
"Oke, Bella janji nggak akan nakal lagi.
"Maaf ya Feli.
"Iya Kak" ucap Feli lalu turun dari pangkuan Hadi.
"Nih buat Feli, Bella udah perbaiki bonekanya tadi" ucap Bella memberikan boneka milik Putri.
"Wah bonekanya udah nggak rusak lagi. Hore! Makasih Bella" ucap Feli senang lalu memeluk Bella.
"Kakak nggak di peluk nih?" tanya Siska dengan raut wajah sedih.
"Peluk juga dong" Ucap Feli dan Bella kemudian langsung memeluk Siska.
"Kakak sayaaang banget sama kalian. Kalian berdua adik kesayangan Kakak" ucap Siska.
"Bella juga sayang sama Kak Siska.
"Feli juga sayaaang banget sama Kakak, sama Kak Bella juga" ucap Feli.
Sari dan Hadi tersenyum melihat kasih sayang di antara ketiga putri mereka itu.
Brukk!
"Ayah, Bunda, Bella pingsan" pekik Siska yang menahan tubuh Bella yang sudah tak sadarkan diri itu. Hadi yang tadinya sedang mengobrol dengan segera mendekati mereka.
"Adek kamu kenapa? Kok bisa pingsan?" tanya Hadi.
"Hiks...nggak tau Yah, tiba-tiba aja Bella pingsan" ucap Siska yang terisak.
"Bella bangun. Bunda, Bella kenapa hiks." tangis Feli.
"Tenang sayang. Bella pasti baik-baik aja. Mas, cepat bawa Bella ke rumah sakit sekarang."
"Iya" Hadi segera menggendong Bella keluar menuju mobil. Mereka semua pun langsung menuju rumah sakit terdekat.
*****
"Sejak kapan anak Ibu dan Bapak punya penyakit ini?" tanya Dokter. Kini Hadi dan Sari berada di ruangan Dokter yang memeriksa keadaan Bella.
"Dari sejak lahir, dia sudah punya penyakit kangker hati Dok" ucap Sari.
"Tapi waktu itu kami sudah bawa dia berobat keluar negri Dok. Dan dia dinyatakan sembuh oleh Dokter disana. Tapi kenapa dia bisa kaya gini Dok?" tanya Hadi.
"Kami juga tidak tau Pak. Setelah kami melakukan berbagai pemeriksaan, ternyata hati anak bapak mengalami kerusakan sehingga kita harus mencari donor hati yang cocok untuk anak kalian. Saat ini kondisinya sangat kritis, dia bisa saja kehilangan nyawa kapan saja bila kita belum mendapatkan pendonor yang cocok dalam 10 jam kedepan" ucap Dokter.
__ADS_1
"Baik Dok. Tolong lakukan yang terbaik untuk anak kami saat ini. Saya akan berusaha mencari pendonornya" ucap Hadi. Kemudian mereka pun keluar dari ruangan Dokter.
"Mas, bagaimana ini? Dimana kita harus cari pendonor itu? Aku takut Bella pergi dan ninggalin kita" ucap Sari.
"Sstt! Kamu jangan ngomong gitu. Kita harus berdoa untuk Bella. Aku akan coba minta tolong teman-teman aku buat cari pendonor untuk Bella. Ucap Hadi menenangkan.
*****
Waktu kini terus berjalan. Kondisi Bella sudah semakin parah. Namun sampai saat ini, belum ada tanda bahwa Hadi mendapatkan pendonor untuk Bella.
"Gimana Mas? Udah dapat pendonornya?" tanya Sari.
"Masih belum. Semua udah aku lakuin, tapi aku belum juga dapat pendonor yang cocok" ucap Hadi yang terduduk di samping Sari.
"Terus bagaimana ini Mas? Kata Dokter, keadaan Bella makin parah, dia butuh pendonor itu sekarang. Aku nggak mau kalo harus kehilangan dia Mas aku nggak sanggup" ucap Sari bersndar di bahu Hadi.
"Hanya ada satu jalan keluar untuk masalah ini" Sari seketika menatap penuh tanya pada suaminya itu.
"Apa jalan keluarnya Mas?"
"Jika kita nggak bisa dapatin pendonor buat anak kita, satu-satunya jalan yaitu, aku sendiri yang harus donorin hati aku untuk dia" ucap Hadi.
Degh!
"Nggak! Mas nggak boleh lakuin itu. Aku nggak mau kehilangan Bella, tapi aku juga nggak mau kehilangan Mas. Mas nggak boleh lakuin itu, aku nggak akan izinin" ucap Sari.
