
"Hah? Kembar? Lo serius Ana?" tanya Meli tak percaya.
"Yaelah dibilangin nggak percaya. Ya serius lah gue, masa gue boong sih.
"Tapi kenapa sikap mereka kaya nggak saling kenal setiap kali ketemu? Dan kenapa juga Feli penampilannya beda sama Bella?"
"Kalo alasan Feli gue nggak tau kenapa dia milih berpenampilan cupu kaya yang kita liat selama ini. Sedangkam alasan Bella, dia nggak ingin ada yang tau hubungan mereka. Karena Bella benci sama Feli.
"Benci kenapa emang?"
"Benci karena Kakak mereka lebih sayang Feli dari pada Bella. Itu sih yang gue tau selama gue kenal Bella.
"Kalo emang benci, kenapa setiap ada yang ngebully Feli, Bella selalu ada untuk belain dia? Contohnya belain dia dari Findi cs?"
"Yang ini gue nggak bisa jawab karena gue juga nggak tau alasannya. Yaudah kita pergi yuk, entar Bella liat kita trus ngamuk dianya. Ayo" Ana menarik Meli pergi menjauh dari tenda.
*****
Di sebuah rumah yang terbilang mewah, terjadi perdebatan antara sang Ayah dan putranya.
"Pokoknya aku nggak mau tau, Papa harus bawa Mama pulang gimana pun caranya."
"Nggak!! Mama kamu yang milih untuk pergi, dia nggak perduli sama kita sama sekali."
"Bohong!! Mama pergi itu karena ulah Papa. Karena luka yang udah Papa kasih ke Mama, Mama jadi pergi ninggalin aku. Aku mohon Pa, turunin ego Papa sedikit saja dan bawa Mama pulang. Aku nggak tega liat Mama yang banting tulang sendirian di luar sana, sedangkan kita malah enak-enakkan di sini."
"Pokoknya Papa harus temuin Mama dan minta maaf sama Mama."
"Itu nggak akan terjadi"
"Arghhh!" teriaknya frustasi menghadapi sikap sang Ayah.
"Mau kemana kamu?" tanya sang Ayah saat melihat putranya berjalan ke arah pintu keluar.
"Ke tempat yang seharusnya" ucapnya datar kemudian melangkah pergi.
*****
"Alhamdulillah, jualan bakso hari ini laris manis" ucap Lilis.
"Iya Bu, habisnya tempatnya juga strategis banget" ucap seorang pria yang bernama Somat.
"Ini berkat sahabat saya Kang. Kalo bukan dia, saya nggak bisa jualan di sini.
"Mumpung sudah malam, saya mau pamit duluan ya Bu Lilis, anak sama istri udah nungguin di rumah.
"Iya Kang. Saya juga mau pulang."
"Saya duluan ya Bu."
"Iya Kang" setelah Kang Somat pergi, kini Lilis bersiap siap untuk pulang. Setelah merasa warung baksonya aman, dia pun menguncinya. Namun saat akan berjalan, tiba-tiba ada dua pria bertubuh besar yang menghalangi jalannya.
"Serahin dompet lo" pria 1
"Kalian siapa? Tolong jangan ngganggu saya" ucap Lilis ketakutan.
__ADS_1
"Heh, ini daerah kekuasaan kami. Kalo lo nggak mau serahin dompet lo, jangan salahin kita kalo terjadi sesuatu sama lo ya" pria 2.
"Cepat ambil dompetnya"
"Jangan ambil dompet saya. Saya mohon" ucap Lilis yang berusaha mempertahankan dompetnya yang di tarik paksa oleh pria 1.
Tenaga yang tidak cukup melawan dua pria itu, membuat Lilis tersungkur ke tanah.
"Hiks! Kembalikan dompet saya, saya mohon" isak Lilis.
"Enak aja. Susah kami dapatin ini malah lo minta balik? Ogah. Ayo cabut."
Saat mereka akan pergi tiba-tiba....
Bugh! Bughh!
Dua tendangan yang cukup keras membuat dua pria itu meringis kesakitan.
"Cihh, beraninya sama wanita. Dasar banci lo pada."
"Jangan ikut campur lo. Ayo hajar dia."
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Bugh!
"Terima kasih ya, kamu udah selamatin dompet saya. Cuma ini satu-satunya yang buat saya dan anak saya bertahan hidup" ucap Lilis.
