
"Hah? Emang lo tau dari mana?"
"Dari Jack, dia yang kasih tau aku."
"Terus kalau kalian udah tau, kenapa kalian nggak laporin aja dia ke polisi? Beres kan masalahnya."
"Nggak semudah itu Kak. Kami emang udah tau kalau Findi yang bunuh Wulan, tapi kami belum punya bukti yang kuat. Makanya, Jack pura-pura pacarin dia buat bisa dapat bukti ynag kuat, karena semua bukti cuman ada sama dia" ucap Feli.
"Gue doain semoga kebenaran cepat terungkap dan kalian bisa kembali pacaran lagi.
"Amin! Yaudah kamu tidur gih Kak, nggak baik buat kesehatan kamu kalo tidur larut kaya gini. Aku ke kamar dulu" Feli lalu keluar dari kamar Bella.
"Awas aja lo Findi, gue bakal balas lo besok" ucap Bella. Kemudian dia pun memutuskan untuk tidur.
*****
Di sekolah, Bella tampak membicarakan sesuatu dengan Ana sebelum mereka masuk ke kelas masing-masing.
"Lo yakin mau ngerjain si Findi?" tanya Ana.
"Iya, gue yakin seratus persen. Mana yang gue minta? Udah lo dapatin kan?"
"Udah nih. Ini bukunya Findi yang lo minta. Jam pertama Pak Ical bakal masuk ke kelas mereka dan bakal meriksa semua PR mereka dan udah pasti Si Findi bakal di hukum karna nggak buat PR karna bukunya ada di kita" seru Ana.
"Ayo kita masuk kelas" ucap Bella. Mereka berdua pun masuk ke kelas masing-masing.
_____
"Eh, eh! Adit. Liat noh, si cupu jalan ke sini"ucap Rio menunjuk Bastian yang berjalan ke arah mereka.
"Ya jelaslah dia kemari, ini kan kelas dia juga. Aneh lo" ucap Rio.
"Iya sih. Eh tapi nggak seru kali ya kalo nggak ngerjain dia? Menurut lo gimana?"
"Menurut gue, kita kerjain aja dia. Gue masih jengkel ama tuh anak. Gara-gara dia, kita kena pukul ama Queen kemarin."
Tak lama, Bastian sudah tiba di depan mereka. Saat dia akan masuk ke dalam kelas, tiba-tiba Rio mendorongnya hingga tersungkur ke lantai.
"Aduh!" ringis Bastian.
__ADS_1
"Eh cupu, siniin kaca mata lo" ucap Rio.
"Jangan Adit" ucap Bastian.
"Kenapa? Lo nggak bisa liat tanpa kaca mata ya? Kacian."
"Nggak usah banyak bacot Adit, langsung aja" ucap Rio. Rio mengangguk sambil tersenyum kemudian dia merampas kaca mata Bastian.
"Kembaliin kaca mata aku Rio" ucap Bastian.
"Lo mau ini? Ambil!" Bastian pun segera berdiri kembali untuk merebut kaca matanya. Namun Rio dan Adit malah mempermainkannya dengan cara melempar kaca matanya pada satu sama lain.
"Ayo, ambil cupu. Nih Ul, tangkap" seru Rio.
"Rio, Adit stopp! Kalian ini apaan sih? Kembaliin nggak kaca mata Bastian" ucap Feli yang akan masuk ke kelas dan tak sengaja melihat kejadian itu.
"Widiih cupu satu lagi datang. Mau jadi pahlawan lo hah?" ucap Adit.
"Feli udah biarin. Aku nggak papa kok" ucap Bastian.
"Nggak bisa Bas! Mereka udah kelewat batas. Kalian kembaliin nggak kaca mata itu" ucap Feli lagi.
"Eh Feli, lo itu nggak usah ikut campur urusan kita. Lo mau kita bikin kaya dia hah? Udah sana MINGGIR!" teriak Adit sambil mendorong Feli cukup keras hingga keningnya tak sengaja terbentur dinding.
"Awhh!" Bella yang sedang berlajar di kelasnya tiba-tiba merasakan sakit di keningnya.
"Ada apa lagi sih ini? Pasti ada yang nggak beres lagi sama tuh bocah" batin Bella.
Ting!
"Ana? Ngapain dia chat gue" tanpa berlama-lama, dia segera membuka pesan dari Ana.
Setelah membacanya, Bella segera berdiri dari bangkunya.
"Mau kemana kamu? Kamu nggak liat ini masih jam pelajaran saya berlangsung?" ucap Bu Rani yang mengajar di kelas Bella.
"Saya mules Bu" jawab Bella sambil berpura-pura memegang perutnya.
"Kamu pikir saya percaya sama omongan kamu itu? Saya udah pernah kena tipu sama kamu, dan saya nggak mau keulang lagi. Ayo cepat duduk lagi, kamu mengganggu pelajaran saya saja.
__ADS_1
"Tapi Bu--"
"Saya bilang duduk, ya duduk Bella."
"Iya Bu" ucap Bella lesu dan kembali duduk di bangkunya.
"Ihhh! Bu Rani ini rese bangat sih jadi Guru. Bunda juga, ngapain coba bayar Guru kaya ginian, bikin murid sengsara aja sama Guru model kaya dia" batin Bella menggerutu.
"Gimana dong gue pergi dari kelas menyebalkan ini? Ayo Bel, beripikir, lo pasti bisa dapat ide cemerlang" batinnya.
"Aha, ide yang bagus" lalu diapun kembali berdiri dari bangkunya tapi kali ini sambil memegang ponselnya.
"Mmm, Bu. Saya boleh angkat telfon nggak Bu? Dari Bunda soalnya.
"Ya sudah, angkat di sini saja"
"Baik Bu!" Bunda lalu meletakkan ponselnya di dekat telinga.
"Ekhemm! Iya Halo Bund? Aku lagi di kelas nih Bund. Oh iya, iya! Aku kesana sekarang, dahh Bunda!"
"Kamu itu nelfon atau nggak sih? Kok ngomongnya cepat banget" ucap Bu Rani heran.
"Anu Bu, saya emang gitu kalo lagi ngomong di telfon. Bu, Bunda suruh saya keruangannya sekarang, boleh kan Bu?" tanya Bella.
"Kamu nggak bohongin saya lagi kan?"
"Aduhh Bu Rani yang cantik & bahenol, buat apa saya bohongin Ibu coba? Kalo nggak percaya, liat tuh saya tadi emang lagi telfonan sama Bunda saya" Bella memperlihatkan ponselnya pada Bu Rani.
"Saya nggak boong kan Bu? Kalo gitu saya boleh pergi atau nggak Bu? Bunda saya udah nunggu soalnya, emang Ibu mau Bunda saya marah ke Ibu gara-gara nggak ngizinin saya keruangannya? Bisa-bisa Ibu langsung di pecat loh sama Bunda saya?"
"Ya udah sana pergi, kamu ini selalu aja bikin saya kesal kalo masuk di kelas ini."
"Makanya Bu, jangan masuk di kelas ini lagi ya."
Hahaha!!
Seisi kelas semuanya tertawa mendengar ucapan Bella tadi. Sebelum Bu Rani mengamuk, Bella langsung berlari keluar dari kelas
"BELLA!!!!"
__ADS_1