Cowok Cupu Vs Cewek Bar Bar

Cowok Cupu Vs Cewek Bar Bar
Saudara Kembar Bastian


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di rumah. Namun mereka di buat bingung dengan adanya mobil mewah yang terparkir di depan rumah mereka.


"Bu, itu mobil siapa ya? Kok ada di depan rumah kita?" tanya Bastian.


"Ibu juga nggak tau. Ayo kita samperin."


"Iya Bu."


Mereka pun menghampiri mobil itu.


"Maaf, anda siapa ya? Dan ada perlu apa datang ke sini?" tanya Lilis pada seorang pria yang tengah berdiri membelakangi mereka. Pria itu lalu berbalik, Bastian dan Lilis terkejut mengetahui siapa orang tersebut. Pria itu berjalan lalu berlutut di depan mereka.


"MMas Aŕis apa-apaan ini? Berdiri Mas." suruh Lilis


"Tolong biarin aku begini Lis. Aku minta maaf atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan ke kamu. Berikan aku satu kesempatan lagi Lis, aku mohon. Aku ingin kita kembali tinggal bersama lagi, kembalilah padaku Lis, aku janji akan memenuhi tanggung jawab aku sebagai suami." ucap Lilis.


"Mas..."


"Tolong jangan menolak aku Lis. Demi anak kita."


Lilis terpaku, pikirannya bingung. Di satu sisi, dia juga masih mencintai pria itu. Tapi di lain sisi, dia juga masih belum bisa memaafkan kesalahannya di masa lalu.


"Bu." Bastian memegang tangan Ibunya sambil tersenyum.


"Baiklah Mas, aku akan kembali sama kamu lagi." ucap Lilis dengan mantap.


Aris berdiri lalu kemudian memeluk Lilis. "Terima kasih Lis, terima kasih."


"Aris." Dia beralih memeluk Aris.


"Sekarang kamu udah dewasa nak, Papa merasa bersalah dulu pernah ninggalin kamu dan Ibu kamu." ucap Aris yang terisak di pelukan Putranya.


"Pah, semuanya udah berlalu. Bas dan Ibu nggak pernah sedikit pun benci sama Papa. Bas senang Papa datang buat kami." ucap Bastian.


"Mulai sekarang, kamu dan Ibu akan pulang ke rumah kita. Ayo!" Aris membukakan pintu mobil untuk anak dan istrinya.


"Tapi Mas, bagaiman dengan rumah ini?"


"Tenang saja. Rumah yang pernah kalian tempati ini, akan kita robohkan. Lalu aku akan bangun restoran. Kamu setuju?"


"Iya Mas, aku setuju."


Mereka tampak begitu bahagia. Setelah semuanya telah masuk ke dalam mobil, supir pribadi Aris mulai melajukan mobil tersebut.


15 menit perjalanan, akhirnya mereka telah tiba di pekarangan sebuah rumah mewah nan megah. Kini mereka sudah berada di ruang tengah rumah tersebut.


"Selamat datang Nyonya dan Tuan muda Bastian. Saya senang kalian kembali lagi ke rumah ini setelah bertahun-tahun." sapa seorang pembantu yang mulai menua. Terlihat jelas dari rambutnya yang sedikit beruban.


"Alhamdulillah Bi. Bibi apa kabar?"


"Alhamdulillah baik Nyonya." jawabnya.

__ADS_1


"Bi, tolong siapin kamar Bastian yang dulu ya Bi. Terus baju-bajunya yang baru di beli, tolong tata di lemari." perintah Aris.


"Baik Tuan." pembantu itu pun langsung menjalankan tugasnya.


"Mas dimana dia? Apa dia ada di rumah?" Lilis bertanya sambil menatap suaminya.


"Ada kok. Bentar ya aku panggilin. Alex-" ucapan Aris erhenti oleh seseorang.


"Aku disini Mah." Bastian dan Lilis tampak tersenyum menatap seorang pria yang wajahnya mirip sekali dengan Bastian. Bisa di katakan dia adalah Kakak kembarnya Bastian. Ya, Bastian memang mempunyai seorang saudara kembar. Saat kedua orang tua mereka berpisah, Bastian di bawa pergi oleh Lilis, sementara kembarannya di rawat oleh Aris dalam limpahan harta. Berbeda dengan Bastian dan Ibunya yang hanya hidup dari berdagang bakso.


Pria itu langsung memeluk Lilis dengan erat, begitu pun sebaliknya.


"Mama sangat rindu sama kamu nak. Maafin Mama karna udah pergi ninggalin kamu. Maafin Mama ya nak."


"Jangan minta maaf Mah, semuanya udah berlalu. Aku juga senang banget, Mama sama Bastian udah kembali ke rumah."


Pria itu lalu tersenyum ke arah Bastian "Ayo ikut gue."


Bastian menurut, lalu mengikuti saudar kembarnya itu menuju lantai dua rumah itu. Mereka kini berada di sebuah kamar.


"Kenapa kamu bawa aku ke kamar kamu?" tanya Bastian


"Gue mau ngenalin lo sama seseorang."


"Siapa?"


Dia tak menjawab. Pria itu pun masuk ke dalam kamar mandi. Cukup lama, pria itu kembali keluar menemui Bastian.


