
"Mau kemana lagi kamu?" tanya Aisyah saat melihat Nayla turun dengan dress mini yang membuat lekukan tubuhnya terlihat jelas.
"Party." jawabnya.
"Kamu nggak boleh kemana-mana. Sudah cukup dengan semua kelakuan liarmu." Aisyah menahan tangannya.
"Apaan sih, Bu!" Nayla menghentakkan tangannya hingga membuat Aisyah sedikit terhuyung.
"Sudah ibu bilang, kamu nggak bisa seperti ini terus." Aisyah kembali mencengkram tangannya.
"Ibu jangan mulai lagi. Aku udah ditungguin teman-temanku." Nayla bersikeras untuk tetap pergi.
"Nay!!! Nayla!!" dia sama sekali tidak menghiraukan teriakan ibunya. Nayla membuka pintu mobil dan segera memacu kendaraan itu keluar dari rumah.
"Kenapa lagi dengan putrimu?" sindir Panji, saat Aisyah berjalan menuju kamar.
"Bukan urusanmu!" jawabnya, Aisyah sedang tidak ingin berdebat dengan pria itu. "Padahal dia dulunya sangat penurut, entah apa yang mengubahnya seperti itu." gerutu Aisyah. "Semua ini karena Sandra."
"Apa maksudmu? Kenapa kau menyalahkannya?" Panji tidak terima Aisyah selalu menyalahkan putrinya atas perubahan Nayla.
"Memang semua ini kesalahannya. Seandainya saja dia tidak merebut bagian Nayla, mungkin saat ini Nayla yang mengantikanmu." Aisyah berterial padanya.
"Dia tidak merebut apapun. Sandra mendapatkan haknya. Dan, kau jangan lupa, Nayla bukan putri kandungku. Jadi, secara hukum dia tidak akan mendapatkan apapun dariku." Panji sangat kesal.
Tiap kali Nayla membuat masalah, Aisyah selalu menyalahkan Sandra. Padahal putrinya sudah lama tidak tinggal bersama mereka. Sejak masuk kuliah, Sandra memilih untuk tinggal sendiri. Sekarang dia yang mengantikan Panji untuk mengelola semua aset dan perusahaan.
"Kau selalu membela putrimu itu. Kau tahu dari awal dia tidak pernah menganggap aku dan Nayla sebagi keluarga. Seharusnya dia bisa sedikit saja berbagi dengan Nayla." Aisyah tetap tidak terima.
"Bukankah kalian yang tidak pernah menerimanya sebagai keluarga? Kau jangan lupa, kalau dia yang menanggung semua biaya hidupmu dan putrimu yang pemalas itu." Panji membawa keluar kursi rodanya dari kamar.
Sejak 4 tahun yang lalu, Sandra memilih untuk keluar dari rumah itu. Begitu selesai kuliah, dia mulai ikut Panji menjalankan bisnis keluarga mereka. Terlebih lagi, Sandra adalah pemilik dari setengah aset yang Panji miliki. Sekarang Sandra adalah CEO di perusahan.
"Jika aku tahu semua ini bukan lagi milikmu, mungkin aku tidak akan menikah dengan pria sepertimu." ucap Aisyah pelan.
πππ
"Jika kalian ada waktu, pergilah mencari cincin pernikahan." ucap Vincent oada mereka berdua.
"Aku sibuk! Dia saja yang pergi." tolak Andreas.
"Kau tidak bisa begitu. Kalian harus memilihnya bersama. Ingat, itu adalah penyatu hubungan kalian." ujarnya.
"Aku nggak butuh benda seperti itu. Lagi pula ini hanya pernikahan palsu." batin Andreas.
"Aku sibuk." Andreas tetap pada pendiriannya. Vincent menatap tajam ke arahnya.
"Tidak apa-apa, Paman. Aku bisa membawa rekan kerjaku untuk mencocokkan jari mereka." ucap Cleo, Andreas menoleh padanya.
"Siapa yang kau maksud?" tanyanya.
"Raka, aku rasa jari kalian ukurannya tidak jauh berbeda." jawabnya.