"Sama-sama Bu. Coba di hitung dulu isinya, siapa tau ada yang hilang" ucapnya.
"Kamu benar. Saya cek dulu" Lilis pun mengecek isi dompetnya yang ternyata masih aman, tidak ada satupun yang hilang.
"Alhamdulillah, nggak ada yang hilang. Semuanya a-----" ucapan Lilis terhenti saat dia mendongak orang tadi sudah menghilang entah kemana.
"Loh!! Kemana dia? Kok perginya cepat sekali? Ya sudahlah, mending aku pulang saja.
Lilis pun akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Namun di perjalanan, langkahnya terhenti di depan sebuah club malam setelah melihat seseorang yang dia kenal masuk ke dalam club itu sambil menggandeng seorang gadis seksi.
"Apa aku nggak salah liat?" ucapnya sambil mempertajam pengliahatannya. Dan betapa terkejutnya dia setelah tau siapa orang itu.
"Ini nggak mungkin, dia...dia anakku Bastian. Nggak nggak Bastian ada di perkemahan, nggak mungkin dia ada di sini."
"Coba aku telfon anak itu" Lilis pun menelfon Bastian. Beberapa saat Badtian menjawab panggilannya.
[Hallo Bu? Ada apa, kok Ibu nelfon Bastian malam-malam gini?]
"Kalo ini Bastian, trus siapa yang aku liat barusan?" batin Lilis.
"Hallo Bu, kok Ibu diam aja? Ibu nggak papa kan?]
[I-iya nak, Ibu nggak papa kok. Ibu nelfon kamu buat mastiin kamu baik-baik aja di sana]
__ADS_1
[Bas baik-baik aja kok Bu. Ibu pasti sekarang selesai jualan kan?]
[Iya nak, ini Ibu mau jalan pulang ke rumah]
[Oh yaudah Ibu hati-hati pulangnya ya. Maaf ya Bu, Bastian matiin dulu telfonnya soalnya di sini sinyalnya jelek banget. Ini aja Bas jauh dari tempat kemah buat nyari sinyal."
[Iya nak. Assalamualaikum]
[Walaikum salam]
Tutt!
"Kalo yang aku liat tadi bukan Bastian, lalu siapa? Atau mungkin itu dia? Apa dia sudak kembali?" ucap Lilis.
*****
Bastian yang sudah selesai menelfon terkejut melihat keberadaan Feli yang sudah berdiri sejak tadi di belakangnya.
"Eh Feli, ngapain kamu disini?"
"Lagi cari angin aja. Kamu ngapain? Trus telfonan sama siapa? Pasti pacar kamu ya?"
"Pacar? Hahah Feli, Feli. Liat penampilan aku, mana ada orang yang mau sama cupu kaya aku" ucap Bastian.
"Siapa bilang? Ada kok yang suka sama kamu?"
"Siapa?"
"Kak Bella.
"Jangan sotoy kamu. Mana mungkin Bella suka sama aku? Kami berdua bagaikan langit dan bumi."
"Bas, aku sama Kak Bella itu kembar jadi aku bisa tau isi hati dia. Lagian ya, Kak Bella itu nggak mandang derajat seseorang. Kalau ada yang bikin dia sayang sama seseorang, pasti dia bakal pertahanin rasa itu. Tapi kalo ada orang yang nyakitin dia, siap-siap aja kena tonjok" ucap Feli.
"Mmm gitu ya"
"Kamu belum jawab loh Bas"
"Jawab apa?"
"Kamu tadi lagi telponan sama siapa?"
"Oh itu. Tadi aku habis telponan sama Ibu"
"Oh, aku kira sama pacar kamu hehe. Yaudah gabung sama teman-teman yuk, mereka lagi nyanyi gaje tuh"
"Ayo"
Bastian dan Feli pun berjalan menghampiri teman-teman mereka yang duduk melingkari api unggun. Jack yang melihat kedatangan mereka tiba-tiba terlintas sebuah ide di otaknya. Saat Badtian akan melewatinya, dia dengan sengaja mengangkat kakinya dan.....
Brukk!
Bastian terjatuh karena ulah Jack, tubuhnya terjatuh menimpa tubuh seseorang.
Hahaha!!!
__ADS_1
Seluruh siswa/i tertawa terbahak-bahak melihat kejadian itu.