
"Lancar Alhamdulillah. Bokap gue juga udah mulai sembuh dan sekarang udah bisa beraktivitas lagi seperti biasa. Thanks ya Bel, kalau bukan karna Lo ini nggak mungkin terjadi. Gue dan keluarga gue berhutang nyawa sama Lo."
"Ck, santai aja. Gue ngeri ngomongin nyawa. Eh btw, Si King kemana ya? Kok akhir-akhir ini nggak cari masalah lagi tuh orang."
"Katanya sih, Si King lagi keluar negri Ama ortunya, nggak tau kemana."
"Emang Lo tau dari mana?"
"Dari salah satu temannya yang kebetulan dekat Ama gue" ucap Ana.
"Cie, Nia dekat Ama cowok. Terus Si Adit mau Lo kemanain?"
A
Apaan sih Lo Bel, nggak penting banget tuh cowok ngeselin. Sok kuat padahal lembek, baru kena pukul ama Lo aja langsung jerit-jerit dia.
"Udah ah, nggak usah ngomongin dia lagi. Ohya, Lo masih mau ikutan balapan lagi nggak? Soalnya ada yang nantang nih, lumayanlah hadiahnya."
"Mmm..... Sorry Ana, kayaknya mulai sekarang gue bakal berhenti balapan apa lagi MMA. Gue nggak mau bikin nyokap gue khawatir sama gue. Sekali lagi sorry ya, karena gue udah nggak bisa ngasih uang lagi buat Lo" ucap Bella.
"Nggak papa Bel, santai aja kali. Lagian gue malah senang akhirnya Lo mau berhenti juga. Karena itu nggak baik buat kesehatan Lo" ucap Ana tersenyum.
"Ngomong-ngomong, Lo kok malah disini sama gue sih? Bukannya di rumah Lo lagi ada acara lamarannya Kak Siska yah" tanya Ana lagi.
"Iya. Tapi gue malas kalau ada di sana. Yang ada gue nggak bakal di anggap. Mending gue disini sama Lo, kan?" Ana mengangguk. Tak lama terdengar ponsel Ana berdering.
"Bentar Bel, Bokap gue nelfon" ucap Ana. kemudian mengangkat telfon dari seseorang.
__ADS_1
"Hallo Yah?"
[Hallo Ana, kamu dimana? Tolong kamu pulang ya, soalnya Ayah sama Ibu ada urusan di luar, takut nggak ada yang jagain rumah. Bisa kan nak?]
"Iya Yah, bentar lagi Ana pulang."
Panggilan pun berakhir.
"Sorry ya Bel, gue harus pulang sekarang. Nggak papa kan gue tinggal?"
"Nggak papa. Thanks udah nemenin gue sarapan.
"Sama-sama" lalu Ana pun pergi meninggalkan Bella.
"Hadeh, bosan banget. Mending gue jalan-jalan dulu kali ya. Iya deh, gue jalan-jalan dulu aja" Bella beranjak dari duduknya kemudian menaiki motornya entah kemana.
"Akhirnya acara lamarannya berjalan lancar. Dan kalian berdua harus mempersiapkan diri untuk pernikahan Minggu depan" ucap Sari.
"Iya Bund, semoga semuanya lancar sampai hari H" ucap Siska.
"Amin!"
"Jagain Kakak aku ya Bang, awas aja kalo dia lecet dikit" ucap Feli.
"Waduh, galak amat nih Ade ipar. Tanpa kamu minta, Abang akan selalu jagain Kakak kamu yang cantik ini" ucap Ridwan membuat Siska tersenyum malu.
"Ohya, Daniel boleh pinjam Siska bentar nggak Bund? Soalnya kami mau fitting baju pengantin, habis itu mau cetak undangan dan cari gedung yang bagus buat acaranya nanti.
__ADS_1
"Boleh dong Daniel. Kalian hati-hati di jalan ya.
"Iya Bund!!" Jawab Daniel dan Siska. Mereka pun pergi menggunakan mobil milik Daniel.
"Wah, udah selesai aja nih acaranya" ucap Bella yang baru saja pulang.
"Dari mana kamu? Seharusnya kamu itu nyaksiin acaranya tadi, bukan malah keluyuran pagi-pagi" ucap Sari menatap tajam Bella yang tengah duduk di sofa sambil. bermain ponsel
" Buat apa juga aku disini Bund, ujung-ujungnya malah bikin Kak Siska nggak senang kalau liat aku disini. Mending aku keluar ketemu Ana sekalian sarapan" ucapnya santai.
"Alah dasar alasan ya kamu" Ucap Sari lalu menjewer Bella.
"Aduh, aduh Bunda sakit. Beneran kok, itu bukan alasan" ucapnya. Karna tak tega, akhirnya Sari melepas jewerannya.
"Yaudah, kalau udah sarapan, sekarang kamu minum obat. Kamu itu nggak boleh sampai lupa minum obat. Kamu ngerti kan?" Ucap Sari lembut.
"Iya-iya, Bella ngerti " ucap Bella yang masih mengusap kupingnya.
"Bunda, Kak Bella" panggil Feli yang berlari ke arah mereka.
"Kenapa Lo?" Tanya Bella setelah Feli berada di depan mereka.
"Gawat Kak, gawat.
"Apanya yang gawat Feli? Bicara yang jelas dong" ucap Sari.
".........."?
__ADS_1