
"Bunda" Dengan tergesa-gesa, Bella menghampiri Sari yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang rumah sakit dengan kepala yang di lilit perban. Siska yang ada disana menatapnya tak suka dan memutuskan meninggalkan ruangan itu.
"Bunda nggak papa kan? Maafin aku ya Bund, gara-gara nyelamatin aku Bunda jadi kaya gini," ucap Bella sambil menunduk.
"Jangan ngomong gitu, udah kewajiban Bunda buat lindungin anak Bunda" ucap Sari tersenyum pada Bella.
"Mumpung kita udah di rumah sakit, gimana kalau kamu terapi sebelum Dokternya keburu pergi. "
"Harus sekarang ya Bund? Aku kan pengen di temenin sama Bunda."
"Nggak bisa sayang. Bunda masih pusing kalau harus jalan, kamu di temanin Feli sama Bastian aja ya. Mau kan?"
"Iya Kak, kasian Bunda kalo harus temanin kamu. Mending sama kami aja, iya kan Bas?"
"I-iya" jawab Bastian. Sepertinya pria itu terlihat bingung dengan apa yang mereka bicarakan.
"Ya udah deh. Ayo."
Mereka bertiga pun pergi menuju ruangan dimana Bella akan melakukan kemoterapi.
"Semangat ya Kak" ucap Feli sebelum Bella masuk ke dalam ruangan.
"Thanks ya. Doain semoga semuanya lancar di dalam."
"Pasti. Kami bakal doain kamu, semoga kemoterapi yang pertama ini berjalan lancar dan penyakitnya bisa sembuh.
"Hah? Penyakit? Emang Bella sakit apa?" Batin Bastian bertanya-tanya.
Setelah di persilahkan, Bella pun masuk ke dalam ruangan untuk menemani kemoterapinya.
"Feli, kalau boleh aku tau Bella sakit apa?" Tanya Bastian.
"Cie, Gunawan perhatian nih ye."
"Aku serius Feli" ucap Bastian yang kesal karena Feli menggodanya.
"Iya, iya. Jadi sebenarnya, kak Bella itu mengidap penyakit kanker darah stadium akhir."
DEGH
Hati Bastian terasa tersayat mendengar kenyataan pahit yang di alami orang yang sangat dia cintai itu.
__ADS_1
"Ya Tuhan. Dari kapan Bella punya penyakit itu?"
"Sejak satu tahun yang lalu. Aku baru tau kemarin tentang ini. Dan lebih parahnya lagi, Dokter bilang waktu dia udah nggak lama lagi. Tapi kami nggak akan nyerah, apapun yang akan terjadi nanti, dia harus sembuh demi keluarganya. Makanya Bunda maksa dia buat jalani kemoterapi, walaupun dia keras kepala, akhirnya dia mau juga" ucap Feli.
"Jadi aku mohon sama kamu Bas, kalau memang kamu suka sama Kak Bella, kamu harus bantu dia untuk sembuh. Aku yakin, dengan banyak orang yang sayang sama dia, dia pasti bakalan sembuh. Jika memang dia harus pergi suatu hari nanti, tolong kamu bahagiain dia sebisa kamu" ucap Feli. Bastian terdiam sambil meresapi kata-kata gadis itu.
*****
Setelah pulang dari rumah sakit, Siska, Bella ucap Bella yang utu dan Feli membawa Sari pulang ke rumah. Sedangkan Bastian, memutuskan untuk kembali ke sekolah karena ini memang belum waktunya pulang sekolah.
"Bunda istirahat dulu, kalau butuh sesuatu panggil Siska aja" ucap Siskz. Dia pun berjalan keluar dari kamar Sari.
"Feli juga mau balik ke sekolah dulu Bund, dah Kak.
"Dah!" Balas Bella.
Lalu Feli juga keluar dari kamar Sari.
"Gimana?" Tanya Sari pada Bella yang duduk di sampingnya sambil menyiapkan obat-obat yang akan di minum Sari.
"Apanya yang Gimana Bund?"