"Gun." Bastian yang semula membelakangi, kini menghadap pria itu. Seketika dia di buat terkejut saat melihat siapa yang kini tengah berdiri di hadapannya


Alex hanya tersenyum, lalu melepaskan topeng kulit manusia yang melekat di wajahnya.


"Kenapa? Lo kaget ya? Santai aja kali Bas."


"Tapi kenapa kamu lakuin ini? Masuk ke sekolah dengan wajah yang palsu."


"Karna gue punya alasannya."


"Apa?"


"Gua mau nyari musuh bubuyutan gue yang ada di sekolah itu."


"Ohya, gue minta maaf atas kejadian tadi pagi. Gue benar-benar nyesel atas perbuatan teman-teman gue sama lo. Tapi Bas, gue minta lo jangan bilang sama siapapun kalo kita ini sodara kembar. Sebelum gue nemuin musuh gue, lo harus jaga jarak di antara kita kalo di sekolah. Anggap aja, kita nggak saling kenal. Di rumah wajah kita mirip, tapi di luar kita berbeda." ucap Alex


"Tapi siapa musuh kamu itu? Kenapa kamu kaya benci banget sama dia?" tanya Bastian


"Gue nggak tau siapa nama aslinya. Tapi yang jelas, dia musuh besar gue di dunia malam dan di atas ring pertarungan." setelah mengatakan itu, Alex keluar dari kamar meninggalkan Bastian yang masih terpaku di tempatnya.


"Siapa sebenarnya musuhnya Alex di sekolah kami? Aku akan cari tau itu nanti aja." dia akhirnya keluar menyusul Alex yang berada di lantai bawah bersama kedua orang tua mereka.


•••••

__ADS_1


Pagi kembali menyapa, Bastian kini telah rapih dengan pakain sekolahnya.


"Bas." panggil Lilis dari ambang pintu kamarnya. Bstian tersenyum lalu menghampiri sang Ibu.


"Kenapa Bu?"


"Enggak, Ibu cuman mau ngecek aja kalo kamu udah bangun apa belum. Ya udah, kamu langsung ke meja makan aja, Ibu mau bangunin Alex dulu."


"Enggak usah Bu." Bastian menghentikan langkah Lilis. "Biar Bas aja yang samperin Alex, Ibu balik ke bawah lagi aja."


"Ya udah, tapi jangan lama-lama ya."


"Siap Bu. Setelah Lilis pergi, Bastian mengetuk kamar Alex.


yang berada tepat di depan kamarnya.


"Alex? Lex, udah bangun belum? Udah di tunggu Papa sama Ibu di meja makan."


Cukup lama menunggu, namun tak kunjung ada sahutan dari dalam kamar Alex. Tak mau lama menunggu, Bastian langsung masuk ke dalam kamar Alex, tetapi di tidak menemukan Alex di sana. Saat melihat ke arah kamar mandi, Bastian bisa menebak jika kembarannya itu tengah berada di dalam sana dari suara gemercik air yang terdengar.


"Kayaknya dia lagi mandi. Ya udah deh aku tunggu aja."


Sambil menunggu Akex, Bastian melihat-lihat isi kamar itu yang baginya tidak ada perubahan sama sekali.


"Apa itu?" netranya tak sengaja menangkap sesuatu yang berada di atas nakas. Seperti mengenali benda itu, Bastian mengambil bemda itu yang ternyata adalah sebuah topeng.


"Topeng ini, kayanya aku pernah lihat deh dulu. Tapi dimana?"


Dia mulai mencoba untuk mengingat sesuatu. Tiba-tiba dia teringat dengan kejadian beberapa bulan yang lalu, kejadian di malam itu, di saat dia menyelamatkan Bella dari niat jahat King.


"Ngapain lo di kamar gue?" sontak Bastian menoleh pada Alex.


"Ini punya kamu? Jawab Lex."


"Iya, itu topeng milik gue. Emang kenapa?"


"Jadi yang waktu di club malam itu kamu?"


"Ya, gara-gara lo gue gagal jebak cewek itu. Asal lo tau aja, cewek bertopeng itu musuh gue. Gue mau kasih dia pelajaran setimpal malam itu, tapi semuanya gatot karena lo nolongin dia."


"Dengan cara bikin dia mabuk?"


"Iyalah. Dia itu orangnya pintar dan susah di jebak. Cuman denga cara bikin dia mabuk gue bisa jebak dia dan gue bisa nikmatin wajah cantik di balik topeng itu. Andai aja lo nggak datang, gue pasti udah bikin harga diri dan mahkotanya jatuh."


Bastian tampak mengepalkan kedua tangannya, wajahnya kini berubah menjadi merah. Dia tidak menyangka saudaranya bisa se bejat itu. Entah apa yang terjadi pada Bella jika dirinya tidak ada malam itu.


"Tapi Bas kenapa lo jadi kaya orang yang mau marah gini? Lo tau siapa cewek itu?"


"Enggak!" jawabnya lalu pergi meninggalkan Alex begitu saja.


"Lah dia kenapa? Aneh banget.'" heran Alex

__ADS_1


_____


"Jadi Bella itu musuh bebuyutan yang di maksud Alex . Nggak, aku nggak akan biarin Alex nyakitin Bella sedikit pun. Apa pun yang terjadi, aku akan lindungin Bella walau aku harus melawan saudara aku sendiri." batin Bastian yang terus menatap Alex saat mereka sedang menikmati sarapan di meja makan.


__ADS_2