
"Bibi bilang aja sama Papa, aku akan segera turun. Aku mau mandi dulu" ucap Bella kemudian masuk ke dalam kamar mandinya. Arti itu pun melakukan apa yang di perintahkan anak majikannya itu.
Tak butuh waktu lama berkutat di kamar mandi, Feli kini sudah siap dengan baju santainya. Yaitu kaos oblong dan celana pendek yang biasa dia gunakan jika sedang santai di rumah. Dengan cepat, gadis berusia 18 tahun itu menuruni anak tangga menemui sang Papa di ruang makan.
"Papa!" Panggilnya lalu berhambur memeluk Papanya--Reno Alexander.
"Anak Papa apa kabar hmm? Maafin ya, Papa banyak kerjaan jadi nggak bisa pulang dua bulan. Gimana sekolah kamu sayang?"
"Baik kok Pa!" Ucap Feli melepas pelukannya pada Ramzi.
"Aku senang liat Papa pulang" ucap Feli.
"Papa juga Feli. Ohya, Papa nggak pulang dengan tangan kosong loh, Papa bawa kabar gembira buat kamu sama Kakak kamu."
"Kabar gembira apa tuh Pa?" Tanya Feli penasaran.
"Kamu juga bakal tau, bentar ya. Sayang, ayo sini" Feli yang penasaran pada orang yang di panggil oleh sang Papa, dia menoleh ke belakang. Terlihat seorang wanita cantik berjalan ke arah mereka lebih tepatnya ke arah Reno.
"Siapa Tante ini Pa?" Tanya Feli.
"Feli sayang, ini Tante Avi, dia istri Papa. Kami sudah menikah satu bulan yang lalu. Dia akan menjadi Mama baru kamu" ucap Reno memperkenalkan Avi.
"Avi" ucap Avi mengulurkan tangannya pada Feli.
__ADS_1
"Maaf, saya nggak Sudi bersentuhan dengan ******" ucap Feli menepis kasar tangan Avi.
"Feli! Jaga bicara kamu, dia ini Mama baru kamu" bentak Reno.
"Cih! Aku pikir Papa pulang karena Papa kangen sama aku. Tapi ternyata aku salah, Papa pulang cuman mau ngenalin wanita ini sama aku. Papa pikir apa hah? Papa pikir aku bakal Nerima dia jadi Mama tiri aku? Itu nggak akan pernah, nggak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa menggantikan posisi Mama aku di rumah ini. Aku kecewa sama Papa, belum genap setahun Mama pergi, Papa udah lupain Mama gitu aja dan pulang bawa ****** kek dia" bentak Feli.
"FELI!"
Plakk!
Tangan Reno berhasil mendarat di pipi Feli dengan mulus. Kini pipi gadis itu seketika membiru dan darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
"Mas apa yang udah kamu lakukan? Kenapa kamu pukul dia Mas" ucap Avi. "Feli sayang, sini Mama obatin pipi kamu ya" ucapnya lembut.
"Kamu udah di bayar berapa sama Papa saya hah? Kamu pasti perempuan murahan yang hanya mengincar harta keluarga kami. Iya kan?" Jerit Feli di depan Avi yang kini sudah terisak.
"FELI PAPA BILANG JAGA BICARA KAMU" Teriak Reno yang sudah tersulut emosi. Dia hendak menampar Feli untuk yang kedua kalinya, namun seseorang langsung menahan tangannya yang tinggal beberapa centi akan mengenai pipi Feli.
"Cukup Pa! Ini udah keterlaluan. Aku nggak akan biarin Papa sakiti Feli lagi" ucap orang itu.
"Jangan belain adik kamu, dia yang sudah mulai kurang ajar sama Papa. Lepasin tangan Papa Tasya, biarin Papa kasih pelajaran sama adik kamu yang kurang ajar ini" ucap Reno.
"Enggak! Itu nggak akan terjadi selama ada aku" ucap Tasya---Kakak perempuan Feli.
__ADS_1
Reno pun mengurungkan niatnya untuk menampar Feli. Tasya yang melihat adiknya itu menangis, segera mendekatinya lalu mengusap pipinya yang baru saja di tampar oleh Reno.
"Dek"
"Aku nggak butuh perhatian Kakak. Kakak sama aja kaya Papa, kalian sama-sama egois.
Feli berlari menuju kamarnya meninggalkan ruang makan.
"Ini semua gara-gara Papa" ucap Tasya meninggalkan Reno dan Avi.
"Mas seharusnya nggak lakuin itu sama Feli, kasian dia Mas."
"Aku juga menyesal melakukan itu Vi. Tapi sikap dia ke kamu udah benar-benar kelewat batas" ucap Reno.
"Tapi nggak harus main tangan juga Mas. Aku datang ke sini untuk mendapatkan hati anak-anak, tapi perbuatan kamu udah buat mereka semakin jauh dari kita Mas" ucap Avi.
"Ya udah nggak papa. Mungkin Feli masih berduka saat ini. Tapi lambat laun dia akan menerima kamu asal kamu selalu berusaha meluluhkan hatinya."
"Pasti Mas. Apapun akan aku lakukan untuk memenangkan hati Feli" ucap Avi.
"Yaudah, ayo kita sarapan."
Reno dan Avi pun sarapan hanya berdua di meja makan.
__ADS_1