
"Kakak berangkat ya, jaga Bunda." ucap Siska pada Feli dan Bella.
"Kamu jangan lupa minum obat dan jangan bikin Bunda kesal selama Kakak nggak ada. Jangan suka buat ulah di sekolah, jangan begadang dan terus istirahat." ucapnya Siska pada Bella lalu beralih pada Feli.
"Dan kamu juga, kalo Bella buat yang macam-macam langsung telfon Kakak. Kakak bakal langsung pulang dan marahin dia."
Lalu dia memeluk keduanya. Setelah itu, Siska dan Daniel pun memasuki mobil dan mobil mulai melaju mengantarkan mereka ke bandara.
"Ayo berangkat sekolah. Bunda ikut mobil kalian ya." ucap Sari.
"Iya Bund. Ayo."
Saa.t mereka akan masuk ke dalam mobil, tiba-tiba.....
"Assalamualaikum."
"Walaikum salam."
"Eh Bastian? Tumben pagi-pagi kesini? Ada apa Nak?" tanya Sari
"Pasti mau jemput Kak Bella ya?" tanya Feli
"Enggak, aku ke sini mau nganterin obat Bella dari Ibu."
"Obat? Obat apa itu?" tanya Sari
"Itu obat herbal Bund. Ya udah sini Bas, makasih ya." Bella meraih kantong plastik yang di bawa Bastian lalu menyerahkannya pada pembantu, menyuruhnya untuk menyimpannya di kamarnya.
"Iya Bel. Sama-sama."
"Ayo Kak kita berangkat." ajak Feli
"Mmm.... Lo sama Bunda berangkat aja, gue berangkat Sama Bastian."
Hah?
Bastian terlonjak kaget, dia benar-benar tak menduga Bella mau berangkat bersamanya.
"Kamu yakin?"
"Iya Bunda, Bella yakin."
"Yaudah. Bunda sama Feli duluan, kalian hati-hati di jalan." Bella mengangguk.
Setelah itu mobil yang di kendarai Sari dan Feli sudah melesat meninggalkan Bella dan Bastian.
"Kamu yakin Bel? Mau naik sepeda bareng aku?" tanya Bastian memastikan.
__ADS_1
"Yakinlah. Emang nggak boleh ya gue naik sepeda bareng lo?"
"Bukan nggak boleh, tapi aku takut kamu kecapean."
"Nggak bakalan. Udah ah, ayo berangkat."
Bastian pun pasrah kemudian kembali menaiki sepedanya. Saat Bella akan naik ke sepeda, Bastian tiba-tiba menahan tangannya lalu membawanya untuk duduk di depannya.
"Aku nggak mau kamu capek berdiri, jadi duduk disini aja ya." Bella tak menjawab malah senyuman yang terukir di bibirnya yang tak di ketahui Bastian. Sepeda pun mulai berjalan perlahan menyusuri jalanan kota.
Keduanya tampak bahagia menikmati susasana pagi yang cerah dengan bercanda selama perjalanan. Ada saja yang mereka bicarakan hingga tiba-tiba Bastian mengatakan sesuatu yang mengejutkan.
"Bel, aku minta hati-hati sama Alex, jauhin dia."
"Emang kenapa gue harus jauhin dia?"
"Karena aku rasa dia bukan cowok baik-baik."
"Oh, aku pikir karna kamu cemburu."
"Iya."
"Apa?" Bella langsung menatap Bastian. Bastian yang menyadari ucapannya berusaha mencari alasan yang lain.
"Ma-maksud aku, iya enggak lah. Kita kan bukan siapa-siapa." elaknya.
"Lo tenang aja, gue nggak bakal dekat-dekat kok sama cowok yang lo maksud itu. Gue juga nggak suka sama dia." ucap Bella
"Kenapa tiba-tiba Bastian ngelarang gue dekat sama cowok yang namanya Alex itu? Apa ada sesuatu yang di sembunyiin dari Gue?" batin Bella bertanya-tanya.