"Memangnya dia yang akan menikah denganmu?" Andreas berdiri.
"Kau mau kemana?" tanya Vincent.
"Bukankah papa meminta kami untuk membeli cincin pernikahan?" Vincent menoleh pada Cleo yang juga sudah berdiri.
"Baiklah! Pilihlah cincin terbaik untukmu." pesannya pada Cleo. Cleo mengangguk.
__ADS_1
"Kenapa tidak sekalian saja papa beli toko perhiasannya." gerutu Andreas.
"Itu ide yang bagus! Kau bisa menjadikan itu sebagai mahar." Tidak mau mendengar ocehan sang ayah lagi, Andreas keluar dari ruangan itu. Cleo mengikutinya dari belakang.
"Apa kau puas?" tanyanya saat mereka di dalam lift.
"Puas kenapa?" Cleo tidak mengerti.
"Akhirnya yang kau inginkan terwujud. Kita akan segera menikah, bahkan aku harus mengikuti kemauanmu untuk mencari benda yang nggak ada gunanya itu." Cleo terpaku.
"Jika kau tidam mau kenapa memaksakan diri?" tanya Cleo.
"Aku nggak mau pernikahan palsu ini sampai terdengar di sini." Andreas berjalan keluar begitu pintu lift terbuka.
"Cleo!!" Cleo menghentikan langkahnya saat mendengar Raka memanggilnya. Sementara Andreas sudah lebih dulu sampai di lobby.
"Ada apa?" tanyanya setelah Raka tiba di hadapannya.
"Kau mau kemana?" tanya Raka saat melihat Cleo menenteng jas putihnya. Kebetulan dia sudah tidak menggunakan seragam rumah sakit
"Aku ada sedikit urusan di luar." jawabnya.
"Ada apa?" Raka mulai kepo.
"A-aku ...., aku harus membeli sesuatu." dia tidak mungkin memberitahu Raka. Kebetulan saat ini sedang jam istirahat, dia bisa sedikit bersantai karena pasien tidak begitu banyak.
"Baiklah." ucap Raka.
"Aku jalan dulu, nggak lama kok." Cleo segera pergi setelah mendapatkan izin dari Raka. Karena, jika Cleo tidak ada, maka Raka yang akan menghandle semua tugasnya.
Saat dia keluar, Cleo mendapati Andreas sedang menatap tajam ke arahnya. Andreas berdiri di depan sebuah mobil sport berwarna hitam.
"Aku ...." Cleo melihat ke sekitar mereka.
"Kau pikir aku ini sopirmu? Jika kau tidak naik sekarang, maka kau bisa pergi dengan taksi." Andreas masuk ke mobil dan Cleo mengikutinya. Andreas memacu mobil itu melintasi jalanan ibu kota.
"Apa kau tidak khawatir jika ada yang melihat kita bersama?" tanya Cleo. Andreas tidak menanggapinya, dia sibuk melihat spion yang ada di luar. Sadar dirinya diabaikan, Cleo memilih untuk diam dan bermain ponsel.
Andreas menoleh saat melihat Cleo sedang senyum-senyum sendiri di depan ponselnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya.
"Apa?" Cleo bertanya tanpa menoleh padanya.
"Kenapa kau tersenyum sendiri, seperti orang gila saja." ucapnya.
"Bukan urusanmu!"Cleo kembalu tersenyum, bahkan kali ini disertai tawa kecil. Andreas menekan rem secara tiba-tiba, sehingga membuat tubuh Cleo terhentak ke depan.
"Apa kau tidak bisa menyetir dengan benar?" Cleo terlihat kesal.
"Kita sudah sampai." Andreas keluar dari mobil. Cleo membuka seatbelt-nya dengan kasar. Dia sangat kesal dengan pria bule itu. Tanpa menunggu Cleo, Andreas sudah lebih dulu memasuki Mall itu. Cleo hanya bisa mengikutinya dari belakang.
πππ
"Ada yang bisa kami bantu, Tuan?" tanya pegawai toko perhiasan yang mereka masuki.
"Kami sedang mencari cincin pernikahan." jawab Cleo sambil melihat cincin yang ada di etalase.