"Gimana menurut kamu tentang Bastian?" Tanya Sari.
"Mmm, iya pintar. Tapi kok kamu tau semua tentang dia? Kalian kan beda kelas."
"A-anu Bund" Bella gelagapan, bingung harus menjawab apa.
"Ayo anu apa? Atau jangan-jangan.....kamu mata-matain Bastian ya di sekolah?" Tebak Sari.
"E-enggak kok. Ngapain aku mata-matain orang, nggak ada gunanya banget."
"Ohya? Terus apa namanya kalo bukan mata-matain?"
"Mmm.... nggak tau. Udah ah, Bella mau ke kamar dulu. Bunda jangan lupa minum obatnya. Dah Bunda" ucap Bella sambil berlari dari kamar Sari. Melihat tingkah putrinya Itu, dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
*****
Malam pun tiba. Setelah pulang berjualan bersama sang Ibu, kini Bastian tengah duduk di teras rumah sambil memandang kemilau bintang di atas sana. Sepertinya pria itu terlihat gelisah dan tidak tenang.
"Kenapa Bas? Ibu liatin dari dalam kamu kaya orang gelisah gitu, lagi mikirin apa sih?" Tanya Lilis yang ikut duduk di samping Bastian.
__ADS_1
"Nggak kok Bu, Bas nggak lagi mikirin apa-apa.
"Terus kenapa kamu keliatan gelisah? Apa ada yang mau rebut Bella dari kamu ya?" Ucapnya sedikit menggoda.
"Ibu ini apaan sih, nggak kok Bu.
"Terus apa masalah kamu? Ayo cerita sama Ibu, Ibu bakal dengarin curhatan anak Ibu."
"Ya udah, Bastian bakal cerita. Sebenarnya Bastian lagi mikirin Bella Bu. "
"Kenapa sama Bella?"
"Aku baru tau kalo ternyata Bella punya penyakit kanker darah stadium akhir" Lilis tampak terkejut mendengarnya.
"Stadium akhir? Itu berarti dia udah lama punya penyakit itu dong?"
"Kata Feli udah dari setahun yang lalu. Karena nggak mau ada yang khawatir sama dia, Bella nyembunyiin penyakitnya dari semua orang."
"Hufhhh! Ibu juga nggak tau harus bilang apa selain mendoakan Bella agar cepat sembuh. Kamu juga harus rajin doain dia ya.
"Iya Bu, itu pasti."
Setelah itu, mereka berdua kembali masuk ke dalam rumah karena malam sudah semakin larut.
*****
Akhirnya hari libur kembali tiba. Bella memanfaatkan hari ini untuk bersantai bersama Ana di sebuah cafe sekaligus untuk sarapan pagi bersama. Setelah sarapan, mereka melanjutkan dengan mengobrol sambil menikmati beberapa cemilan.
"Gimana kemoterapi Lo? Udah ada kemajuan?" Tanya Ana.
"Nggak tau gue. Tapi kayaknya nggak ada deh" ucap Bella sambil mengunyah.
"Jangan pesimis dong Bel,. Lo harus optimis, gue yakin Lo bakal sembuh kaya dulu lagi. Semangat" ucap Ana mengacungkan kedua jempolnya.
"Sekarang gantian gue yang nanya. Gimana kabar Bokap Lo setelah operasi kemarin? Semuanya lancar kan?"
"Lancar Alhamdulillah. Bokap gue juga udah mulai sembuh dan sekarang udah bisa beraktivitas lagi seperti biasa. Thanks ya Bel, kalau bukan karena Lo ini nggak mungkin terjadi. Gue dan keluarga gue berhutang nyawa sama Lo."
"Ck, santai aja. Gue ngeri ngomongin nyawa. Eh btw, Si King kemana ya? Kok akhir-akhir ini nggak cari masalah lagi tuh orang."
"Katanya sih, Si King lagi keluar negri Ama orang tuanya, nggak tau kemana."
__ADS_1
"Emang Lo tau dari mana?"
"Dari salah satu temannya yang kebetulan dekat Ama gue" ucap Ana.