
"Ya karna gue nggak mau liat Bunda nangis gara-gara takut kehilangan lo.
"Tapi harusnya lo nggak lakuin itu, gue nggak mau lo kenapa-napa gara-gara gue" mendengar itu, Bella kembali menatap Siska bingung.
"Maksud lo?"
Siska menghelai nafas, lalu kemudian mendekatkan kursi rodanya dengan ranjang Bella.
"Waktu itu gue nggak sengaja dengar lo bicara sama Bunda tentang penyakit lo. Lo punya kangker kan?" kali ini Siska berbicara sangat lembut, namun Bella hanya tersenyum hambar.
"Emang iya. Tapi apa urusannya sama lo? Lo pasti senang kan bentar lagi gue bakal pergi dan nggak akan ngusik hidup lo lagi. Gue nggak akan rebut kasih sayang Bunda dari lo, dan--"
"Cukup....gue bilang cukup" sela Siska menutup mulut Bella dengan tangannya. Kemudian melepaskannya dan beralih mengelus pipinya.
"Dari kecil sampai sekarang gue selalu berpikir lo itu perebut kebahagiaan gue. Lo udah bikin Ayah pergi selamanya dan saat itu hidup gue hancur, sehancur-hancurnya. Setiap hari gue selalu nganggap dunia itu nggak adil sama gue. Pertama Ayah dan sekarang, sekarang lo, gue nggak mau kehilangan lo juga Bel. Saat gue tau lo sakit, gue nggak bisa nyembunyiin rasa takut gue buat lo. Emang iya gue benci lo Bel, bahkan gue nggak sudi nyebut nama lo. Tapi dalam hati kecil gue masih ada rasa sayang seorang Kakak buat adiknya" Siska berhenti sejenak untuk mengusap air mata yang kini sudah mengalir di pipinya.
"Di balik kebencian yang gue tunjukkin ke elo, sebenarnya ada rasa sayang Bel. Iya Bel, gue sayang sama lo, tapi gue malu, gue gengsi harus bilang kalo gue saayaaaang banget sama adik gue yang satu ini" ucap Sisks yang tersenyum.
__ADS_1
"Tolong maafin gue Bel, maaf kalo selama ini gue udah bikin lo kesal dan selalu cuekin lo, maafin gue yang nggak pernah ada buat lo di saat lo butuh Kakak lo ini. Tolong maafin Kakak Bel, maaf....hiks!" isak Siska yang tertunduk.
"Kenapa gue harus maafin lo?" Siska seketika menatap Bella.
"Jadi kamu nggak mau maafin Kakak kamu ini?" tanyanya lirih.
"Enggak!"
"Karna lo nggak punya salah sama gue Kak, gue malah senang akhirnya Kakak gue kembali setelah dia pergi ninggalin gue di belakang tanpa sedikitpun ninggalin kasih sayangnya buat gue, gue juga sayang lo Kak.
"
"Terima kasih karna udah mau maafin Kakak, Kakak janji akan selalu ada buat Bella,, dan akan lakuin apapun buat Bella asal Bella bisa sembuh" ucap Siaka.
"Aku juga senang dan bahagia Kak. Akhirnya keinginan terakhir aku terpenuhi, yaitu aku ingin Kakak kembali, dan sekarang itu udah terwujud, sekarang aku bisa pergi dengan tenang" ucap Bella pelan.
"Jangan ngomong gitu. Kita baru aja baikan, masa kamu mau ninggalin Kakak? Kakak nggak akan biarin itu terjadi" ucap Siska.
__ADS_1
"Tapi waktu aku udah nggak banyak Kak. Tolong peluk aku lagi untuk yang terakhir kali Kak" ucap Bella lagi. Tanpa menjawab, Siska kembali memeluk Bella, kali ini tangisannya semakin keras.
"Aku pergi Kak, jaga diri Kakak baik-baik" ucap Bella dengan nafas yang tersengal-sengal. Siska yang merasakan itu semakin mempererat pelukkannya pada Bella, tangisannya semakin kuat saat tak lagi merasakan hembusan nafas adiknya itu. Perlahan dia melepas pelukkannya lalu menatap Bella yang kini matanya sudah terpejam.
"Nggak!!, kamu nggak boleh perig Bel. Kamu nggak boleh pergi....Kakak mohon bangun Bek, bangun. Bel lo jjangan becanda ya, gue nggak suka semua ini. Tolong bangun hiks..." Siska mengguncang-guncangkan tubuh Bella, namun Bella tak kunjung bangun.
"Hiks...hiks! Bella bangun, Kakak mohon jangan pergi" lirihnya yang kembali memeluk tubuh Bella.
"Bellaaaa!!"
"Becanda" wajah pucat itu tersenyum tanpa dosa. Membuat Siska yang tadinya memangis kini nafasnya mulai memburu karna amarah yang memuncak.
"Bellaaa!" pakik Siska.
"Aaaaa" Siska menjerit kesakitan saat Siska menjewernya dengan kuat.
"Bunda tolongin aku" jerit Bella.
__ADS_1
"Siska " ucap Sari yang masuk saat mendengar jeritan Bella.