
"Kak Siska dan Bang Daniel kecelakaan."
"Apa!!"
"Bunda...." pekik Bella yang menahan tubuh Sari yang hampir tumbang.
"Nggak, itu nggak mungkin" ucap Sari.
"Lo tau ini dari mana sih Feli?" tanya Bella.
"Tadi ada yang nelfon aku dari nomor Kak Siska katanya mobil Bang Daniel tabrakan sama truk dan mereka langsung di larikan ke rumah sakit" jelas Feli.
"Siska.... Kamu nggak boleh ninggalin Bunda sayang" jerit Sari yang menangis memeluk Bella.
"Lo tau rumah sakitnya?"
"Iya Kak."
"Tunggu apa lagi, cepat siapin mobil" Feli mengangguk cepat lalu segera keluar rumah untuk mengeluarkan mobil.
"Bunda harus kuat ya, Kak Siska pasti baik-baik aja" Bella berusaha menenangkan Sari selama perjalanan menuju rumah sakit.
*****
Sesampainya di rumah sakit, mereka mendatangi resepsionis.
"Sus, korban kecelakaan atas nama Siska dan Daniel ada di mana ya?" tanya Bella.
"Oh itu? Pasien yang bernama Daniel di masukkan ke ruang ICU karena lukanya tidak terlalu parah. Hanya mengalami benturan di kepalanya dan sedang di tangani oleh Dokter. Sementara pasien yang bernama Siska saat ini mengalami luka parah dan cukup serius dia sekarang berada di ruang operasi.
Tanpa menunggu lama, mereka segera menuju ruangan operasi.
_____
"Bunda tenang, nggak akan terjadi apa-apa sama Kak Siska.
"Bunda nggak bisa tenang sebelum liat Kakak kalian baik-baik aja, Bunda nggak mau kehilangan dia" ucap Sari.
Ceklek!
Seorang Dokter dengan berpakaian serba hijau keluar dari ruangan operasi.
"Dok gimana keadaan anak saya? Dia baik-baik aja kan Dok?"
"Iya Dok, Kakak saya nggak kenapa-napa kan?" tanya Feli.
"Pasien mengalami luka yang cukup parah dan mengeluarkan banyak darah akiibat kecelakaan itu.
"A-apa Dok? Tapi anak saya bisa selamat kan Dok?"
"bisa Bu, tapi dia butuh donor darah. Apakah ada dari pihak keluarga yang memiliki darah yang sama dengan pasien? Karena stok darah untuk pasie sedeng kosong.
"Saya bersedia Dok" Feli dan Sari menoleh pada Bella.
__ADS_1
"Nggak bisa, Bunda nggak akan biarin kamu lakuin itu. Kamu itu lagi sakit, kalau sampe kamu donorin darah buat Kakak kamu yang ada kondisi kamu akan jadi drop dan Bunda nggak mau itu terjadi" ucap Sari.
"Tapi...."
"Feli jelasin ke Bella, dia nggak boleh lakuin itu atau Bunda akan marah sama dia."
"Bunda benar Kak. Kondisi kamu akan memburuk kalau sampe kamu nekat donorin darah buat Kak Siska" ucap Feli.
"Terus siapa yang mau donorin? Lo atau Bunda? Nggak kan? Karena golongan darah kalian nggak sama dengan Kak Siska. Cuman gue yang punya golongan darah yang sama."
"Kalau kamu kenapa-napa gimana?"
"Gue nggak peduli.
"Bella, jaga omongan kamu. Kalau terjadi sesuatu sama kamu Bunda yang akan menderita, ingat itu" ucap Sari yang marah.
Tiba-tiba seorang Suster keluar dari ruang operasi menghampiri Dokter lalu membisikkan sesuatu.
"Apa? Ayo kita masuk" ucap Dokter yang terlihat panik.
"Kenapa Dok? Ada apa sama anak saya?"
"Kondisinya semakin memburuk, detak jantungnya semakin lemah. Jika pasien tidak segera mendapatkan tranfusi darah, nyawanya bisa melayang.
"Tolong lakukan sesuatu Dok, selamatkan anak saya."
"Saya akan berusaha Bu. Jika pendonornya sudah ada, silahkan langsung masuk ke dalam" setelah itu Dokter kembali masuk ke dalam ruangan.
