! Bagaimana dengan dirimu?" tanya Cleo.


"Kenapa denganku?" Sandra mengaduk jus yang ada dihadapannya.


"Apa kau sudah memiliki pasangan?" tanyanya.


"Aku belum berpikir kesana." jawabnya.


"Apa kau masih mengharapkan Kiano?" tanya Cleo pelan. Sandra yang semula membuang pandangannya, menoleh pada Cleo.


"Aku hanya menebak saja." Cleo tertawa kecil.


"Kau sendiri? Apa kau mempunyai perasaan lebih untuknya? Dulu ataupun sekarang?" mereka masuk ke pembicaraan yang cukup serius.


"Tidak." tegasnya.


"Benarkah?" Sandra mencari kejujuran dimatanya.


"Iya. Dulu ataupun sekarang, perasaabku masih sama. Aku hanya menganggapmya teman. Lagipula aku yakin, mungkin saja saat ini dia sudah mempunyai pasangan. Jadi, kau tidak perlu menanyakan itu lagi." jawabnya.


"Bagaimana kalau dia belum punya pasangan dan masih mengharapkanmu?" Sandra masih mencecarnya mengenai Kiano.


"Itu nggak mungkin. Lagipula, aku sudah tidak bisa memberikan harapan untuk siapapun." jawabnya.


"Maksudmu?" Sandra bingung dengan pernyataan Cleo.


"Lupakan saja! Bagaiama kalau Kita sudahi pembicaraan ini. Apa kau tidak ingin shopping?" ajak Cleo.


"Andai kau tahu bahwa Kiano masih mengharapkanmu." batin Sandra.


"Tentu saja! Untuk itu aku mengajakmu kesini." Sandra tertawa. Mereka berdua meninggalkan cafe itu dan berjalan menuju lantai 4.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Ada apa denganmu?" Yuda yang baru datang melihat Andreas bersandar dengan mata terpejam.


"Kenapa kau kemari?" tanyanya.

__ADS_1


"Aku ingin mengajakmu keluar malam ini." ucapnya.


"Kemana?" tanyanya.


"Biasa! Olive sudah memesan tempat untuk kita." Andreas bangun.


"Aku tidak bisa ikut." jawabnya.


"Tapi, kenapa? Bukankah kau free?" desaknya. Olive nggak akan mau ikut jika Andreas tidak ada. Itu sebabnya Yuda mendesaknya.


"Aku lagi malas!" Andreas menghembuskan napas.


"Kenapa denganmu?" Yuda yakin ada yang salah dengan sahabatnya.


"Apa kau pernah bertindak di luar kendalimu?" tanyanya.


"Tentu saja. Setiap orang pasti pernah mengalami itu." jawabnya. "Memangnya apa yang kau lakukan?" tanyanya.


"Apa kau pernah berhubungan denga orang yang paling kau benci?" tanyanya lagi.


"Tidak. Apa kau sedang mengalaminya?" Yuda yang terbuka, langsung menebaknya.


"Aku membencinya, tapi entah kenapa semalam aku malah menciumnya." mendengar kejujuran Andreas, Yuda langsung terbahak.


"Kau mencium seorang wanita? Apa aku nggak salah dengar?" ledeknya.


"Pelankam suaramu!" Andreas melemparnya dengan buku yang ada di depannya.


"Aku hanya terkejut, akhirnya kau menjalin hubungan dengan seorang wanita. Aku pikir aku ini menyukai pria sepertiku." candanya.


"Keluar dari sini, jika kau masih mengolokku." usirnya.


"Santai, Bro!" jawabnya cepat. "Siapa dia? Apa aku mengenalnya?" tanyanya.


"Tutup mulutmu!" ucap Andreas. Yuda kembali terbahak.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Olive yang baru saja masuk.


"Ini, Cassano sedang galau!" jawabnya Olive duduk didekatnya.


"Galau kenapa?" Olive menatap Andreas yang duduk sendiri.


"Dia baru sa ...."


"BRUK!" sebuah buku mendarat di wajahnya.


"Apa yang kau lakukan disini?" Andreas mengalihkan pembicaraan.


"Apa Yuda belum mengatakan apapun padamu? Aku ingin mengajakmu hang out." jawabnya.


"Maaf, tapi aku ada urusan." tolak Andreas. "Kalian pergi bersama saja." sarannya.


"Aku dan dia?" Olive menunjum Yuda yang sedang cenggegesan padanya. Andress mengangguk. "Malas!!" senyum diwajah Yuda segera pudar. Olive berdiri dan meninggalkan mereka begitu saja.


"Jangan putus asa! Kau harus berusaha lagi." saran Andreas. Dia tahu betul kalau Yuda sudah lama menyukai Olive.


πŸ€πŸ€πŸ€


"Malam, Dok!" sapa Luna pada Cleo yang baru datang.


"Malam." Cleo langsung menuju loker.

__ADS_1


"BRUK!" dia mengangkat kepalanya saat sadar bahwa tubuhnya menubruk seseorang. Dan, betapa terkejutnya Cleo kalau orang yang dia tabrak adalah Andreas.


~tbc


__ADS_2