"Boleh saya lihat yang ini?" Cleo menunjuk cincin yang dia mau. Pegawai itu mengambil cincin yang dia tunjuk dan memberikannya pada Cleo.
__ADS_1
"Gimana?" Cleo mencoba dan meminta pendapat pada Andreas yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya.
"Terserah." jawabnya. Cleo meletakkan kembali cincin itu dan meminta pegawai menunjukkan koleksi mereka yang lainnya.
"Dre ....!" Andreas menoleh karena dia sangat mengenal pemilik suara itu. Dia terkejut saat melihat Cantika berada di belakangnya.
"Cantika!!" ucapnya, Cleo menoleh pada wanita yang dia panggil, Cantika.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Cantika.
"Hmm, aku sedang menemaninya memilih cincin." jawabnya, Cantika melihat pada Cleo dan cincin yang ada di etalese.
"Siapa ini?" Cantika menunjuk Cleo.
"I-ini, dia temanku." Cleo menoleh padanya. "Kamu sedang apa disini?" Andreas tidak mempedulikan tatapan tidak suka dari Cleo.
"Aku baru saja bertemu dengan tante Monika." jawab Cantika. Andreas menatap tajam padanya.
"Kamu pilih dulu." ucap Andreas pada Cleo. Saat Cantika sibuk melihat-lihat perhiasan yang ada di etalase lain, dia memberikan kartu yang ada di sakunya pada Cleo. Setelah itu Andreas menghampiri Cantika. "Kita harus bicara!" Andreas mengajak Cantika keluar dari toko perhiasan itu.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Cantika, Andreas menoleh ke belakang, Cleo tidak lagi melihat ke arah mereka. Kemudian dia mengajak Cantika duduk di kursi yang ada di depan toko perhiasan itu.
"Apa yang tante Monika inginkan darimu?" tanyanya.
"Seperti biasa, dia ingin aku tidak menyerah pada Al." jawabnya.
"Dan jawabanmu?" Andreas penasaran.
"Aku sudah menyerah, Dre!" jawabnya. Andreas terkejut, karena dia tidak menyangka Cantika akan menyerah begitu mudahnya. "Seperti katamu, aku berhak untuk bahagia." lanjutnya.
"Lalu, apa rencanamu selanjutnya?" tanyanya.
"Besok aku akan kembali ke Paris." Andreas kembali terkejut.
"Paris?" tanyanya.
"Iya, aku akan melanjutkan karir modelku disana." Andreas hanya bisa tersenyum tipis.
"Aku sudah selesai!" ucap Cleo yang baru saja menghampiri mereka.
"Maafkan aku, Cantika! Tapi, aku harus kembali ke rumah sakit." ucapnya. "Apa besok aku boleh mengantarmu ke bandara?" tanya Andreas.
"Tentu saja." Cantika tersenyum, sehingga memperlihatkan barisan giginya yang putih.
"Kalau begitu aku akan menghubungimu." Setelah berkata seperti itu, Andreas berpamitan pada Cantika.
"Siapa wanita itu? Kenapa Andre tidak mengenalkannya padaku?" Cantika masih terus memperhatikan mereka dari kejauhan.
"Kau sudah mendapatkan cincinnya?" tanya Andreas saat mereka berada dilift.
"Sudah." jawabnya.
"Mana?" Cleo memberikan paperbag yang ada ditangannya. Andreas penasaran cincin seperti apa yang Cleo pilihkan untuknya. Dengan segera dia membuka kotak berwarna navy itu.
"Apa-apaan ini?" Andreas terkejut saat melihat, hanya ada satu cincin wanita disana. "Dimana punyaku?" tanyanya.
"Aku membeli cincin untuk diriku sendiri. Jika kau memginginkan cincin itu, maka kau harus membelinya lagi." Cleo keluar meninggalkan Andreas yang masih terpaku.
"Bocah tengiillll!!!" Andreas berteriak saat melihat biaya yang keluar dari struk pembayaran itu. Cleo membeli cincin seharga 12 juta dari kartu yang sebelumnya Andreas berikan padanya.
__ADS_1
~tbc