"Hiks...hiks! Ya Allah tolong selamatkan anak hamba, tolong jangan ambil nyawanya" ucap Sari.
"Bella kemana? Bukannya dia tadi ada di sini?"
"Aku juga nggak tau Bund. Bentar" Feli berjalan mendekati pintu ruang operasi lalu melihat ke dalam melalui celah pintu. Betapa terkejutnya dia saat melihat Bella berada di dalam.
"Bund, Kak Bella tetap donorin darahnya, sekarang dia udah di dalam" ucap Feli.
"Anak itu memang keras kepala. Dia udah nggak peduli sama dirinya sendiri, dia nggak mau dengar larangan Bunda."
"Udah Bund, nggak ada yang bisa ngalahin keras kepalanya dia. Yang harus kita lakuin sekarang hanya berdoa semoga Kak Siska dan Bella baik-baik aja" ucap Feli memeluk Sari.
--Dua_Hari_Kemudian
Setelah menjalani operasi dua hari yang lalu, kini kondisi Siska seudah mulai membaik. Tetapi dia masih belum sadarkan diri sanpai saat ini.
Tiba-tiba matanya mulai terbuka perlahan, menatap seorang wanita yang duduk di kursi di sampingnya.
"Tasya"
"Akhirnya kamu sadar juga, aku senang liatnya" ucap Tasya tersenyum.
"Sya, Daniel dimana? Dia nggak kenapa-napa kan? Gue mau temuin dia" ucap Siska dengan nada lemah.
"Daniel baik-baik aja, dia lagi di ruangan sebelah sama keluarganya. Kamu kan baru aja sadar, jangan banyak gerak dulu "
__ADS_1
"Bunda sama Feli mana? Kok mereka nggak ada di sini?"
"Ada kok, cuman mereka lagi ada urusan di ruang sebelah.
"Kamu nggak mau nanyain Bella?"
"Ck, malas banget gue harus nanyain dia, nggak penting banget" ucap Siska.
"Walaupun dia udah donorin darah buat kamu?" seketika Siska langsung menatap Tasya.
"Lo jangan becanda ya, nggak lucu tau nggak. Gue tau ini cuman akal-akalan lo doang kan Sya?"
"Aku nggak bakal becanda kalo menyangkut nyawa orang, kamu kenal aku gimana kan?"
Setelah itu Siska hanya terdiam, entah apa yang dia pikirkan.
"Sya gue mau nemuin dia" ucap Siska yang berusaha bangun.
"Eh-eh, kamu mau ngapain Siska? Kamu itu masih lemah.
"Tolong biarin gue ketemu dia Sya, gue mohon bawa gue sama dia.
"Oke. Tunggu bentar" Tasya pun keluar untuk mengambil kursi roda.
"Lo gila Bella, gue nggak nyangkan lo lakuin ini tanpa peduli sama kesehatan lo sendiri" batin Siska.
*****
Sementara di ruangan lain, terlihat seorang gadis dengan wajah pucat pasihnya sedang terbaring lemah dengan tabung oksigen yang menempel di hidungnya dan jarum infus yang tertancap di pungung tangannya.
"Feli, Bunda mana?" tanya Bella dengan lirih.
"Nggak tau" jawab Feli.
"Bunda masih marah ya sama gue?"
"Nggak tau."
"Ah lo ngeselin" Feli hanya menatap malas ke arah Bella.
"Feli pengap nih, gue lepasin tabungnya ya. "
"Jangan, tunggu Dokter dulu.
"Tapi gue bosan pake ini terus. Lepas aja ya?"
Feli hanya diam sambil memainkan ponselnya.
"Feli" Tak ada jawaban dari Feli tak membuatnya kehilangan banyak cara untuk merayu adik kembarnya itu.
"Feli gue mohon, lepas ya? Gue pengap banget nih."
"Hufff......jangan di lepas dulu Kak, tunggu Dokter aja yang lepasin. Lagian siapa suruh nekad donorin darah kamu, jadi gini kan akibatnya. Udah di larang juga."
__ADS_1
"Ya mau gimana lagi? Gue nggak punya pilihan, nyawa Kak Siska bisa melayang."