Cowok Cupu Vs Cewek Bar Bar

Cowok Cupu Vs Cewek Bar Bar
Feli Dan Bella 4


__ADS_3

--2_Bulan_Yang_Lalu


Senja itu, di pantai di mana pemandangan sumset terlihat begitu indah dan mempesona, sorang gadis terlihat sedang meratapi nasib dengan menjerit menyalahkan Tuhan atas apa yang sudah di takdirkan untuknya. Dia sama sekali tak memperdulikan tatapan dan omongan para pengunjung pantai. Banyak dari mereka menyayangkan sikapnya itu karna menyalahkan tuhannya. Namun ada juga di antara mereka menaruh iba dan rasa kasihan padanya.


"Tuhan! Apa salahku, kenapa semuanya terjadi padaku? Kenapa? Aku punya segalanya, tapi kasih sayang keluarga yang aku inginkan. Tuhan memang nggak adil, Tuhan itu nggak adil. Kenapa aku di lahirkan jika kehadiranku sama sekali tidak di ingankan? Seandainya aku bisa memilih, aku tidak ingin di lahirkan, tidak ingin" jeritnya. Dia yang semula berdiri kini terduduk di tepi pantai, membiarkan air pantai membasuh ujung kakinya.


"Mah, andai Mama nggak pergi, aku nggak akan mungkin merasakan duka ini. Aku ingin susul Mama, aku kangen Mama" batinnya.


"Memang itu lah takdir. Dia selalu mempermainkan kita sesukanya. Takdir memang kejam" ucap seseorang yang berdiri di samping gadis itu. Gadis itu menoleh sekilas pada orang itu lalu kembali menatap sumset di sana.


"Tapi kadang-kadang, takdir tidak pernah salah. Hanya manusia saja yang terlalu lemah.


"Gue nggak lemah" ucap gadis itu datar.


"Ya, ya. Lo emang nggak lemah. Tapi kekanak-kanakkan. Yang lo lakuin tadi itu yang di sebut kekanak-kanakkan. Untuk apa menyalahakan Tuhan, jika kesalahan itu berada pada diri sendiri" orang itu juga ikut duduk di samping sang gadis.


"Mungkin kita punya nasib yang sama, tapi jalan hidup kita berbeda. Gue dulu juga sering menyalahkan Tuhan yang merebut segalanya dari gue. Tapi setelah itu gue sadar, ternyata Tuhan punya rencana di balik itu semua."

__ADS_1


"Diam lo. Lo nggak tau gimana rasanya jadi gue."


"Kalo gitu, biarin gue ikut merasakan jadi lo itu kaya gimana."


"Maksud lo?"


Orang itu mengulurkahn tangannya di depan gadis itu.


"Gue mau jadi teman lo, biar gue bisa ngerasain rasanya jadi lo. Lo mau kan jadi teman gue?"


Gadis itu tak menjawab, dia berdiri membelakangi orang itu.


"Eh tunggu, kenalan dulu dong. Nama gue Bella" ucap Bella menghalangi jalannya.


"Nggak nanya" ucapnya berlalu pergi.


*****

__ADS_1


Setelah senja berlalu, kini malam pun datang bersama turunnya hujan yang mengguyur kota. Di depan sebuah ruko yang sudah tutup, terlihat seorang gadis berdiri sambil menggigil kedinginan. Saking dinginnya, gadis itu sampai memeluk dirinya sendiri untuk memberikan sedikit kehangatan. Ponsel gadis itu berdering, senyumnya terukir melihat siapa yang menelponnya. Segera dia pun menerima panggilan itu.


[Halo Bella! Kamu di mana? Kakak sama Mama udah selesai beres-beres rumah baru kita loh. Tapi kenapa jam segini kamu belum pulang? Kamu tau kan, di luar itu lagi hujan?]


[Maaf Kak Siska. Tadi habis jalan-jalan aku udah mau pulang, tapi tiba-tiba aja hujan datang]


[Pasti sekarang kamu lagi kedinginan kan? Mau Kakak jemput?]


[Nggak usah Kak, setelah dapat angkot aku langsung pulang kok]


[Yaudah. Cepat ya, Mama sama Kakak nungguin kamu nih]


[Iya Kakakku sayang. Bye Kak]


[Bye]


Panggilan terputus. Kini Bella kembali memeluk tubuhnya menunggu angkutan umum lewat.

__ADS_1


Byur!


Sebuah mobil yang melaju kencang.


__ADS_2