
"Ni!" panggil Bella dengan ragu sambil berdiri di samping Ani. Namun ternyata kesuniyan yang dia dapatkan, Ani sama sekali tak menoleh dan masih memandang lurus kedepan. Akhirnya Bella berinisiatif memegang tangan Ani dan membuatnya untuk menatapnya.
Tatapan Ani masih saja kosong, terlihat cairan bening lolos begitu saja dan membasahi pipinya. Melihat itu, Bella langsung memeluknya dengan sangat erat.
"Jangan di tahan, keluarin aja semuanya." Ani tak menjawab, namun bahunya bergetar dan perlahan isakan mulai terdengar.
"Hiks!... Hiks!"
"Lo jahat Bel, lo jahat. Kenapa lo biarin dia pergi, kenapa? Hiks... Hiks!"
Bella hanya diam. Perlahan ingatannya kembali dimasa lalu, dimana kejadian buruk itu terjadi.
---3 Tahun_Yang_Lalu
Di sebuah taman di pagi hari yang cerah, terlihat dua gadis berseragam SMP tengah mengobrol bersama. Di antara mereka sedang menghibur salah satunya yang sedang bermasalah. Dua gadis itu adalah Bella dan Ani.
"Ada apa lagi sih Lo? Kok pagi-pagi gini udah kusut aja mukanya? Lo berantem lagi sama Kakak lo?" tanya Ani
"Ya gitulah, setiap hari ada aja masalah antara kami. Gue cuman berharap suatu saat nanti Kakak gue bisa kembali dan sayang lagi sama gue kaya dia sayang sama Feli." ucap Bella.
"Gue nggak bisa banyak berbuat, tapi gue selalu berdoa semoga suatu hari nanti Kakak lo bisa sayang dan nerima lo." Bella tersenyum mendengar kata-kata tulus Ani.
"Eh btw gimana nih?" tanya Bella bermaksud menggoda
"Gimana apanya?"
"Gimana hubungan lo sama Hilal?"
"Masih biasa aja. Tapi gue senang dengan semua perhatian yang dia kasih ke gue Bel, gue selalu nyaman kalo di dekat dia." ucap Ani.
"Kayaknya lo bahagia banget ya sama dia Ani? Tapi itu apa yang lo pegang?" tunjuknya pada sebuah kotak yang ada di genggaman Ani.
"Oh ini! Mmm.... Hari ini ulang tahun Dimas jadi aku beliin kado buat dia. Semoga dia suka ya Bel."
"Pasti dia suka. Orang lo yang ngasih."
"Lo bisa aja."
Obrolan keduanya terhenti saat seorang siswa menghampiri mereka.
"Bella, ada yang nungguin kamu di rooftop!"
"Siapa?"
"Nanti juga kamu bakal tau!" siswa itu pun langsung pergi.
"Siapa ya Ani?"
__ADS_1
"Nggak tau. Temuin gih."
"Yaudah, gue pergi ya."
Bella lalu segera pergi menuju rooftop yang ada di lantai 4 sekolahnya. Sesampainya di sana, terlihat seorang pria sudah menunggunya, segera dia menghampiri pria itu.
"Dimas?"
"Eh, hai Bella."
"Jadi kamu yang nyuruh aku ke sini, ada apa?" tanya Bella
Dimas tak menjawab, dia perlahan mendekati Bella, semakin dekat hingga tidak ada jarak di antara keduanya.
"Jangan macam-macam Dim, aku bisa bela diri loh!" ucap Bella.
"Ssttt...aku nggak akan ngapa-ngapain kamu kok, tenang aja." ucap Dimas. Tangannya perlahan meraih tangan Bella lalu mengelusnya dengan lembut.
"Aku nyuruh kamu ke sini karna aku mau ngungkapin sesuatu!"
"Bel, sebenarnya aku suka sama kamu ....aku ingin kamu jadi pacar aku Bel."
Degh!
"A-apa? Jangan becanda deh Dimas, mana mungkin kamu suka sama aku."
"Aku nggak tau kapan rasa ini datang, tapi rasanya aku sayang banget sama kamu, ini bukan sekedar sayang sebagai sahabat, tapi ini cinta Bel, aku cinta sama kamu!"