"Iya tapi, nggak kaya gini juga caranya. Kita bisa cari pendonor lain Mas."
"Udah nggak ada waktu Sari. Kalo Bella sampe meninggal, aku nggak bakal bisa maafin diri aku sendiri karena nggak bisa nyelamatin dia. Aku akan jadi Ayah terburuk di dunia."
"Tapi..."
"Udah nggak ada waktu lagi. Tolong biarin aku untuk berkorban demi anak kita, aku mohon.
"Mas hiks...hikss" Sari langsung memeluk erat suaminya.
"Stt! Kamu jangan nangis. Kamu harus kuat demi anak-anak kita. Kamu harus jagain mereka demi aku. Walaupun nanti aku pergi, aku akan selalu ada bersama kalian. Hati aku akan terus ada di dalam tubuh anak kita" ucap Hadi.
Mereka berdua terus menangis sampai seorang suster menghampiri.
"Apa pendonornya sudah ada Pak, Bu? Sebentar lagi operasi akan di lakukan" ucap Suster
"Sudah Sus. Saya sendiri yang akan mendonorkan hati untuk anak saya" ucap Hadi mengusap air matanya.
"Apa Bapak yakin?"
__ADS_1
"Iya Sus, saya yakin."
"Baiklah, mari ikut saya ke ruang operasi sekarang " Ucap Suster yang berjalan duluan.
"Mas, kamu pikirin lagi. Aku belum siap kehilangan kamu Mas."
"Ini udah jalan yang terbaik. Mas akan tetap lakuin ini. Kamu harus janji sama Mas, kamu harus jaga anak-anak kita dengan baik ya."
"Iya Mas, hiks...aku janji" ucap Sari yang semakin mengeratkan pelukkannya.
"Ayo. Kamu harus temanin Mas untuk yang terakhir kalinya. Mas ingin kamu ada di samping Mas" ucap Hadi mengusap air mata Sari. Mereka pun berjalan menuju ruang operasi.
Tanpa mereka ketahui, ternyata sejak Tadi Aulia mendengar apa yang mereka bicarakan. Kini gadis itu sudah terduduk lemas dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya saat mengetahui Ayahnya akan pergi untuk selamanya.
*****
"Dan sejak saat itu, setelah pemakaman Mas Hadi sikap Siska jadih berubah sama Bella. Dia sering bentak Bella dan sering marahin dia Tanpa alasan. Dan sejak itu juga, dia ngelarang Feli dekat sama Bella." ucap Sari.
"Jadi itu alasannya Siska benci sama Bella Bund?" tanya Daniel.
"Iya Daniel. Dia pikir Ayah mereka meninggal karna Bella. Padahal sebenarnya, Bella juga nggak tau Ayahnya meninggal karena nyelamatin dia."
"Karena kamu udah tau yang sebenarnya, Bunda mohon jangan kasih tau ini sama Feli ataupun Bella. Bunda takut kalau Bella dengar ini, dia akan merasa bersalah dan menganggap dia penyebab kematian Ayahnya" ucap Sari.
"Iya Bund, Daniel nggak akan kasih tau sama siapapun termasuk Bella" ucap Daniel.
"Yaudah, Bunda mau istirahat dulu. Kalo kamu lapar, kamu makan siang aja dulu ya" ucap Sari kemudian berlalu menuju kamarnya. Begitu pun dengan Daniel yang langsung menuju ruang makan.
Tanpa di duga, ternyata Bella ada di dasana. Dia yang akan pergi keluar tak sengaja mendengar semua cerita Bella. Kini tubuhnya terasa kaku, air mata terus saja mengalir.
"Jadi ini alasan Kakak benci sama gue? Ternyata gue penyebab Ayah pergi. Hiks...Maafin gue Kak, gue nggak tau lo benci gue karna ini" lirih Bella yang terisak.
Drtt! Drtt!
Bella langsung mengangkat teleponnnya saat melihat nama Ana tertera di sana.
"Ha-halo"
[Halo Bel, lo nangis ya?]
"Nggak, gue nggak nangis. Ada apa lo nelfon gue?"
[Cepat lo ke tempat biasa kita latihan bela diri. Sekarang King ada disini, dia nantangin lo. Jangan lupa pake topeng lo]
"Otw" ucap Bella kemudian langsung memutuskan panggilan.
__ADS_1
Dia segera mengusap kasar air matanya lalu berjalan menuju motornya di garasi. Setelah memakai topengnya, dia pun melajukan motornya ke tempat tujuan.