Beberapa saat kemudian mereka kini telah tiba di gerbang sekolah. Kini tatapan para siswa yang berada di parkiran tertuju pada mereka berdua.
"Itu beneran Queen kan?"
"Iya. Kok Queen boncengan lagi sih sama Si cupu?"
"Pasti Si Bastian udah guna-gunain Queen sampai-sampai dia mau naik sepeda sama Bastian. Queen itu kan bak Putri Raja, nggak pantas boncengan sama cowok culun kek dia. "
Begitulah cemohan yang di lontarkan untuk Bastian. Tak peduli dan bodo amat itu sikap yang di tunjukkan oleh Bastian. Baginya kata-kata hinaan semacam itu sudah biasa baginya. Tapi tunggu dulu, sikap Bastian itu berbanding terbalik dengan Bella. Gadis itu kini terlihat mengepalkan tangannya dengan kuat lalu berjalan menghampiri beberapa siswa tadi yang menghina Bastian.
Plak!
Plak!
Plak!
"Berani banget ya lo hina teman gue kaya gitu? Hey, ngaca dong lo, Bastian itu lebih baik dari pada lo. Lagian Suka-suka gue dong naik sepeda sama siapa aja, emang masalah buat lo? HAH!"
__ADS_1
"Ma... maaf Queen."
"Maaf.... Maaf! Pergi lo!" bentaknya membuat para siswa tadi cepat-cepat enyah dari hadapannya.
Bella berbalik. Terlihat Bastian tersenyum sambil bersedekap dada dari atas sepedanya.
"Kenapa lo senyum gitu?" tanyanya ketus.
"Kamu lucu kalo lagi marah."
"Terserah lo!" lagi-lagi dengan nada ketus lalu pergi meninggalkan Bastian yang terlihat kebingungan.
"Lah dia kenapa? Emang salah ya kalo aku senyum?"
"Aw Ah, mikirin sifat cewek emang bikin pusing." gumamnya.
*****
Kini Bella sedang menyusuri koridor menuju kelasnya. Tiba-tiba rasa kesalnya memuncak saat 3 orang gadis menghadangnya. Dia menatap malas ketiganya.
"Cepat juga lo berdua kasih posisi Si Findi sama dia." ucapnya pada Alif dan Sela.
"Suka-suka mereka dong. Emang ada masalah sama lo?" ucap Rindi sinis.
"Nggak ada sih. Tapi gue kasihan sama Findi, dia punya teman yang nggak setia sama dia."
"Emangnya lo pernah setia sama teman lo?"
Ucapan Findi membuat Bella tiba-tiba bungkam. Sebelum Rindi kembali melontarkan kata-katanya, Meli, Feli dan Ani datang menghampiri mereka.
"Wah beraninya keroyokan lo semua." ucap Ani.
"Waw panjang umur lo Ani. Baru aja gue bahas lo, eh lo langsung datang."
"Emang kenapa lo bahas gue hah?"
"Nggak. Gue cuman nanya ke teman lo ini kalo dia pernah setia sama temannya atau enggak." ucap Rindi. Mendengar itu, mimik wajah Ani berubah merah padam.
"Ayo guys, kita cabut. Lama-lama gue takut juga dekat mereka." ucap Rindi pada kedua temannya, kemudian mereka berlalu pergi.
"Ani tunggu." Bella bergegas mengejar langkah Ani yang entah mau kemana.
"Emangnya apa maksud kata-kata Rindi tadi? Kenapa tiba-tiba Ani jadi berubah marah gitu?" tanya Meli
"Sesuatu yang dulu pernah terjadi antara mereka, antara Bella dan Ani." ucap Feli
"Sesuatu apa?"
__ADS_1
"Ayo kita ke kelas, nanti gue ceritain di sana." Meli mengangguk kemudian mereka pun berlalu menuju ke kelas saat bel pertanda pelajaran di mulai, berbunyi.
Sementara itu, kini Bella dan Ani berada di rooftop. Ani berjalan perlahan mendekati Ani yang menatap lurus ke depan.