Bella benar-benar di buat terkejut dengan pengakuan pria di depannya ini. Saking syoknya, dia tidak menyadari jika Dimas kini telah memeluknya.
"Dimas lepas!" Bella mendorong Dimas hingga pelukannya terlepas.
"Bel, aku benar-benar cinta sama kamu."
"Tapi aku nggak cinta sama kamu Dim. Maaf, tapi aku nggak bisa jadi pacar kamu." ucap Bella lalu berbalik ingin pergi.
"Bella tunggu!"
Langkahnya langsung terhenti, tapi bukan karna panggilan Dimas, melainkan oleh seseorang yang ternyata sudah berdiri di belakangnya.
"Ani!"
Plak!
Wajah Bella langsung tertoleh ke samping saat mendapat tamparan itu, ya tamparan yang di berikan oleh Ani.
"Gue pikir lo sahabat terbaik gue Bel, tapi ternyata gue salah, gue benci lo Bel."
__ADS_1
"Ani dengarin gue, ini bukan seperti yang lo pikirin. Gue nggak cinta sama dia Ani!" ucap Bella
"Tapi aku cinta sama kamu Bel." ucap Dimas memegang tangan Bella
"Tapi aku nggak cinta sama kamu. Plis jauhin aku dan yang harus kamu tau, yang cinta sama kamu itu Ani bukan aku. Tolong Dim, ngertiin perasaan Ani."
"Aku nggak peduli tentang siapapun Bel, yang aku mau cuma kamu. Tolong Bel, jangan tolak aku atau aku bisa mati Bel."
"Aku nggak peduli. Asal jangan dekatin aku Dim, dan hubungan persahabatan kita cukup sampai disini. Ayo Ani."
"Oke jika itu yang kamu mau."
Bella yang ingin pergi bersama Ani lagi-lagi berhenti, dan saat berbalik keduanya sangat terkejut melihat Dimas yang sudah berdiri di atas pembatas rooftop yang bisa saja dia akan jatuh ke bawah sana jika bergerak sedikit saja.
"Aku akan lompat ke bawah kalo kamu nggak mau nerima cinta aku." teriak Dimas.
"Dimas jangan bodoh, kamu bisa jatuh Dim." teriak Ani
"Iya Dim, aku mohon turun. Jangan kaya gini plis." mohon Bella.
"Nggak Bel, aku akan buktiin kalo aku serius cinta sama kamu. Aku rela lakuin apapun walau itu harus mati." ucap Dimas yang bersiap melompat.
"Dim jangan."
"Berhenti Dimas!"
Teriakan Bella dan Ani tak dihiraukan oleh Dimas. Bahkan di bawah sana sudah banyak para siswa dan guru yang melihat kejadian itu.
"I LOVE YOU BELLA!" teriak Dimas yang sudah melompat dan tubuhnya kini sudah tergeletak tewas di bawah sana
"DIMAS!"
*****
Dadanya semakin sesak jika mengingat kejadian tragis yang menimpa Dimas, di tambah kejadian itu terjadi langsung di depan matanya. Rasa menyesal dan bersalah itulah yang dirasakannya namun apalah daya, kejadian itu sudah terjadi dan tak akan bisa mengembalikan Dimas kembali ke dunia ini.
Sementara itu, di pelukannya, terdapat Ani yang masih saja menangis.
"Gue benci lo Bel, gue benci!" ucap Ani
Bella melepas pelukannya lalu membuat wajah Ani agar menatapnya.
"Apa lo bilang, lo benci gue? Emang lo bisa benci sama gue? Emang lo bisa tanpa gue? Dasar bodoh." dia menoyor kepala Ani dan kembali memeluknya.
"Kenapa lo biarin dia pergi? Kenapa lo nggak berusaha nyelamatin dia hiks! Kenapa nggak lo terima aja cinta dia Bel." ucap Ani di dalam dekapan Bella.
"Maaf maaf dan maaf," hanya itu kata yang mampu di ucapkan Bella berkali-kali.
__ADS_1
"Ani gue saat itu dilema, gue bingung harus lakuin apa. Kalo gue nerima dia, gimana sama lo? Gue nggak mau kehilangan teman sebaik lo Ni. Gue pikir dia cuman becanda.